Bekerja Itu Ibadah

Islam sebagai agama memerintahkan umatnya untuk bekerja. Banyak ayat dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menunjukkan perkara ini. Di antaranya adalah,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat At-Taubah Ayat 105)

Walaupun makhluk hidup di bumi sudah mendapat jaminan rezeki dari Allah, namun bekerja merupakan keniscayaan bagi umat Islam. Allah berfirman,

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (Surat Al-‘Ankabut Ayat 17)

Menurut ayat itu, rezeki harus diusahakan. Dan seakan mengonfirmasi ayat di atas, firman Allah di ayat lain tegas menyatakan, cara mendapat rezeki adalah dengan bekerja. Allah berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Surat Al-Jumu’ah Ayat 10)

Selain beribadah, bekerja sebagai istrumen penting untuk menyambut karunia Allah. Firman Allah,

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu,” (Surat Al-Isra’ Ayat 12)

Ada masa kita untuk beristirahat dan juga ada masa kita harus bekerja. Allah berfirman,

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (Surat An-Nahl Ayat 14)

Alam semesta dan seisinya telah ditundukkan oleh Allah sebagai rizki bagi umat manusia. Allah berfirman,

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu (bekerja) mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Surat Al-Qasas Ayat 73)

Ragam motif manusia bekerja

Bekerja dan berusaha juga bagian terpenting dari ajaran agama Islam. Di samping tanpa bekerja seseorang akan menjadi beban orang lain, juga dia akan senantiasa menanggung dosa sebab telah mengabaikan dan menelantarkan mereka yang menjadi tanggung jawabnya, seperti anak, istri dan orang tua yang sudah lemah. Perintah bekerja banyak termaktub dalam ayat Al-Qur’an maupun Hadits. Seperti salah satu firman Allah berikut,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat At-Taubah Ayat 105)

Berikut beberapa alasan kenapa umat Islam bekerja.

Pertama, Sebagai seorang pribadi dalam hidup harus mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri agar tidak membebani dan merepotkan orang lain. Sebagaimana tergambar dalam sebuah riwayat hadits berikut,

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. (Hadits Bukhari Nomor 1378)

Walaupun Nabi dan para sahabat merupakan manusia-manusia mulia, namun faktanya mereka sangat mandiri dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagaimana Rasullullah bekerja sejak kecil dengan menggembala kambing dan dan berdagang. Bahkan tidak segan-segan nabi juga turun langsung ke medan jihad.

Kedua, Sebagai tanggungjawab terhadap keluarga, seorang muslim wajib hukumnya bekerja dan berusaha. Cerminan ini dapat kita lihat dari riwayat hadist berikut,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang ia tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1442)

Semua orang yang sudah menjadi tanggung jawab seseorang, maka wajib baginya menafkahi. Mulai dari Istri, anak, dan orang tua yang sudah melemah.

Ketiga, Menghimpun harta dengan bekerja dan berusaha tidak melulu hanya untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Namun, sebab status sosialnya maka setiap orang dikenai beban untuk saling membantu sesama manusia. Nabi bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ طَيْرٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih lalu (hasilnya) dimakan oleh manusia, burung atau binatang ternak melainkan hal tersebut menjadi sedekah baginya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1303)

Hal ini menunjukkan bahwa bekerja tidak mesti terkait kita harus mendapatkan dan ikut merasakan hasilnya. Namun bekerja dan berusaha tersebut sebagai wujud bahwa kita telah ikut melestarikan alam sebagai bentuk kita telah menyempurnakan status kita sebagai khalifah.

Bagaimana mungkin kita bisa berderma bila kita sebelumnya tidak memiliki harta dikarenakan kita malas bekerja dan berusaha. Di samping derma yang kita berikan kepada orang lain akan bermanfaat bagi mereka, juga derma tersebut akan menjadi amal jariyah kita kelak di akhirat.

Keempat, Bekerja sebagai bentuk wujud Ibadah dengan ikut menjaga, merawat, melestarikan, dan memanfaatkan potensi alam dalam ekspresi bekerja dan berusaha. Allah berfirman,

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ الْأَرْضَ أَرْضُ اللَّهِ وَالْعِبَادَ عِبَادُ اللَّهِ وَمَنْ أَحْيَا مَوَاتًا فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ جَاءَنَا بِهَذَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ جَاءُوا بِالصَّلَوَاتِ عَنْهُ

“dari [‘Urwah] ia berkata; aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan bahwa bumi ini adalah bumi Allah, dan para hamba adalah hamba Allah, dan barang siapa yang menghidupkan lahan mati maka ia yang lebih berhak terhadapnya. Telah datang kepada kami dengan membawa hal ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [orang-orang yang datang membawa shalat] darinya. (Hadits Abu Daud Nomor 2672)

Menjaga dan mengelola bumi dan alam semesta diwajibkan bagi setiap umat manusia sebab memang tugas utama manusia adalah sebagai khalifah di bumi ini,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Surat Al-Baqarah Ayat 30)

Kedudukan bekerja dalam Islam

Sebagai makhluk yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah, dalam menjalankan peran kekhalifahannya di muka bumi dengan baik. Hidup tidak boleh dimaknai hanya sekedar menerima anugerah kenikmatan semata, namun lebih dari itu adalah hidup merupakan amanah untuk menjalankan tugas yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Manusia harus berkarya dan bekerja keras agar dapat mewariskan (legecy) kebaikan dan kemanfaatan bagi umat manusia berikutnya. Bekerja jangan hanya dimaknai untuk menjalankan tugas dari beban kehidupan, namun bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman, sebab bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah setelah keimanan. Sebagaimana Allah berfirman dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di antaranya,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat (serta berkarya yang ter) baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 25)

Dalam banyak ayat menunjukkan bahwa kata iman selalu satu paket dengan perbuatan baik. Itu menujukkan bahwa wujud sebuah keiman adalah bila menghasilkan sebuah tindakan yang baik. Bila seseorang mengaku telah beriman namun faktanya mereka tidak memberikan kontribusi kebaikan terhadap kehidupan, niscaya keimanannya merupakan omong kosong. Di sinilah arti bahwa bekerja, berusaha, dan berkarya merupakan bagian penting dalam ajaran agama sebab ia merupakan bentuk ibadah (pengabdian) seseorang kepada Allah.

Bekerja dan berkaryalah! Sebab, mereka yang tangannya di atas jauh lebih baik dari pada tangan mereka yang berada di bawah. Nabi bersabda,

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَوْ خَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sedekah yang paling utama atau paling baik adalah sedekah yang diberikan ketika ia mampu. Dan tangan yang di atas adalah lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan dahulukanlah pemberian itu kepada orang yang menjadi tanggunganmu.” (Hadits Muslim Nomor 1716)

Kedudukan mereka yang hidup disertai dengan jerih payah dan kontribusi yang diberikan tentulah berbeda dengan mereka yang hanya hidup berpangku tangan tanpa jerih payah, baik jerih payah tenaga maupun fikiran. Nabi bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadits Bukhari Nomor 1930)

Hindarilah untuk menerima pemberian atau upah dari orang lain tanpa sebelumnya kita telah memberikan manfaat kepadanya. Baik kita memberi manfaat dengan jasa tenaga atau jasa fikiran, niscaya pemberian, upah dan derma yang kita terima dari orang lain tersebut akan lebih berkah. Nabi bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadits Bukhari Nomor 1930)

Dalam hadits tersebut terlihat bahwa bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, namun juga mengandung hikmah bahwa memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan dikarenakan tidak menggantungkan diri dan meminta-minta perlu dijunjung tinggi. Meminta dan mengharap belas kasihan pada orang lain dapat merendahkan diri yang dilarang oleh agama Islam. Menjaga kemuliaan dan harga diri hukumnya wajib, oleh karenanya Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.

Bekerja sangat terkait dengan martabat dan harga diri seseorang. Perhatikan dan bandingkan saja sekeliling kita bahwa mereka yang memiliki etos kerja tinggi pasti akan lebih disegani dibandingkan mereka yang selalu berpangku tangan. Itulah kenapa bekerja atau menganggur sangat erat kaitannya dengan martabat dan kemulian seseorang. Baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Nabi bersabda,

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنْ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Berangkatnya salah seorang diantara kalian pagi-pagi kemudian pulang dengan memikul kayu bakar di punggungmu, lalu kamu bersedekah dengan itu tanpa meminta-minta kepada orang banyak, itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta kepada orang banyak, baik ia diberi atau tidak. Sesungguhnya tangan yang memberi itu lebih mulia daripada tangan yang menerima. Dan dahulukanlah memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu.” (Hadits Muslim Nomor 1727)

Melakukan pekerjaan yang dianggap rendah seperti mencari kayu bakar di hadapan orang lain dipandang lebih mulia dibanding berpenampilan mulia namun sikap dan perilakunya rendah sebab hidupnya menjadi beban orang lain tanpa memberikan kontribusi dan manfaat baginya. Nabi bersabda,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Dikatakan, “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” beliau bersabda: “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (Hadits Ahmad Nomor 16628)

Nabi Muhammad Saw serta para sahabat dikenal sebagai pekerja keras. Sebab bekerja dipandang Islam sebagai kewajiban. Karena bekerja merupakan kewajiban, maka tak heran jika Umar bin Khaththab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid, sementara sang mentari sudah terpancar bersinar.

Sebaik manusia adalah yang bermanfaat

Islam memandang bekerja perupakan perkara yang sangat mulia dan berpahala, sebab dari aktifitas kerja tersebut dapat menimbulkan kemanfaatan. Sedangkan sebaik-baik manusia dalam Islam adalah bila ia dapat memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Memang Allah merupakan dzat pemberi rizki, namun perlu diketahui bahwa pintu rizki itu adalah bekerja dan berusaha. Nabi bersabda,

الْجَالِبُ مَرْزُوقٌ وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُونٌ

“Orang yang mencari nafkah itu diberi rizki dan orang yang menimbun itu dilaknat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2144)

Semoga Allah senantiasa menjadikan kita sebagai manusia sehat dan kuat, agar kita dapat bekerja dan berusaha dengan giat, sehingga hasil usaha dan kerja kita menjadi manfaat bagi keluarga, masyaragat, dan agama. Amin.

Dihimpun oleh; KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 3
    Shares