Amar Ma’ruf Nahi Munkar (Perintah Kebaikan Dan Mencegah Keburukan)

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq & Ustadz Zaki

Saat ini, semakin hari semakin banyak kemaksiatan dan kejahatan yang terjadi di dunia ini, seolah-olah kemaksiatan dan kejahatan itu sudah menjadi kebiasaan hidup. Sudah banyak fenomena di dunia ini seperti hal nya bencana alam akibat perusakan oleh tangan manusia, kehancuaran sebuah bangsa dan negara akibat peperangan, rusaknya generasi muda diakbibatkan pergaulan bebas, meningkatnya kriminalitas disebabkan prilaku eksploitatif dan sikap korup dari sekelompok orang kaya dan penguasa, banyaknya kebencian dan permusuhan karena dampak faham radikalisme, dan lain sebagainya. Namun, tidak ada seorang pun yang melarang dan atau rendahnya kepedulian semua pihak atas fenomena buruk tersebut. Mereka tidak menjalankan perintah Allah SWT, seperti halnya AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR yang saat ini mulai jarang kita jumpai. Seandainya manusia itu sadar bahwa Allah SWT telah bersabda dalam Al-Qur’an, surat Al-‘Asr ayat 1-3.

وَالْعَصْرِ. اِنَّ اْلاِنْسَانَ لَفِى خُسْرٍ. اِلَّاالَّذِىْنَ اَمَنُوْوَعَمِلُو الصَّالِحَاتِ وَتوَاصَوْابِالْحَقِّ وَتَوَا صَوْبِالصَّبْرِ.

”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.”(QS Al-‘Asr : 1-3)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa manusia akan rugi apabila seseorang lalai terhadap waktu. Waktu adalah milik tuhan, di dalamnya Tuhan melaksanakan segala ketetapannya, seperti; Memberi rizki makhluk-makhluknya, menciptakan alam semesta, memuliakan dan menghinakan, maka mereka akan menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah SWT. Tapi, sedikit sekali yang menyadari hal itu dengan prilaku kurang taat dan syukur. Kebanyakan manusia terlena dengan kilaunya dunia yang sejatinya hanyalah permainan belaka, sendau gurau dan bersifat sementara.

Amar Ma’ruf dapat diartikan usaha mendorong atau menggerakan umat manusia untuk melakukan hal-hal yang bersifat syari’at atau agama, sebagaimana menjalankan semua perintah Allah dengan ketaatan, dan peribadatan. Dan Nahi Munkar adalah seruan untuk mencegah tindakan yang tidak ber-syari’at dan dilarang oleh agama seperti kejahatan dan kemaksiatan, dan kedzaliman. Jadi, AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR adalah usaha mendorong atau menggerakan umat manusia untuk menjadi pribadi yang menjalankan perintah Allah SWT. dan menjauhi segala larangan-Nya. Seperti yang telah tertutur di dalam Al-Qur’an tepatnya di surat Ali ‘Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Ali ‘Imran[3]: 104)

Maksud dari ayat tersebut adalah hendaknya ada di suatu golongan umat manusia yang menyeru kepada kebaikan, menegakkan dakwah, dan mencegah dari yang munkar, yakni kejahatan dan kemunkaran. Niscaya keberuntungan dari Allah SWT akan didapatkannya. Namun demikian, siapa saja yang melaksanakan tugas tersebut harus mengetahui kandungan Al-Qur’an Hadist dan kaidah-kaidah agama, dan mengetahui metodologi dalam beramar ma’ruf nahi munkar agar dapat melaksanakan tugasnya dengan baik dan menjadi tauladan (amal shaleh) yang menyebabkan diikuti dan diteladani ilmu dan amal shalehnya.

Kita sebagai umat Nabi Muhammad harus senantiasa bersyukur atas kemuliaan yang Allah SWT berikan. Seluruh umat Nabi Muhammad SAW adalah umat yang terbaik karena adanya sifat-sifat yang tidak dimiliki oleh umat sebelumnya. Oleh karena itu sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita dianjurkan mewujudkan dan menampakkan kepada seluruh umat manusia Amar Ma’ruf Nahi Munkar hingga akhir zaman. Seperti yang telah difirmankan Allah SWT dalam surat Ali ‘Imran ayat 110 :

كُنْتُمْ خَىْرِاُمَةٍ اَخْرَجَتْ لِلنَّاسِىْ تَاْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتُنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للهِ وَلَوْ اَمَنَ اَهْلُ الْكِتَابِ لْكَانُ خَىْرُالَّهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمْ الْفَاسِقُوْن 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang di keluarkan untuk manusia, menyeru kepada yang Ma’ruf dan mencegah dari yang Munkar, dan beriman kepada Allah SWT. Sekiranya Ahl Al-Kitab beriman, tentulah itu baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”(Q.S Ali ‘Imron[3]: 110)

Pertama: Amar Ma’ruf

Sebagai umat yang terbaik, gunakanlah kesempatan ini untuk menjadi generasi-generasi yang mampu menunjukan jalan kepada orang-orang yang membutuhkan Suri tauladan yang dapat mengubah hidup mereka menjadi lebih terang untuk menuju ke jalan yang benar. Hingga di komunitas terkecilpun seperti keluarga sangat dianjurkan menanamkan kebaikan sejak dini. Setiap orang tua, terutama ayah sebagai kepala keluarga diwajibkan untuk menyuruh anggota keluarga mendirikan shalat, sebagaimana firman Allah,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. (QS. Ta Ha[20]: 132)

Dalam sebuah riwayat hadits lain juga sebagai orang tua harus tegas menindak siapapun yang tidak mau melaksanakan kebaikan, Nabi bersabda,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى يَعْنِي ابْنَ الطَّبَّاعِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ سَبْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Isa bin Ali bin Abi Thalib-Thabba’] telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Sa’d] dari [Abdul Malik bin Ar-Rabi’ bin Sabrah] dari [Ayahnya] dari [Kakeknya] dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya”. (HR. Abu Daud No. 417)

Hadist ini menjelaskan bahwa orang tua berkewajiban menyuruh anaknya menjalankan shalat, apabila berusia sepuluh tahun. Bila tidak mau melaksanakannya, maka orang tua harus memberi hukuman atas anak tersebut. Diperintahkan kepada orang tua untuk bersabar dalam mendidik anak untuk menjalankan shalat. Karena pada saat ini, banyak orang tua yang lalai dalam membimbig anak, sehingga anak akan merasa bebas saat tidak ada pantauan dari orang tua.

Dalam hal Amar Ma’ruf bukan hanya terkait shalat saja, namun cakupannya sangat luas diantaranya masalah ibadah, akidah, dan juga yang tidak kalah pentingnya masalah akhlaqul karimah. Disamping itu pendidikan juga sangat berperan dalam pengamalannya, karena tanpa pendidikan, kita tidak dapet mengetahui apa yang akan kita lakukan ketika kita mendapat halangan seperti penyelewengan prilaku dan pikiran orang-orang dekat kita dengan menjauhnya dari ajaran syariat agamanya.

Kedua: Nahi Munkar

Tidak hanya itu, dalam menjalankan perintah Nahi Munkar yaitu mencegah dan memberantas kemunkaran seperti kejahatan, kemaksiatan, dan kedzaliman. Tidak sedikit dari kaum muslimin lebih condong mengejar perintah menjalankan kebaikan namun abai akan ikut menata tertib dan sehatnya pergaulan di sekitarnya. Mereka khusyuk dalam menjalankan berbagai amaliyah ibadah namun membiarkan kejahatan, kemaksiatan, dan kemunkaran di sekitarnya merajalela.

Padahal menurut agama mencegah kemunkaran itu lebih diutamakan daripada mengejar kebaikan, hal ini sangat masuk akal karena biasanya kebaikan dampaknya lebih banyak kepada diri sendiri sedangkan kemunkaran bilamana dibiarkan akan berdampak madarat pada orang lain. Seribu kebaikan lebih sulit menghilangkan satu kejahatan, sebaliknya satu kejahatan akan mudah menghancurkan seribu kebaikan. Kejahatan bagaikan virus, bilamana dibiarkan maka ia akan berkembang. Maka kita jangan sekali-kali membiaran sekecil apapun potensi kejahatan, kemaksiatan, kedzaliman, dan kemunkaran sebelum hal itu meraja lela. Sebagaiman sabda nabi,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ لَتَقْرَؤُوْنَ هَذِهِ الآيَةَ :ياأيها الذين آمَنُوْا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ وَإِنِّيْ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوْا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ (رَوَاهُ أبو داود والترمذي وَغَيْرُهُمَا)

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian benar-benar membaca ayat ini ‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk’ (Al-Maidah:105), karena sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Sungguh manusia bila mereka menyaksikan orang zhalim namun tidak menghentikannya, dikhawatirkan Allah akan menjatuhkan hukumanNya pada mereka semua’ “ (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan lainnya)

Kadar kemampuan manusia dalam nahi munkar tidak sama, ada segolongan dari mereka berani bertindak tegas, namun juga ada dari segolongan mereka bertindak kurang tegas. Namun siapapun dari kita sebagai umat Islam tetap berkewajiban menjalankan perintah nahi munkar walaupun dengan selemah-lemahnya diri kita. Bukan berarti walaupun kita lemah dan tidak berdaya kita lepas dari kewajiban nahi munkar, karena nabi tetap memerintahkan siapapun menjalankan perintah nahi munkar walaupun dengan gerak hatinya. Semua umat Islam berkewajiban nahi munkar sebagaimana sabda nabi,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim No. 70)

Penjelasan hadist di atas, bahwasannya seorang dari bangsa Khudriy pernah mendengar Rasulallah bersabda yang maksudnya apabila melihat orang yang berbuat kemungkaran, maka rubahlah dengan tangan, bila orang tersebut masih belum bisa berubah, maka rubahlah dengan lisan, cukup memberinya nasehat, tapi bila itu masih belum bisa merubahnya, maka rubahlah dengan hati, cukup membenci perbuatannya itu.

Anomali

Mencegah kemunkran memang menjadi kewajiban semua umat Islam, namun realitasnya upaya kita ingin menjalankan perintah Allah malah menyebabkan kita melanggar larangan Allah lainnya, yakni timbulnya kerusakan. Janganlah keinginan mencegah kemungkaran menyebabkan timbulnya kerusakan. Sungguh sangat memprihatinkan fenomena yang muncul di akhir-akhir ini, ada sekelompok golongan yang mengatas namakan umat Islam yang terang-terangan mengklaim membela agama Islam dengan upaya mencegah kemungkaran namun malah menimbulkan banyak kerusakan, kemadaratan, kehancuran, dan bahkan ketakutan di kalangan umat beragama. Mereka semena-mena menghancurkan berbagaimacam fasilitas umum mengatasnamakan agama Islam dengan dalih menegakkan nahi munkar.

Bila difikir-fikir niat untuk menghapus kemugkaran dan kemaksiatan memang baik, namun yang tidak mereka fahami dampak kerusakan fisik dan psikologis atas tindakan yang semena-mena. Niatnya memang baik, namun walaupun niat baik akantetapi caranya tidak baik tentunya juga akan menimbulkan kemadharatan yang jelas-jelas tidak dikehendaki oleh agama. Janganlah seperti sebagaian oramas radikal yang niatnya menjalankan nahi munkar bukannya yang dicegah menjadi taubat namun semakin menjauhkan simpatik dan menimbulkan kebencian terhadap agama Islam.

Seyogyanyalah niat nahi munkar itu difokuskan pada potensi kemunkaranya bukan pada berbagai fasilitas fisiknya, dengan artian bahwa sebetulnya kemunkaran tersebut terletak pada prilaku manusisanya bukan terletak pada benda-benda fisiknya. Sehingga kalau benar-benar mau menjalankan kewajiban agama nahi munkar seharusnya pendekatannya kepada penyadaran pada para prilakunya. Namun sayangnya semangat kebaikan nahi munkarnya tersebut tanpa didasari pemahaman agama yang utuh malah menimbulkan banyak persoalan sosial dan kerusakan. Padahal jelas-jelas Allah sangat melarang dan melaknat umat manusia berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana firman Allah,

وَلَا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْيَاءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا فِي الْأَرْضِ مُفْسِدِينَ

Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan; (Surat Asy-Syu’ara’ Ayat 183)

Allah menciptakan bumi dengan kondisi yang sudah baik dan tertib, janganlah kemudian kita merusaknya.

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, setelah (diciptakan) dengan baik. Berdo’alah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allâh sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan. [al-A’râf/7:56]

Bagi mereka yang mengatas namakan agama namun menciptakan kerusakan, seperti hancurnya harta benda, dan lukanyan manusia, bahkan sampai mengancam nyawa maka dia akan mendapatkan laknat dari Allah. Saharusnya ketika nahi mungkar yang dicegah adalah kemungkarannya yaitu tindakan kejahatan dan kemaksiatan, sedangkan kejahatan adanya di prilaku sesaeorang, bukan berada pada tempatnya. Tidak sedikit golongan ini bertindak niatnya nahi munkar namun malah menimbulkan kerusakan di berbagai aspek kehidupan seperti menghancurkan harta benda, merusak rumah tinggal, membuat keonaran. Bukan malah mendapatkan pahala dari tindakan nahi munkarnya namun malah mendatangkan dosa karen telah membuat kerusaka, sebagaimana firman Allah

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu. (QS. Al-Qasas[28]: 77)

Wallahu A’lam Bishawab. Semoga hikmah ini bermanfaat, barokah serta diridhoi oleh Allah SWT.