Allah Akan Menambah Nikmat Hamba Yang Bersyukur

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Syukur merupakan ucapan, sikap dan perbuatan yang diwujudkan dalam amal sehingga menimbulkan manfaat yang dimaksudkan sebagai bentuk wujud terima kasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang tulus atas nikmat dan kurnia yang diberikan-Nya.
Nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia sangat banyak dan bentuknya bermacam-macam. Setiap detik yang dilalui manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari nikmat Allah SWT. Nikmatnya sangat besar dan banyak sehingga bagaimanapun juga manusia tidak akan pernah bisa menghitungnya, sebagaimana firman Allah;

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. An-Nahl[16]: 18)

Allah menyebutkan beberapa nikmat dasar manusia dalam firmannya,

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (QS. An-Nahl[16]: 78)

Beragam cara bersyukur;

Pertama, Bersyukur dengan hati mengakui dan menyadari sepenuhnya bahwa segala nikmat yang diperoleh berasal dari Allah SWT dan tiada seseorang pun selain Allah SWT yang dapat memberikan nikmat. Nikmat ini harus diakui bahwa semuanya berasal dari Allah Ta’ala dan jangan berlaku angkuh dengan menyatakan ini berasal dari kehebatan dan usahanya sendiri semata atau ia memang pantas mendapatkannya. Namun kebiasaan manusia manakala dia belum memperoleh kenikmatan dan masih berada dalam ujian dan cobaan mereka selalu memohon kepada-Nya, namun bilamana kenikmatan telah diraihnya mereka berpaling dari pemberin Allah dan mengingkarinya. Allah berfirman,

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَى بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ فَذُو دُعَاءٍ عَرِيضٍ

“Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, maka ia banyak berdoa.” (QS. Fushshilat: 51)

لا يَسْأَمُ الإنْسَانُ مِنْ دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِنْ مَسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

“Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.” (QS. Fushshilat: 49).

Kedua, Bersyukur dengan lisan senantiasa mengucapkan secara jelas ungkapan rasa syukur itu dengan kalimah alhamdulillahi rabbil alamin. Dan boleh juga diungkapkan kegembiraan tersebut sebagai realisasi syukur kita terhadap nikmat Allah,

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).” (QS. AdhDhuha: 11)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

التَّحَدُّثُ بِنِعْمَةِ اللهِ شُكْرٌ ، وَتَرْكُهَا كُفْرٌ

“Membicarakan nikmat Allah termasuk syukur, sedangkan meninggalkannya merupakan perbuatan kufur.” (HR. Ahmad, 4/278)

Rasa syukur disampaikan dengan ucapan alhamdulillah selayaknya selalu kita lakukan sebagaimana juga dilakukan oleh Nabi Ibrahim saat harapannya tercapai ketika ia memperoleh anak di usia senja. Sebagaimana dalam firman Allah,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. ” (QS. Ibrahim: 39)

Ketika Nabi saw ditanya oleh istri tercinta beliau yaitu ’Aisyah ra. mengenai shalat malam yang banyak beliau lakukan, beliau pun mengatakan,

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا

”Tidakkah aku senang menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Begitu pula di antara bentuk syukur karena banyaknya ampunan di bulan Ramadhan, di penghujung Ramadhan (di hari Idul fithri), kita dianjurkan untuk banyak berdzikir dengan mengangungkan Allah melalu bacaan takbir ”Allahu Akbar”. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al Baqarah: 185)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ

Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS: Al-Baqarah Ayat: 172)

Bentuk syukur dengan lisan bisa diwujudkan dengan memperbanyak dzikir, membaca tahmid, membaca tahlil, membaca takbir, membaca shalawat, membaca istigatsah, membaca Al-Qur’an, dan berbagai macam amalan-amalan ibadah lisan lainnya. Kita dapat membaca berbagai macam amalan ibadah di berbagai kesempatan, bisa di acara syukuran, acara majlis ta’lim, baik di rumah maupun di berbagai tempat mulia.

Oleh karenanya, sebaiknya seorang muslim yang beriman senantiasa bertahmid (alhamdulillah) atas nikmat yang diberikan tersebut. Dengan menyebut-nyebut nikmat ini untuk berbagi kebahagiaan dengan orang lain bukan karena diniatkan untuk berbangga diri atau sombong. Namun bilaman dikakukan karena niat sombong maka akan menghapus pahala kebaikan syukurnya.

Ketiga, Bersyukur dengan amal perbuatan yang dapat dirasakan kemaslahatan dan kemanfaatannya bagi orang-orang sekitarnya. Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan, yakni: Sebagai salah satu bentuk syukur kita kepada Allah adalah dengan menjauhi maksiat,

اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ

Berhati-hatilah (jangan terjerumus) ke dalam hal-hal yang diharamkan, niscaya engkau termasuk manusia yang paling beribadah (kepada Allah) (HR. Tirmidzi)

Dalam hadits lain disebutkan,

وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ

“Sesungguhnya seseorang terhalang mendapatkan rezeki karena dosa yang ia perbuat.” (HR. Ibnu Majah no. 4022)

Betuk syukur kita kepada Allah juga atas kenikmatan rizki dengan menggunakan kesehatan badan untuk memperbanyak menjalankan ibadah. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ. الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الأرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.(QS. Al-Baqarah[2]: 21-22)

Beramal sholeh dengan membantu orang lain, memperbanyak berinfaq ke berbagai majlis ilmu atau tempat ibadah, memperbanyak sedekah lewat syukuran atau selamatan saat kita mendapatkan rizki dan anugerah kenikmatan itu juga merupakan bentuk syukur kita kepada Allah. Allah berfirman,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.”(QS An Nahl : 97)

Siapa pandai bersyukur niscaya akan ditambah. Hanya ketika bersyukur seseorang akan menemukan keberlimpahan. Ketika manusia tidak bersyukur, alias mengeluhkan keadaan, niscaya akan terjerat kekurangan terus-menerus. Bersyukur merupakan simbol kebaikan, karena untuk mendapatkan kebaikan, maka kita harus memenuhi diri dengan kebaikan, dan memancarkannya pada alam semesta. Sebagai tanda syukur pada Allah yang telah mengaruniakan beragam kenikmatan yang tak terhitung.

Pandai-pandailah mensyukuri nikmat Allah apa pun itu. Karena keutamaan orang yang bersyukur amat luar biasa. Allah Ta’ala berfirman,

وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ

“Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali Imron: 145)

Manakala kita bersyukur, maka saat itu pula kebahagiaan seperti mengalir indah ke dalam hati kita. Demikianlah kekuatan syukur. Tidak ada di dalam syukur kecuali kebaikan, dan hanya kebaikan yang bisa menarik kebaikan. Bersyukurlah, karena dengan bersyukur akan banyak menimbulkan kebaikan, sebaliknya bila kita tidak pandai bersyukur niscaya Allah tidak akan segan-segan untuk menimpakan adzab kepada kita. Adzab Allah bisa jadi menimpakan ujian betubi-tubi atau dengan mencabut nikmat yang telah kita peroleh

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

Namun kebanyakan dari manusia bila mendapatkan rizki mereka berpaling dari Allah dan bilamana Allah belum memberikan apa yang mereka inginkan atau ketika mereka ditimpa musibah mereka akan banyak mengeluh kepada Allah. Sebagaimana digambarkan dalam beberapa nas berikut,

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِنَّا مِنْ بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي

“Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku.”(QS. Fushshilat: 50)

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ الْقَلِيلَ لَمْ يَشْكُرِ الْكَثِيرَ

“Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri sesuatu yang banyak.” (HR. Ahmad, 4/278)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ »

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seandainya manusia diberi lembah penuh dengan emas, maka ia masih menginginkan lembah yang kedua semisal itu. Jika diberi lembah kedua, ia pun masih menginginkan lembah ketiga. Perut manusia tidaklah akan penuh melainkan dengan tanah. Allah tentu menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat.” (HR. Bukhari No. 6438)

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

“Dan jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.” (QS. AsySyuraa: 27)

Ingatlah bahwa rasa syukur haruslah diwujudkan setiap saat dan bukan hanya sekali saja ketika mendapatkan nikmat. Namun setelah mendapatkan satu nikmat, kita butuh pada bentuk syukur yang selanjutnya.