Ushul Fiqih Bagian 02; Am Dan Khas

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

  1. Pendahuluan

Agama Islam dengan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman utamanya adalah seperangkat aturan yang mengikat penganutnya untuk mengamalkannya. Namun Al-Qur’an dan Hadits perlu dirumuskan terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai aturan. Tidak bisanya Al-Qur’an dan Hadits digunakan secara langsung sebagai seperangkat aturan syari’at bagi penganutnya disebaban beberapa faktor, di antaranya;

Pertama, redaksi dari keduanya memiliki bentuk dan sifat yang beragam; Ada teks yang bentuknya umum dan yang berbentuk kusus, dan ada yang bersifat hukum syar’i juga ada yang bersifat sekedar kisah orang-orang terdahulu, maupun ada yang sifatnya jelas dan ada juga yang bersifat tidak jelas. Allah berfirman,

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. Ali ‘Imran: 7)

Di samping itu ada potensi ta’arud (pertentangan) pemahaman dikarenakan perbedaan bentuk dan sifat-sifat teks yang digunakan dalam redaksinya. Potensi pertentangan walaupun tidak banyak telah diisyaratkan oleh Allah dalam firmannya,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS. An-Nisa’: 82)

Untuk menghindari pertentangan hukum disebabkan perbedaan pemahaman terhadap redaksi Al-Qur’an, maka dibutuhkanlah sebuah metodologi untuk merumuskan hukum-hukum syar’i sehingga menjadi sebuah kodifikasi hukum amaliyah yang mudah diaplikasikan bahkan bagi orang awam sekalipun yang tidak sempat mendalami firman Allah dan sunnah nabi. Di antara metodologi yang telah disepakai oleh jumhur ulama sebagai alat penggali hukum al-qur’an dan hadits adalah ilmu ushul fiqh sebagai salah satu unsur penting yang digunakan sebagai pendekatan dalam mengkaji Islam adalah Ilmu Ushul Fiqh, yaitu ilmu yang mempelajari kaidah-kaidah yang dijadikan pedoman dalam menetapkan hukum-hukum syari’at yang bersifat amaliyah yang diperoleh melalui dalil-dalil yang rinci. Melalui kaidah-kaidah Ushul akan diketahui nash-nash yang syara’ dan hukum-hukum yang ditunjukkannya.

Salah satu materi yang menjadi pembahasan dalam ushul fiqh adalah lafadz umum (‘am) dan Khusus (khash) yang ditinjau dari sisi cakupan betuknya.

  1. Pengertian Lafadz ‘Am

Pembahasan ‘am dan khas itu sama dengan mutlaq dan muqayad, namun sedikit ada perbedaannya; Bila ‘am dan khas ditinjau dari segi cakupan BENTUK lafadznya, sedangkan mutlaq dan muqayyad ditinjau dari segi cakupan SIFAT lafadznya. Atau juga dapat dimasukkan dalam pembahasan ma’rifat dan nakirah, yakni lafadz mutlaq ini pada umumnya berbentuk nakirah dalam konteks kalimat positif.

Sebagaimana yang sudah kita fahami bahwa Al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber hukum Islam dalam banyak hal memakai lafazh umum yang bersifat universal. Lafaz ‘am ialah suatu lafaz yang menunjukkan satu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu. Sedangkan menurut Muhammad Adib Saleh, lafadz ‘am (umum) ialah lafadz yang digunakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian lafadz itu sendiri tanpa dibatasi dengan jumlah tertentu.

Maka yang dimaksud dengan ‘am yaitu suatu lafadz yang dipergunakan untuk menunjukkan suatu makna yang pantas (boleh) dimasukkan pada makna itu dengan mengucapkan sekali ucapan saja. Seperti kita katakan “arrijal”, maka lafadz ini meliputi semua laki-laki. Berikut beberapa kosa kata dalam Bahasa Arab yang memiliki persepsi makna ‘Am: a. Kullun, jami’un, kaffatun dan ma’syara. b. Man, Maa dan Aina pada Majaz. c. Man, Maa, Aina dan Mata untuk Istifham (pertanyaan). d. Ayyu. e. Nakirah sesudah naïf. f. Isim maushul. g. Idhafah. h. Alif lam harfiyah.

  1. Pembagian Lafadz ‘Am
  • Lafal ‘am yang dikehendaki keumumannya disebabkan ada dalil yang menunjukkan tertutupnya kemungkinan ada takhsis (pengkhususan). Misalnya,ayat 6 surat Hud:

۞ وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Hud[11]: 6)

Maksud dari binatang melata dalam ayat di atas adalah umum, mencakup seluruh jenis binatang tanpa kecuali, sebab diyakini setiap yang melata dipermukaan bumi Allah sebagai pemberi rezeki.

  • Lafal umum pada hal yang dimaksud adalah makna khusus karena ada indikasi yang menunjukkan makna seperti itu. Contohnnya :

مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُمْ مِنَ الْأَعْرَابِ أَنْ يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا بِأَنْفُسِهِمْ عَنْ نَفْسِهِ ۚ

“Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. (QS. At-Taubah[9]: 120)

  • Lafal umum yang terbebas dari indikasi baik menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah makna umumnya atau adalah sebagian cakupannya. Contohnya, ayat 228 surat al-Baqarah:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ ۚ

“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’. (QS. Al-Baqarah[2]: 228)

Lafal umum dalam ayat tersebut yaitu al-muthalaqat (wanita-wanita yang ditalak), terbebas dari indikasi yang menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah makna umumnya itu atau sebagian cakupannya.

Berkaitan dengan lafal umum, perlu dibahas tentang takhsis. Seperti dikemukakan Khudari Bik dalam bukunya Ushul Fiqh, takhsis adalah penjelasan bahwa yang dimaksud dengan satu lafal umum adalah sebagian dari cakupannya, bukan seluruhnya.

  1. Dilalah/Hukum (Kehujjahan) Lafadz ‘Am

Para Ulama sepakat bahwa lafazh ‘am yang disertai qarinah (indikasi) yang menunjukkan penolakan adanya takhsis adalah qat’i dilalah. Mereka pun sepakat bahwa lafazh ‘am yang disertai qarinah yang menunjukkan bahwa yang dimaksudnya itu khusus, mempunyai dilalah yang khusus pula.  Yang menjadi perdebatan pendapat di sini ialah lafazh ‘am yang mutlaq tanpa disertai suatu qarinah yang menolak kemungkinan adanya takhsis, atau tetap berlaku umum yang mencakup satuan-satuannya.

Menurut Hanafiyah dilalah ‘am itu qath’i, yang dimaksud qath’i menurut hanafiyah ialah:

“Tidak mencakup suatu kandungan, yang menimbulkan suatu dalil.”

Namun, bukan berarti tidak ada kemungkinan takhsis sama sekali. Oleh karena itu, untuk menetapkan ke-qath’i-an lafazh ‘am, pada mulanya tidak boleh ditakhsis sebab apabila pada awalnya sudah dimasuki takhsis, maka dilalahnya zanni. 

Mereka beralasan, ”sesungguhnya suatu lafazh apabila dipasangkan pada suatu makna itu berketetapan yang pasti, sampai ada dalil yang mengubahnya.

Menurut Hanafiah sembelihan tanpa disertai dengan ucapan Bismillah tidak halal dimakan, mereka berpegang pada ayat:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. (QS. Al-An’am: 121)

Mereka tidak mau mentakhsisnya dengan hadis Rasul yang berbunyi:

“Seorang muslim menyembelih dengan menyebut bismillah, sebutlah (ucapkanlah bismillah) atau tidak.” (HR. Abu Dawud)

Sebab hadis ini zanni wurudnya sekalipun qath’i dilalahnya.

  1. Pengertian Lafadz Khas

Setiap lafaz yang menunjukkan arti tunggal itulah lafaz khas. Dan menurut kesepakatan para ulama, bahwa setiap lafaz yang khas menunjukkan pengertian yang qath’i (pasti), yakni tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan lain dalam pengertiannya. Contoh lafazh khas adalah ayat 89 surat Al-Maidah,

فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ ۖ

“maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. (QS. Al-Ma’idah[5]]: 89)

Kata ‘asyarah dalam ayat tersebut diciptakan hanya untuk bilangan sepuluh, tidak lebih dan tidak pula kurang. Arti sepuluh itu sendiri sudah pasti tidak ada kemungkinan pengertian lain. Begitulah dipahami setiap lafal khas dalam al-Qur’an, selama tidak ada dalil yang memalingkannya kepada pengertian lain seperti makna majazi (metafora).

  1. Pembagian Lafadz ‘Am

Macam-macam Lafazh Khas. Lafazh khas itu bentuknya banyak, sesuai dengan keadaan dan sifat yang dipakai pada lafazh itu sendiri. Ia kadang-kadang berbentuk mutlaq tanpa dibatasi oleh suatu syarat atau qayyid apapun, kadang-kadang berbentuk muqayyad, yakni dibatasi oleh qayyid, kadang-kadang berbentuk amr (perintah), dan kadang-kadang berbentuk nahy (larangan).

  1. Dilalah/Hukum (Kehujjahan) Lafadz ‘Am

Lafazh yang terdapat pada nash syara’ menunjukkan satu makna tertentu dengan pasti selama tidak ada dalil yang mengubah maknanya itu. Dengan demikian, apabila ada suatu kemungkinan arti lain yang tidak berdasar pada dalil, maka ke-qath’i-an dilalahnya tidak terpengaruh.

  • Apabila lafazh khas dikemukakan dalam bentuk mutlaq, tanpa batasan apapun, maka lafazh itu memberi faedah ketetapan hukum secara mutlaq, selama tidak ada dalil yang membatasinya.
  • Apabila lafazh itu dikemukakan dalam bentuk perintah, maka ia memberkan faedah berupa hukum wajib bagi yang diperintahkan (ma’mur bih), selama tidak ada dalil yang memalingkannya pada makna yang lain.
  • Apabila lafazh itu dikemukakan dalam bentuk larangan (nahy), ia memberikan faedah berupa hukum haram terhadap hal yang dilarang itu, selama tidak ada qarinah (indikasi) yang memalingkan dari hal itu.

Atas dasar itu, maka kata salasatin pada firman Allah SWT. Yang berbunyi:

 

Mengandung pengertian khas, yang tidak mungkin mengandung arti kurang atau lebih dari makna yang dikehendaki oleh lafazh itu sendiri, yaitu tiga. Oleh karena itu, dilalah maknanya adalah qatiyah.

  1. Pertentanga Antara Lafadz ‘Am Dan Lafadz Khas

Adapun masalah selanjutnya yaitu pertentangan antara ‘am dan khas (ta’arudu al-‘am wa al-khash), menurut Hanafiyah, apabila lafaz ‘am dan khas itu berbarengan waktu turunnya, maka lafazh khas dapat mentakhis lafazh ‘am. Dan apabila berbeda waktu, maka berlaku konsep  nasakh mansukh.

Menurut Jumhur, hal tersebut tidak bisa dikatakan ta’arud, sebab fungsi lafazh khas disini sebagai penjelasan terhadap ‘am, seperti nisab zakat hasil bumi. Menurut Jumhur Ulama, Nisab zakat hasil bumi adalah lima ausaq, berdasarkan atas hadis.

لَيْسَ فِيمَا أَقَلُّ مِنْ خَمْسَةِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

“Tidak ada zakat pada hasil tanaman kurang dari lima wasaq, (HR. Bukhari Nomor 1389)

Hadis ini menjadi pentakhsis terhadap hadis:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سَنَّ فِيمَا سَقَتْ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرَ وَفِيمَا سُقِيَ بِالنَّضْحِ نِصْفَ الْعُشْرِ

“Zakat hasil bumi yang diairi sumber air atau air hujan adalah 10%, sedangkan zakat yang diairi irigasi adalah 5%.” (HR. Tirmidzi Nomor 579)

Menurut Hanafiyah, Zakat hasil bumi diwajibkan tanpa harus ada nisab, baik sedikit ataupun banyak, tetap wajib dizakati. Mereka berpegang pada hadis yang kedua yang bersifat ‘am. Sedangkan pada hadis yang khusus, yaitu hadis pertama, mereka menakwilnya, dan menyatakan bahwa hadis tersebut  berlaku pada zakat perdagangan. Mereka berpendapat bahwa lima ausaq itu senilai dengan dua ratus dirham (Asy-Syaukani,III:3)

  1. Kesimpulan

Lafadz ‘am (umum) ialah lafadz yang diciptakan untuk pengertian umum sesuai dengan pengertian lafadz itu sendiri tanpa dibatasi dengan jumlah tertentu.

Jenis lafadz ‘am di antaranya: 1) Lafal umum yang dikehendaki keumumannya karena ada dalil yang menunjukkan tertutupnya kemungkinan ada takhsis (pengkhususan). 2) Lafal umum pada hal yang dimaksud adalah makna khusus karena ada indikasi yang menunjukkan makna seperti itu. 3) Lafal umum yang terbebas dari indikasi baik menunjukkan bahwa yang di maksud adalah makna umumnya atau adalah sebagian cakupannya.

Sedangkan lafaz khas adalah setiap lafaz yang menunjukkan arti tunggal. Dan menurut kesepakatan para ulama, bahwa setiap lafaz yang khas menunjukkan pengertian yang qath’i (pasti), yakni tidak mengandung kemungkinan-kemungkinan lain dalam pengertiannya.

Lafazh khas itu jenisnya banyak, sesuai dengan keadaan dan sifat yang dipakai pada lafazh itu sendiri. Ia kadang-kadang berbentuk mutlaq tanpa dibatasi oleh suatu syarat atau qayyid apapun, kadang-kadang berbentuk muqayyad, yakni dibatasi olehqayyid, berbentuk amr (perintah),berbentuk nahy (larangan).

Hukum lafazh khas; 1) Apabila lafazh khas dikemukakan dalam bentuk mutlaq, tanpa batasan apapun, maka lafazh itu memberi faedah ketetapan hukum secara mutlaq, selama tidak ada dalil yang membatasinya. 2) Apabila lafazh itu dikemukakan dalam bentuk perintah, maka ia memberikan faedah berupa hukum wajib bagi yang diperintahkan (ma’mur bih), selama tidak ada dalil yang memalingkannya pada makna yang lain. 3) Apabila lafazh itu dikemukakan dalam bentuk larangan (nahy), ia memberikan faedah berupa hukum haram terhadap hal yang dilarang itu, selama tidak adaqarinah (indikasi) yang memalingkan dari hal itu.

  1. Refrensi

[1] Juhaya S. Praja, IlmuUshul Fiqh, (Bandung: Cv Pustaka Setia, 2010), hlm.193
[2] Satria Effendi, Ushul fiqh, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm.196
[3] Sidi Nazar Bakry, Fiqh dan Ushul Fiqh, (Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2003), hlm.199