Ancaman Bagi Penghafal Al-Qur’an

Al-Qur’an memang bisa menjadikan seseorang mulia, namun, Al-Qur’an juga bisa menjadikan seseorang terhina. Sudah banyak kita ketahui bagaimana Al-Qur’an dapat menyebabkan mulia. Banyak dalil dari Al-Qur’an maupun Hadits yang menyetakan akan hal itu. Berikut ini akan dijelaskan bagaimana Al-Qur’an mampu menghinakan seseorang di dunia maupun di akhirat, terutama bagi mereka yang menghafalkan Al-Qur’an. Salah satu ancaman bagi mereka yang menghafalkan Al-Qur’an adalah mendapat dosa yang sangat besar bagi mereka yang melupakan hafalannya. Sebagaimana yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

عُرِضَتْ عَلَيَّ أُجُورُ أُمَّتِي حَتَّى الْقَذَاةُ يُخْرِجُهَا الرَّجُلُ مِنْ الْمَسْجِدِ وَعُرِضَتْ عَلَيَّ ذُنُوبُ أُمَّتِي فَلَمْ أَرَ ذَنْبًا أَعْظَمَ مِنْ سُورَةٍ مِنْ الْقُرْآنِ أَوْ آيَةٍ أُوتِيَهَا رَجُلٌ ثُمَّ نَسِيَهَا

“Telah diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku hingga perbuatan seseorang yang mengeluarkan kotoran dari masjid, dan juga diperlihatkan kepadaku dosa-dosa umatku, dan saya tidak mendapatkan dosa yang lebih besar yang dikerjakan umatku daripada dosa seorang yang telah menghafal suatu surat atau ayat dari Al Quran yang kemudian dia melupakannya.” (Hadits Abu Daud Nomor 390 dan Hadits Tirmidzi Nomor 2840)

[irp]

Begitu hina dan terhina di akhirat seorang penghafal Al-Qur’an yang melupakan hafalannya. Sampai-sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala mengibaratkan seorang yang ompong. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ امْرِئٍ يَقْرَأُ الْقُرْآنَ ثُمَّ يَنْسَاهُ إِلَّا لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَجْذَمَ

“Tidaklah seseorang membaca Al Qur’an kemudian ia melupakannya melainkan ia bertemu Allah ‘azza wajalla pada hari Kiamat dalam keadaan mulutnya ompong.” (Hadits Abu Daud Nomor 1260)

Allah juga mengancam kepada para penghafal Al-Qur’an akan memutus tangannya di akhirat bila melupakan hafalan Al-Qur’annya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ ثُمَّ نَسِيَهُ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ أَجْذَمُ

“tidaklah seseorang belajar al Qur`an kemudian ia melupakannya melainkan ia akan bertemu kepada Allah pada hari kiamat dalam keadaan terputus tangannya.” (Hadits Ahmad Nomor 21716)

Ada dua maksud dari melupakan hafalannya tersebut. Pertama, melupakan hafalan secara makna hakikat. Kedua melupakan hafalan secara makna majaz.

Pertama, melupakan hafalan secara makna hakikat adalah seseorang yang awalnya memang memiliki hafalan Al-Qur’an secara tekstual dan pelafalan di lisan, kemudian lupa dengan tidak bisa melafalkan teks-teks Al-Qur’an itu kembali. Tidak mampu melafalkan Al-Qur’an tersebut baik disengaja maupun tidak.

Kedua, melupakan hafalan secara makna majazi adalah baik seseorang yang memiliki hafalan Al-Qur’an secara tekstual dan pelafalan di lisan, atau seseorang yang tidak hafal pelafalannya namun hanya memiliki pemahaman Al-Qur’an. Mereka faham bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah ajaran agama Islam yang harus diamalkan oleh setiap umat Islam, namun kemudian tidak mengamalkan ajaran-ajaran tersebut. Tidak mengamalkan Al-Qur’an tersebut baik disengaja maupun tidak.

Yang dimaksud melupakan hafalan bacaan Al-Qur’an tersebut tidaklah berlaku mutlak. Dengan kata lain bahwa bila melupakan hafalan bacaan Al-Qur’an tersebut tidak disengaja karena mungkin disebabkan udzur syar’i seperti lupa sementara karena kesibukan bekerja untuk menafkahi keluarga. Maka lupa yang semacam ini tidaklah masalah, yang penting bila sudah dimungkinkan udzur syar’inya hilang maka wajib diingat kembali. Atau seperti karena udzur yang bersifat permanen seperti faktor usia tua sehingga menjadi pikun maka lupa seperti ini dimaafkan. Sebagaimana firman Allah yang tidak akan membebani manusia di atas kemampuannya. Salah satu di luar kemampuan manusia adalah musibah lupa yang tidak disengaja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (Surat Al-Baqarah Ayat 286)

Berikut penjelasannya,

Lupa hakiki

Terkait dengan perkara lupa bukanlah suatu yang buruk dalam diri seseorang. Sebab lupa merupakan fitrah dan sifat alami manusia. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mengalami lupa hafalan beberapa bacaan Al-Qur’annya. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي سُورَةٍ بِاللَّيْلِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً كُنْتُ أُنْسِيتُهَا مِنْ سُورَةِ كَذَا وَكَذَا

“dari [Aisyah] ia berkakta; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca suatu surat di malam hari, maka beliau pun bersabda: “Semoga Allah merahmati si Fulan, sungguh, ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini aku telah dilupakan dari surat ini dan ini.” (Hadits Bukhari Nomor 4650)

Dalam riwayat lain juga menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah mengalam lupa beberapa ayat Al-Qur’an. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

سَمِعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَقْرَأُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ يَرْحَمُهُ اللَّهُ لَقَدْ أَذْكَرَنِي كَذَا وَكَذَا آيَةً مِنْ سُورَةِ كَذَا

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendengar seseorang membaca (Al Qur`an) di dalam masjid, lalu beliau bersabda: “Semoga Allah merahmati si Fulan, sesungguhnya ia telah mengingatkanku ayat ini dan ini, yakni ayat dari surat ini.” (Hadits Bukhari Nomor 4649)

Tidak ada orang di dunia ini yang tidak pernah lupa. Dan kalau lupa itu berdosa, betapa beratnya beban orang yang menghafal Al-Quran, karena selalu dibayang-bayangi ketakutan dari dosa yang siap mengancam. Sebuah pepatah Arab mengatakan,

الانسان محل الخطاء

Manusia adalah tempatnya salah dan lupa

Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) di dalam kitabnya Fathul Bari, menyebutkan pandangan beliau terhadap orang yang belajar Al-Qur’an lalu melupakannya.

ما مِن أحد تعلم القرآن ثم نسيه إلا بذنب أحدثه ؛ لأن الله يقول : ( وما أصابكم من مصيبة فبما كسبت أيديكم ) ، ونسيان القرآن من أعظم المصائب

Tidaklah seseorang belajar Al-Qur’an kemudian melupakannya kecuali dia telah menciptakan sendiri dosanya. Sesuai firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,”Musibah yang menimpamu dari maksiat adalah yang kamu lakukan sendiri”. Dan melupakan Al-Qur’an termasuk musibah yang paling besar. (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, jilid 9 hal. 86)

Lupa jenis ini tidaklah berdosa dan tidak dihukum sebab hal itu terkait dengan sifat alami manusia. Dengan catatan harus disediakan waktu untuk tetap murajaah (mengingat kembali). Namun bila sengaja melupakan ketika sudah niat untuk menghafalkan dan ingatannya masih bagus. Dan bila dengan sengaja dan mengabaikan tidak meluangkan waktu untuk murajaah. Atau memang dengan sengaja menolak Al-Qur’an dan tidak memperhatikannya, maka para penghafal Al-Qur’an tersebut sudah otomatis masuk ke dalam kategori yang mendapatkan dosa besar yang diancamkan oleh Allah.

[irp]

Lupa majazi

Maksud lupa di sini adalah lupa tidak mengamalkan apa yang telah dihafalkan. Dia hanya menghafalkan namun tidak mau memahami. Dia mengatakan namun tidak menjalankan. Dia memerintahkan namun tidak mencontohkan. Dia faham namu tidak mengikuti ajaran Islam yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an. Bagi mereka akan mendapatkan laknat dari Allah, keadaan mereka sebagaimana yang digambarkan oleh Nabi. Hafal Al-Qur’an namun tidak memahami apa yang dihafalkan. Atau mereka sebetulnya faham namun tidak mau mengamalkannya. Mereka sejatinya telah keluar dari Islam sebagaimana panah yang meluncur dan terlepas jauh dari busurnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya di antara ummatku akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca Al Qur`an tetapi tidak sampai melewati kerongkongan mereka, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad.” (Hadits Muslim Nomor 1762)

Begitu buruk keadaan para penghafal Al-Qur’an. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ وَأَعْمَالَكُمْ مَعَ أَعْمَالِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَلَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Akan keluar dari kalian suatu kaum, yang shalat kalian tidak ada apa-apanya dibanding shalat mereka. Juga puasa kalian dibanding puasa mereka. Amalan kalian dibanding amalan mereka. Mereka membaca Qur’an, namun bacaannya tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama ini sebagaimana anak panah yang melesat dari busurnya.” (Hadits Malik Nomor 428)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas didukung oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?” (Surat As-Saff Ayat 2)

Begitu nista keadaan para penghafal Al-Qur’an namun tidak memahami arti dan maksud dari apa yang dihafalkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Surat Al-Baqarah Ayat 44)

Setiap huruf yang dihafalkan, setiap, ayat yang dihafalkan, dan setiap surat yang dihafalkan akan menuntut kepada para penghafalnya bila tidak diamalkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُجَاءُ بِرَجُلٍ فَيُطْرَحُ فِي النَّارِ فَيَطْحَنُ فِيهَا كَطَحْنِ الْحِمَارِ بِرَحَاهُ فَيُطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ أَيْ فُلَانُ أَلَسْتَ كُنْتَ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ فَيَقُولُ إِنِّي كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا أَفْعَلُهُ وَأَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ وَأَفْعَلُهُ

“akan didatangkan seseorang, kemudian dia dilempar ke dalam neraka, lantas disana ia berputar-putar sebagaimana keledai menarik alat penggilingan, maka penghuni neraka mengelilingi orang tersebut dan bertanya; ‘Hai fulan, bukankah kamu dahulu pernah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran? ‘ Ia menjawab; ‘ya, saya dahulu memerintah kebaikan, namun aku tidak mengerjakannya, dan aku melarang kemungkaran, namun justru aku melakkannya.'” (Hadits Bukhari Nomor 6569)

Jangan seperti keledai, mereka di dalam jiwanya terkandung kitab suci, namun tidak nampak dalam perilakunya akhlak Qur’ani. Mereka adalah pendusta yang nyata seperti himar. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا ۚ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (Surat Al-Jumu’ah Ayat 5)

Bila sudah memiliki tekad menghafalkan Al-Qur’an, maka sudah selayaknya menghormati Al-Qur’an dengan cara menjaga hafalannya dan mengamalkan apa-apa yang telah terekam di dalam memori ingatannya. Dengan diwujudkan dalam perilaku Qur’ani setiap hari. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

تَعَلَّمُوا كِتَابَ اللَّهِ تَعَالَى وَتَعَاهَدُوهُ وَاقْتَنُوهُ وَتَغَنَّوْا بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنْ الْمَخَاضِ فِي الْعُقُلِ

“Pelajarilah Kitabullah Ta’ala, jagalah, perhatikan dan lantunkanlah ia dengan suara yang indah. Maka demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya, sungguh ia lebih cepat lepasnya dari pada unta bunting pada ikatannya.” (Hadits Darimi Nomor 3215)

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke