Berbakti Kepada Orang Tua yang Sudah Meninggal dengan Melaksanakan Wasiatnya

Salah satu ciri sebagai anak shalih adalah manakala selalu berbakti kepada kedua orang tuanya, baik ketika mereka masih hidup maupun ketika mereka sudah meninggal.

Salah satu bentuk berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal adalah melaksanakan wasiatnya. Wasiat dari seorang yang sudah meninggal dunia wajib dilaksanakan oleh ahli warisnya. Dasar hukumnya bersumber dari Al-Qur’an, Hadits dan Ijma’ para ulama.

كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ بِالْمَعْرُوفِ ۖ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.” (Surat Al-Baqarah Ayat 180)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ

“Tidaklah seseorang mewasiatkan suatu hak untuk seorang Muslim, lalu wasiatnya belum ditunaikan hingga dua malam, kecuali wasiatnya itu diwajibkan di sisinya.” (Hadits Bukhari Nomor 2533, Hadits Abu Daud Nomor 2478, Hadits Nasai Nomor 3557)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَادَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَامَ حَجَّةِ الْوَدَاعِ مِنْ مَرَضٍ أَشْفَيْتُ مِنْهُ عَلَى الْمَوْتِ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بَلَغَ بِي مِنْ الْوَجَعِ مَا تَرَى وَأَنَا ذُو مَالٍ وَلَا يَرِثُنِي إِلَّا ابْنَةٌ لِي وَاحِدَةٌ أَفَأَتَصَدَّقُ بِثُلُثَيْ مَالِي قَالَ لَا قَالَ فَأَتَصَدَّقُ بِشَطْرِهِ قَالَ الثُّلُثُ يَا سَعْدُ وَالثُّلُثُ كَثِيرٌ إِنَّكَ أَنْ تَذَرَ ذُرِّيَّتَكَ أَغْنِيَاءَ خَيْرٌ مِنْ أَنْ تَذَرَهُمْ عَالَةً يَتَكَفَّفُونَ النَّاسَ

“dari [‘Amir bin Sa’ad bin Malik] dari [bapaknya] berkata; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjengukku pada waktu hajji wada’ ketika aku sakit yang tidak menyebabkan kematian. Aku berkata; “Wahai Rasulullah, aku rasakan sakitku semakin parah. Begaimana pendapat anda, aku memiliki banyak harta namun aku tidak memiliki orang yang akan mewarisinya kecuali satu anak perempuanku. Apakah aku boleh mensedekahkan dua pertiga hartaku?”. Beliau menjawab: “Tidak”. Dia berkata; “Apakah boleh aku bersedekah seperduanya?”. Beliau menjawab: “Sepertiga, wahai Sa’ad. Dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan keturunanmu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, lalu mereka mengemis meminta-minta kepada manusia.” (Hadits Bukhari Nomor 3643)

Sedangkan para ulama sudah sepakat (ijma’) bahwa wasiat itu hukumnya sunnah muakkad. Selain dalam perkara harta (materi), wasiat juga dibolehkan dalam perkara yang bersifat nonmateri, dengan catatan wasiat itu tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah atau yang melanggar aturan-aturan syariat. Misalnya, wasiat seorang ayah agar anaknya menghafal Al-Qur’an setelah kematiannya, atau membangun masjid (mushala) yang kemudian diwakafkan atas namanya, atau menyembelih kurban atas namanya, dan sebagainya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ حَنَشٍ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَحَدُهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ عَنْ نَفْسِهِ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ أَمَرَنِي بِهِ يَعْنِي النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا أَدَعُهُ أَبَدًا

“dari [Hanasy] dari [Ali] Bahwasanya ia pernah berkurban dengan dua ekor kambing; seekor untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan seekor lagi untuk dirinya sendiri, hingga ia pun ditanya tentang hal itu. Ali menjawab; “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan hal itu kepadaku, maka aku tidak akan meninggalkannya selamanya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1415)

Dari riwayat di atas bisa dilihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewasiatkan kepada Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu agar berkurban dengan menyembelih 2 ekor kambing, yang satu untuk beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan lainnya untuk Ali radliallahu ‘anhu sendiri. Maka jelaslah bahwa dalam hal ini Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu memenuhi wasiat seseorang yang telah wafat, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Selengkapnya baca; Hukum Melaksanakan Wasiat Orang yang Telah Wafat

Jangan jadi anak durhaka dengan tidak melaksanakan wasiat-wasiat kedua orang tua kita. Bila kita ikhlas melaksanakan wasiat kedua orang tua kita, niscaya kita sebagai anak akan mendapat pahala dari bakti kita dan orang tua mendapat pahala dari amal wasiat tersebut.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke