Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Membayar Hutang Puasanya

Siapapun tentunya sangat mencintai kedua orangtuanya. Wujud kecintaanya dengan cara berbakti kepadanya pada saat mereka masih hidup maupun pada saat mereka sudah meninggal dunia. Salah satu cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya adalah bisa dengan melunasi tanggungan-tanggungan semasa hidupnya. Baik tanggungan yang berupa moril maupun tanggungan berupa materiel.

Dengan demikian, seorang anak juga dianjurkan untuk melunasi tanggungan orang tuanya yang berupa moril seperti amal ibadah badaniyahnya. Dan sudah umum kita ketahui hukum ibadah badaniyah seperti puasa hukumnya wajib dilaksanakan selama seseorang masih hidup. Namun terkadang kesehatan di masa tua menghalangi seseorang untuk melaksanakannya. Ketika seseorang meninggal dunia namun masih memiliki tanggungan hutang puasanya, maka hukumnya wajib bagi ahli waris melunasinya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Siapa yang meninggal, sedangkan ia masih memiliki hutang puasa, maka yang membayarnya adalah walinya.” (Hadits Muslim Nomor 1935)

Sudah sangat jelas bahwa berdasarkan hadits tersebut hukum melaksanakan hutang puasa untuk orang tua hukumnya wajib dan manfaat pahalanya dapat diterima oleh arwah kedua orang tuanya. Pemahaman ini juga diperkuat dengan sebuah riwayat hadits berikut,

إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ فَقَالَ أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَيْهَا دَيْنٌ أَكُنْتِ تَقْضِينَهُ قَالَتْ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ بِالْقَضَاءِ

“Sesungguhnya ibuku telah meninggal, padahal ia masih memiliki hutang puasa selama satu bulan.” Maka beliau pun bersabda: “Bagaimana menurutmu jika ibumu memiliki hutang uang, apakah kamu akan melunasinya?” wanita itu menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda: “Kalau begitu, hutang kepada Allah lebih berhak untuk dilunasi.” (Hadits Muslim Nomor 1936)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan memiliki tanggungan puasa, maka walinya berpuasa (sebagai pengganti) untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2879)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينًا

” Barang siapa yang meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa hendaknya ia memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya sebagai gantinya”. (Hadits Tirmidzi Nomor 651)

Dalam hal melunasi hutang puasa selain boleh menggunakan cara melaksanakan ibadah puasanya, juga boleh menggunakan cara memberi makan orang miskin. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامُ شَهْرٍ فَلْيُطْعَمْ عَنْهُ مَكَانَ كُلِّ يَوْمٍ مِسْكِينٌ

“Barangsiapa meninggal dan masih memiliki tanggungan puasa ramadlan, maka hendaklah diganti dengan memberi makan satu orang miskin setiap harinya. ” (Hadits Ibnu Majah Nomor 1747)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِذَا مَرِضَ الرَّجُلُ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ مَاتَ وَلَمْ يَصُمْ أُطْعِمَ عَنْهُ وَلَمْ يَكُنْ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنْ كَانَ عَلَيْهِ نَذْرٌ قَضَى عَنْهُ وَلِيُّهُ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; apabila seseorang sakit pada Bulan Ramadhan kemudian meninggal dan belum melakukan puasa maka diberikan makan untuknya dan ia tidak berkewajiban untuk mengqadha`, dan apabila ia memiliki kewajiban nadzar maka walinya yang mengqadha` untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2049)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ صِيَامٌ صَامَ عَنْهُ وَلِيُّهُ

“Barangsiapa meninggal dunia dan memiliki hutang puasa maka walinya (boleh) berpuasa untuknya”. (Hadits Bukhari Nomor 1816)

Catatan: Dalam hal membayar hutang puasa ini agama menetapkan bahwa hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya. Kewajiban anak-anaknya membayar hutang orang tuanya tersebut tentunya tidak berlaku mutlak, melainkan dengan catatan selama anaknya memiliki kemampuan membayar hutang kedua orang tuanya.

Lunasilah hutang-hutang ibadah badaniyah kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia! Sebab dengan melunasi hutang kedua orang tua kita, maka akan menjadi ladang pahala kita. Di samping beban orang tua kita ringan, apa yang kita lakukan juga akan dicatat sebagai amal bakti kita kepadanya. Semoga Allah menghindarkan kita dan kedua orang tua kita terlewat untuk tidak beribadah kepada Allah. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua yang sangat kita cintai. Amin.

Baca Juga:

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke