Hukum Membatalkan Puasa dengan Sengaja Tanpa Udzur

Pengertian puasa Ramadhan

Kata puasa dalam bahasa Arab adalah “shiyam atau shaum” keduanya merupakan bentuk masdar, yang bermakna menahan diri (al-Imsak) dari makan, minum, berbicara, dan jima. Seperti yang dapat kita perhatikan dalam firmanNya,

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

“Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini” (QS. Maryam: 26)

Sedangkan secara istilah fiqih berarti menahan diri dari segala sesuatu yang menyebabkan batalnya puasa mulai dari terbitnya fajar (waktu subuh) sampai terbenamnya matahari (adzan magrib) dengan niat tertentu (lihat, Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9904)

Dalam Kifayatul Akhyar, hal. 248 disebutkan,

إمساك مخصوص من شخص مخصوص في وقت مخصوص بشرائط

“Menahan hal tertentu yang dilakukan oleh orang tertentu pada waktu tertentu dengan memenuhi syarat tertentu.” ().

Puasa berarti menahan diri sepanjang hari dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu, menahan dari segala sesuatu yang menyebabkan batalnya puasa bagi orang Islam yang berakal, sehat, dan suci dari haid dan nifas bagi seorang muslimah.

Kewajiban puasa Ramadhan

Berpuasa di bulan Ramadhan hukumnya wajib bagi yang telah memenuhi syarat untuk melakukannya, seperti; Islam, dewasa, berakal, mampu atau sehat, suci dari haid dan nifas (bagi seorang muslimah), dan dalam keadaan mukim (tidak melakukan safar/ perjalanan jauh) (Shahih Fiqh Sunnah, 2/ 88)

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan berdasarkan nash al-Qur’an dan Hadits yang sifatnya qath’i dalam kajian ilmu fiqh, serta didukung oleh ijma ulama (lihat, Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, 2/9904). Di antara dalil dari Al Qur’an adalah firman Allah Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al Baqarah : 183)

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

“Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu.” (QS. Al Baqarah: 185)

Dalil dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

“Islam dibangun di atas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan”. (Hadits Bukhari Nomor 7)

Kewajiban berpuasa dapat diketahui dari pertanyaan seorang Badui Arab terhadap Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadits berikut,

أَنَّ أَعْرَابِيًّا جَاءَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَائِرَ الرَّأْسِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي مَاذَا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ قَالَ الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا قَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الصِّيَامِ قَالَ صِيَامُ شَهْرِ رَمَضَانَ إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ شَيْئًا قَالَ أَخْبِرْنِي بِمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ مِنْ الزَّكَاةِ فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَرَائِعِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ وَالَّذِي أَكْرَمَكَ لَا أَتَطَوَّعُ شَيْئًا لَا أَنْقُصُ مِمَّا فَرَضَ اللَّهُ عَلَيَّ شَيْئًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ إِنْ صَدَقَ

“bahwa seorang Badui menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan rambur kusut, lalu bertanya; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beritahukanlah kepadaku shalat apa yang Allah wajibkan atas diriku?” beliau menjawab: “Shalat lima waktu, kecuali jika engkau sedikit mengerjakan yang sunnah.” Ia bertanya; “Beritahukanlah kepadaku puasa apa yang Allah wajibkan atas diriku?” beliau menjawab: “Puasa di bulan Ramadhan, kecuali jika engkau sedikit mengerjakan yang sunnah.” Ia bertanya; “Beritahukanlah kepadaku apa yang Allah wajibkan atas diriku berupa zakat?” maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberitahukan kepadanya tentang syari’at Islam, lalu ia berkata; “Demi Dzat yang telah memuliakanmu, aku tidak mengerjakan yang sunnah sedikit pun, serta tidak akan mengurangi dari apa yang Allah wajibkan atas diriku sedikit pun! Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ia beruntung jika benar, atau ia akan masuk surga jika benar.” (Hadits Nasai Nomor 2063)

Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan sudah sangatlah jelas karena juga termasuk salah satu dari rukun Islam yang harus kita laksanakan. (Ar Roudhotun Nadiyah, hal. 318)

Maka dari itu alangkah baiknya kita sebagai umat Islam janganlah sekali-kali mengingkari kewajiban yang telah ditetapkan oleh agama, sebab keingkaran tersebut dapat menyeret kita pada kekafiran (Shahih Fiqh Sunnah, 2/ 89)

Hukum membatalkan puasa

Pada zaman sekarang kita seringkali menjumpai di antara sebagian kecil umat Islam yang melalaikan kewajiban berpuasa pada saat bulan Ramadhan.

Anehnya mereka sama sekali tidak merasa bersalah, bahkan dengan bangganya mereka makan dan minum dengan cara terang-terangan di berbagai tempat, bahkan di tempat-tempat umum sekalipun.

Padahal mereka juga tahu bahwasanya puasa di bulan Ramadhan nyata-nyata diwajibkan bagi umat Islam yang tidak mempunyai udzur (halangan).

Yang dimaksud mempunyai halangan adalah seseorang yang diperbolehkan makan dan minum di siang hari bulan Ramadhan diantaranya; musafir , orang sakit, orang jompo (tua yang tak berdaya), wanita hamil (sekalipun hamil karena zina atau jimak subhat), wanita menyusui, haidh atau nifas bagi perempuan. Berarti mereka semua masuk dalam kategori wajib melaksanaknakan ibadah puasa.

Sebagai bentuk peringatan bagi mereka yang dengan mudahnya meninggalkan kewajiban puasa Ramadhan, kami sertakan sebuah kisah dari salah seorang sahabat Abu Umamah Al-Bahili R.A. Abu Umamah menuturkan bahwa beliau mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بينا أنا نائم إذ أتاني رجلان ، فأخذا بضبعي، فأتيا بي جبلا وعرا ، فقالا : اصعد ، فقلت : إني لا أطيقه ، فقالا : إنا سنسهله لك ، فصعدت حتى إذا كنت في سواء الجبل إذا بأصوات شديدة ، قلت : ما هذه الأصوات ؟ قالوا : هذا عواء أهل النار ، ثم انطلق بي ، فإذا أنا بقوم معلقين بعراقيبهم ، مشققة أشداقهم ، تسيل أشداقهم دما قال : قلت : من هؤلاء ؟ قال : هؤلاء الذين يفطرون قبل تحلة صومهم

”Ketika aku tidur, aku didatangi oleh dua orang laki-laki, lalu keduanya menarik lenganku dan membawaku ke gunung yang terjal. Keduanya berkata, ”Naiklah”. Lalu kukatakan, ”Sesungguhnya aku tidak mampu.” Kemudian keduanya berkata,”Kami akan memudahkanmu”. Maka aku pun menaikinya sehingga ketika aku sampai di kegelapan gunung, tiba-tiba ada suara yang sangat keras. Lalu aku bertanya,”Suara apa itu?” Mereka menjawab,”Itu adalah suara jeritan para penghuni neraka.”

Kemudian di bawalah aku berjalan-jalan dan aku sudah bersama orang-orang yang bergantungan pada urat besar di atas tumit mereka, mulut mereka robek, dan dari robekan itu mengalirlah darah. Kemudian aku (Abu Umamah) bertanya,”Siapakah mereka itu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,”Mereka adalah orang-orang yang berbuka (membatalkan puasa) sebelum tiba waktunya.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam shahihnya 7/263, Al Hakim 1/595)

Terdapat juga hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ فِي غَيْرِ رُخْصَةٍ رَخَّصَهَا اللَّهُ لَهُ فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhan bukan dengan (alasan) keringanan yang Allah berikan kepadanya, maka tidak akan diterima darinya (walaupun dia berpuasa) setahun semuanya. (HR. Ahmad : 9002, Abu Dawud : 2396, Ibnu Khuzaimah : 1987).

Namun hadits ini didha’ifkan oleh Imam Ibnu Khuzaimah, Syu’aib al-Arnauth, dan lainnya, karena ada perawi yang tidak dikenal yang bernama Ibnul Muqawwis. Namun, walaupun hadits ini lemah, terdapat riwayat yang menguatkannya. Dari Abdulah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu bahwa dia berkata,

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ لَقِيَ اللَّهَ بِهِ، وَإِنْ صَامَ الدَّهْرَ كُلَّهُ، إِنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ

“Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhan dengan tanpa keringanan, dia bertemu Allah dengannya, walaupun dia berpuasa setahun semuanya, (namun) jika Allah menghendaki, Dia akan mengampuninya, dan jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksanya”. (HR. Thabarani : 9459).

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ رُخْصَةٍ وَلَا مَرَضٍ فَلَنْ يَقْضِيَهُ صِيَامُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَلَوْ صَامَ الدَّهْرَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berbuka satu hari pada bulan Ramadan bukan karena rukhshah atau sakit, maka tidak akan dapat diganti oleh puasa satu tahun penuh, walaupun ia berpuasa setahun penuh.” (Hadits Darimi Nomor 1652)

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia berkata,

مَنْ أَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مُتَعَمِّدًا لَمْ يَقْضِهِ أَبَدًا طُولُ الدَّهْرِ

“Barangsiapa berbuka sehari dari (puasa) bulan Ramadhan dengan sengaja, berpuasa setahun penuh tidak bisa menggantinya”. (Riwayat Ibnu Hazm dalam al-Muhalla, 6/184).

Bila sudah terlanjur membatalkan puasa

Pertama, Harus bertaubat nasuha, yakni bertaubat secara sungguh-sungguh kepada Allah. Dengan menyesali perbuatan tersebut dan bertekad kuat tidak akan mengulanginya. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai..” (QS. At-Tahrim: 8).

Kedua, Jangan berputus asa dalam mengharap rahmat Allah. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Az Zumar: 53).

Ketiga, Tetap menghormati Ramadhan dengan tidak melanjutkan makan, minum, dan bentuk pembatal lainnya di siang hari. Dalam Fikih Empat Madzhab dinyatakan,

من فسد صومه في أداء رمضان وجب عليه الإمساك بقية اليوم تعظيما لحرمة الشهر

“Orang yang membatalkan puasanya ketika Ramadhan, dia wajib untuk menahan diri dari makan, minum, di sisa harinya, sebagai bentuk menghormati kemuliaan bulan Ramadhan”. (Al-Fiqh ‘ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, 1/909).

Keempat, Membayar Hutang Puasa Ramadhan yang ditinggalkan.

Walaupun sebagian ulama mengatakan tidak perlu qadha. Karena dia membatalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan. Kewajibannya adalah bertaubat dengan taubat nashuha dan dia tutup dosanya tersebut dengan melakukan amalan sholih, di antaranya dengan memperbanyak puasa sunnah. Namun sebagai bentuk kehati-hatian, dan bentuk penyesalan serta sebagai sarana tetap mengharapkan rahmat Allah. Maka, mayoritas ulama (Jumhur ulama) mengatakan bahwa, wajib mengqadha puasa sejumlah hari yang ditinggalkan.

Kelima, Berusaha memperbanyak amal shalih, dengan harapan taubatnya diterima oleh Allah Ta’ala. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman,

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحاً ثُمَّ اهْتَدَى

“Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal sholih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (QS. Taha : 82).

Sebagai bentuk upaya amal shalih adalah bila ditambah dengan membayar fidyah tentunya akan lebih baik.

Penutup

Maka sudah selayaknya kita untuk memperhatikan riwayat-riwayat di atas betapa pedihnya siksaan Allah terhadap orang-orang yang dengan sengaja membatalkan puasanya, maka dari itu tidak terbayangkan lagi siksaan seberat apalagi yang akan diberikan kepada orang-orang yang dengan sengaja meninggalkan puasa di bulan Ramadhan, pastinya lebih berat.

Ketahuilah ketika seseorang tidak menjalankan ibadah puasa ketika itulah dia mendapatkan dosa besar karena hal itu termasuk melawan kewajiban umat muslim yang harus dijalankan. Beberapa ulama berpendapat ketika seorang muslim tidak menjalankan ibadah puasa maka dosanya sangat besar melebihi dosa-dosa yang lainnya disebabkan puasa Ramadhan sendiri merupakan salah satu rukun Islam yang wajib dipenuhi.

Adz Dzahabi sampai-sampai mengatakan, “Siapa saja yang sengaja tidak berpuasa Ramadhan, bukan karena sakit (atau udzur lainnya, -pen), maka dosa yang dilakukan lebih jelek dari dosa berzina, lebih jelek dari dosa menegak minuman keras, bahkan orang seperti ini diragukan keislamannya dan disangka sebagai orang-orang munafik dan sempalan.” (Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq, 1/434, Mawqi’ Ya’sub, Asy Syamilah)

Itulah ancaman yang sangat keras untuk orang-orang yang meninggalkan puasa Ramadhan dengan sengaja. Bahkan membatalkan puasa Ramadhan tanpa udzur sehari saja adalah dosa besar, apalagi meninggalkan puasa Ramadhan sebulan penuh, tentu dosanya lebih besar lagi.

Oleh karena itu, sebagai seorang hamba sepatutnya kita tunduk dan patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.

Oleh Ustadz Muchlis Makki (Supervisor di Lembaga Dakwah Sunni Indonesia)

Bagikan Artikel Ini Ke