Benarkah Makan Daging Buaya Halal

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


PERTANYAAN:

  1. Saya pernah membaca sebuah artikel yang mengatakan bahwa daging buaya halal dimakan. Benarkah pendapat tersebut?
  2. Adakah dalilnya?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Pendapat yang mengatakan daging buaya itu halal menyelisihi kesepakat (ijma) jumhur ulama dari masa ke masa.
  2. Keharaman daging buaya didukung dengan dalil yang sangat kuat (tsabit) dari hadits-hadits yang sahih sebagaimana dijelaskan dalam Mughni al Muhtaj (4/297), Tabyin al Haqaid asy Syarh al Kanz (5/296).

MARAJI’:

Pendapat yang mengatakan daging buaya itu halal menyelisihi kesepakat (ijma) jumhur ulama dari dari masa ke masa.

Baik empat imam madzhab dan para ulama lainnya mengatakan keharaman daging buaya karena dua alasan pokok, yakni karena ia tergolong hewan buas disebabkan bertaring, kedua ia hewan yang hidup di dua alam yakni air dan daratan. Pendapat ini termaktub dalam kitab Fiqh Islami wa Adillatuhu (4/2800), Majmu’ Syarh al Muhadzdzab (9/32)

Keharaman daging buaya didukung dEngan dalil yang sangat kuat (tsabit) dari hadits yang sahih.

Buaya termasuk hewan buas semisal singa, srigala yang jelas diharamkan dalam syariat, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ فَأَكْلُهُ حَرَامٌ

“Setiap binatang buas yang bertaring, maka memakannya adalah haram.” (HR. Muslim Nomor 3573)

Dari Ibnu ‘Abbas, beliau berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ كُلِّ ذِي نَابٍ مِنْ السِّبَاعِ وَعَنْ كُلِّ ذِي مِخْلَبٍ مِنْ الطَّيْرِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang memakan setiap binatang buas yang bertaring, dan setiap jenis burung yang mempunyai kuku untuk mencengkeram.” (HR. Muslim Nomor 3574)

Al imam Nawawi rahimahullah dalam Fathul Bari (9/619) mengatakan, “Yang dimaksud dengan memiliki taring–menurut ulama Syafi’iyah- adalah taring tersebut digunakan untuk berburu (memangsa).”

Memang hukum asal segala sesuatu itu halal, sebagaimana firman Allah,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْفُلْكَ لِتَجْرِيَ فِي الْبَحْرِ بِأَمْرِهِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ الْأَنْهَارَ. وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ. وَآتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai. Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS. Ibrahim Ayat 32-34)

Firman di atas sesuai dengan kaidah berikut,

اَلأَصْلُ فِى اْلأَشْيَاءِ اْلإِ بَا حَة حَتَّى يَدُلَّ اْلدَّلِيْلُ عَلَى التَّحْرِيْمِ

“Hukum asal dari sesuatu adalah mubah sampai ada dalil (yang lebih khusus) yang melarangnya (memakruhkannya atau mengharamkannya)”

Namun begitu walaupun semua alam semesta diperuntukkan manusia bukan berarti semuanya halal, baik kehalalan maupun keharaman sama-sama membutuhkan kriteria sebelum ditetapkan. Pendapat tentang kehalalan buaya tersebut begitu dangkalnya karena langsung menggunkan dalil-dalil umum tanpa memperdulikan dalil-dalil lain yang lebih khusus. Terkait dengan penggunaan dalil-dalil umum dalam masalah syari’at bukanlah merupakan larangan, namun begitu dalil umum tersebut baru boleh digunakan selama tidak ada dalil yang khusus. Dalam ilmu usul fiqih telah telah ditetapkan sebuah kaidah atau cara yang ketat dalam beristinbat/menetapkan hukum sebagai berikut;

  • Bila bersamaan ada dua dalil antara khas (khusus) dan ‘am (umum), maka keumuman dalil tersebut harus ditakhsis (dikhususkan) dengan dalil khas.
  • Bila bersamaan terdapat dua dalil mutlak (global) dan muqayyad (berbatas) maka dalil mutak tersebut harus dibatasi dengan dalil muqayyad.
  • Bila bersamaan terdapat dua dalil dzanni (prasangka) dan qath’i (tegas) maka dalil dzanni tersebut harus kuatkan dengan dalil qath’i.
  • Begitu juga berlaku antara mujmal (samar) dan mubayyan (jelas) harus lebih didahulukan mubayyan. Dan,
  • Begitu juga berlaku antara mafhum (konteks) dan mantuq (teks) harus lebih didahulukan mantuqnya.

Walaupun buaya terkesan hewan yang lebih banyak menetap di air bukan berarti ia dapat dikatakan sebagai hewan air yang dihalalkan seperti pengertian dalam firman Allah berikut ini,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. al-Ma’idah :96)

Memang hewan air semuanya halal dimakan, namun pengertian hewan air tersebut adalah bila ia hanya mampu bertahan hidup di air saja, sedangkan buaya walaupun ia hidup di air namun ia juga mampu bertahan hidup di darat karena ia memang secara ilmiah termasuk hewan darat. Sehingga ia tidak masuk ke dalam kategori sabda nabi berikut,

هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut itu suci dan bangkainya pun halal.” (HR. At Tirmidzi no. 69, An Nasai no. 332, Abu Daud no. 83, Ibnu Majah no. 386, Ahmad 2/361)

Ringkasnya adalah bilamana ada dua dalil yang bertentangan antara dalil ‘am dan dalil khas maka dalil khas harus didahulukan untuk diamalkan.

SYUBHAT SYARI’AT

Berbeda dengan mayoritas ulama dari masa ke masa, yakni firqah Salafi yang berpusat di kerajaan Saudi. Dalam fatwa mereka yang bernomor seri 5394 yang dikeluarkan oleh Komite Tetap Untuk Riset Ilmiyah Dan Fatwa atau dikenal dengan Fatâwa Lajnatid Dâimah Lil Buhûtsil ‘Ilmiyyah wal Iftâ, mereka berpendapat bahwa daging buaya adalah halal dengan anggapan bahwa buaya termasuk hewan air. Dalil yang mereka gunakan adalah keumuman dalil berikut,

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ

“Katakanlah, “Tiadalah Aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allâh. [al-An’âm/6:145]

Dan firman Allah berikut,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut.” (QS. al-Ma’idah :96)

Anggapan bahwa buaya termasuk hewan air kelihatanya perlu difikir dan dikaji ulang; Kalau analisisnya sedangkal itu tentunya angsa, bebek, kuda nil, katak, dan sebagian ular tentunya kedudukannya juga harus disamakan dengan ikan, insyaallah anak kecil saja faham tentang perkara ini. Hewan-hewan darat yang betah di air bukan serta merta dapat dihukumi sebagai hewan air sebagaimana ikan. Kebetahan mereka di air salah satu faktornya karena sebagaian hewan darat tersebut mata rantai makanannya kebetulan hewan-hewan yang ada di air.

Fatwa para pemuka firqah Salafi ini bukan hanya menyelisihi mayoritas ulama dan nalar fikiran manusia  yang sehat, namun juga menyelisihi nash Hadits Nabi SAW. yang mengatakan setiap hewan yang bertaring dan berkuku runcing adalah haram dimakan. Karena pendapat dari firqah Salafi ini menyelisihi semua dalil qath’i dan nalar, pokok permasalahan ini tidak dapat dimasukkan sebagai persoalan ikhtilaful ulama, karena yang dinamakan ikhtilaful ulama bila kedua pendapat yang berbeda tersebut masing-masing disokong dengan dalil-dalil yang sama-sama kuat dan qath’i yang mana dari masing-masing keduanya sulit untuk dipatahkan pendapatnya karena telah didukung dengan tradisi dan metode kaidah dan ushul fiqh yang kuat. Namun pandangan firqah Salafi ini lebih tepat bila dikatakan sebagai kesalahan dan kefatalan fatwa. Namun hal ini terjadi bisa difahami karena firqah ini dalam beragama lebih menggunkan pemahaman langsung pada dzahirnya teks-teks Al-Qur’an dan Hadits tanpa menggunakan tradisi metode kaidah dan ilmu ushul fiqh yang kuat, sehingga wajar bila dampaknya antara satu pendapat dengan pendapat yang mereka keluarkan sendiri juga banyak terjadi pertentangan atau kontradiksi (ta’arudl). Semoga mereka segera mendapat hidayah amin.

Wallahu a’lam.