Adab Shalat Berjamaah di Masjid

Untuk menyempurnakan amalan mulia yang berupa shalat berjamaah di masjid, hendaknya kita memperhatikan beberapa adab-adabnya. Di antaranya sebagai berikut;

Mengenakan pakaian yang bagus dan sopan

Ketika kita menuju masjid dengan tujuan i’tikaf dan jamaah shalat, hendaknya kita memilih pakaian yang bersih, rapi, harum dan bagus. Selain pakaian yang dapat menutup aurat, Allah memerintahkan umat Islam memperindah penampilan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf Ayat 31)

Ketika kita menuju masjid hakikat kita sedang hendak menghadap Tuhannya yang Maha Agung dan Maha Indah. Bagaimana bisa ketika hendak menghadap Tuhannya yang Maha Agung dan Maha Indah kita berpenampilan ala kadarnya atau mungkin terkesan asal-asalan. Bahkan terkadang ada sebagian dari kaum muslimin mengenakan pakaian yang bertulis kata-kata seronok sehingga dapat mengganggu konsentarsi shalat jamaah lain.

Sudah dalam keadaan berwudhu dari rumah

Di antara bagian dari adab shalat berjamaah di Masjid adalah sebelum keberangkatannya ke masjid sudah dalam keadaan suci berwudhu semenjak dari rumah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajatnya.” (Hadits Riwayat Muslim 1553)

Tidak melintas di hadapan orang yang sedang shalat

Bagian dari adab shalat jamaah di masjid adalah tidak lewat di hadapan orang yang sedang shalat. Sebab perkara tersebut sangat dibenci oleh Nabi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ يَعْلَمُ الْمَارُّ بَيْنَ يَدَي الْمُصَلِّي مَاذَا عَلَيْهِ، لَكَانَ أَنْ يَقِفَ أَرْبَعِيْنَ، خَيْرًا لَهُ مِنْ أَنْ يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيْهِ

“Seandainya orang yang lewat di depan orang yang shalat  mengetahui (dosa) yang ditanggungnya, niscaya ia memilih untuk berhenti selama 40 ( tahun), itu lebih baik baginya daripada lewat di depan orang yangsedang  shalat.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 510 dan Muslim Nomor 1132)

Menghadap sutrah ketika shalat

Salah satu adab jamaah shalat adalah tidak melintas atau lewat di hadapan orang yang sedang shalat. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 509 dan Muslim Nomor 505)

Maksudnya adalah, larangan melintas di depan orang yang sedang shalat tersebut adalah dilarang lewat di antara seseorang yang sedang shalat dan sutrah yang telah dipasang. Jadi tidak masalah manakala kita melintas di depan orang yang sedang shalat apabila di luar batas (sutrah) yang dipasang tersebut. Atau sebagaimana tidak masalah bila yang dimaksudkan sebagai sutrah (penanda) adalah sajadah. Jadi tidak masalah juga kita melintas di depan orang yang sedang shalat di luar sajadah yang sedang digunakan tersebut. Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

“Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka perangilah ia, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).” (Hadits Riwayat Ibnu Khuzaimah 800)

Baca juga: Menggunakan Sajadah Saat Shalat Hakikatnya Adalah Sutrah yang Disunnahkan

Menjawab Adzan

Dianjurkan untuk mendengarkan dan menjawab adzan ketika kita mendengarnya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 611 dan Muslim Nomor 846)

Di samping itu, selain kita dianjurkan untuk mendengarkan dan menjawab adzan, juga disunnahkan membaca doa sesaat setelah adzan dikumandangkan. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang setelah mendengar adzan membaca doa : Allahumma Robba hadzihid da’wattit taammah was shalatil qaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzi wa ‘adtahu “(Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya) melainkan dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 94)

Tidak keluar masjid sebelum ibadah terlaksana

Sebaiknya setelah adzan dikumandakan, kita dianjurkan untuk tetap berada di dalam masjid sampai shalat berjamaah telah dilaksanakan, itu pun jika tidak ada udzur yanng menyebabkan kita keluar dari masjid. Hal ini sebagaimana yang telah dikisahkan dalam sebuah riwayat hadits berikut,

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kamudian muadzin mengumandangkan adzan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata : “ Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 655)

Beberapa udzur yang memperbolehkan keluar dari masjid antara lain, seperti mau ke kamar kecil, berwudhu, mandi, atau keperluan mendesak lainnya.

Memanfaatkan waktu jeda iqamah

Waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang mustajabah dalam memanjatkan doa, maka pada waktu ini kita dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amal, seperti shalat sunnah qabliyah, membaca al quran, berdizikir, atau memperbanyak doa. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 212)

Dan perlu diingat bahwa memanjatkan doa juga mempunyai adab. Seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam

لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 1332 dan Ahmad Nomor 430).

Tidak ibadah lain bila resiko tertinggal jamaah

Dilarang beraktifitas apapun seperti dzikir dan shalat sunnah bila shalat jamaah sudah siap dilaksanakan. Sebab bila disibukkan dengan ibadah sunnah lainnya sedangkan ibadah jamaah sudah dilaksanakan maka akan menyebabkan ketinggalan mendapat keutamaan shalat jamaah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Jika shalat wajib telah dilaksanakan, maka tidak boleh ada shalat lain selain shalat wajib” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 710)

Lebih memilih shaf yang diutamakan

Adab dalam berjamaah adalah tidak memilih shaf lain sedangkan shaf yang diutamakan masih kosong. Bagi muslimin yang paling depan, sedangkan muslimat yang paling belakang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ صُفُوفِ الِرجَالِ أَوِّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

“Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Sebaik-baik shaf wanita adalah yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama.” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 440)

Merapikan shaf jamaah shalat

Di antara adab jamaah shalat memperhatikan masalah kerapian shaf shalat. Dalam jamaah shalat hendaklah shaf dalam keadaan lurus dan rapat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتُسَوُّنَّ سُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Hendaknya kalian bersungguh- sungguh meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah sungguh-sungguh akan memperselisihkan di antara wajah-wajah kalian.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 717 dan Muslim Nomor 436)

Tidak mendahului gerakan imam

Seorang imam diangkat untuk diikuti, sebaiknya jamaah shalat tidak menyelisihi Imam shalat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ فَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِذَا صَلَّى جَالِسًا فَصَلُّوا جُلُوسًا أَجْمَعُونَ

“Sesungguhnya imam hanya untuk diikuti, maka janganlah menyelisihnya. Apabila ia ruku’, maka ruku’lah. Dan bila ia mengatakan ‘sami’allahu liman hamidah’, maka katakanlah,’Rabbana walakal hamdu’. Apabila ia sujud, maka sujudlah. Dan bila ia shalat dengan duduk, maka shalatlah kalian dengan duduk semuanya“. (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 734)

Ada ancaman bagi mereka yang dengan sengaja mendahului gerakan imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َ أَمَا يَخْشَى الَّذِي يَرْفَعُ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللَّهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَار

“Tidakkah orang yang mengangkat kepalanya sebelum imam takut jika Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai? “(Hadits Riwayat Bukhari Nomor 691)

Membaca “Amin” setelah Al-Fatihah

Salah satu adab jamaah shalat adalah membaca amin setelah bacaan surat Al-Fatihah secara kompak. Hukum membaca “aamiin” disunnahkan bagi setiap orang yang shalat setelah membaca Al-Fatihah. Baik shalat sendirian maupun shalat berjamaah. Baik dalam golongan shalat suara keras maupun dalam golongan shalat suara samar. Baik bagi makmum maupun bagi imam. Baik bagi kaum laki-laki maupun bagi kaumperempuan. Dan baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ  غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ فَقُولُوا آمِينَ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ آمِينَ وَإِنَّ الْإِمَامَ يَقُولُ آمِينَ فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika imam membaca ‘ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laaddhoolliin’, maka ucapkanlah ‘aamiin’ karena malaikat akan mengucapkan pula ‘aamiin’ tatkala imam mengucapkan aamiin. Siapa saja yang ucapan aamiin-nya berbarengan dengan ucapan ‘aamiin’ malaikat, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (Hadits Riwayat Nasa’i Nomor 928 dan Hadits Riwayat Ibnu Majah Nomor 852)

Di samping itu, membaca “Amiin” di belakang imam pahalanya besar dan memiliki keutamaan yang tidak didapatkan seseorang yang shalat sendirian. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ {غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} [الفاتحة: 7] فَقُولُوا: آمِينَ؛ فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَقُولُ: آمِينَ، وَإِنَّ الْإِمَامُ يَقُولُ: آمِينَ، فَمَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةَ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Apabila imam usai membaca, ‘Ghairil maghdhûbi ‘alaihim waladh dhâllîn,’ maka ucapkan, ‘Amiin,’ karena barang siapa yang ucapan (amin)nya berbarengan dengan ucapan (amin) malaikat, dosanya yang telah lalu diampuni.” (Hadits Riwayat Bukhari dan Hadits Riwayat Muslim)

Imam menghadap makmum untuk memimpin dzikir dan doa

Adab shalat jamaah bagi seorang imam adalah setelah salam menghadap makmum untuk memimpin dzikir dan doa. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا صَلَّى صَلَاةً أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ

“Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai dari menunaikan shalat, beliau menghadapkan wajahnya ke arah kami (makmum). ” (HR. Bukhari No. 800)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالَا: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ عَن السُّدِّيِّ، عَنْ أَنَسٍ، أَنّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَنْصَرِفُ عَنْ يَمِينِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah dan Zuhair bin Harb, mereka berdua berkata: Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari as-Suddiy, dari Anas: Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam biasa berpaling dari arah kanan (seusai shalat).” (HR. Muslim No. 3784)

Mengamalkan wirid (dzikir) setelah shalat

Dzikir juga merupakan bagian dari adab shalat. Maka sempurnakan ibadah shalat dengan melaksanakan ibadah dzikir setelah shalat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلَاةَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ ۚ إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (Surat An-Nisa’ Ayat 103)

Berdzikir sebanyaknya pagi dan petang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.” (Surat Al-Ahzab Ayat 41-42)

Setelah shalat berjamaah Nabi senantiasa memimpin dzikir bersama para makmum. Hal itu terlihat ketika selesai mengucapkan salam Nabi menghadap ke makmum. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى مِنْ صَلَاةِ الْغَدَاةِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَعِيلَ وَلَأَنْ أَقْعُدَ مَعَ قَوْمٍ يَذْكُرُونَ اللَّهَ مِنْ صَلَاةِ الْعَصْرِ إِلَى أَنْ تَغْرُبَ الشَّمْسُ أَحَبُّ إِلَيَّ مَنْ أَنْ أَعْتِقَ أَرْبَعَةً

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, aku duduk bersama kaum yang berdzikir kepada Allah Ta’ala dari shalat Subuh hingga terbit matahari lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat anak Isma’il. Dan sungguh aku duduk bersama suatu kaum yang berdzikir kepada Allah dari Shalat ‘Ashar hingga matahari tenggelam adalah lebih aku sukai daripada aku membebaskan empat orang budak. ” (HR. Abu Daud No. 3182)

Disunnahkan dzikir diakukan secara jamaah

Adab shalat jamaah yang banyak pahalanya adalah dzikir bersama. Kebiasaan dzikir berjamaah setelah shalat sudah dilakukan oleh Nabi bersama para sahabat. Sebagaimana terlihat dari beberapa riwayat Hadits berikut ini,

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“bahwa [Ibnu ‘Abbas] radliallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya, bahwa mengeraskan suara dalam berdzikir setelah orang selesai menunaikah shalat fardlu terjadi di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Aku mengetahui bahwa mereka telah selesai dari shalat itu karena aku mendengarnya.” (Hadits Bukhari Nomor 796 dan Hadits Abu Daud Nomor 851)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“[Ibn Zubair] sering memanjatkan do’a; (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat. ” (HR. Muslim No. 935)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَّهُ قَالَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كُنْتُ أَعْلَمُ إِذَا انْصَرَفُوا بِذَلِكَ إِذَا سَمِعْتُهُ

“Bahwa mengeraskan suara dzikr sehabis shalat wajib, terjadi di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.” kata Abu Ma’bad; Ibn Abbas mengatakan; “Akulah yang paling tahu tentang hal itu, ketika mereka telah selesai (mengerjakan shalat), sebab aku pernah mendengarnya.” (Hadits Muslim Nomor 919)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنَّا نَعْرِفُ انْقِضَاءَ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِالتَّكْبِيرِ

“Kami dahulu mengetahui berakhirnya shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui suara (dzikir) takbir.” (HR. Bukhari no. 806 dan Muslim no. 583)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِوَادِي الْأَزْرَقِ فَقَالَ أَيُّ وَادٍ هَذَا فَقَالُوا هَذَا وَادِي الْأَزْرَقِ قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَام هَابِطًا مِنْ الثَّنِيَّةِ وَلَهُ جُؤَارٌ إِلَى اللَّهِ بِالتَّلْبِيَةِ ثُمَّ أَتَى عَلَى ثَنِيَّةِ هَرْشَى فَقَالَ أَيُّ ثَنِيَّةٍ هَذِهِ قَالُوا ثَنِيَّةُ هَرْشَى قَالَ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى يُونُسَ بْنِ مَتَّى عَلَيْهِ السَّلَام عَلَى نَاقَةٍ حَمْرَاءَ جَعْدَةٍ عَلَيْهِ جُبَّةٌ مِنْ صُوفٍ خِطَامُ نَاقَتِهِ خُلْبَةٌ وَهُوَ يُلَبِّي قَالَ ابْنُ حَنْبَلٍ فِي حَدِيثِهِ قَالَ هُشَيْمٌ يَعْنِي لِيفًا

“Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melalui sebuah Lembah al-Azraq. Beliau bertanya: “Lembah apakah ini?” Para Sahabat menjawab, “Inilah Lembah al-Azraq. ” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku seakan-akan memandang kepada Nabi Musa yang sedang menuruni sebuah bukit sambil memohon dari Allah dengan suara yang keras melalui talbiyah. ” Kemudian ketika sampai di Bukit Harsya beliau pun bertanya: “Bukit apa ini?” Para Sahabat menjawab, “Bukit Harsya. ” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seolah-olah aku melihat Yunus bin Matta berada di atas seekor unta gemuk berwarna merah yang dilengkapi dengan kain bulu dan tali kekang untanya sementara dia sentiasa bertalbiah. ” Ibnu Hanbal berkata dalam Haditsnya, “Husyaim berkata, ‘Yaitu sabut spons’. ” (HR. Muslim No. 241)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ قَالَ كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يَقُولُ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ حِينَ يُسَلِّمُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهَلِّلُ بِهِنَّ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ

“dari [Abu Zubair] katanya; Seusai shalat setelah salam, [Ibn Zubair] sering memanjatkan do’a; LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHUU LAA SYARIIKA LAHU, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU WAHUWA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QADIIR, LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAAH, LAA-ILAAHA ILALLAAH WALAA NA’BUDU ILLAA IYYAAH, LAHUN NI’MATU WALAHUL FADHLU WALAHUTS TSANAA’UL HASAN, LAA-ILAAHA ILLALLAAH MUKHLISIHIINA LAHUD DIINA WALAU KARIHAL KAAFIRUUNA.” (Tiada sesembahan yang hak selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya selaga puji dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Tiada Daya dan kekuatan selain dengan pertolongan Allah. Tiada sesembahan yang hak selain Allah, dan Kami tidak beribadah selain kepada-Nya, dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, hanya bagi-Nya ketundukan, sekalipun orang-orang kafir tidak menyukai).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selalu mengeraskan suara dengan kalimat ini setiap selesai shalat.” (Hadits Muslim Nomor 935)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوتِرُ بِسَبِّحْ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى وَقُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ وَإِذَا سَلَّمَ قَالَ سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَمُدُّ صَوْتَهُ فِي الثَّالِثَةِ ثُمَّ يَرْفَعُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat witir dengan membaca surah Al A’laa, surah Al Kaafiruun, dan surah Al lkhlas. Setelah salam beliau membaca: `Subhanal malikil qudduus” tiga kali, dan pada yang ketiga kalinya beliau memanjangkan dan mengeraskan suaranya.” (Hadits Nasai Nomor 1733)

Doa setelah shalat

Adab jamaah shalat selanjutnya adalah berdoa kepada Allah setelah jamaah shalat terselenggara. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap setelah shalat: Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (Hadits Riwayat An-Nasa’i Nomor 1286, Abu Daud Nomor 1301)

Diperkuat dengan hadits berikut,

أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

“Aku wasiatkan padamu wahai Mu’adz. Janganlah engkau tinggalkan untuk berdo’a setiap dubur shalat (akhir shalat) : Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. [Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir pada-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu].” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 1522)

Konten doa diserehkan penuh kepada masing-masing hajat umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثُمَّ لِيَتَخَيَّرْ مِنْ الدُّعَاءِ بَعْدُ أَعْجَبَهُ إِلَيْهِ يَدْعُو بِهِ

“Kemudian terserah dia memilih do’a yang dia sukai untuk berdo’a dengannya.” (Hadits Riwayat Abu Daud no. 825).

Dalam lafazh lain,

ثُمَّ لْيَتَخَيَّرْ بَعْدُ مِنَ الْمَسْأَلَةِ مَا شَاءَ

“Kemudian terserah dia memilih setelah itu (setelah tasyahud) do’a yang dia kehendaki (dia sukai).” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 402, An Nasa’i Nomor 1298, Abu Daud Nomor 968, Ad Darimi Nomor 1340)

Sedang mengenai doa bersama, yang dimaksudkan dalam konteks ini adalah setelah imam selesai shalat bersama-sama dengan makmum melakukan dzikir kemudian imam melakukan doa yang diamini oleh makmunya. Hal ini jelas diperbolehkan, dan di antara dalil yang memperbolehkannya adalah hadits berikut ini,

عَنْ حَبِيْبِ بْنِ مَسْلَمَةَ الْفِهْرِيِّ وَكَانَ مُجَابَ الدَّعْوَةِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ: لاَ يَجْتَمِعُ قَوْمٌ مُسْلِمُوْنَ فَيَدْعُوْ بَعْضُهُمْ وَيُؤَمِّنُ بَعْضُهُمْ إِلاَّ اسْتَجَابَ اللهُ دُعَاءَهُمْ. رواه الطبراني

“Dari Habib bin Maslamah al-Fihri ra –ia adalah seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Tidaklah berkumpul suatu kaum muslim yang sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengamininya, kecuali Allah mengabulkan doa mereka.” (Hadits Riwayat al-Thabarani)

Amalkan dengan sebaik-baiknya adab-adab jamaah shalat di masjid, agar ibadah kita semakin sempurna sehingga hal tersebut menjadi penyebab teraihnya ridha Allah. Amin.

Artkel yang sama;

Adab Shalat Berjamaah

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke