Ajaran Semua Nabi Hakikatnya Sama

Orang-orang di masa Adam hingga Nuh Alaihissalam semuanya mentauhidkan atau meng-Esakan Allah. Tak ada Nabi yang mengajar Allah lebih dari satu. Tak ada Nabi yang mendakwahkan Allah memiliki anak atau diperanakkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنَّ هَٰذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

“Sesungguhnya (agama tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Surat Al-Mu’minun Ayat 52)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ شَرَعَ لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّىٰ بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَىٰ وَعِيسَىٰ ۖ أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ ۚ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ ۚ اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).” (Surat Asy-Syura Ayat 13)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نحن معاشر الأنبياء إخوة لعلات ديننتا واحد

“Kami semua para nabi bersaudara dan agama kami satu.“ (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ ، وَالأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى ، وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ

“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat. Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu.” (Hadits Bukhari Nomor 3443)

Dalam riwayat Muslim disebutkan. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

« أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ فِى الأُولَى وَالآخِرَةِ ». قَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ « الأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ مِنْ عَلاَّتٍ وَأُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِينُهُمْ وَاحِدٌ فَلَيْسَ بَيْنَنَا نَبِىٌّ »

“Aku adalah orang yang paling dekat dan paling mencintai Isa bin Maryam di dunia maupun di akhirat.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana bisa seperti itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Para nabi itu adalah saudara seayah walau ibu mereka berlainan, dan agama mereka adalah satu. Dan tidak ada di antara kita (antara Nabi Muhammad dan Nabi Isa) seorang nabi.” (Hadits Muslim Nomor 2365)

Lalu mengapa kenyataannya kini terdapat berbagai agama yang memiliki konsep ke-Tuhan-an yang berbeda? Maka jawabannya: hal itu dikarenakan sebagian mereka menolak ajaran yang dibawa para Nabi dan lebih suka mengikuti konsep yang mereka bikin-bikin sendiri, bahkan tidak jarang mereka membunuh para Nabi itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ. وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي شِيَعِ الْأَوَّلِينَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (beberapa rasul) sebelum kamu kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak datang seorang rasulpun kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Surat Al-Hijr Ayat 10-11)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَمْ أَرْسَلْنَا مِنْ نَبِيٍّ فِي الْأَوَّلِينَ. وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ

“Berapa banyaknya nabi-nabi yang telah Kami utus kepada umat-umat yang terdahulu. Dan tiada seorang nabipun datang kepada mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (Surat Az-Zukhruf Ayat 6-7)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُوا۟ نُؤْمِنُ بِمَآ أُنزِلَ عَلَيْنَا وَيَكْفُرُونَ بِمَا وَرَآءَهُۥ وَهُوَ ٱلْحَقُّ مُصَدِّقًا لِّمَا مَعَهُمْ ۗ قُلْ فَلِمَ تَقْتُلُونَ أَنۢبِيَآءَ ٱللَّهِ مِن قَبْلُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

“Kementrian AgamaDan apabila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kepada Al Quran yang diturunkan Allah,” mereka berkata: “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami”. Dan mereka kafir kepada Al Quran yang diturunkan sesudahnya, sedang Al Quran itu adalah (Kitab) yang hak; yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah: “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (Surat Al-Baqarah[2] Ayat 91)

Ada juga sebagian yang karena kedengkian atau kemunafikan dalam hatinya berpura pura mengikuti ajaran para Nabi dan Rasul namun kemudian mereka mengubah ubah isi kitab Allah sekehendak hatinya. Inilah yang menyebabkan tak sampai ratusan tahun setelah Nabi / Rasul wafat, ajaran-ajaran para Nabiyullah yang lurus itu telah mengalami distorsi (perubahan-penyelewengan) yang jauh. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka mengubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di ubah-ubah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah.” Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (Surat Al-Maidah Ayat 41)

Sementara orang yang awam terhadap agama mengikut saja perkataan ulamanya, pendetanya atau rahib nya. Mereka mengatakan bahwa pendeta dan rahib mereka adalah maksum (bebas dari kesalahan), sehingga mereka membenarkan setiap perkataan walaupun sesat dari ajaran yang asli. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (Surat At-Taubah Ayat 31)

Maka sebagian dari umat sepeninggal para Nabi itu ada yang berlebihan (ghuluw) dalam beragama dengan menuhankan Nabinya, atau meanggap Nabinya itu adalah titisan Tuhan. Kemudian mereka memasukkan konsep Jahiliyah dan paganisme dengan menjadikan malaikat atau orang shaleh (seperti Uzair) sebagai anak Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling?.” (Surat At-Taubah Ayat 30)

Maka Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sudah memperingatkan agar kita tidak berlaku ghuluw dalam mengkultuskan Nabi sehingga terseret pada kesesatan seperti umat-umat terdahulu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تُطْرُوْنِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُوْلُوْا عَبْدُ اللهِ وَرَسُوْلُهُ.

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam memujiku, sebagai-mana orang-orang Nasrani telah berlebih-lebihan memuji ‘Isa putera Maryam. Aku hanyalah hamba-Nya, maka kata-kanlah, ‘‘Abdullaah wa Rasuuluhu (hamba Allah dan Rasul-Nya).” (Hadits Bukhari Nomor 3445, Tirmidzi Nomor 284, Ahmad Nomor I/23, Darimi Nomor II/320)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَبِمَا نَقْضِهِمْ مِيثَاقَهُمْ لَعَنَّاهُمْ وَجَعَلْنَا قُلُوبَهُمْ قَاسِيَةً ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ ۙ وَنَسُوا حَظًّا مِمَّا ذُكِّرُوا بِهِ ۚ وَلَا تَزَالُ تَطَّلِعُ عَلَىٰ خَائِنَةٍ مِنْهُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاصْفَحْ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 13)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَىٰ بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ أَنْزَلَ الْكِتَابَ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُوسَىٰ نُورًا وَهُدًى لِلنَّاسِ ۖ تَجْعَلُونَهُ قَرَاطِيسَ تُبْدُونَهَا وَتُخْفُونَ كَثِيرًا ۖ وَعُلِّمْتُمْ مَا لَمْ تَعْلَمُوا أَنْتُمْ وَلَا آبَاؤُكُمْ ۖ قُلِ اللَّهُ ۖ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِي خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ

“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya)?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.” (Surat Al-An’am Ayat 91)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَوْلَا يَنْهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ عَنْ قَوْلِهِمُ الْإِثْمَ وَأَكْلِهِمُ السُّحْتَ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَصْنَعُونَ

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (Surat Al-Ma’idah Ayat 63)

Inilah yang terjadi pada syariat dan kitab kitab Nabi terdahulu. Sepeninggal Nabi-nabi itu pengikutnya mencampur adukkan ajaran para Nabi itu dengan cerita cerita dan legenda hasil tangan manusia, sebagian ayat Allah yang tidak cocok dengan selera manusia disembunyikan dan diubah ubah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya?” (Surat Ali ‘Imran Ayat 71)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ ۘ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ

“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar”. (Surat Ali ‘Imran Ayat 181)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنَّ مِنْهُمْ لَفَرِيقًا يَلْوُونَ أَلْسِنَتَهُمْ بِالْكِتَابِ لِتَحْسَبُوهُ مِنَ الْكِتَابِ وَمَا هُوَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَقُولُونَ هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَمَا هُوَ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 78)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُونَ

“Maka kecelakaan yAng besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan.” (Surat Al-Baqarah Ayat 79)

Demikianlah duduk masalah sebenarnya mengapa dari Tuhan yang satu bisa timbul berbagai agama yang berbeda seperti sekarang ini. Bukan sebagaimana yang disangkakan oleh orang yang menduga-duga dan meyusun teori sendiri, bahwa seolah para Nabi itu mendekati kebenaran hakiki dengan pikirannya masing-masing.

Syariat Yang Dibawa Sama Hanya Berbeda Detil Teknisnya

Apa yang diserukan oleh para Nabi dari paling awal sampai Nabi paling akhir adalah sama yaitu kalimat Laa ilaaha illa Allah agar menyembah hanya kepada Allah yang esa. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Surat Ali ‘Imran Ayat 64)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (Surat An-Nahl Ayat 36)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjelaskan bahwa setiap para Nabi dan Rasul yang di utus-Nya, semuanya menyerukan untuk beribadah pada Allah semata, adapun cara dan bagaimana bentuk peribadatan itu sesuai dengan risalah yang dibawakan oleh Nabi tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ ۖ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْحَقِّ ۚ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,” (Surat Al-Ma’idah Ayat 48)

Ibnu Abbas radiyallahuanhu berkata: yang dimaksud syari’at dan minhaj adalah jalan dan sunnah.

Tiap Rasul diutus sesuai dengan budaya kaumnya, dan kondisi peradaban kaum tersebut saat itu Maka mereka memiliki syari’at yang berbeda-beda seperti ibadah, perintah dan larangan, penghalalan dan pengharaman dan lain sebagainya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Surat Ibrahim Ayat 4)

Sebenarnya dari sejak jaman Nabi Adam alaihissalam sampai Nabi Muhammad shalallahu alaihissalam inti syariat juga sama, yaitu ada shalat, ada puasa, ada zakat, ada haji (tawaf mengelilingi ka’bah). Cobalah kita perhatikan catatan sejarah yang bisa kita lihat dari kisahnya Sahabat Salman Al-Farisi dalam mencari dan membandingkan agama-agama yang ada pada zaman itu. Diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

Telah bercerita kepada kami Ya’qub telah bercerita kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq telah bercerita kepadaku ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah Al Anshari dari Mahmud bin Labid dari ‘Abdullah bin ‘Abbas berkata: telah bercerita kepadaku Salman Al Farisi haditsnya dari mulutnya berkata: Aku adalah orang Persia dari Asbahan dari penduduk salah satu perkampungannya yang bernama Jai dan ayahku adalah pemimpin kampungnya, aku adalah orang yang paling ia sayangi, ia tetap mencintaiku hingga ia menahanku dirumahnnya, yaitu terus menjaga perapian layaknya anak perempuan ditanah dirumah, aku lelah menjalankan agama majusi hingga aku menjadi pelayan api yang dinyalakan dan tidak pernah ditinggalkan barang sesaat. Ayahku memiliki pekarang besar dan pada suatu hari ia tidak sempat mengutus bangunannya lalu ia berkata kepadaku: Wahai anakku! Sesungguhnya aku tidak sempat mengurus bangunan hari ini karena aku sibuk dengan pekaranganku, pergi dan lihatlah. Ia memerintahkanku sebagaian hal yang ia inginkan lalu aku pun pergi menuju pekarangan ayahku, aku melewati sebuah gereja nasrani, aku mendengar suara-suara mereka, aku masuk dan melihat yang mereka lakukan, saat melihat mereka aku mengagumi shalat mereka dan aku menyukai hal mereka, aku berkata: Demi Allah ini lebih baik dari agama kami, demi Allah aku tidak meninggalkan mereka hingga matahari terbenam dan aku meninggalkan pekarangan ayahku, aku tidak mendatanginya, aku berkata kepada mereka: Dari mana agama ini berasal? Mereka menjawab: Dari Syam. Lalu aku kembali menemui ayahku dan ia telah mengirim orang untuk mencariku dan aku tidak sempat melakukan pekerjaannya secara keseluruhan. Berkata Salman Al Farisi: Saat aku mendatangi ayahku, ia berkata: Wahai anakku! Kamu dari mana, bukankah kau aku perintahkan sesuatu? Aku berkata: Wahai ayahku, aku melintasi suatu kaum, mereka shalat di gereja mereka, dan agama mereka membuatku kagum, demi Allah aku tetap berada didekat mereka hiungga matahari terbenam. Ayahku berkata: Wahai anakku! Tidak ada kebaikan pada agama itu, agamamu dan agama nenek moyangmu lebih baik darinya. Aku berkata: Tidak, agama itu lebih baik dari agama kita. Ayahku mengkhawatirkanku lalu ia mengikat kakiku dan menahanku di rumah. Kaum nasrani mengirim utusan menemuiku, aku berkata kepada mereka: Bila rombongan dagang dari Syam mendatangi kalian, beritahu aku. Lalu kafilah dagang dari Syam dari kalangan Nasrani tiba lalu mereka memberitahukan kedatangan mereka kepadaku. Aku berkata kepada mereka: Bila urusan mereka usai dan mereka ingin kembali ke negara mereka, beritahu aku. Saat mereka hendak kembali ke negara mereka, mereka memberitahukan hal itu kepadaku lalu aku melemparkan rantai besi dari kakiku lalu aku keluar bersama mereka hingga aku tiba di Syam, saat tiba di Syam, aku bertanya: Siapa pemeluk agama ini yang terbaik? Mereka menjawab: Uskup di gereja. Lalu aku mendatanginya, aku berkata: Aku mulai simpai dengan agama ini dan aku ingin bersamamu, aku akan melayanimu di gerejamu, aku belajar darimu dan shalat bersamamu. Uskup itu berkata: Silahkan masuk. Aku masuk bersamanya, ternyata ia adalah orang yang tidak baik, ia memerintahkan mereka untuk bersedekah dan menganjurkannya, bila mereka mengumpulkan banyak uang untuknya, uskup itu menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin hingga ia mengumpulkan tujuh tempayan emas dan perak. Aku pun sangat membencinya karena perbuatannya yang aku lihat, kemudian orang itu mati dan orang-orang Nasrani mendatanginya untuk menguburnya. Aku berkata kepada mereka: Dia adalah orang yang tidak baik, ia memerintahkan kalian bersedekah dan menganjurkannya, bila kalian datang membawa sedekah, ia menyimpannya untuk dirinya sendiri dan tidak diberikan kepada kaum fakir miskin sama sekali. Mereka bertanya: Bagaimana kau tahu? Aku menjawab: Aku akan menunjukkan harta simpanannya pada kalian. Mereka bertanya: Tunjukkan. Lalu aku memperlihatkan tempatnya lalu mereka mengeluarkan tujuh tempayan penuh dengan emas dan perak. Saat melihatnya, mereka berkata: Demi Allah kami tidak akan menguburnya selama-lamanya. Lalu mereka menyalibnya dan merajamnya dengan batu. Setelah itu mereka mendatangkan orang lain untuk menggantikan posisinya. Berkata Salman Al Farisi: Tidaklah aku melihat seesorang yang tidak shalat lima waktu melainkan menurutku ia pasti lebih baik dari orang itu, tidak lebih zuhud terhadap dunia, tidak lebih menginginkan akhirat dan tidak lebih membiasakan beribadah pada malam dan siang melebihinya. Aku sangat mencintai orang itu dengan suatu cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, aku tinggal bersamanya selang berapa lama lalu ia sekarat, aku berkata padanya: Hai Fulan, aku sudah hidup bersamamu dan aku sangat mencintaimu dengan cinta yang belum pernah aku rasakan sebelumnya dan telah tiba urusan Allah seperti yang telah kau lihat, apa yang kau wasiatkan padaku dan apa gerangan yang kau perintahkan padaku? Orang itu berkata: Wahai anakku, demi Allah saat ini aku tidak melihat seorang pun seperti aku dulu, orang-orang sudah tiada, mereka sekarang merubah (agama) dan meninggalkan lebih banyak dari yang pernah mereka lakukan kecuali seseorang yang ada di Mushil, dia adalah si fulan, dia seperti aku, temuilah dia. Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Mushil itu lalu aku berkata: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku saat sekarat agar aku bertemu denganmu, ia memberitahuku bahwa kau seperti dia. Orang itu berkata: Tinggallah di tempatku. Aku tinggal di tempatnya dan ternyata ia adalah orang terbaik berdasarkan urusan temannya. Tidak lama kemudian orang itu meninggal dunia, saat sekarat aku berkata kepadanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasait kepadaku agar menememuimu dan kini urusan Allah ‘azza wajalla telah tiba mengenaimu seperti yang kau lihat, lantas kepada siapa kau mewasiatkanku dan apa yang kau perintakan padaku? Orang itu berkata: Wahai anakku! Aku tidak mengetahui seorang pun seperti itu kecuali seseorang di daerah Nashiyyin, dia adalah si fulan, temuilah dia. Saat ia meninggal dunia dan disemayamkan, aku menemui orang Nashiyyin, aku mendatanginya dan memberitahukan beritanya serta perintah yang diberikan padaku. Orang itu berkata: Tinggallah bersamaku. Aku pun tinggal ditempatnya ternyata ia sama seperti kedua temannya. Aku tinggal bersama orang terbaik, demi Allah tidak lama kemudian kematian datang menjemputnya. Saat sekarat, aku berkata padanya: Hai fulan, sesungguhnya si fulan berwasiat kepadaku untuk menemui seseorang, ia berwasiat untuk menemuimu, lantas kepada siapa engkau mewasiatkanku untuk menemuinya dan apa yang kau perintahkan padaku. Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah kami tidak mengetahui seorang pun yang tetap seperti agama kami yang aku perintahkan padamu agar menemuinya kecuali seseorang di Amuriyah, ia seperti kami, bila kau masih hidup, temuilah dia karena ia sama seperti kami. Saat orang itu meninggal dan disemayamkan, aku menemui orang Amuriyah dan aku memberitahukan kisahnya pada orang itu. Orang itu berkata: Tinggallah di tempatku. Lalu aku tinggal bersama seseorang sesuai ajaran para sahabat-sahabatnya dan urusan mereka. Berkata Salman Al Farisi: Aku bekerja hingga aku punya banyak sapi dan kambing lalu kematian menjelang orang itu, saat sekarang aku berkata padanya: Hai fulan, dulu aku pernah bersama seseorang, ia berwasiat kepadaku agar memenuhi si fulan kemudian ia berwasiat kepadaku agar memenuhi seseorang, lalu ia berwasiat kepadaku agar mememuimu, kepada siapakah gerangan engkau berwasiat kepadaku untuk aku temui dan apa yang kau perintahkan padaku? Ia berkata: Wahai anakku! Demi Allah aku tidak mengetahui seorang pun seperti kami dulu yang aku perintahkan agar kau datangi tapi kau telah dinaungi oleh masa seorang nabi yang diutus membawa agama Ibrahim, ia muncul di tanah arab, ia berhijrah ke suatu kawasan di antara dua padang pasir, di antara keduanya ada kebun kurma, pada dirinya ada tanda-tanda yang tidak samar, ia memakan hadiah dan tidak memakan sedekah, di antara kedua pundaknya ada tanda kenabian, bila kau bisa pergi ke negeri itu lakukanlah. Setelah itu ia meninggal lalu aku tinggal selang berapa lama di Amuriyah kemudian sekelompok pedagang dari Bani Kalb melintasiku, aku berkata kepada mereka: Bawalah aku ke negeri arab dan aku akan memberi kalian sapi-sapi dan kambing-kambingku ini. Mereka berkata: Baik. Aku memberikan semua itu pada mereka hingga mereka membawaku ke Wadil Qura, mereka menzhalimi aku dan menjualku pada seorang Yahudi sebagai seorang budak, aku tinggal di tempat orang itu dan aku melihat kebun kurma dan aku berharap semoga itulah negeri yang disebutkan oleh temanku. Saat aku berada ditempatnya, seorang keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraizhah, ia membeliku dari orang itu dan ia membawaku ke Madinah. Demi Allah tempat itu kini telah aku lihat persis seperti ciri-ciri yang disebutkan temanku. Aku tinggal ditempat itu dan Allah mengutus rasulNya, beliau tinggal di Makkah selama waktu ia tinggal disana. Aku sama sekali tidak mendengar khabar mengenai beliau karena aku sibuk sebagai seorang budak lalu beliau berhijrah ke Madinah, demi Allah aku sungguh tengah mengurus pelepah kurma milik tuanku, aku melakukan beberapa pekerjaan ditempat itu sementara tuanku tengah duduk, tiba-tiba seorang keponakannya datang dan berdiri dihadapannya, ia berkata: Allah membinasakan Bani Qailah, demi Allah mereka sekarang berkumpul di Quba` dengan dipimpin oleh seseorang yang datang dari Makkah hari ini, mereka mengiranya nabi. Berkata Salman Al Farisi: Saat mendengarnya, aku gemetaran hingga aku kira akan jatuh mengenai tuanku. Aku turun dari pohon kurma lalu aku berkata kepada keponakan tuanku: Apa kau bilang, apa kau bilang? Lalu tuanku marah lalu memukulku dengan kerasnya kemudian berkata: Apa urusanmu dengan hal ini, sana kerja. Aku berkata: Bukan apa-apa, aku hanya ingin mempertegas yang ia katakana. Berkata Salman Al Farisi: Saya memiliki sesuatu yang telah saya kumpulkan, saat sore hari aku mengambilnya lalu aku pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau berada di Quba`, aku masuk menemui beliau lalu aku berkata kepada beliau: Aku dengar Tuan adalah orang shalih, Tuan bersama para sahabat asing yang memiliki suatu keperluan, ini sedikit punyaku aku berikan sebagai sedekah, menurutku kalian lebih berhak mendapatkannya dari pada yang lain. Lalu aku mendekatkannya lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat beliau: “Makanlah” sementara beliau menahan tangan dan tidak makan. Aku berkata dalam hati: Ini tanda pertama. Lalu aku pergi meninggalkan beliau, aku mengumpulkan sesuatu kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pindah ke Madinah, aku mendatangi beliau lalu aku berkata: Aku melihat Tuan tidak memakan barang sedekah, ini hadiah, dengannya aku memuliakan Tuan. Lalu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa sallammemakan dan memerintahkan para sahabat beliau untuk makan, mereka pun makan bersama beliau. Aku berkata dalam hati: Ini tanda kedua. Setelah itu aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau di Baqi’ Al Gharqad, beliau tengah mengiring jenazah salah seorang sahabat beliau, beliau mengenakan dua selimut milik beliau, beliau duduk ditengah-tengah para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau lalu aku berputar untuk melihat punggung beliau, aku melihat tanda seperti yang disebutkan oleh temanku, saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meliahtku mengitari beliau, beliau tahu bahwa aku mencari bukti tentang sesuatu yang dijelaskan padaku. Beliau melepas selendang beliau dari punggung beliau lalu aku melihat tanda, aku mengenalinya lalu aku tertelungkup dihadapan beliau, aku mencium beliau dan aku menangis. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadaku: “Pindahlah.” Aku pun pindah lalu aku mengisahkan ceritaku pada beliau seperti yang aku kisahkan padamu wahai Ibnu ‘Abbas. Para sahabat beliau mendengar kisahku, hal itu membuat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kagum. (Hadits Ahmad Nomor 22620)

Jadi agama Nasrani jaman dahulu pun aslinya ada ibadah shalat. Namun mengapa orang Nasrani saat ini tidak melaksanakan shalat? Siapa bilang? Kalau kita mengatakan Nasrani pada zaman ini pasti diwakili oleh Katolik Roma yang berpusat di Vatican, serta Kristen Protestan. Karena media barat adalah yang mendominasi dunia pada hari ini. Padahal orang Nasrani dari Ortodox Syiria, Gereja Nestorian Nasrani Ortodox Ethiopia, Koptik di Mesir atau Maronit di Libanon, masih bisa kita saksikan sisa sisa ajaran shalat dari Nabi Isa. Namun orang orang Barat mengatakan bahwa mereka adalah kristen Timur Tengah yang terpengaruh ajaran Islam. Sebuah tuduhan palsu yang memutar balikkan kenyataan sejarah.

Jadi sebenarnya ajaran para Nabi dari dulu itu sama. Namun detil rinciannya yang berbeda. Misalnya jika pada jaman Nabi Adam pernikahan boleh dengan saudara sekandung namun pada masa selanjutnya tidak boleh.

Pada umat Nabi Daud puasa itu sehari puasa sehari berbuka (dikenal dengan puasa Nabi Daud) lalu pada umat Nabi Isa puasa itu adalah 40 hari (sekarang masih ada sisa-sisa umat Katolik yang berpuasa 40 hari sebelum Hari Raya Paskah), sedangkan pada umat Muhammad puasa adalah 30 hari.

Nabi Adam dari sejak pertama diturunkan di bumi sudah diturunkan batu Hajar Aswad sebagai penanda Ka’bah dan Nabi Adam diminta bertawaf mengelilinginya. Baru pada masa Nabi Ibrahimlah bangunan Ka’bah itu dibangun (ditinggikan) dengan batu-batu membentuk bangunan kotak dan Hajar Aswad disimpan di dalamnya.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 96)

Guru Besar Studi Islam Universitas Al-Azhar, Dr Ablah Muhammad al-Kahlawi, menyatakan, Ka’bah pertama kali dibangun oleh malaikat sekitar 2.000 tahun sebelum Nabi Adam diciptakan. Mereka berhaji ke sana yang kemudian diikuti oleh Nabi Adam. Hal ini berdasarkan riwayat Imam Azraqy.

Ibnu Abbas radliallahu ‘anhu menceritakan bahwa nabi Adam alaihis salam pernah melaksanakan Ibadah haji dan bertawaf keliling Ka’bah dengan tujuh kali putaran. Kemudian para malaikat menemuinya dan berkata: “Semoga hajimu mabrur wahai Adam. Sesungguhnya kami telah melaksanakan Ibadah Haji di Baitullah ini sejak 2000 tahun sebelum kamu.” Adam bertanya: “Pada zaman dahulu, apakah yang kalian baca pada saat tawaf ? ” Mereka menjawab:

“Dahulu kami mengucapkan; Subhanallah wal hamdu lillah wa la illaha illa Allah wallahu akbar” Adam berkata: “tambahkanlah dengan ucapan “Wa la haula wa la quwwata illa billah” Maka selanjutnya para malaikatpun menambahkan ucapan itu. (lihat Imam Al-Azraqy I/45)

Berapa Banyak Nabi dan Rasul

Jumlah Nabi dan Rasul ada banyak tapi yang diceritakan kepada kita di Al-Qur’an hanyalah 25 orang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” (Surat Al-Mu’min Ayat 78)

Adapun jumlah dari Nabi dan Rasul amatlah banyak, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ بِالْحَقِّ بَشِيرًا وَنَذِيرًا ۚ وَإِنْ مِنْ أُمَّةٍ إِلَّا خَلَا فِيهَا نَذِيرٌ

“Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (Surat Fatir Ayat 24)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلًا مِنْ قَبْلِكَ مِنْهُمْ مَنْ قَصَصْنَا عَلَيْكَ وَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ نَقْصُصْ عَلَيْكَ ۗ وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ فَإِذَا جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ قُضِيَ بِالْحَقِّ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْمُبْطِلُونَ

“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu. Tidak dapat bagi seorang rasul membawa suatu mukjizat, melainkan dengan seizin Allah; maka apabila telah datang perintah Allah, diputuskan (semua perkara) dengan adil. Dan ketika itu rugilah orang-orang yang berpegang kepada yang batil.” (Surat Al-Mu’min Ayat 78)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Dari Abu Dzar al Ghifary berkata,”Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berapakah jumlah para nabi?” beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,”124.000.” lalu aku bertanya berapa jumlah para rasul?” maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda.” (Hadits Riwayat Ibnu Hibban)

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَنْ نَشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ. وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِنَ الصَّالِحِينَ. وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

“Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. dan Ismail, Alyasa’, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya),” (Surat Al-An’am Ayat 83-86)

Imam Thabrani meriwayatkan dari Abu Umamah bahwa seorang laki-laki bertanya, ”Wahai Rasulullah, apakah Adam adalah seorang Nabi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”Ya.” Kemudian orang itu bertanya,”Berapa masa antara dia dengan Nuh?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Berapa masa antar Nuh dengan Ibrahim?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,”10 abad.” Lelaki itu bertanya lagi,”Wahai Rasulullah berapakah jumlah para rasul?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ”Sesungguhnya perumpamaan diriku dengan nabi-nabi sebelumku adalah sama dengan seseorang yang membuat sebuah rumah, diperindah dang diperbagusnya kecuali tempat untuk sebuah batu bata disudut rumah itu. Maka orang-orangpun mengelilingi rumah itu dan mengaguminya, dan berkata: Mengapa engkau belum memasang batu bata itu? Nabipun berkata: Sayalah batu bata terakhir itu, sayalah penutup para nabi.(Ibn Hajar al-’Atsqalani, Fathu al-Bari bi Sharh al-Bukhari, Juz VII)

Dari sini kita bisa menyimpulkan janganlah kita menghujat dan mencaci maki tokoh-tokoh Nabi dari agama-agama non-muslim karena tidak mustahil bahwa pada setiap bangsa dan setiap umat di setiap masa, Allah telah mengutus seorang Nabi atau orang shaleh yang memberikan peringatan. Bisa jadi yang disebut Khong Hu Cu di Cina, Shinto di Jepang, atau Budha Gautama di India atau lain-lainnya itu tadinya adalah para Nabi atau orang shaleh. Hanya saja ajaran mereka setelah ribuan tahun mengalami perubahan dan penyelewengan dari bentuk aslinya.

 

Oleh: Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke