Benarkah Nabi Bisa Memberikan Syafaat Kepada Umatnya Kelak Di Akhirat

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

PERTANYAAN:

  1. Ada sebagian faham yang mengingkari adanya syafaat Nabi, apakah sebetulnya syafaat itu?
  2. Kenapa ada Syafaat?
  3. Apakah nabi bisa memberi syafaat, mana dalilnya?
  4. Kalau bisa, apa saja penyebab agar kita bisa mendapatkan syafaat nabi?
  5. Apa dan siapa penyebab tertolaknya syafaat?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Syafaat Nabi Muhammad SAW adalah kewenangan yang diberikan Allah kepada makhluqnya untuk menolong mereka yang dicintainya kelak di akhiratnya disebabkan keikhlasan amalnya. Atau boleh dikatakan syafaat itu adalah penghapusan dosa yang asalnya akan masuk ke neraka menjadi masuk surga.
  2. Allah memberikan kewenangan syafaat kepada hambanya karena terbatasnya amal kebaikan yang dimilikinya namun ada ketulusan di dalamnya.
  3. Nabi bisa memberikan syafaat kepada mereka yang dicintainya atas izin Allah.
  4. Penyebab kita mendapat syafaat karena keikhlasan amal ibadah kita diridloi Allah.
  5. Seseorang tertolak mendapatkan syafaat karena keingkarannya.

MARAJI’:

Syafaat nabi adalah kewenangan yang diberikan Allah kepada nabi Muhammad untuk menolong mereka yang dicintai nabi kelak di akhiratnya disebabkan keikhlasan amalnya.

Syafaat hanya milik Allah, dan Allah lah memiliki kewenangan memberikan izin kepada hambanya seperti nabi untuk memberikan syafaat, seperti firman Allah,

قُلْ لِلَّهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيعًا ۖ لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah: “Hanya kepunyaan Allah syafa’at itu semuanya. Kepunyaan-Nya kerajaan langit dan bumi. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan” (QS. Az-Zumar: 44)

Allah memberikan kewenangan syafaat kepada hambanya karena terbatasnya amal kebaikan yang dimilikinya namun ada ketulusan di dalamnya.

  1. Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapatkan ridlo Allah,

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). (QS. An-Najm Ayat 26)

  1. Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertahuid kepada Allah,

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

  1. Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapat janji dari Allah

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (QS. Maryam Ayat 87)

Nabi bisa memberikan syafaat kepada mereka yang dicintainya atas izin Allah.

Nabi Muhammad manusia mulia yang dapat memberikan syafaat,

أنا قائد المرسلين ولا فخر وأنا خاتم النبيين ولا فخر وأنا أول شافع وأول مشفع ولا فخر

“Saya adalah pemimpin para Rasul, dan tidak ada kesombongan, saya adalah penutup para Nabi dan tidak ada kesombongan, saya adalah orang pertama yang akan (diizini Allah) memberi syafa`at dan orang pertama yang diberi syafa`at dan tidak ada kesombongan”. (HR. Darimi Nomor 49)

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ وَأَوَّلُ مَنْ تَنْشَقُّ عَنْهُ الْأَرْضُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah pemimpin anak Adam, orang yang pertama kali keluar dari perut bumi (dibangkitkan) dan orang yang pertama kali memberi syafaat dan mendapat izin untuk memberikannya.” (HR. Abu Daud Nomor 4053)

Inilah pihak-pihak yang diberikewenangan oleh Allah untuk memberikan syafaat (menghapus dosa) di hari kiamat kepada orang lain, dintaranya;

Kenapa sesama makhluq dapat memberi syafaat kelak di akhirat, tidak ada lain kecuali mereka mendapat izin dari Allah. Sebagaimana sabda Nabi,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS. Ta Ha Ayat 109)

Pada hari itu tidak berguna syafaat seseorang kecuali syafaat orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya untuk memberi syafaat. Namun walaupun di hari kiamat tetap ada orang-orang yang diizini membantu menghapus dosa orang lain namun tetap dengan kriteria-kriteria berikut ini,

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapatkan ridlo Allah,

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). (QS. An-Najm Ayat 26)

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertahuid kepada Allah,

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertakwa

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiya Ayat 28)

Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapat janji dari Allah

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (QS. Maryam Ayat 87)

Namun ada juga para malaikat dan nabi bermaksud menghapus dosa seseorang, namun karena tidak masuk kriteria hamba yang dapat syafaat dari Allah karena dzalim,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Al-Mu’min Ayat 18)

Kekafiran yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan syafaat

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

Orang pelaknat tidak akan diberi kewenangan mensyafaati

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَبِي الزَّرْقَاءِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ وَزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ أَنَّ أُمَّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ

Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Zaid bin Abu Az Zarqa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] dari [Abu Hazim] dan [Zaid bin Aslam] bahwa [Ummu Darda] berkata; Aku mendengar [Abu Darda] berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberi syafaat atau saksi.” (HR. Abu Daud Nomor 4261)

Yang tidak bisa menanggung dosa orang lain adalah mereka yang berdosa dan kafir, namun para malaikat, nabi dan orang-orang shaleh dapat menanggung dosa orang lain dengan pengertian orang baik itu dapat menebabkan hapusnya dosa orang lain karena syafaat yang diberikannya atas izin dan keridhoan Allah. Buka berarti orang baik itu ketika menanggung dosa orang lain tersebut dia mendapatkan limpahan dosa mereka, namun dosa yang ditanggung oleh orang soleh tersebut menjadi terhapus berkat syafaat yang diberikan orang shaleh atas izin Allah, hal ini sesuai denga dalil.

Penyebab kita mendapat syafaat karena keikhlasan amal ibadah kita diridloi Allah.

Adapun kiat-kiat seorang muslim untuk mendapatkan syafa’at, yaitu :

  1. Memperbanyak dzikir TAHLIL “Laa ilaahaa illallaah”, dengan niat ikhlas mentauhidkan Allah.

أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ

“Yang paling bahagia dengan syafa’atku pada hari Kiamat adalah, orang yang mengucapkan Laa ilaahaa illallaah dengan ikhlas dari hatinya atau dirinya”. [HR Bukhari, no. 99]

  1. Membaca al Qur`an.

Dari Abi Umamah bahwasannya dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah al Qur`an. Sesungguhnya al Qur`an akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi syafa’at bagi sahabatnya (pembacanya)…” [HR Muslim, no.804].

Yang dimaksud para sahabat al Qur`an, mereka adalah orang-orang yang membacanya, mentadabburinya, dan mengamalkan isinya.

  1. Memperbanyak dzikir Shalawat kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

“Orang yang paling berhak mendapatkan syafa’atku pada hari kiamat adalah, yang paling banyak shalawat kepadaku” (HR Tirmidzi, no.484, hasan)

  1. Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertakwa

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiya Ayat 28)

  1. Puasa

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَقُولُ الصِّيَامُ أَيْ رَبِّ مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ وَيَقُولُ الْقُرْآنُ مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَشَفِّعْنِي فِيهِ قَالَ فَيُشَفَّعَانِ

“Puasa dan al Qur`an akan memberi syafa’at kepada seorang hamba pada hari Kiamat kelak. Puasa akan berkata : “Wahai, Rabb-ku. Aku telah menahannya dari makan pada siang hari dan nafsu syahwat. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Sedangkan al Qur`an berkata : “Aku telah melarangnya dari tidur pada malam hari. Karenanya, perkenankan aku untuk memberi syafa’at kepadanya”. Maka keduanya pun memberi syafa’at”. (HR. Ahmad)

  1. Shalatnya sekelompok orang muslim terhadap mayit muslim.

مَا مِنْ مَيِّتٍ تُصَلِّي عَلَيْهِ أُمَّةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَبْلُغُونَ مِائَةً كُلُّهُمْ يَشْفَعُونَ لَهُ إِلَّا شُفِّعُوا فِيهِ

“Tidaklah seorang mayit dishalatkan oleh sekelompok orang Islam yang jumlah mereka mencapai seratus, semuanya memintakan syafa’at untuknya, melainkan syafa’at itu akan diberikan pada dirinya”. (HR Muslim, no. 947, 58)

مَا مِنْ رَجُلٍ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَقُومُ عَلَى جَنَازَتِهِ أَرْبَعُونَ رَجُلًا لَا يُشْرِكُونَ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا شَفَّعَهُمْ اللَّهُ فِيهِ

“Tidaklah seorang muslim meninggal dunia, lalu jenazahnya dishalatkan oleh empat puluh orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, melainkan Allah akan memberikan syafa’at kepadanya”. (HR Muslim, no.948, 59)

  1. Doa setelah adzan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang membaca ketika mendengar adzan ‘Ya Allah, Rabb pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al wasilah (derajat di surga), dan keutamaan kepada Muhammad n , dan bangkitkan beliau, sehingga bisa menempati maqam terpuji yang engkau janjikan’. Maka dia berhak mendapatkan syafa’atku pada hari Kiamat”. (HR Bukhari no.614)

  1. Memperbanyak sujud.

Dari Rabi’ah bin Ka’ab al Aslami, dia berkata: “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku mendatangi beliau sambil membawa air untuk wudhu’ beliau. Kemudian beliau berkata kepadaku,’Mintalah’. Aku berkata,’Aku minta untuk dapat menemanimu di surga,’ kemudian beliau berkata, ‘Atau selain itu?’ Aku berkata,’Itu saja’. Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Tolonglah aku atas dirimu dengan banyak bersujud”. (HR Muslim, no.489, 226)

  1. Ikut mencintai kota Nabi Madinah.

Abu Sa’id pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seseorang sabar terhadap kesusahannya (Madinah) kemudian dia mati, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya, atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat. Jika dia seorang muslim” (HR Muslim, no.1374, 477)

لَا يَصْبِرُ عَلَى لَأْوَاءِ الْمَدِينَةِ وَشِدَّتِهَا أَحَدٌ مِنْ أُمَّتِي إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَوْ شَهِيدًا

“Tidaklah seseorang dari umatku sabar terhadap cobaan Madinah dan kesusahannya, kecuali aku akan memberikan syafa’at padanya atau menjadi saksi baginya pada hari Kiamat”. (HR Muslim, no.1378, 484)

مَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يَمُوتَ بِالْمَدِينَةِ فَلْيَمُتْ بِهَا فَإِنِّي أَشْفَعُ لِمَنْ يَمُوتُ بِهَا

“Barangsiapa yang ingin mati di Madinah, maka matilah disana. Sesungguhnya aku akan memberi syafa’at bagi orang yang mati disana”. (HR Ahmad, II/74,104; Tirmidzi, no.3917; Ibnu Majah, no.3112)

Seseorang tertolak mendapatkan syafaat karena beberapa hal diantaranya;

  1. Namun ada juga para malaikat dan nabi bermaksud menghapus dosa seseorang, namun karena tidak masuk kriteria hamba yang dapat syafaat dari Allah karena dzalim,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Al-Mu’min Ayat 18)

Kekafiran yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan syafaat

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

Orang pelaknat tidak akan diberi kewenangan mensyafaati

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَبِي الزَّرْقَاءِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ وَزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ أَنَّ أُمَّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ

Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Zaid bin Abu Az Zarqa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] dari [Abu Hazim] dan [Zaid bin Aslam] bahwa [Ummu Darda] berkata; Aku mendengar [Abu Darda] berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberi syafaat atau saksi.” (HR. Abu Daud Nomor 4261)

وَاللهَ أَعْمُ بِالصَّوَابِ


Artikel Terkait: Kupas Tuntas Hukum Kiriman Pahala Dan Menanggung Dosa Orang Lain


SYUBHAT SYARIAT:

Namun ada saja segelintir umat Islam yang mengingkari kedudukan syafaat, mereka memiliki pandangan yang melenceng karena tidak utuh dalam memahami ajaran agamanya dengan mencomat comot satu dalil dan mengabaikan dalil ainnya, sebagaimana mereka yang mengingkari kedudukan syafaat nabi dengan dasar firman berikut,

وذر الّذين اتّخذوا دينهم لعبا ولهوا وغرّتهم الحياة الدّنيا وذكّر به أن تبسل نفس بما كسبت ليس لها من  دون الله وليّ ولا شفيع وإن تعدل كلّ عدل لا يؤخذ منها  (الانعام ٧٦)

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau sedangkan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Ingatkanlah mereka dengan Al Quran agar mereka tidak terjerumus ke dalam api neraka karena perbuatan mereka sendiri. Tidak ada pelindung dan pemberi syafaat baginya selain dari Allah. Dan jika mereka hendak menebus kesalahan dengan harga apa pun  maka tebusan itu tidak akan diterima….(QS. Al-An’am: 76)

Dengan dalil di atas mereka beranggapan makhluq tidak dapat memberikan syafaat, namun mereka mengabaikan bahwa juga ada dalil lain yang membenarkan bahwa syafaat itu ada, sebagaimana firman Allah,

يَوْمَئِذٍ لَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَرَضِيَ لَهُ قَوْلًا

“Pada hari itu tidak berguna syafa’at, kecuali (syafa’at) orang yang Allah Maha Pemurah telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (QS. Ta Ha Ayat 109)

Dalam dua fairman Allah itu sangat jelas dan tidak bertentangan, karena bila dipadukan bahwa memang pemilik syafaat adalah Allah, namun Allah pulalah yang berwenang memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki untuk mensyafaati sesama makhluqnya. Disinah bahanya bila beragama tidak menggunakan manhaj (metode), mereka asal comot dalil sesukanya sehingga banyak menimbulkan benturan pemahaman.

Padahal syafaat itu merupakan ketetapan Allah, bila Allah sudah menetapkan maka tidak ada satupun dari hambanya yang dapat menolaknya. Nabi bersabda,

وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ

Ketahuilah seandainya semua umat berkumpul untuk memberimu manfaat dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa memberimu manfaat kecuali sesuatu yang telah ditetapkan Allah Swt kepadamu. Apabila mereka berkumpul untuk membahayakan kamu dengan sesuatu, maka mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tentukan atasmu”. {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}

Salah satu sebab kita mendapatkan syafaat kelak adalah dengan cara mencintai orang-orang shalih, diantara salah satu caranya adalah berdoa tawassul kepada nabi dan memperbanyak shalawat kepada nabi. Karena hal itu

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (bertawassul) kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS.Al-Isra’[17]: 57)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang (bertawassul) mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS.Al-Ma’idah:[5]:35)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا. (النساء[4]: )

“Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu (bertawassul), lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nisa'[4]: 64)

Namun begitu kedududukan orang shalih hanya perantara saja (wasilah), hak dan kewenangan hanya milik Allah. Allah berfirman,

اذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Apabila kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Apabila kamu meminta tolong maka minta tolonglah kepada Allah” {HR. Turmudzy juz 9 hal. 56}