Benarkah Memperbanyak Dzikir Shalawat Menyebabkan Dapat Syafaat Nabi

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

  1. Benarkah dengan memperbanyak membaca dzikir shalawat menyebabkan kita akan memperoleh syafaat NabiMuhammad SAW di akhirat kelak?
  2. Adakah dalilnya?
  3. Apakah tanpa ibadah yang lain bacaan shalawat menjamin kita dapat syafaat?

 وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

JAWABAN:

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Benar sekali, bacaan dzikir shalawat menyebabkan kita memperoleh syafaat Nabi di akhirat kelak.
  2. Terdapat banyak dalil tentang hal ini diantaranya Tirmidzi No. 3547
  3. Seseorang tidak bisa mendapatkan syafaat bila melakukan dua hal tidak menjalankan perintah pokok agama seperti shalat dan tidak menjauhi larangan Allah seperti maksiat yang menyebabkan tidak diridloi Allah. Dengan bahasa sederhana orang yang tidak bertaqwa tidak akan mendapatkan syafaat.

 وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

MARAJI’:

Bacaan dzikir shalawat menyebabkan kita memperoleh syafaat Nabi di akhirat kelak.

Bacaan dzikir shalawat merupakan bentuk kecintaan seseorang kepada nabinya, dengan kita mencintai Nabi Muhammad niscaya beliau juga akan mencintai kita, jangankan para malaikat Allahpun sangat mencintai Nabi sehingga Allah juga mengucapkan shalawat. Sebagaimana firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzaab: 56)

Begitu agungnya bacaan dzikir shalawat, sehingga kita sangat dianjurkan senantiasa membacanya. Karena terkandung banyak keutamaan di dalamnya. Sebagaimana hadits berikut

  1. Setiap sekali bacaan shalawat akan dibalas sepuluh kali

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim No. 408)

  1. Celakalah seseorang yang disebutkan namaku di hadapannya, lalu ia tidak membaca salawat untukku.

الْبَخِيلُ الَّذِي مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

“Orang yang bakhil adalah orang yang apabila aku disebutkan di hadapannya maka ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku.” Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib. (HR.Tirmidzi No. 3469)

  1. Barangsiapa segan membaca shalawat, tidaklah bagi mereka melainkan majelis itu akan menjadi penyesalan bagi mereka di hari kiamat.

مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ إِلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةً فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ

“Tidaklah sebuah kaum duduk-duduk di dalam suatu majelis dan tidak menyebutkan nama Allah padanya serta tidak bershalawat kepada Nabi mereka melainkan mereka mendapatkan penyesalan, apabila Allah menghendaki Dia mengadzab mereka dan apabila Allah menghendaki maka Dia mengampuni mereka.” (HR. Tirmidzi No. 3302)

Terdapat banyak dalil tentang hal ini, diantaranya;

  1. Barangsiapa membaca shalawat sekali maka para malaikat terus-menerus memohonkan ampunan.

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا لِيَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ وَمَنْ سَأَلَ لِيَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

“Bila kalian mendengarkan seorang muadzin, maka katakanlah seperti apa yang dikatakan oleh Mu’adzin, kemudian bershawatlah kepadaku, karena barang siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan membalas sepuluh kali shalawat, dan mohonlah wasilah untukku, karena ia adalah salah satu kedudukan di surga yang tidak pantas diberikan kecuali kepada salah seorang dari hamba Allah dan aku berharap semoga aku menjadi orang tersebut. Barangsiapa memohonkan wasilah untukku, maka ia berhak untuk mendapatkan syafa’at.” (HR. Tirmidzi No. 3547)

  1. Orang yang paling berhak mendapat syafaatku kelak di hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca salawat untukku.

إِذَا سَمِعْتُمْ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لِي الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ تَعَالَى وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ عَلَيْهِ الشَّفَاعَةُ

“Apabila kalian mendengar muadzin mengumandangkan adzan, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya kemudian bacalah shalawat untukku, karena sesungguhnya orang yang membaca shalawat sekali untukku, maka Allah akan menganugerahkan sepuluh shalawat (rahmat) kepadanya, lalu mohonlah kepada Allah Azza wa Jalla Washilah (kedudukan yang tinggi) untukku. Karena washilah itu suatu kedudukan yang tinggi dalam surga, yang tidak pantas kecuali bagi seseorang di antara hamba hamba Allah Ta’ala, dan saya berharap semoga sayalah yang akan menempatinya. Barangsiapa yang memohonkan wasilah kepada Allah untukku, niscaya dia akan mendapat syafaat. (HR. Abu Daud No. 439)

Seseorang tidak bisa mendapatkan syafaat bila melakukan dua hal, yaitu  tidak menjalankan perintah pokok agama seperti shalat dan tidak menjauhi larangan Allah seperti maksiat yang menyebabkan tidak diridloi Allah. Dengan bahasa sederhana orang yang tidak bertaqwa tidak akan mendapatkan syafaat.

  1. Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang bertakwa

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَىٰ وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ

“Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa’at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. (QS. Al-Anbiya Ayat 28)

  1. Hamba yang dapat menerima penghapusan dosa adalah mereka yang sudah mendapat janji dari Allah, yakni sebuah janji bila seorang hamba menjalankan ibadah kepda Allah dengan ikhlah,

لَا يَمْلِكُونَ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنِ اتَّخَذَ عِنْدَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا

“Mereka tidak berhak mendapat syafa’at kecuali orang yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah. (QS. Maryam Ayat 87)

  1. Namun ada juga para malaikat dan nabi bermaksud menghapus dosa seseorang, namun karena tidak masuk kriteria hamba yang dapat syafaat dari Allah karena dzalim,

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْآزِفَةِ إِذِ الْقُلُوبُ لَدَى الْحَنَاجِرِ كَاظِمِينَ ۚ مَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ حَمِيمٍ وَلَا شَفِيعٍ يُطَاعُ

“Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat (hari kiamat yaitu) ketika hati (menyesak) sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak (pula) mempunyai seorang pemberi syafa’at yang diterima syafa’atnya. (QS. Al-Mu’min Ayat 18)

  1. Kekafiran yang menyebabkan mereka tidak mendapatkan syafaat

وَلَا يَمْلِكُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الشَّفَاعَةَ إِلَّا مَنْ شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memberi syafa’at; akan tetapi (orang yang dapat memberi syafa’at ialah) orang yang mengakui yang hak (tauhid) dan mereka meyakini(nya). (QS. Az-Zukhruf Ayat 86)

  1. Orang pelaknat tidak akan diberi kewenangan mensyafaati

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ زَيْدِ بْنِ أَبِي الزَّرْقَاءِ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ وَزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ أَنَّ أُمَّ الدَّرْدَاءِ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَكُونُ اللَّعَّانُونَ شُفَعَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ

Telah menceritakan kepada kami [Harun bin Zaid bin Abu Az Zarqa] berkata, telah menceritakan kepada kami [Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Sa’d] dari [Abu Hazim] dan [Zaid bin Aslam] bahwa [Ummu Darda] berkata; Aku mendengar [Abu Darda] berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang-orang yang suka melaknat tidak akan bisa memberi syafaat atau saksi.” (HR. Abu Daud Nomor 4261)

Disamping kita memperbanyak dzikir shalawat kita juga harus bertaqwa kepada Allah sehingga kita akan mendapatkan ridlona, Allah berfirman,

۞ وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَاوَاتِ لَا تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلَّا مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللَّهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَىٰ

“Dan berapa banyaknya malaikat di langit, syafa’at mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya). (QS. An-Najm Ayat 26)

Artikel Terkait: Kupas Tuntas Hukum Kiriman Pahala Dan Menanggung Dosa Orang Lain

SYUBHAT SYARIAT:

Namun ada saja segelintir umat Islam yang mengingkari kedudukan syafaat nabi, mereka beranggapan bahwa bacaan shalawat kepada nabi tidak sampai dengan alasan bahwa nabi sudah meninggal, mereka menggunakan dalil,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah (tidak lagi bisa menambah) segala amalan(usaha)nya kecuali (tetap mendapat aliran pahala dari) tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim Nomor 3084)

Memang benar dengan hadits tersebut, bahwa ketika orang sudah meninggal maka terputuslah amalnya dengan maksud bahwa apabila seseorang telah meninggal dunia maka saat itu juga semua amalnya terputus, dia sudah tidak lagi bisa menambah amalnya, tidak lagi bisa meneruskan usahanya, dan sudah tidak lagi bisa menjalankan ibadahnya.

Namun begitu tidaklah terputus pahala dari amal yang pernah dilakukan semasa hidup. Harus dibedakan antara putus amal dengan putus pahala, bukan berarti bila seseorang yang meninggal terputus amalnya maka pahalanya juga ikut terputus. Semua amal kebaikan yang pernah dilakukan semasa hidupnya selama bekas-bekas kebaikannya masih dapat dirasakan kemanfaatnannya maka pahalanya akan terus mengalir sebagaimana yang difirmankan Allah,

إِنَّا نَحْنُ نُحْيِي الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang (walaupn sudah) mati dan Kami (tetap) menuliskan apa (pahala) yang telah mereka kerjakan (usakahan semasa hidupnya) dan bekas-bekas (amal usaha) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Ya Sin Ayat 12)

Pemahaman ini, yakni orang mati tetap akan mendapatkan limpahan pahala dari amal kebaikan semasa hidupnya diperkuat lagi dengan salah satu contoh amal dalam sabda Nabi,

قَامَ أَبُو طَلْحَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ { لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ } وَإِنَّ أَحَبَّ أَمْوَالِي إِلَيَّ بَيْرُحَاءَ وَإِنَّهَا صَدَقَةٌ لِلَّهِ أَرْجُو بِرَّهَا وَذُخْرَهَا عِنْدَ اللَّهِ فَضَعْهَا حَيْثُ أَرَاكَ اللَّهُ فَقَالَ بَخْ ذَلِكَ مَالٌ رَابِحٌ أَوْ رَايِحٌ

“Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: (“Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai”), dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha’ (sumur) itu dan sekarang dia menjadi shadaqah di jalan Allah dan aku berharap kebaikannya dan sebagai simpanan pahala di sisi-Nya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepada Tuan”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, atau harta yang pahalanya mengalir terus. (HR. Bukhari Nomor 2562)

Hadits-hadits sejenis di atas menunjukkan bahwa pahala dari kebaikan semasa hidupnya akan tersu mengalis walaupun pelakunya sudah meninggal. Begitu juga dengan bacaan shalawat kepada nabi akan terus sampai kepada beliau walaupun nabi sudah tiada, pemahaman ini sangat jelas ditunjukkan dalam sebuah firman Allah,

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَام وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ أَيْ يَقُولُونَ قَدْ بَلِيتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَنْ تَأْكُلَ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمْ السَّلَام

“Hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at -karena- pada hari itu Nabi Adam dicipta, pada hari itu beliau diwafatkan, pada hari itu ditiupnya terompet (menjelang kiamat), dan pada hari (mereka) dijadikan pingsan. Maka perbanyaklah shalawat kepadaku -karena- shalawat kalian disampaikan kepadaku.” Mereka (para sahabat) berkata; “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam, bagaimana mungkin shalawat kami bisa disampaikan kepada engkau, sedangkan engkau telah meninggal? -atau mereka berkata; “Telah hancur (tulangnya) “- Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam lalu berkata: “Allah Azza wa Jalla mengharamkan tanah untuk memakan jasad para Nabi ‘Alaihimus Salam.” (HR. Nasa’i No. 1357)

Ini menunjukkan setiap kiriman pahala dari bacaan kebaikan termasuk shalawat dari mereka yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal bisa diterima (sampai). Kematian tidak dapat menghalangi setiap kebaikan yang kita kirimkan kepada mereka. Sebagaimana kita yang masih hidup dapat menerima kebaikan dari mereka yang sudah mati seperti harta warisan. Terutama mereka orang-orang sholeh dijamin oleh Allah tetap hidup,

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah, itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rejeki,” (QS. Ali ‘Imran: 169).

Mereka yang tidak mengakui bahwa bacaan shalawat kepada nabi sampai dan mereka yang juga tidak mengakui bahwa nabi bisa memberi syafaat kelak di akhirat kepada umatnya adalah mereka yang telah mengingkari sunnah nabi. Semoga mereka yang ingkarussunnah segera mendapat hidayah Allah Amin.

وَاللهَ أَعْمُ بِالصَّوَابِ