Beramal dan Beribadah Sesuai Kemampuan

Sudah sangat jelas bahwa prinsip dasar dalam ibadah sunnah mutlak, seperti dzikir, doa, dan lain sebagainya, maka tata caranya dapat dilakukan sesuai dengan keadaan dan selera masing-masing pengamalnya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

قُلْ يَا قَوْمِ اعْمَلُوا عَلَىٰ مَكَانَتِكُمْ إِنِّي عَامِلٌ ۖ فَسَوْفَ تَعْلَمُونَ مَنْ تَكُونُ لَهُ عَاقِبَةُ الدَّارِ ۗ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Katakanlah: “Hai kaumku, beramalah sesuai kemampuanmu, sesungguhnya akupun beramal (pula). Kelak kamu akan mengetahui, siapakah (di antara kita) yang akan memperoleh hasil yang baik di dunia ini. Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan mendapatkan keberuntungan.” (Surat Al-An’am Ayat 135)

Dalam beramal dan beribadah seperti amalan dzikir, doa, dan lainnya jangan memaksakan diri di luar batas keadaan masing-masing dari kita. Tata cara beramal dan berdzikir tidak perlu memaksa sama dengan orang lain. Atau memaksakan pihak lain harus sesuai dengan keadaan kita. Sebagaimana kebiasaan mereka kaum Salafi yang suka rese memperumit hal-hal sepele sehingga menjadi rumit. Yang dimaksud sepele disini bukan berarti menyepelekan, melainkan amal dan ibadah tersebut tergolong furuiyah yang mana agama memberikan keleluasaan terhadap umatnya untuk berkreasi dan berinovasi selama tidak melampaui batas-batas yang dibenarkan. Sebab terkait dengan berkreasi terhadap perkara kebaikan sangat diperbolehkan oleh agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا رَءَاهُ اْلمُسْلِمُوْنَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ وَمَا رَءَاهُ المُسْلِمُوْنَ سَيْئًا فَهُوَ عِنْدَااللهِ سَيْءٌ

“Apa yang dipandang baik oleh orang-orang Islam, maka baik pula di sisi Allah, dan apa saja yang dipandang buruk oleh orang Islam maka menurut Allah pun digolongkan sebagai perkara yang buruk” (HR. Ahmad, Bazar, Thabrani dalam Kitab al-Kabiir dari Ibnu Mas’ud)

Mereka kaum Salafi mudah mendakwa bahwa amalan dzikir tidak boleh begini atau tidak boleh begitu. Sebagaimana mereka mudah mempersoalkan amalan-amalan yang sebetulnya agama memberikan keleluasaan dan menyerahkan tata caranya kepada umatnya masing-masing, seperti berdzikir suara rendah atau suara tinggi, dzikir sendiri maupun dzikir bersama, berdikir pendek maupun panjang, menggunakan redaksi sendiri atau redaksi yang ada dalam Al-Qur’an dan Hadits. Padahal Nabi mengingatkan bahwa jangan memperumit diri sendiri dalam hal yang sifatnya netral.

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Terkadang disebabkan keinginan kaum Salafi untuk sempurna dalam menjalankan ajaran agama Islam. Mereka mencari-cari dan mengorek-ngorek hukum di mana sebetulnya Allah hendak meringankan hambanya dengan cara mendiamkan suatu perkara.

Rasulullah tidak ingin menerangkan dan merinci satu per satu persoalan agama, dengan maksud, hal-hal yang asalnya tidak diharamkan namun disebabkan terlalu banyak penjelasan dari Nabi, malah menyebabkan menjadi diharamkan, sehingga hal itu akan semakin memberatkan umat Islam. Tetapi beliau mengembalikan kepada suatu kaidah yang kiranya dengan kaidah itu menyebabkan suatu amalan menjadi diharamkan oleh Allah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الله فرض فرائض فلا تضيعوها، وحد حدودا فلا تعتدوها، وحرم أشياء فلا تنتهكوها، وسكت عن أشياء رحمة بكم غير نسيان فلا تبحثوا عنها

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban, maka jangan kamu menyia-nyiakannya dan Allah telah memberikan beberapa batas, maka jangan kamu langgar. Dan Allah telah mengharamkan sesuatu, maka jangan kamu pertengkarkan dia. Allah telah mendiamkan (sengaja tidak mengatur detail dan rinci) beberapa hal (ajaran agama Islam) sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia. ” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

Namun perkara tersebut menjadi haram dan memberatkan disebabkan rewelnya kaum Salafi terhadap ajaran agamanya. Mereka mudah mendakwa ini bid’ah dan itu bid’ah, amalan ini tidak ada tuntunannya, dan amalan itu tidak dicontohkan Nabi. Maka, janganlah banyak mempersoalkan hukum ajaran agama yang telah didiamkan oleh agama sehingga menyebabkan Islam menjadi agama yang berat untuk dijalankan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ فَخُذُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَانْتَهُوا

“Biarkanlah apa yang telah aku tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan perselisihan mereka kepada para Nabinya. Jika aku perintahkan kepada kalian terhadap suatu perkara maka laksanakanlah semampu kalian, dan jika aku larang kalian dari suatu perkara maka jauhilah.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2)

Dengan redaksai lain disebutkan,

اتْرُكُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ فَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ فَخُذُوا عَنِّي فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ

“Biarkanlah (taklif) yang aku tinggalkan pada kalian, bila aku menyampaikan (sesuatu) pada kalian, ambillah dariku karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap para nabi mereka.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2603)

Jangan banyak bertanya soal hukum ajaran Islam, ambil dan amalkan saja ajaran yang sudah ada. Cukupkan apa yang sudah ada! Jangan mengada-adakan hukum yang sebetulnya itu masuk wilayah mubah (netral), sebab ajaran agama Islam sudah cukup dari apa yang sudah tercantum dalam Al-Qur’an dan dan apa yang sudah dijelaskan dalam Hadits. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى أَحْفَوْهُ الْمَسْأَلَةَ فَغَضِبَ فَصَعِدَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ لَا تَسْأَلُونِي الْيَوْمَ عَنْ شَيْءٍ إِلَّا بَيَّنْتُهُ لَكُمْ

“dari [Anas] radliallahu ‘anhu; bahwa para sahabat banyak bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka setengah memaksa dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Maka beliau marah dan langsung naik mimbar sambil bersabda: ‘Tidaklah kalian bertanya kepadaku mengenai sesuatu, melainkan aku selalu jelaskan kepada kalian.” (Hadits Bukhari Nomor 5885)

Imani saja, dan cukup amalkan ajaran agama Islam yang ada agar tidak semakin menjadikan kita susah dalam beragama. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَسْأَلُوا عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْ وَإِنْ تَسْأَلُوا عَنْهَا حِينَ يُنَزَّلُ الْقُرْآنُ تُبْدَ لَكُمْ عَفَا اللَّهُ عَنْهَا ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al-Qur’an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 101)

Islam itu agama yang mudah, namun bagi umat Islam yang selalu mempersulit diri pasti akan mudah mengalami kekalahan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ

“Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit agama kecuali dia akan dikalahkan (semakin berat dan sulit).” (Hadits Bukhari Nomor 38 dan Hadits Nasai Nomor 4948)

Salah satu bentuk tidak mempersulit diri adalah jangan mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحَرِّمُوا طَيِّبَاتِ مَا أَحَلَّ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 87)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (Surat An-Nahl Ayat 116)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا ظَنُّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَذُو فَضْلٍ عَلَى النَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَشْكُرُونَ. قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal”. Katakanlah: “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” Apakah dugaan orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah pada hari kiamat? Sesungguhnya Allah benar-benar mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak mensyukuri(nya).” (Surat Yunus Ayat 59-60)

Jangan mempersulit diri, sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri tidak menuntut beban di atas kemampuan hambanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَلَدَيْنَا كِتَابٌ يَنْطِقُ بِالْحَقِّ ۚ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

“Kami tiada membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (Surat Al-Mu’minun Ayat 62)

Beramal sesuai kemampuan sebab seseorang tidak dibebani selain kadar kemampuan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلَّا وُسْعَهَا

“Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 233)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَلَا يُكَلَّفُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا يُطِيقُ

“dan janganlah dia dibebani atas suatu pekerjaan melainkan sesuai dengan kemampuannya.” (Hadits Muslim Nomor 3141)

Di simping itu, agama juga memberikan keleluasaan dalam beribadah sesukanya, selama bukan dalam perkara-perkara yang sudah diatur secara tauqifi kaifiatnya. Dengan kata lain, selama amal dan ibadah bersifat sunnah mutlak, dan selama kesunnahan tersebut tidak diatur secara rinci oleh agama, maka kita sangat diperbolehkan untuk mengkreasikan sesuka kita. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عَنْ أُبَيِّ بْنِ عِمَارَةَ قَالَ يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَكَانَ قَدْ صَلَّى مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِلْقِبْلَتَيْنِ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمْسَحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ قَالَ نَعَمْ قَالَ يَوْمًا قَالَ يَوْمًا قَالَ وَيَوْمَيْنِ قَالَ وَيَوْمَيْنِ قَالَ وَثَلَاثَةً قَالَ نَعَمْ وَمَا شِئْتَ

“dari [Ubay bin ‘Imarah] berkata Yahya bin Ayyub, dia adalah orang yang pernah shalat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap kedua qiblat, dia berkata; Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mengusap kedua khuf? Beliau menjawab: “Boleh.” Dia bertanya lagi; Satu hari? Beliau menjawab: “Ya, satu hari.” Dia bertanya lagi; Dua hari? Beliau menjawab: “Ya, dua hari.” Dia bertanya lagi; Tiga hari? Beliau menjawab: “Ya, sesukamu!” (Hadits Abu Daud Nomor 136)

Sebab dalam soal ketakwaan, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menuntut hambanya di atas kesanggupannya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat At-Tagabun Ayat 16)

Apapun yang kita kerjakan baik dari suatu amalan maupun ibadah, Allah Subhanahu wa Ta’ala tetap akan memberikan balasan pahala sesuai dengan apa yang kita usahakan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 202)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman,

لِيَجْزِيَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ مَا كَسَبَتْ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“agar Allah memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya Allah Maha cepat hisab-Nya.” (Surat Ibrahim Ayat 51)

Tata cara dalam beramal dan beribadah memang penting diperhatikan. Namun lebih penting lagi dalam beramal dan beribadah seperti dzikir adalah adanya upaya untuk senantiasa menghadirkan keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam jiwa raganya, dan setiap detak jantung hidupnya. Dzikir dilakukan dengan penuh keikhlasan, kesyahduan, kekhusuan, dan keta’dziman, hanya mengharap ridzha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. (Qs. Al-A’raf: 205)

Jangan mempersulit dalam agama, sebab Allah menghendaki kemudahan bagi hambanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 185)

Allah tidak hendak menyulitkan kamu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. (Surat Al-Ma’idah Ayat 6)

Al-Qur’an diturunkan bukan untuk menyusahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَىٰ

“Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah;” (Surat Ta Ha Ayat 2)

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba yang senantiasa mampu melaksanakan ketakwaan untuk menjalankan segala amal dan ibadah sebagai bekal kita kelak di akhirat. Dan semoga Allah meridhai segala usaha dan pengabdian kita. Amin.

Baca juga artikel yang terkait berikut;

Tuntutan syariat Islam hanya sebatas kemampuan umatnya

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 26
    Shares