Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Membayar Hutang Haji dan Umrahnya

Siapapun tentunya sangat mencintai kedua orangtuanya. Wujud kecintaanya dengan cara berbakti kepadanya pada saat mereka masih hidup maupun pada saat mereka sudah meninggal dunia. Salah satu cara seorang anak berbakti kepada orang tuanya adalah bisa dengan melunasi tanggungan-tanggungan semasa hidupnya. Baik tanggungan yang berupa moril maupun tanggungan berupa materiel.

Dengan demikian, seorang anak juga dianjurkan untuk melunasi tanggungan orang tuanya yang berupa moril seperti amal ibadah badaniyahnya. Dan sudah umum kita ketahui hukum ibadah badaniyah seperti haji hukumnya wajib dilaksanakan selama seseorang masih hidup. Namun terkadang kesehatan di masa tua menghalangi seseorang untuk melaksanakannya. Ketika seseorang meninggal dunia namun masih memiliki tanggungan hutang hajinya, maka hukumnya wajib bagi ahli waris melunasinya. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ امْرَأَةً جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَمَاتَتْ قَبْلَ أَنْ تَحُجَّ أَفَأَحُجَّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَتَهُ قَالَتْ نَعَمْ فَقَالَ اقْضُوا اللَّهَ الَّذِي لَهُ فَإِنَّ اللَّهَ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

“dari [Ibn Abbas], bahwa seorang wanita menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berujar, “Ibuku bernadzar untuk haji, hanya terburu meninggal dunia, bolehkah aku menggantikan hajinya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Silahkan, berhajilah engkau untuk menggantikannya, bukankah engkau sependapat sekiranya ibumu mempunyai hutang, bukankah engkau yang melunasi?” Wanita itu menjawab, “Ya.” Lantas Nabi berkata: “Penuhilah hutang Allah, sebab Allah lebih berhak untuk dilunasi hutangnya.” (Hadits Bukhari Nomor 6771)

Hutang moril seperti ibadah yang bersifat badaniyah juga boleh ditanggung oleh orang lain. Haji masih termasuk ibadah badaniyah yang juga boleh dilaksanakan untuk membayar hutang dari orang tuanya. Sehingga boleh melaksanakan ibadah haji dengan niat pahalanya dikirimkan kepada orang lain. Baik mereka yang masih hidup maupun mereka yang sudah meninggal. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي مَاتَ وَلَمْ يَحُجَّ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ عَلَى أَبِيكَ دَيْنٌ أَكُنْتَ قَاضِيَهُ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَدَيْنُ اللَّهِ أَحَقُّ

“dari [Ibnu Abbas], ia berkata; ada seorang laki-laki yang berkata; “Wahai Rasulullah, ayahku meninggal dan ia belum melakukan haji, apakah saya boleh melakukan haji untuknya? Beliau bersabda: “Bagaimana pendapatmu apabila ayahmu memiliki hutang, apakah engkau membayarnya?” Orang tersebut berkata; “Iya”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maka hutang kepada Allah lebih berhak.” (Hadits Nasai Nomor 2591)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ فَرِيضَةَ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ فِي الْحَجِّ أَدْرَكَتْ أَبِي شَيْخًا كَبِيرًا لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَثْبُتَ عَلَى الرَّاحِلَةِ أَفَأَحُجُّ عَنْهُ قَالَ نَعَمْ وَذَلِكَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ

“Perempuan itu berkata, “Wahai Rasulullah! Kewajiban untuk menunaikan haji terpikul atas bapakku yang sudah tua renta. Ia tidak lagi sanggup duduk di atas kendaraan. Bolehkah aku menggantikannya?” beliau menjawab: “Boleh.” Dan hal itu terjadi pada saat haji wada’. (Hadits Muslim Nomor 2375 dan Hadits Muslim Nomor 2376

Sangat jelas bahwa walaupun haji merupakan ibadah bersifat badaniyah, namun pahalanya dapat dikirim pada orang yang sudah meninggal.

Masih sama dengan hukum mewakilkan dan mempersembahkan ibadah haji adalah ibadah umrah. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أَبِي شَيْخٌ كَبِيرٌ لَا يَسْتَطِيعُ الْحَجَّ وَلَا الْعُمْرَةَ وَلَا الظَّعْنَ قَالَ حُجَّ عَنْ أَبِيكَ وَاعْتَمِرْ

“dari [Abu Razin Al ‘Uqaili], bahwa ia pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya bapakku sudah tua renta, ia sudah tidak mampu melaksanakan haji, umrah maupun berpergian.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Kerjakan haji untuk bapakmu, dan berumrahlah kamu.’ (Hadits Ibnu Majah Nomor 2897, Hadits Ahmad Nomor 15595, dan Hadits Tirmidzi Nomor 852)

Begitu juga hakikat nadzar adalah hutang yang harus dilaksanakan. Bila nadzar dari kedua orang tua belum terlaksanakan hingga wafatnyaa, maka wajib hukumnya ahli waris untuk melaksanakan hutang nadzarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا

“Sesungguhnya ibuku telah bernadzar untuk menunaikan haji namun dia belum sempat menunaikannya hingga meninggal dunia, apakah boleh aku menghajikannya?”. Beliau menjawab: “Tunaikanlah haji untuknya.” (Hadits Bukhari Nomor 1720, Hadits Nasai Nomor 2585, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 2900)

Catatan: Dalam hal membayar hutang haji dan umroh ini agama menetapkan bahwa hutang tersebut menjadi tanggungan ahli warisnya. Kewajiban anak-anaknya membayar hutang orang tuanya tersebut tentunya tidak berlaku mutlak, melainkan dengan catatan selama orang tuanya meninggalkan warisannya dan atau anaknya dianggap mampu membayar hutang kedua orang tuanya dari hasil kerjanya sendiri.

Lunasilah hutang-hutang ibadah badaniyah kedua orang tua kita yang sudah meninggal dunia! Sebab dengan melunasi hutang kedua orang tua kita, maka akan menjadi ladang pahala kita. Di samping beban orang tua kita ringan, apa yang kita lakukan juga akan dicatat sebagai amal bakti kita kepadanya. Semoga Allah menghindarkan kita dan kedua orang tua kita terlewat untuk tidak beribadah kepada Allah. Dan semoga Allah memberikan kekuatan kita untuk berbakti kepada kedua orang tua yang sangat kita cintai. Amin.

Baca Juga:

Kematian Hanya Memutus Amal, Namun Bukan Memutus Pahala

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke