Apakah Mayat Disiksa Karena Tangisan Keluarganya?

Terkadang kita tidak bisa memahami dan bisa salah memahami jika hanya meninjau satu dua Hadits saja. Terkadang kita juga bisa salah sangka dengan maksud sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena sesungguhnya kita tidak tahu konteks peristiwa yang melatarbelakangi mengapa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda demikian itu. Maka jalan terbaik adalah merujuk pada penjelasan dan tafsir sahabat yang hadir dan mengetahui pangkal masalahnya.

Seperti halnya kita jumpai banyak Hadits yang menyatakan bahwa mayat disiksa atau diadzab karena tangisan keluarga yang ditinggalkannya. Secara dzahir atau tekstual kita akan langsung menangkap bahwa mayat tersebut disiksa di alam kuburnya karena tangisan kita. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ خَلِيلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ وَهْوَ الشَّيْبَانِيُّ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ لَمَّا أُصِيبَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ جَعَلَ صُهَيْبٌ يَقُولُ وَا أَخَاهُ فَقَالَ عُمَرُ أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَيِّ

“Telah menceritakan kepada kami [Isma’il bin Khalil] telah menceritakan kepada kami [‘Ali bin Mushir] telah menceritakan kepada kami [Abu Ishaq] dia adalah dari suku Asy-Syaibaniy dari [Abu Burdah] dari [bapaknya] berkata; Ketika ‘Umar radliallahu ‘anhu terbunuh Shuhaib berkata, sambil menangis: “Wahai saudaraku”. Maka [‘Umar radliallahu ‘anhu] berkata,: Bukankah kamu mengetahui bahwa Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan orang yang masih hidup” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1208)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ المَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “mayat itu diadzab karena ratapan keluarganya”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1304 dan Muslim Nomor 924)

Secara dzahir dan sepintas lalu, bunyi Hadits di atas mengesankan bahwa mayit akan disiksa akibat keluarga atau kerabat nya yang menangisi kematiannya. Namun pertanyaannya apa salah si mayit? Apakah si mayit itu ketika hidupnya dulu menyuruh kerabatnya agar menangisinya jika kelak ia sudah meninggal? Bagaimana ia harus bertanggung jawab terhadap apa yang tidak ia lakukan? Bukankah seseorang tidak memikul dosa orang lain? Mengapa orang disiksa akibat kesalahan yang dilakukan orang lain? Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا ۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ۚ

“Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain…” (Surat Al-An’am Ayat 164)

Sebagian ulama menjelaskan bahwa salahnya si mayit adalah karena ia meminta keluarganya untuk menangisinya seperti dijelaskan pada wanita yahudi ini. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمْرَةَ أَنَّهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ عَائِشَةَ وَذُكِرَ لَهَا أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَيِّ فَقَالَتْ عَائِشَةُ يَغْفِرُ اللَّهُ لِأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَمَا إِنَّهُ لَمْ يَكْذِبْ وَلَكِنَّهُ نَسِيَ أَوْ أَخْطَأَ إِنَّمَا مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى يَهُودِيَّةٍ يُبْكَى عَلَيْهَا فَقَالَ إِنَّهُمْ لَيَبْكُونَ عَلَيْهَا وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ فِي قَبْرِهَا

“Telah menceritakan kepada kami [Ishaq], dia berkata; telah menceritakan kepadaku [Malik], dari [Abdullah bin Abi Bakar], dari [ayahnya], dari [Amroh] bahwasanya dia telah mengabarkan kepadanya bahwa dia mendengar [Aisyah] dan diceritakan kepadanya bahwa Abdullah bin Umar berkata; “Sesungguhnya mayat akan disiksa karena tangisan orang yang masih hidup.” Maka Aisyah berkata; “Semoga Allah mengampuni Abu Abdurrahman. Sesungguhnya dia tidak berdusta hanya saja kemungkinan dia lupa atau salah, bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah melewati seorang wanita Yahudi yang minta ditangisi, maka Rasulullah bersabda: “Mereka menangisinya, padahal dia (wanita yahudi) betul-betul tengah disiksa dikuburnya” (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 23614)

Wanita Yahudi itu dikatakan minta ditangisi maka ia disiksa karena nya. Maksud “disiksa” di sini bukanlah adzab kubur atau adzab akhirat melainkan sang mayit menjadi tersiksa atau bertambah sedih mengetahui keluarga yang ditinggalkannya menangisi atau meratapi kematiannya.

Pemahaman ini berdasarkan penjelasan Aisyah radliallahu ‘anha ketika ditanya oleh Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu mengenai hadits “mayat disiksa karena tangis” ini. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فقمت فدخلت علي عائشة. فحدثتها بما قال ابن عمر. فقالت: لا. والله ! ما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قط: “إن الميت يعذب ببكاء أحد”. ولكنه قال “إن الكافر يزيده الله ببكاء أهله عذابا وإن الله لهو أضحك وأبكى. ولا  تزر وازرة وزر أخرى”.

“Maka aku (Abdullah bin Abdullah bin Abu Mulaikah) berdiri dan menemui Aisyah dan bercerita kepadanya apa yang dikatakan oleh Ibnu Umar Aisyah berkata: Tidak, demi Allah! Rasulullah saw. sama sekali tidak bersabda: Sesungguhnya mayit akan disiksa sebab tangis seseorang. Tetapi beliau bersabda: Sesungguhnya orang kafir itu ditambah siksanya oleh Allah sebab tangis keluarganya Sungguh, Allah adalah Zat yang membuat tertawa dan membuat menangis. Dan seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (Hadits Muslim Nomor 1543)

Lalu bagaimana jika ia sudah berpesan dan sudah mengajari keluarga agar jangan menangisinya namun keluarganya tetap menangisinya? Bagaimana jika ia telah mengajari keluarganya dengan agama yang benar, namun tetap saja keluarganya meratapinya, apakah ia tetap disiksa? Tentu saja penjelasan seperti ini kurang memuaskan.

Rasulullah Menjelaskan Bahwa Mayat Tidak Disiksa Karena Air Mata

Penjelasan mengenai maksud hadits di atas bahwa mayat disiksa karena tangis keluarganya, maksudnya bukanlah karena tangisannya itu sendiri melainkan karena lisan yang mengumpat, meratap, dan mengucapkan perkataan kekufuran yang mengingkari takdir atau mempertanyakan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala akibat ditinggal oleh orang yang dicintainya. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَصْبَغُ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ فَقَالَ قَدْ قَضَى قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكَوْا فَقَالَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَضْرِبُ فِيهِ بِالْعَصَا وَيَرْمِي بِالْحِجَارَةِ وَيَحْثِي بِالتُّرَابِ

“Telah menceritakan kepada kami [Ashbagh] dari [Ibnu Wahb] berkata, telah mengabarkan kepada saya [‘Amru] dari [Sa’id bin Al Harits Al Anshariy] dari [‘Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma] berkata; Ketika Saad bin Ubadah sedang sakit, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya bersama ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abu Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhum. Ketika Beliau menemuinya, Beliau mendapatinya sedang dikerumuni keluarganya, Beliau bertanya: “Apakah ia sudah meninggal?”. Mereka menjawab: “Belum, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis, mereka pun turut menangis, maka Beliau bersabda: “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab dengan tangisan air mata, tidak dengan hati yang bersedih, namun Dia mengadzab dengan ini, “ lalu Beliau menunjuk lidahnya, atau dirahmati (karena lisan itu) dan sesungguhnya mayat itu diadzab disebabkan tangisan keluarganya kepadanya” Sambil ‘Umar radliallahu ‘anhu memukul tanah dengan tongkat, melempar batu dan menumpahkan tanah.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1221)

Pada hadist di atas jelas bahwa menangis dan hati yang sedih itu adalah sesuatu yang manusiawi, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menangisi orang yang meninggal. Namun tidak boleh rasa sedih itu hingga menyebabkan keluar perkataan yang kufur seperti mencerca Allah Subhanahu wa Ta’ala, menyangkal adanya takdir kematian, menuduh Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak adil dan lain sebagainya.

Kalaupun keluarganya meratap dan menjerit jerit menangisi kepergian mayat hingga keluar kata-kata kekufuran hal itu tidak menyebabkan mayat disiksa melainkan maksudnya ialah mayat tersebut semakin tersiksa mendengar keluarganya sampai mengeluarkan kata-kata yang sedemikian.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam Mendiamkan Orang Yang Menangis

Terbukti di saat yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendiamkan saja orang yang menangisi mayat orang yang meninggal. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا قُتِلَ أَبِي جَعَلْتُ أَكْشِفُ الثَّوْبَ عَنْ وَجْهِهِ أَبْكِي وَيَنْهَوْنِي عَنْهُ وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَنْهَانِي فَجَعَلَتْ عَمَّتِي فَاطِمَةُ تَبْكِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَبْكِينَ أَوْ لَا تَبْكِينَ مَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوهُ تَابَعَهُ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُنْكَدِرِ سَمِعَ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

“Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepada kami [Ghundar] telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] berkata; Aku mendengar [Muhammad bin Al Munkadir] berkata; Aku mendengar [Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anha] berkata: “Ketika bapakku meninggal dunia aku menyingkap kain penutup wajahnya, maka aku menangis namun orang-orang melarangku menangis sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melarangku. Hal ini membuat bibiku Fathimah ikut menangis”. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dia menangis atau tidak menangis, malaikat senantiaa akan tetap menaunginya sampai kalian mengangkatnya”. Hadits ini diperkuat pula oleh [Ibnu Juraij] telah mengabarkan kepada saya [Muhammad bin Al Munkadir] bahwa dia mendengar [Jabir radliallahu ‘anhu].” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1167)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun Menangis

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun menangis ketika meninggalnya Ibrahim anak laki-laki beliau dari Maria Qibthiyyah. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

“Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata: “Kami masuk bersama Nabi pada Abu Saif al-Qain (si pandai besi), suami wanita yang menyusui Ibrahim (anak laki-laki Rasulullah dari hasil perkawainan Beliau dengan Maria Qibtihiyah). Lalu, Rasulullah mengambil Ibrahim dan menciumnya. Sesudah itu kami masuk kepadanya dan Ibrahim mengembuskan napas yang penghabisan. Maka, air mata Rasulullah mengucur. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata kepada beliau, ‘Engkau (menangis) wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Wahai putra Auf, sesungguhnya air mata itu (tanda) kasih sayang.’ Kemudian air mata beliau terus mengucur. Lalu beliau bersabda, ‘Sesungguhnya air mata mengalir, dan hati pun bersedih. Namun, kami hanya mengucapkan perkataan yang diridhai oleh Tuhan kami. Sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Demikian pula Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menangis ketika meninggalnya putri kecil beliau. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

شهدنا دفن بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم فرأيت عينيه تذرفان

Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata, “Kami menyaksikan putri Rasulullah. Ia berkata, ‘Rasulullah duduk di atas kubur. Lalu aku melihat kedua mata beliau berlinang” (Hadits Riwayat Bukhari)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

“Usamah bin Zaid berkata, “Putri Nabi mengirimkan utusan kepada beliau. (Dalam satu riwayat: Aku berada di sisi Nabi, tiba-tiba datang utusan salah seorang putri beliau dengan membawa pesan) bahwa anaknya meninggal (dalam satu riwayat: menghembuskan napas yang penghabisan), maka datanglah kepadanya (jenazah putri BeliaU). Maka, beliau mengirimkan utusan untuk menyampaikan salam dan pesan, “Sesungguhnya bagi Allah apa yang diambil-Nya dan bagi-Nya apa yang diberikan-Nya. Segala sesuatu di sisi-Nya dengan waktu yang tertentu, maka bersabarlah dan mengharapkan pahala.” Kemudian ia (putrinya) mengutus kepada beliau seraya bersumpah agar beliau mendatanginya. Lalu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri bersama Sa’d bin Ubadah, Muadz bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, (Ubadah bin Shamit), dan beberapa orang lagi. Lalu dibawalah anak itu kepada Nabi (kemudian beliau dudukkan dia (jenazah itu) dipangkuan Beliau), sedang napasnya tersengal-sengal (menahan sedih) seolah-olah girbah ‘tempat air’ dari kain usang yang kering, lalu kedua mata Beliau berlinang. Sa’ad berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah ini?” Beliau bersabda, “Ini adalah kasih sayang yang dijadikan oleh Allah dalam hati hamba-hamba Nya (yang dikehendaki-Nya), dan Allah hanya menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Begitu pula Beliau menangis ketika meninggalnya kerabat Beliau atau Sahabat Beliau. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا أَصْبَغُ عَنْ ابْنِ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَاهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ فَوَجَدَهُ فِي غَاشِيَةِ أَهْلِهِ فَقَالَ قَدْ قَضَى قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَبَكَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكَوْا فَقَالَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ وَإِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَكَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَضْرِبُ فِيهِ بِالْعَصَا وَيَرْمِي بِالْحِجَارَةِ وَيَحْثِي بِالتُّرَابِ

“Telah menceritakan kepada kami [Ashbagh] dari [Ibnu Wahb] berkata, telah mengabarkan kepada saya [‘Amru] dari [Sa’id bin Al Harits Al Anshariy] dari [‘Abdullah bin Umar radliallahu ‘anhuma] berkata; Ketika Saad bin Ubadah sedang sakit, Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menjenguknya bersama ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Saad bin Abu Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhum. Ketika Beliau menemuinya, Beliau mendapatinya sedang dikerumuni keluarganya, Beliau bertanya: “Apakah ia sudah meninggal?”. Mereka menjawab: “Belum, wahai Rasulullah”. Lalu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis. Ketika orang-orang melihat Nabi Shallallahu’alaihiwasallam menangis, mereka pun turut menangis, maka Beliau bersabda: “Tidakkah kalian mendengar bahwa Allah tidak mengadzab dengan tangisan air mata, tidak dengan hati yang bersedih, namun Dia mengadzab dengan ini, “ lalu Beliau menunjuk lidahnya, atau dirahmati (karena lisan itu) dan sesungguhnya mayat itu diadzab disebabkan tangisan keluarganya kepadanya” Sambil ‘Umar radliallahu ‘anhu memukul tanah dengan tongkat, melempar batu dan menumpahkan tanah.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1221)

“Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu berkata, “Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala dan tidak berteriak-teriak” (Atsar Riwayat Bukhari)

Menangis Boleh Tapi Yang Dilarang Adalah Meratapi dan Meraung

Jadi sebenarnya yang dilarang bukanlah menangis karena sedih melainkan meraung-raung dan meratapi sehingga mengeluarkan kata-kata yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya air mata mengalir, dan hati pun bersedih. Namun, kami hanya mengucapkan perkataan yang diridhai oleh Tuhan kami.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ أَوْ شَقَّ الْجُيُوبَ أَوْ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ (رواه مسلم)

“Tidak termasuk dari golongan kami orang yang memukul pipinya atau merobek bajunya atau menyeru dengan seruan jahiliyah.” (Hadits Riwayat Muslim)

“Umar bin Khattab radliallahu ‘anhu berkata, “Biarkanlah mereka menangisi Abu Sulaiman, asalkan tidak menaburkan tanah di atas kepala dan tidak berteriak-teriak” (Atsar Riwayat Bukhari)

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun mengijinkan menangis seperlunya namun melarang meratapi mayat terlebih jika sampai memukul dada dan merobek pakaian atau melukai diri. Hal ini sering dilakukan wanita Arab sejak jaman dulu. Jika ini terjadi, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyuruh untuk menghardik bahkan melempar batu atau melempar pasir kepada orang yang meratap.

“Aisyah radliallahu ‘anha berkata, “Ketika berita terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abu Thalib, dan Abdullah Ibnu Rawahah sampai kepada Nabi, beliau duduk dan tampak sedih, dan aku melihat dari balik pintu. Lalu, datanglah seorang laki-laki seraya mengatakan, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istri Ja’far meratapi kematian suaminya”. Lalu, beliau menyuruh untuk melarang mereka, maka laki-laki itu pergi. Kemudian datanglah ia (untuk kedua kalinya) seraya berkata, “Aku telah melarang tetapi mereka tidak menaatinya.” Beliau menyuruhnya lagi untuk melarangnya. Kemudian lelaki itu pergi (untuk melarangnya). Lalu, ia datang lagi (untuk ketiga kalinya) seraya berkata, “Demi Allah, mereka mengalahkanku”. Maka, aku menduga bahwa Beliau bersabda, “Taburkanlah debu ke dalam mulut mereka.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Dalam sebuah hadits shahih riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru menyatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengadzab mayit disebabkan tangisan atau perasaan sedih dari orang yang ditinggalkannya. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى الصَّدَفِيُّ وَعَمْرُو بْنُ سَوَّادٍ الْعَامِرِيُّ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْحَارِثِ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ اشْتَكَى سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ شَكْوَى لَهُ فَأَتَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعُودُهُ مَعَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَسَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ وَجَدَهُ فِي غَشِيَّةٍ فَقَالَ أَقَدْ قَضَى قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَبَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَأَى الْقَوْمُ بُكَاءَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَكَوْا فَقَالَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ الْعَيْنِ وَلَا بِحُزْنِ الْقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذِّبُ بِهَذَا وَأَشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يَرْحَمُ

“Telah menceritakan kepada kami [Yunus bin Abdul A’la Ash Shadafi] dan [Amru bin Sawwad Al Amiri] keduanya berkata, telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Wahb] telah mengabarkan kepadaku [Amru bin Harits] dari [Sa’d bin Al Harits Al Anshari] dari [Abdullah bin Umar] ia berkata; Sa’ad bin Ubadah pernah mengeluhkan rasa sakit yang dideritanya, sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abdur Rahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Mas’ud menjenguknya. Ketika beliau hendak masuk ternyata ia sedang dikerumuni keluarganya, maka beliau pun bertanya: “Apakah ia telah meninggal dunia?” Para sahabat menjawab, “Belum wahai Rasulullah”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meneteskan air mata. Melihat beliau menangis, para sahabatpun ikut menangis. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dengarkanlah oleh kalian, sesungguhnya Allah tidak mengadzab seseorang karena disebabkan tangisan atau perasaan sedih (dari orang yang ditinggalkannya) akan tetapi Dia mengadzab karena disebabkan oleh ini (beliau memberi isyarat pada lisannya), atau Dia akan mengasihinya.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 1532)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

“Telah menceritakan kepadaku ‘Ubaid bin Isma’il telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hisyam dari bapaknya berkata; Diceritakan di hadapan ‘Aisyah radliallahu ‘anhu bahwa Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu menganggap bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Bahwa orang yang telah mati akan disiksa di dalam kuburnya disebabkan tangisan keluarganya”. Maka ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; “Tidak begitu. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya seseorang disiksa karena kesalahan dan dosanya dan sesungguhnya keluarganya menangisinya sekarang”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 3681)

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ أَبِيهِ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ حِينَ مَاتَ رَافِعُ بْنُ خَدِيجٍ أَنَّ بُكَاءَ الْحَيِّ عَلَى الْمَيِّتِ عَذَابٌ لِلْمَيِّتِ فَأَتَيْتُ عَمْرَةَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهَا فَقَالَتْ عَائِشَةُ إِنَّمَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَهُودِيَّةٍ إِنَّكُمْ لَتَبْكُونَ عَلَيْهَا وَإِنَّهَا لَتُعَذَّبُ وَقَرَأَتْ { وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى }

“Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abdillah bin Abi Bakar] dari [ayahnya] ketika Rafi’ bin Khudaij meninggal dia mendengar Ibnu Umar telah menjelaskan bahwa tangisan ratapan terhadap mayit adalah siksa bagi mayit. Lalu saya mendatangi [Amrah] dan menceritakan hal itu kepadanya. Maka [Aisyah] berkata; “Oh kok begitu, hanyasanya Rasulullah pernah berkomentar saat kematian wanita yahudi ‘ Sungguh kalian akan menangisi wanita yahudi itu, padahal ia tengah disiksa.’ Lalu (Aisyah) membaca; “walaa taziru waaziratuwwizra ukhraa” (Seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain)”. (Hadits Riwayat Ahmad Nomor 22986)

Semua perawi hadits ini tsiqoh (percaya).

Maka dalam versi hadits di atas, duduk masalah nya adalah seolah salah dengar atau salah tangkap terhadap sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedangkan sabda yang benar bahwa sang mayat sedang disiksa kubur sementara keluarganya menangisinya jadi bukan ditambah siksanya karena tangisan keluarganya.

Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ تُوُفِّيَتْ ابْنَةٌ لِعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِمَكَّةَ وَجِئْنَا لِنَشْهَدَهَا وَحَضَرَهَا ابْنُ عُمَرَ وَابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَإِنِّي لَجَالِسٌ بَيْنَهُمَا أَوْ قَالَ جَلَسْتُ إِلَى أَحَدِهِمَا ثُمَّ جَاءَ الْآخَرُ فَجَلَسَ إِلَى جَنْبِي فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لِعَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ أَلَا تَنْهَى عَنْ الْبُكَاءِ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمَيِّتَ لَيُعَذَّبُ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ فَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَدْ كَانَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَعْضَ ذَلِكَ ثُمَّ حَدَّثَ قَالَ صَدَرْتُ مَعَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ مَكَّةَ حَتَّى إِذَا كُنَّا بِالْبَيْدَاءِ إِذَا هُوَ بِرَكْبٍ تَحْتَ ظِلِّ سَمُرَةٍ فَقَالَ اذْهَبْ فَانْظُرْ مَنْ هَؤُلَاءِ الرَّكْبُ قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا صُهَيْبٌ فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ ادْعُهُ لِي فَرَجَعْتُ إِلَى صُهَيْبٍ فَقُلْتُ ارْتَحِلْ فَالْحَقْ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَلَمَّا أُصِيبَ عُمَرُ دَخَلَ صُهَيْبٌ يَبْكِي يَقُولُ وَا أَخَاهُ وَا صَاحِبَاهُ فَقَالَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَا صُهَيْبُ أَتَبْكِي عَلَيَّ وَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمَيِّتَ يُعَذَّبُ بِبَعْضِ بُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فَلَمَّا مَاتَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ذَكَرْتُ ذَلِكَ لِعَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَتْ رَحِمَ اللَّهُ عُمَرَ وَاللَّهِ مَا حَدَّثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَيُعَذِّبُ الْمُؤْمِنَ بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَلَكِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَيَزِيدُ الْكَافِرَ عَذَابًا بِبُكَاءِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ وَقَالَتْ حَسْبُكُمْ الْقُرْآنُ { وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى } قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عِنْدَ ذَلِكَ وَاللَّهُ { هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَى } قَالَ ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ وَاللَّهِ مَا قَالَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا شَيْئًا

“Telah menceritakan kepada kami [‘Abdan] telah menceritakan kepada kami [‘Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Juraij] berkata, telah mengabarkan kepada saya [‘Abdullah bin ‘ubaidullah bin Abu Mulaikah] berkata; “Telah wafat isteri ‘Utsman radliallahu ‘anha di Makkah lalu kami datang menyaksikan (pemakamannya). Hadir pula Ibnu ‘Umar dan Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhum dan saat itu aku duduk diantara keduanya”. Atau katanya: “Aku duduk dekat salah satu dari keduanya”. Kemudian datang orang lain lalu duduk di sampingku. Berkata, [Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhuma] kepada ‘Amru bin ‘Utsman: “Bukankan dilarang menangis dan sungguh Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan keluarganya kepadanya?”. Maka [Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma] berkata,: “Sungguh ‘Umar radliallahu ‘anhu pernah mengatakan sebagiannya dari hal tadi”. Kemudian dia menceritakan, katanya: “Aku pernah bersama ‘Umar radliallahu ‘anhu dari kota Makkah hingga kami sampai di Al Baida, di tempat itu dia melihat ada orang yang menunggang hewan tunggangannya di bawah pohon. Lalu dia berkata,: “Pergi dan lihatlah siapa mereka yang menunggang hewan tunggangannya itu!”. Maka aku datang meliahtnya yang ternyata dia adalah Shuhaib. Lalu aku kabarkan kepadanya. Dia (Umar) berkata,: “Panggillah dia kemari!”. Aku kembali menemui Shuhaib lalu aku berkata: “Pergi dan temuilah Amirul Mu’minin”. Kemudian hari ‘Umar mendapat musibah dibunuh orang, Shuhaib mendatanginya sambil menangis sambil terisak berkata,: “Wahai saudaraku, wahai sahabat”. Maka [‘Umar] berkata,: “Wahai Shuhaib, mengapa kamu menangis untukku padahal Nabi Shallallahu’alaihiwasallam telah bersabda: “Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan sebagian tangisan keluarganya “. Berkata, [Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma]: “Ketika ‘Umar sudah wafat aku tanyakan masalah ini kepada [‘Aisyah] radliallahu ‘anha, maka dia berkata,: “Semoga Allah merahmati ‘Umar. Demi Allah, tidaklah Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam pernah berkata seperti itu, bahwa Allah pasti akan menyiksa orang beriman disebabkan tangisan keluarganya kepadanya, akan tetapi yang benar Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah pasti akan menambah siksaan buat orang kafir disebabkan tangisan keluarganya kepadanya”. Dan cukuplah buat kalian firman Allah) dalam Al- Qur’an (QS. An-Najm: 38) yang artinya: “Dan tidaklah seseorang memikul dosa orang lain”. Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhu berkata seketika itu pula: Dan Allahlah yang menjadikan seseorang tertawa dan menangis” (QS. Annajm 43). Berkata Ibnu Abu Mulaikah: “Demi Allah, setelah itu Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu tidak mengucapkan sepatah kata pun”. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 1206)

Maka jelaslah di sini bahwa menangis karena kematian keluarga atau kerabat atau sahabat itu adalah sesuaut yang manusiawi, yang dilarang adalah meratapi dan mengucapkan kalimat yang tidak semestinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Misalnya mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak adil, mengapa dia yang diambil bukan aku saja, atau kalimat lain yang mengingkari takdir.

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke