Aqiqah Sunnah atau Bid’ah

Aqiqah yaitu menyembelih kambing dan mencukur rambut bayi serta memberi nama bayi yang baru lahir tujuh hari adalah sunnah berdasarkan Hadits hadits yang shahih. Namun, ada orang yang menganggapnya bid’ah. Saya tidak tahu atas dasar apa orang itu menganggap hal ini bid’ah. Mungkin karena ia menemukan hadits hadits dha’if mengenai perkara aqiqah ini misalnya sebagainama yang telah diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْقُطَعِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ عَقَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحَسَنِ بِشَاةٍ وَقَالَ يَا فَاطِمَةُ احْلِقِي رَأْسَهُ وَتَصَدَّقِي بِزِنَةِ شَعْرِهِ فِضَّةً قَالَ فَوَزَنَتْهُ فَكَانَ وَزْنُهُ دِرْهَمًا أَوْ بَعْضَ دِرْهَمٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَإِسْنَادُهُ لَيْسَ بِمُتَّصِلٍ وَأَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ لَمْ يُدْرِكْ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Yahya Al Qutha’i] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abdul A’la bin Abdul A’la] dari [Muhammad bin Ishaq] dari [Abdullah bin Abu Bakar] dari [Muhammd bin Ali bin Al Husain] dari [Ali bin Abu Thalib] ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengakikahi Hasan dengan seekor kambing.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Fatimah, cukurlah rambutnya lalu sedekahkanlah perak seberat rambutnya.” Ali berkata, “Aku kemudian menimbang rambutnya, dan beratnya sekadar uang satu dirham atau sebagiannya.” Abu Isa berkata; “Hadits ini derajatnya hasan gharib dan sanadnya tidak bersambung. Dan Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain belum pernah bertemu dengan Ali bin Abu Thalib.” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 1439)

Tidak diketahui Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al Husain mendengar melalui siapa karena ia cicit dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu ia diketahui belum pernah bertemu langsung dengan Ali bin Abu Thalib radliallahu ‘anhu karena Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu telah wafat ketika ia lahir. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ النَّمَرِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُدَمَّى فَكَانَ قَتَادَةُ إِذَا سُئِلَ عَنْ الدَّمِ كَيْفَ يُصْنَعُ بِهِ قَالَ إِذَا ذَبَحْتَ الْعَقِيقَةَ أَخَذْتَ مِنْهَا صُوفَةً وَاسْتَقْبَلْتَ بِهِ أَوْدَاجَهَا ثُمَّ تُوضَعُ عَلَى يَافُوخِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَسِيلَ عَلَى رَأْسِهِ مِثْلَ الْخَيْطِ ثُمَّ يُغْسَلُ رَأْسُهُ بَعْدُ وَيُحْلَقُ قَالَ أَبُو دَاوُد وَهَذَا وَهْمٌ مِنْ هَمَّامٍ وَيُدَمَّى قَالَ أَبُو دَاوُد خُولِفَ هَمَّامٌ فِي هَذَا الْكَلَامِ وَهُوَ وَهْمٌ مِنْ هَمَّامٍ وَإِنَّمَا قَالُوا يُسَمَّى فَقَالَ هَمَّامٌ يُدَمَّى قَالَ أَبُو دَاوُد وَلَيْسَ يُؤْخَذُ بِهَذَا

“Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin Umar An Namari], telah menceritakan kepada kami [Hammam], telah menceritakan kepada kami [Qatadah], dari [Al Hasan] dari [Samurah] dari Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam, beliau berkata: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelih untuknya pada hari ketujuh dan rambutnya dicukur, dan dilumuri dengan darah aqiqah.” Qatadah apabila ditanya mengenai darah bagaimana dilakukan dengannya? Ia berkata; “Apabila engkau menyembelih aqiqah, maka engkau mengambil darinya satu bulu wol, dan engkau bawa ke arah urat-urat lehernya kemudian diletakkan pada pertengahan kepala anak kecil tersebut hingga mengalir di atas kelapa tersebut darah seperti benang, kemudian dicuci kepalanya setelah itu, dan dicukur”. Abu Daud berkata; “Dan ini adalah kesalahan dari Hammam, yaitu kata; wa yudamma. Abu Daud berkata; Hammam diselisihi dalam perkataan ini, dan hal tersebut adalah kesalahan dari Hammam. Sesungguhnya mereka mengatakan; yusamma (diberi nama), namun Hammam berkata; wa yudamma (dan dilumuri darah)” Abu Daud berkata; “Dan hadits tersebut tidak diambil dengan hal ini” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 2454)

Abu Daud berkata bahwa Hadits lebih shahih adalah melalui jalur berikut ini dengan kata “yussama yatu diberi nama. Hadits lain yang juga shahih menceritakan sunnahnya aqiqah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى قَالَ أَبُو دَاوُد وَيُسَمَّى أَصَحُّ كَذَا قَالَ سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ عَنْ قَتَادَةَ وَإِيَاسُ ابْنُ دَغْفَلٍ وَأَشْعَثُ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ وَيُسَمَّى وَرَوَاهُ أَشْعَثُ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيُسَمَّى

“Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Al Mutsanna], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Adi], dari [Sa’id] dari [Qatadah] dari [Al Hasan] dari [Samurah bin Jundub] bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, dicukur rambutnya dan diberi nama.” Abu Daud berkata; “Dan kata yusamma (diberi nama) adalah lebih benar”. Demikianlah yang dikatakan [Sallam bin Abu Muthi’] dari [Qatadah] serta [Iyas bin Daghfal], dan [Asy’ats], dari [Al Hasan], ia berkata; “Dan diberi nama”. Dan hadits tersebut diriwayatkan oleh Asy’ats dari Al Hasan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan ia diberi nama.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 2455 dan Hadits Riwayat An-Nasa’i Nomor 4149)

Adapun waktu pelasksanaan aqiqah ialah pada tujuh hari setelah kelahiran bayi berdasarkan pada Hadits berikut ini,

أَخْبَرَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ غُلَامٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ

“Telah mengabarkan kepada kami {‘Affan bin Muslim} telah menceritakan kepada kami {Hammam} dari {Qatadah} dari {Al Hasan} dari {Samurah} dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda: “Setiap anak laki-laki tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan pada hari ketujuh dan dicukur (rambutnya)” (Hadits Riwayat Darimi Nomor 1887)

Husain Salim Assad Ad-Daroni menyatakan sanad Hadits ini shahih, Hadits ini datang melalui dua jalur dengan seluruh perawi tsiqah (terpercaya) yang merupakan perawi pada Hadits Bukhari Muslim.

Pada saat aqiqah disembelih seekor kambing jika bayinya perempuan dan dua ekor kambing jika bayinya laki-laki. Lalu daging kambing tersebut disedekahkan kepada kaum kerabat, tetangga dan fakir miskin. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini,

حَدَّثَنَا الْقَعْنَبِيُّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْأَنْبَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو عَنْ دَاوُدَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ أُرَاهُ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْعَقِيقَةِ فَقَالَ لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْعُقُوقَ كَأَنَّهُ كَرِهَ الِاسْمَ وَقَالَ مَنْ وُلِدَ لَهُ وَلَدٌ فَأَحَبَّ أَنْ يَنْسُكَ عَنْهُ فَلْيَنْسُكْ عَنْ الْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنْ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Telah menceritakan kepada kami [Al Qa’nabi], telah menceritakan kepada kami [Daud bin Qais], dari [‘Amr bin Syu’aib], bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sulaiman Al Anbari], telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik bin ‘Amr], dari [Daud] dari [‘Amr bin Syu’aib] dari [ayahnya], aku diberitahu dari [kakeknya], ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya mengenai aqiqah, kemudian beliau berkata: “Allah tidak menyukai tindakkan durhaka.” Sepertinya beliau tidak menyukai nama tersebut. Dan beliau berkata: “Barangsiapa yang anaknya telah dilahirkan dan ia ingin menyembelih untuknya maka hendaknya ia menyembelih untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama dan untuk anak wanita satu ekor kambing.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 2459)

Juga pada hari ketujuh tersebut disunnahkan untuk meresmikan nama Sang Bayi dan mengumumkannya pada orang-orang seraya memohon doa dari orang yang shaleh. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا أَبَانُ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ كُلُّ غُلَامٍ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُمَاطُ عَنْهُ الْأَذَى وَيُسَمَّى

“Telah menceritakan pda kami ‘Affan, telah menceritakan kepada kami Aban Al ‘Atthaar, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Al Hasan dari Samurah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan (kambing) untuknya di hari ke tujuh, dijauhkan dari gangguan dan diberi nama.” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 19327, Nomor 19225, Nomor 19330, dan Nomor 19382)

Seluruh perawi Hadits ini tsiqah (terpercaya) dan merupakan perawi yang dipakai dalam Hadits Bukhari Muslim.

Demikian pula dalam upacara aqiqah tersebut dicukur dan ditimbang rambut bayi untuk disedekahkan emas atau perak seberat rambut bayi tersebut adalah sunnah berdasarkan Hadits berikut ini,

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ يُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُسَمَّى وَيُحْلَقُ

“Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hujr] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Ali bin Mushir] dari [Isma’il bin Muslim] dari [Al Hasan] dari [Samurah] ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang anak laki-laki itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh, pada hari itu ia diberi nama dan dicukur rambutnya(Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 1442)

Adapun bagaimana jika tidak sempat atau belum bisa melaksanakan pada hari ke tujuh? Maka ulama sepakat bahwa boleh melaksanakan pada hari keempat belas atau hari ke dua puluh satu

Mengomentari hadits di atas, Abu Isa (Tirmidzi) berkata: “Hadits ini derajatnya hasan shahih. Dan menjadi pedoman amal menurut para ulama`, mereka menyukai jika aqiqah untuk anak itu disembelih pada hari ke tujuh, jika belum tersedia pada hari ke tujuh maka pada hari ke empat belas, dan jika belum tersedia maka pada hari ke dua puluh satu. Mereka mengatakan; “Kambing yang sah untuk disembelih dalam aqiqah adalah kambing yang memenuhi kriteria (syarat) kurban”.

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke