Bekerja dalam Pandangan Islam

Perintah bekerja

Islam sebagai agama memerintahkan umatnya untuk bekerja. Banyak ayat dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menunjukkan perkara ini. Di antaranya adalah,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat At-Taubah Ayat 105)

Walaupun makhluk hidup di bumi sudah mendapat jaminan rezeki dari Allah, namun bekerja merupakan keniscayaan bagi umat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَابْتَغُوا عِنْدَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan.” (Surat Al-‘Ankabut Ayat 17)

Menurut ayat itu, rezeki harus diusahakan. Dan seakan mengonfirmasi ayat di atas, firman Allah di ayat lain tegas menyatakan, cara mendapat rezeki adalah dengan bekerja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Surat Al-Jumu’ah Ayat 10)

Selain beribadah, bekerja sebagai istrumen penting untuk menyambut karunia Allah. Firman Subhanahu wa Ta’ala Allah,

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ آيَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَا آيَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا آيَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu,” (Surat Al-Isra’ Ayat 12)

Ada masa kita untuk beristirahat dan juga ada masa kita harus bekerja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan Dialah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.” (Surat An-Nahl Ayat 14)

Alam semesta dan seisinya telah ditundukkan oleh Allah sebagai rizki bagi umat manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu (bekerja) mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.” (Surat Al-Qasas Ayat 73)

Bekerja senilai ibadah

Sebagai makhluk yang memiliki derajat tinggi di sisi Allah, dalam menjalankan peran kekhalifahannya di muka bumi dengan baik. Hidup tidak boleh dimaknai hanya sekedar menerima anugerah kenikmatan semata, namun lebih dari itu adalah hidup merupakan amanah untuk menjalankan tugas yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah.

Manusia harus berkarya dan bekerja keras agar dapat mewariskan (legecy) kebaikan dan kemanfaatan bagi umat manusia berikutnya. Bekerja jangan hanya dimaknai untuk menjalankan tugas dari beban kehidupan, namun bekerja dalam ajaran Islam adalah manifestasi dari iman, sebab bekerja adalah sebagai bagian dari ibadah setelah keimanan. Sebagaimana Allah berfirman dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di antaranya,

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat (serta berkarya yang ter) baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 25)

Dalam banyak ayat menunjukkan bahwa kata iman selalu satu paket dengan perbuatan baik. Itu menujukkan bahwa wujud sebuah keiman adalah bila menghasilkan sebuah tindakan yang baik. Bila seseorang mengaku telah beriman namun faktanya mereka tidak memberikan kontribusi kebaikan terhadap kehidupan, niscaya keimanannya merupakan omong kosong. Di sinilah arti bahwa bekerja, berusaha, dan berkarya merupakan bagian penting dalam ajaran agama sebab ia merupakan bentuk ibadah (pengabdian) seseorang kepada Allah.

Kedudukan bekerja

Bekerja dan berkaryalah! Sebab, mereka yang tangannya di atas jauh lebih baik dari pada tangan mereka yang berada di bawah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ أَوْ خَيْرُ الصَّدَقَةِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sedekah yang paling utama atau paling baik adalah sedekah yang diberikan ketika ia mampu. Dan tangan yang di atas adalah lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan dahulukanlah pemberian itu kepada orang yang menjadi tanggunganmu.” (Hadits Muslim Nomor 1716)

Kedudukan mereka yang hidup disertai dengan jerih payah dan kontribusi yang diberikan tentulah berbeda dengan mereka yang hanya hidup berpangku tangan tanpa jerih payah, baik jerih payah tenaga maupun fikiran. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadits Bukhari Nomor 1930)

Hindarilah untuk menerima pemberian atau upah dari orang lain tanpa sebelumnya kita telah memberikan manfaat kepadanya. Baik kita memberi manfaat dengan jasa tenaga atau jasa fikiran, niscaya pemberian, upah dan derma yang kita terima dari orang lain tersebut akan lebih berkah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidak ada seorang yang memakan satu makananpun yang lebih baik dari makanan hasil usaha tangannya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Allah Daud AS memakan makanan dari hasil usahanya sendiri”. (Hadits Bukhari Nomor 1930)

Dalam hadits tersebut terlihat bahwa bekerja merupakan perbuatan yang sangat mulia dalam pandangan Islam. Bekerja bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, namun juga mengandung hikmah bahwa memelihara harga diri dan martabat kemanusiaan dikarenakan tidak menggantungkan diri dan meminta-minta perlu dijunjung tinggi. Meminta dan mengharap belas kasihan pada orang lain dapat merendahkan diri yang dilarang oleh agama Islam. Menjaga kemuliaan dan harga diri hukumnya wajib, oleh karenanya Islam sangat menghargai orang yang bekerja dengan tangannya sendiri.

Bekerja sangat terkait dengan martabat dan harga diri seseorang. Perhatikan dan bandingkan saja sekeliling kita bahwa mereka yang memiliki etos kerja tinggi pasti akan lebih disegani dibandingkan mereka yang selalu berpangku tangan. Itulah kenapa bekerja atau menganggur sangat erat kaitannya dengan martabat dan kemulian seseorang. Baik di sisi manusia maupun di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنْ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Berangkatnya salah seorang diantara kalian pagi-pagi kemudian pulang dengan memikul kayu bakar di punggungmu, lalu kamu bersedekah dengan itu tanpa meminta-minta kepada orang banyak, itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta kepada orang banyak, baik ia diberi atau tidak. Sesungguhnya tangan yang memberi itu lebih mulia daripada tangan yang menerima. Dan dahulukanlah memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu.” (Hadits Muslim Nomor 1727)

Melakukan pekerjaan yang dianggap rendah seperti mencari kayu bakar di hadapan orang lain dipandang lebih mulia dibanding berpenampilan mulia namun sikap dan perilakunya rendah sebab hidupnya menjadi beban orang lain tanpa memberikan kontribusi dan manfaat baginya. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Dikatakan, “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” beliau bersabda: “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur.” (Hadits Ahmad Nomor 16628)

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam serta para sahabat dikenal sebagai pekerja keras. Sebab bekerja dipandang Islam sebagai kewajiban. Karena bekerja merupakan kewajiban, maka tak heran jika Umar bin Khaththab pernah menghalau orang yang berada di masjid agar keluar untuk mencari nafkah. Umar tak suka melihat orang yang pada siang hari tetap asyik duduk di masjid, sementara sang mentari sudah terpancar bersinar.

Sebaik manusia adalah yang bermanfaat

Islam memandang bekerja perupakan perkara yang sangat mulia dan berpahala, sebab dari aktifitas kerja tersebut dapat menimbulkan kemanfaatan. Sedangkan sebaik-baik manusia dalam Islam adalah bila ia dapat memberikan kemanfaatan bagi orang lain. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda,

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Memang Allah merupakan dzat pemberi rizki, namun perlu diketahui bahwa pintu rizki itu adalah bekerja dan berusaha. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْجَالِبُ مَرْزُوقٌ وَالْمُحْتَكِرُ مَلْعُونٌ

“Orang yang mencari nafkah itu diberi rizki dan orang yang menimbun itu dilaknat.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2144)

Alasan manusia harus bekerja

Bekerja dan berusaha juga bagian terpenting dari ajaran agama Islam. Di samping tanpa bekerja seseorang akan menjadi beban orang lain, juga dia akan senantiasa menanggung dosa sebab telah mengabaikan dan menelantarkan mereka yang menjadi tanggung jawabnya, seperti anak, istri dan orang tua yang sudah lemah. Perintah bekerja banyak termaktub dalam ayat Al-Qur’an maupun Hadits. Seperti salah satu firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Surat At-Taubah Ayat 105)

Berikut beberapa alasan kenapa umat Islam harus bekerja.

Pertama, Sebagai seorang pribadi dalam hidup harus mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri agar tidak membebani dan merepotkan orang lain. Sebagaimana tergambar dalam sebuah riwayat hadits berikut,

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari kalian yang mengambil talinya lalu dia mencari seikat kayu bakar dan dibawa dengan punggungnya kemudian dia menjualnya lalu Allah mencukupkannya dengan kayu itu lebih baik baginya daripada dia meminta-minta kepada manusia, baik manusia itu memberinya atau menolaknya”. (Hadits Bukhari Nomor 1378)

Walaupun Nabi dan para sahabat merupakan manusia-manusia mulia, namun faktanya mereka sangat mandiri dalam kehidupan sehari-harinya. Sebagaimana Rasullullah bekerja sejak kecil dengan menggembala kambing dan dan berdagang. Bahkan tidak segan-segan nabi juga turun langsung ke medan jihad.

Kedua, Sebagai tanggungjawab terhadap keluarga, seorang muslim wajib hukumnya bekerja dan berusaha. Cerminan ini dapat kita lihat dari riwayat hadist berikut,

كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ

“Cukuplah dosa bagi seseorang dengan ia menyia-nyiakan orang yang ia tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1442)

Semua orang yang sudah menjadi tanggung jawab seseorang, maka wajib baginya menafkahi. Mulai dari Istri, anak, dan orang tua yang sudah melemah.

Ketiga, Menghimpun harta dengan bekerja dan berusaha tidak melulu hanya untuk kepentingan memenuhi kebutuhan diri sendiri dan keluarga. Namun, sebab status sosialnya maka setiap orang dikenai beban untuk saling membantu sesama manusia. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ إِنْسَانٌ أَوْ طَيْرٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih lalu (hasilnya) dimakan oleh manusia, burung atau binatang ternak melainkan hal tersebut menjadi sedekah baginya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1303)

Hal ini menunjukkan bahwa bekerja tidak mesti terkait kita harus mendapatkan dan ikut merasakan hasilnya. Namun bekerja dan berusaha tersebut sebagai wujud bahwa kita telah ikut melestarikan alam sebagai bentuk kita telah menyempurnakan status kita sebagai khalifah.

Bagaimana mungkin kita bisa berderma bila kita sebelumnya tidak memiliki harta dikarenakan kita malas bekerja dan berusaha. Di samping derma yang kita berikan kepada orang lain akan bermanfaat bagi mereka, juga derma tersebut akan menjadi amal jariyah kita kelak di akhirat.

Keempat, Bekerja sebagai bentuk wujud Ibadah dengan ikut menjaga, merawat, melestarikan, dan memanfaatkan potensi alam dalam ekspresi bekerja dan berusaha. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ عُرْوَةَ قَالَ أَشْهَدُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَضَى أَنَّ الْأَرْضَ أَرْضُ اللَّهِ وَالْعِبَادَ عِبَادُ اللَّهِ وَمَنْ أَحْيَا مَوَاتًا فَهُوَ أَحَقُّ بِهِ جَاءَنَا بِهَذَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِينَ جَاءُوا بِالصَّلَوَاتِ عَنْهُ

“dari [‘Urwah] ia berkata; aku bersaksi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memutuskan bahwa bumi ini adalah bumi Allah, dan para hamba adalah hamba Allah, dan barang siapa yang menghidupkan lahan mati maka ia yang lebih berhak terhadapnya. Telah datang kepada kami dengan membawa hal ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam [orang-orang yang datang membawa shalat] darinya. (Hadits Abu Daud Nomor 2672)

Menjaga dan mengelola bumi dan alam semesta diwajibkan bagi setiap umat manusia sebab memang tugas utama manusia adalah sebagai khalifah di bumi ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. (Surat Al-Baqarah Ayat 30)

Etika bekerja

Dalam mewujudkan nilai-nilai ibadah dalam bekerja yang dilakukan oleh setiap insan, diperlukan adab dan etika yang membingkainya, sehingga nilai-nilai luhur tersebut tidak hilang sirna sia-sia. Diantara adab dan etika bekerja dalam Islam adalah,

Tekun dan sungguh-sungguh

Wujud tekun dalam bekerja adalah, bersemangat, disiplin, dan berdedikasi. Dalam bekerja sangat memperhatikan akan ketepatan waktu, menyelesaikan apa yang sudah menjadi kewajibannya secara tuntas, tidak menunda-nunda pekerjaan, dan tidak mengabaikan tugas. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ رواه الطبراني

Dari Ibnu Umar ra bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seorang mu’min yang bekerja dengan giat”. (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Aushth VII/380) :

“Sesungguhnya Allah suka apabila seseorang itu melakukan sesuatu pekerjaan dengan tekun (itqan/ menyempurnakan) pekerjaannya”. (Riwayat Al-Baihaqi)

Ikhlas beramal

Bekerja karena Allah, disamping hasilnya kerjanya untuk tanggungjawabnya nafkah keluarga juga dipersembahkan untuk membantu agama Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan (bekerja dengan baik), dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.” (Surat An-Nisa’ Ayat 125)

Jujur dan amanah

Pada hakekatnya pekerjaan yang dilakukannya tersebut merupakan amanah, baik secara duniawi dari atasannya atau pemilik usaha, maupun secara ukhrawi dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang akan dimintai pertanggung jawaban atas pekerjaan yang dilakukannya. Wujud dari jujur dan amanah dalam pekerjaan di antaranya adalah tidak curang dan mencuri atau mengambil yang bukan haknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Surat An-Nisa’ Ayat 58)

Dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lainnya juga disebutkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ أُحِلَّتْ لَكُمْ بَهِيمَةُ الْأَنْعَامِ إِلَّا مَا يُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ غَيْرَ مُحِلِّي الصَّيْدِ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۗ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ مَا يُرِيدُ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu. Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu. (Yang demikian itu) dengan tidak menghalalkan berburu ketika kamu sedang mengerjakan haji. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum-hukum menurut yang dikehendaki-Nya.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 1)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

التَّاجِرُ الْأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Seorang pedagang yang dapat dipercaya, jujur dan muslim, maka kelak pada hari kiamat ia akan bersama para syuhada.” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2130)

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ

“Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan bersama para nabi, para shiddiqin, dan para syuhada.” (Hadits Darimi Nomor 2427)

Dermawan dan ringan tangan

Dalam bekerja tidak mencukupkan diri dengan hanya menyelesaikan apa yang hanya menjadi tugasnya sendiri. Bila tugasnya sendiri dirasa sudah selesai, hendaklah ia menawarkan jasa untuk membantu tugas-tugas rekan kerjanya. Sebab dengan mudah membantu tugas orang lain akan menjadi nilai tambah bagi dirinya. Di samping itu, dalam bekerja senantiasa menjaga sopan santun. Biasakan ucapkan kata “tolong” bila minta bantuan, ucapkan kata “maaf” bila melakukan kesalahan, dan ucapkan kata “terima kasih” bila mendapatkan kebaikan dari orang lain. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُؤْمِنٍ الْبُخْلُ وَسُوءُ الْخُلُقِ

“Ada dua sifat yang tidak akan berkumpul dalam diri seorang mukmin, yaitu: Sifat bakhil dan akhlak yang buruk.” (Hadits Tirmidzi Nomor 1885)

Bekerja dengan semangat gotong royong dan saling membantu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 2)

Tidak merugikan pihak lain

Aspek penting yang harus diperhatikan dalam bekerja adalah tidak mencederai nilai-nilai ukhuwah Islamiyah. Di antaranya adalah janganlah hanya untuk mendapat sebuah keuntungan sampai berani memfitnah, mengelabui, mengadu domba, menjatuhkan, su’udzan, atau menyerobot kesempatan yang sudah dimiliki oleh pihak lain dalam pekerjaan tersebut. Sebagaimana salah satu riwayat hadits berikut,

لَا تَلَقَّوْا الرُّكْبَانَ لِلْبَيْعِ وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا يَبِعْ حَاضِرٌ لِبَادٍ وَلَا تُصَرُّوا الْإِبِلَ وَالْغَنَمَ فَمَنْ ابْتَاعَهَا بَعْدَ ذَلِكَ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ بَعْدَ أَنْ يَحْلُبَهَا إِنْ رَضِيَهَا أَمْسَكَهَا وَإِنْ سَخِطَهَا رَدَّهَا وَصَاعًا مِنْ تَمْرٍ

“Janganlah kalian mencegat pedagang sebelum sampai di pasar. Janganlah kalian menjual barang yang sedang ditawar orang lain. Janganlah kalian bersaing dalam menawar. Janganlah orang kota tidak menjual barang kepada orang dusun. Janganlah kalian menahan air susu unta dan kambing dalam kantungnya (hingga tampak besar saat dijual) .. Barangsiapa terlanjur membelinya dan memerahnya maka dia mempunyai dua pilihan; jika dia ridla ia boleh menahannya, jika tidak ia boleh mengembalikannya dengan menyertakan satu sha’ kurma.” (Hadits Malik Nomor 1189)

Dalam bekerja tidak mengabaikan ibadah

Hakikat bekerja memang bagian dari ibadah, namun dalam hal amal usahanya jangan sampai kemudian meninggalkan ibadah-ibadah yang bersifat mahdoh. Maka, ketika telah dikumandangkan seruan adzan untuk shalat hendaklah hentikan sementara semua aktifitas perniagaan untuk segera menghadap tuhannya. Sebab, walaupun bekerja merupakan pintu rizki, namun janganlah lupa bahwa pemberi rizki adalah Allah yang juga wajib kita ingat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ. فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ. وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا ۚ قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ ۚ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan, mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah: “Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan”, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezeki.” (Surat Al-Jumu’ah Ayat 9-11)

Tidak melanggar prinsip-prinsip syariah

Dalam berusaha dan bekerja jangan sampai melanggar prinsip syariah sehingga rusak nilai amal (pekerjaan) kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Surat Muhammad Ayat 33)

Di antara perkara yang dapat merusak adalah,

Pertama, Dzatiyah pekerjaannya bukan perkara haram; Produksi barang haram seperti bir atau usaha kemaksiatan seperti pelacuran.

Kedua, Pendukung pekerjaannya tidak disengajakan memberi peluang muculnya kemungkaran dan kekejian; Bisnis hiburan diskotek yang hampir dipastikan akan memancing timbulnya maksiat.

Ketiga, Dalam bekerja terkadang seseorang dihadapkan dengan adanya syubhat atau sesuatu yang meragukan dan samar antara kehalalan dengan keharamannya. Seperti usaha yang disertai dengan suap menyuap. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا إِنَّ حِمَى اللَّهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Yang halal sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas. Namun diantara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Maka barangsiapa yang menjauhi diri dari yang syubhat berarti telah memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh (mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, sungguh dia seperti seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di pinggir jurang yang dikhawatirkan akan jatuh ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki batasan, dan ketahuilah bahwa batasan larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati”. (Hadits Bukhari Nomor 50)

Kewajiban Mencari Rezeki yang Halal

Semangat mencari rizki harus diimbangi pula dengan semangat untuk mencari rizki yang baik dan halal. Sebab apa yang sedang kita himpun tujuan akhirnya adalah untuk kita berikan kepada mereka yang kita sayangai, anak, istri, orang tua dan keluarga. Tentunya kita tidak berharap keluarga kita kotori dengan dinafkahi dari materi yang kotor, haram dan najis.

Jangan sembarangan dalam mencari rezeki. Jangan berprinsip materialistik, yakni demi kebutuhan tercukupi tidak penting perkara halal dan haramnya usaha kita. Jangan menggunakan prinsip dari kebanyakan manusia yang mengatakan “Yang haram saja susah apalagi yang halal”. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ

“Akan datang suatu zaman pada manusia yang ketika itu seseorang tidak peduli lagi tentang apa yang didapatnya apakah dari barang halal ataukah haram”. (Hadits Bukhari Nomor 1918)

Oleh sebab itu, mencari rizki yang halal dan baik tentu menjadi tekad kita sebagai seorang pemimpin rumah tangga yang baik. Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnu Qudamah t dalam kitabnya Mukhtashar Minhajul Qashidin: “Ketahuilah bahwa mencari yang halal adalah fardhu atas tiap muslim”. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 168)

Mencari rizki yang haram merupakan wujud keimanan seseorang. Tidak berlaku keimanan seseorang yang mana hidupnya berasald ari harta-harta yang haram. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 88)

Jangan karena ambisi kita lebih memilih harta yang haram dibandingkan harta yang halal di mana Allah telah menyediakan untuk kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Surat An-Nahl Ayat 114)

Di samping perintah untuk mencari rizki yang halal, Allah dan Nabi-Nya melarang dan memperingatkan kita dari penghasilan yang haram. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (Hadits Muslim Nomor 1686)

Bukan hanya perintah untuk mencari rizki yang halal. Cara yang dipergunakanpun sangat dilarang menggunakan cara-cara bathil. Allag Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالْإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui. (Surat Al-Baqarah Ayat 188)

Ranjau-Ranjau Berbahaya Dalam Dunia Kerja

Menurut Rizka Maulan, Lc., M.Ag. mengatakan bahwa dunia kerja adalah dunia yang terkadang dikotori oleh ambisi-ambisi negatif manusia, ketamakan, keserakahan, keinginan menang sendiri, dsb. Karena dalam dunia kerja, umumnya manusia memiliki tujuan utama hanya untuk mencari materi. Dan tidak jarang untuk mencapai tujuan tersebut, segala cara digunakan. Sehingga sering kita mendengar istilah, injak bawah, jilat atas dan sikut kiri kanan. Oleh karenanya, disamping kita perlu untuk menghiasi diri dengan sifat-sifat yang baik dalam bekerja, kitapun harus mewaspadai ranjau-ranjau berbahaya dalam dunia kerja serta berusaha untuk menghindarinya semaksimal mungkin. Karena dampak negatif dari ranjau-ranjau ini sangat besar, di antaranya dapat memusnahkan seluruh pahala amal shaleh kita. Berikut adalah diantara beberapa sifat-sifat buruk dalam dunia kerja yang perlu dihindari dan diwaspadai:

Hasad (Dengki)

Hasad atau dengki adalah suatu sifat, yang sering digambarkan oleh para ulama dengan ungkapan “senang melihat orang susah, dan susah melihat orang senang.” Sifat ini sangat berbahaya, karena akan “menghilangkan” pahala amal shaleh kita dalam bekerja.Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ

“Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar.” (Hadits Abu Daud Nomor 4257)

Saling bermusuhan

Tidak jarang, ketika orang yang sama-sama memiliki ambisi dunia berkompetisi untuk mendapatkan satu jabatan tertentu, atau ingin mendapatkan “kesan baik” di mata atasan, atau sama-sama ingin mendapatkan proyek tertentu, kemudian saling fitnah, saling tuduh, lalu saling bermusuhan. Jika sifat permusuhan merasuk dalam jiwa kita, dan tidak berusaha kita hilangkan, maka akibatnya juga sangat fatal, yaitu bahwa amal shalehnya akan “dipending” oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, hingga mereka berbaikan. Dalam hadits lain Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ فَيُقَالُ أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا

“Sesungguhnya pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan kamis. Semua dosa hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu akan diampuni, kecuali bagi orang yang antara dia dan saudaranya terdapat kebencian dan perpecahan.” Lalu dikatakan: ‘Tangguhkanlah dua orang ini hingga mereka berdamai!” (Hadits Muslim Nomor 4652)

Berprasangka Buruk

Sifat inipun tidak kalah negatifnya. Karena ambisi tertentu atau hal tertentu, kemudian menjadikan kita bersu’udzon atau berprasangka buruk kepada saudara kita sesama muslim, yang bekerja dalam satu atap bersama kita, khususnya ketika ia mendapatkan reward yang lebih baik dari kita. Sifat ini perlu dihindari karena merupakan sifat yang dilarang oleh Allah dan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, di samping juga bahwa sifat ini merupakan pintu gerbang ke sifat negatif lainnya.Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَنَافَسُوا وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Jauhilah berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah mencari-cari isu; janganlah mencari-cari kesalahan; janganlah saling bersaing; janganlah saling mendengki; janganlah saling memarahi; dan janganlah saling membelakangi (memusuhi)! Tetapi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Hadits Muslim Nomor 4646)

Sombong

Di sisi lain, terkadang kita yang mendapatkan presetasi sering terjebak pada satu bentuk kearogansian yang mengakibatkan pada sifat kesombongan. Merasa paling pintar, paling profesional, paling penting kedudukan dan posisinya di kantor, dan sebagainya. Kita harus mewaspadai sifat ini, karena ini merupakan sifatnya syaitan yang kemudian menjadikan mereka dilaknat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta dijadikan makhluk paling hina diseluruh jagad raya ini. Sifat ini pun sangat berbahaya, karena dapat menjadikan pelakunya diharamkan masuk ke dalam surga (na’udzu billah min dzalik). Dalam sebuah riwayat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ النَّارَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ أَحَدٌ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرِيَاءَ

“Tidak akan masuk neraka, seseorang yang mana dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari iman, dan tidak akan masuk surga seseorang yang mana dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” (Hadits Muslim Nomor 132)

Namimah (mengadu domba)

Indahnya dunia terkadang membutakan mata. Keingingan mencapai sesuatu, meraih kedudukan tinggi, memiliki gaji yang besar, tidak jarang menjerumuskan manusia untuk saling fitnah dan adu domba. Sifat ini teramat sangat berbahaya, karena akan merusak tatanan ukhuwah dalam dunia kerja. Di samping itu, sifat sangat dimurkai oleh Allah serta dibenci Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam.Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَتَّاتٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.” (Hadits Bukhari Nomor 5596)

Masih banyak sesungguhnya sifat-sifat lain yang perlu dihindari. Namun setidaknya kelima ranjau berbahaya tadi, dapat menggugah kita untuk menjauhi segala ranjau-ranjau berbahaya lainnya khususnya dalam kehidupan dunia kerja. Jadi, sekarang bekerjalah dengan niat ikhlas, hiasi dengan sifat-sifat positif dan songsonglah hari esok dengan penuh kegemilangan serta keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Hikmah bekerja

Selain sebagai satu kewajiban, Islam juga memberikan penghargaan yang sangat mulia bagi para pemeluknya yang dengan ikhlas bekerja mengharapkan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Penghargaan tersebut adalah sebagaimana dalam riwayat-riwayat hadits berikut,

Dicintai Allah

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ رواه الطبراني

Dari Ibnu Umar ra bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala mencintai seorang mu’min yang bekerja dengan giat”. (HR. Imam Tabrani, dalam Al-Mu’jam Al-Aushth VII/380) :

Riwayat-riwayat di atas sudah lebih dari cukup bagi seorang mu’min untuk menjadi motivator dalam bekerja, terlebih-lebih bekerja di Lembaga Keuangan Syariah, yang memiliki visi untuk merealisasikan syariat Allah di muka bumi ini. Oleh karenanya seorang muslim yang baik adalah yang bekerja dengan penuh kesungguhan dan ketekunan. Karena selain mendapatkan penghasilan untuk kehidupan dunianya, ia juga mendapatkan beribu kebaikan untuk kehidupannya di akhirat kelak.

Terjaga harga dirinya

لَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ فَيَحْطِبَ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَتَصَدَّقَ بِهِ وَيَسْتَغْنِيَ بِهِ مِنْ النَّاسِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلًا أَعْطَاهُ أَوْ مَنَعَهُ ذَلِكَ فَإِنَّ الْيَدَ الْعُلْيَا أَفْضَلُ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Berangkatnya salah seorang diantara kalian pagi-pagi kemudian pulang dengan memikul kayu bakar di punggungmu, lalu kamu bersedekah dengan itu tanpa meminta-minta kepada orang banyak, itu lebih baik bagimu daripada meminta-minta kepada orang banyak, baik ia diberi atau tidak. Sesungguhnya tangan yang memberi itu lebih mulia daripada tangan yang menerima. Dan dahulukanlah memberi kepada orang yang menjadi tanggunganmu.” (Hadits Muslim Nomor 1727)

Menjadi manusia yang bermanfaat

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni)

Menjadi manusia yang beruntung

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (Surat Al-Jumu’ah Ayat 10)

Dijanjikan surga

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat (serta berkarya yang ter) baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.” (Surat Al-Baqarah Ayat 25)

Itulah pandangan Islam terhadap pekerjaan. Berpegang teguhlan dalam prinsip dan etika dalam bekerja untuk mencukup diri dan keluarga yang berada dalam tanggungannya. Bekerja adalah tindakan mulia, sebab keuntungan dunia dapat diraih dengannya. Namun bagi seorang muslim, hendaknya bekerja harus memiliki nilai tambah. Di samping keuntungan di dunia dengan terkumpulnya pundi-pundi kekayaan, dan keuntungan di akhirat dengan pahala yang melimpah dan kenikmatan surga karena pekerjaan yang dilakukan diniatkan sebagai ibadah kepada Allah. Wallahu a’lam.

Dihimpun oleh; KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke
  • 5
    Shares