Bacaan Saat Duduk Tasyahud Awal dalam Shalat

Berdasarkan terdapatnya perbedaan periwayatan hadits. Dalam hal hukum duduk tasyahud awal dalam shalat lima kali sehari semalam selain shalat subuh terjadi khilaf ulama. Imam Syafi’i rahimahullah. Imam Abu Hanifah rahimahullah dan Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa tasyahud awal, hukumnya adalah sunnat. Al-Laits rahimahullah, Abu Tsur rahimahullah, Ahmad rahimahullah dan Ishaq rahimahullah mengatakan wajib.

Ulama fikih mazhab Maliki, Syafi’i, ath-Thahawi dan al-Karkhi dari mazhab Hanafi, serta salah satu pernyataan dalam mazhab Hanbali berpendapat bahwa duduk tasyahud awal, hukumnya sunnah. Ada juga sebagai ulama fikih mazhab Hanafi dan ini juga menejadi pendapat mazhab Hanbali yang menyatakan bahwa duduk tasyahud awal, hukumnya wajib. Bagi yang tidak sengaja meninggalkan duduk tasyahud awal, ia wajib untuk melakukan sujud sahwi. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 15/267)

Ada dua bacaan yang disunnahkan untuk diamalkan pada saat duduk tasyahud awal. Yakni; bacaan tasyahud dan bacaan shalawat.

Pertama, Kesunnahan bacaan tasyahud awal didasarkan pada riwayat hadits berikut,

إِذَا قَعَدْتُمْ فِي كُلِّ رَكْعَتَيْنِ، فَقُولُوا: التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ…

“Apabila kalian duduk setelah mendapat 2 rakaat, ucapkanlah: At-Tahiyatu Lillaah, was shalawatu wat Thayyibaat” (HR. Ahmad, dan An-Nasai)

Berdasarkan riwayat hadits, terdapat beberapa redaksi bacaan tasyahud akhir yang pernah diajarkan Nabi untuk dipilih kita amalkan. Berikut di antaranya;

Berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim;

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Berdasarkan riwayat Muslim dan Abu Daud;

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ، الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ

Berdasarkan riwayat Abu Daud;

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Berdasarkan riwayat Malik dalam Al-Muwatha’;

التَّحِيَّاتُ للهِ، الزَّاكِيَاتُ للهِ، الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ للهِ؛ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ. السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

Berdasarkan riwayat Abu Musa;

التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Berdasarkan riwayat Ibnu Abi Syaibah;

التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ الزَّاكِيَاتُ لِلَّهِ، السَّلَامُ عَلَى النَّبِيِّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ، السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Kedua, Selain bacaan tasyahud, juga disunnahkan menambah dengan bacaan shalawat. Shalawat pada saat tasyahud awal hukumnya sunnah berdasarkan hadits riwayat dari Ka’ab bin Ujrah radliallahu ‘anhu,

اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan dimakruhkan membaca doa pada duduk tasyahud awal. Namun doa saat tasyahud akhir setelah selesai membaca tahiyat akhir dan shalawat tergolong kesunnahan qauli. Hukumnya sunnah pada saat tasyahud akhir membaca doa, bahkan makruh meninggalkannya. Syekh Zainuddin Al-Malibari menjelaskan dalam Fathul Muin:

وسن في تشهد أخير دعاء بعد ما ذكر كله، وأما التشهد الأول فيكره فيه الدعاء لبنائه على التخفيف، إلا إن فرغ قبل إمامه فيدعو حينئذ

“Disunahkan pada tasyahud akhir berdoa setelah membaca doa tahiyat akhir seluruhnya. Sementara pada tasyahud awal makruh berdoa (setelah selesai baca doa tahiyat) karena tujuannya untuk meringankan (mempercepat), kecuali kalau imam belum selesai tasyahud awal. Dalam kondisi itu dibolehkan berdoa,” (Lihat Syekh Zainuddin Al-Malibari, Fathul Mu’in, Jakarta, Darul Kutub Islamiyyah, 2009 M, halaman 47).

Dalam shalawat saat tasyahud awal boleh ditambah dengan kata “Sayyidina”. Dengan argumen berikut;

Kata-kata “sayyidina” atau ”tuan” atau “yang mulia” seringkali digunakan oleh kaum muslimin, baik ketika shalat maupun di luar shalat. Hal itu termasuk amalan yang sangat utama, karena merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Syeikh Ibrahim bin Muhammad al-Bajuri menyatakan:

الأوْلَى ذِكْرُالسَّيِّادَةِ لِأنَّ اْلأَفْضَلَ سُلُوْكُ اْلأَدَ بِ

“Yang lebih utama adalah mengucapkan sayyidina (sebelum nama Nabi SAW), karena hal yang lebih utama bersopan santun (kepada Beliau).” (Hasyisyah al-Bajuri, juz I, hal 156).

Baca juga;

Hukum Menambah Kata Sayyid Pada Nama Nabi Muhammad’

Hukum Menggunakan Kata Sayyidina

Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

عن أبي هريرةقا ل , قا ل ر سو ل الله صلي الله عليه وسلم أنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ القِيَامَةِ وَأوَّلُ مَنْ يُنْسَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأوَّلُ شَافعٍ وأول مُشَافِعٍ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Saya adalah sayyid (penghulu) anak adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang yang pertama memberikan syafaa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk membrikan syafa’at.” (Shahih Muslim, 4223).

Hadits ini menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sayyid di akhirat. Namun bukan berarti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sayyid hanya pada hari kiamat saja. Bahkan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjadi sayyid manusia didunia dan akhirat.

Didukung dengan firman Allah,

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَىٰ مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

“Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh”. (Surat Ali ‘Imran Ayat 39)

Pada ayat ini jelas bahwa Allah menyebut Nabi Yahya dengan sebutan sayyid. Ini baru Nabi Yahya. Padahal Nabi Muhammad itu pimpinan para nabi dan rasul, maka sudah sangat patut jika kita menyebutnya dengan memberi imbuhan kata sayyid, sebab Nabi Muhammad secara derajat masih di atas Nabi Yahya (qiyas aulawiy).

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke