Adab Pergi ke Masjid

Selain untuk kepentingan shalat berjamaah, seseorang pergi ke masjid juga ada yang bertujuan untuk menghadiri majelis ta’lim, membaca Al-Qur`an, atau hanya sekedar i’tikaf. Di samping sebagai amalan mulia, berjalan menuju masjid memiliki pahala besar bila diniatkan untuk beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Begitu besar pahala yang didapat bagi mereka dengan ikhlas selalu mengaitkan hatinya ke masjid. Sebab, setiap langkah kaki yang dugunakan untuk ke masjid, niscaya dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللهُ بِهِ الْخَطَايَا، وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ؟ إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ، فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ

”Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang dengannya Allah Ta’ala akan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kalian? Menyempurnakan wudhu ketika dalam keadaan sulit, memperbanyak langkah menuju masjid, dan menunggu shalat sesudah selesai mengerjakan shalat. Yang demikian itu adalah perjuangan dan perjuangan.“ (Hadits Riwayat Muslim)

Agar amalan mulia ini semakin sempurna, maka lakukanlah beserta adab-adabnya. Di antaranya adalah;

Sudah dalam Keadaan Berwudhu dari Rumah

Di antara bagian dari adab pergi ke Masjid adalah sebelum keberangkatannya sudah dalam keadaan suci berwudhu semenjak dari rumah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَطَهَّرَ فِي بَيْتِهِ ثُمَّ مَشَى إِلَى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ لِيَقْضِيَ فَرِيضَةً مِنْ فَرَائِضِ اللهِ كَانَتْ خَطْوَتَاهُ إِحْدَاهُمَا تَحُطُّ خَطِيئَةً وَالْأُخْرَى تَرْفَعُ دَرَجَةً

“Barangsiapa yang bersuci dari rumahnya kemudian berjalan ke salah satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid) untuk menunaikan salah satu dari kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan, maka kedua langkahnya salah satunya akan menghapus dosa dan langkah yang lainnya akan mengangkat derajatnya.” (Hadits Riwayat Muslim 1553)

Dalam keadaan bersih dan harum

Membersihkan diri dan pakaiannya serta dusahakan badan dan pakaiannya beraroma wangi. Hindari diri dan pakaian yang membuat orang lain terganggu, seperti tidak mandi, mulut bau busuk, dan lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا وَلَا يُؤْذِيَنَّا بِرِيحِ الثُّومِ

“Barangsiapa makan sebagian dari pohon ini-yaitu bawang-, maka janganlah dia mendekati masjid kami, dan janganlah dia menyakiti kami dengan bau bawang putih.” (Hadits Shahih Muslim Nomor 873)

Mengenakan pakaian yang bagus dan sopan

Ketika kita menuju masjid dengan tujuan i’tikaf dan jamaah shalat, hendaknya kita memilih pakaian yang bersih, rapi, harum dan bagus. Selain pakaian yang dapat menutup aurat, Allah memerintahkan umat Islam memperindah penampilan. Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ

“Hai anak adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid.” (QS. Al-A’raf Ayat 31)

Ketika kita menuju masjid hakikat kita sedang hendak menghadap Tuhannya yang Maha Agung dan Maha Indah. Bagaimana bisa ketika hendak menghadap Tuhannya yang Maha Agung dan Maha Indah kita berpenampilan ala kadarnya atau mungking terkesan asal-asalan. Bahkan terkadang ada sebagian dari kaum muslimin mengenakan pakaian yang bertulis kata-kata seronok sehingga dapat mengganggu konsentarsi shalat jamaah lain.

Membaca doa keluar rumah ketika hendak menuju masjid

Ketika hendak menuju masjid hendaknya membaca doa keluar rumah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا خَرَجَ الرَّجُلُ مِنْ بَيْتِهِ فَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يُقَالُ حِينَئِذٍ هُدِيتَ وَكُفِيتَ وَوُقِيتَ فَتَتَنَحَّى لَهُ الشَّيَاطِينُ فَيَقُولُ لَهُ شَيْطَانٌ آخَرُ كَيْفَ لَكَ بِرَجُلٍ قَدْ هُدِيَ وَكُفِيَ وَوُقِيَ

“Jika seorang laki-laki keluar dari rumahnya lalu mengucapkan:  “Bismillahi tawakkaltu ‘alallaahi, laa haula wa laa quuwata illa billah” (Dengan nama Allah aku bertawakal kepada Allah, tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan izin Allah). ‘ Beliau bersabda, “Maka pada saat itu akan dikatakan kepadanya, ‘Kamu telah mendapat petunjuk, telah diberi kecukupan, dan mendapat penjagaan’, hingga setan-setan menjauh darinya. Lalu setan yang lainnya berkata kepadanya (setan yang akan menggodanya, pent.), “Bagaimana (engkau akan mengoda) seorang laki-laki yang telah mendapat petunjuk, kecukupan, dan penjagaan.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 595, At-Tirmizi Nomor 3487)

Berjalan dengan langkah yang tenang dan sopan

Nabi shallallahu’alaihi wasallam melarang berjalan menuju masjid dengan tergesa-gesa walaupun shalat sudah didirikan. Dalam sebuah Hadits diriwayatkan bahwa ketika jamaah shalat yang dipimpin oleh Nabi sedang dilaksanakan tiba-tiba Nabi mendengar suara kegaduhan beberapa orang. Susai shalat jamaah Nabi menanyakan hal tersebut pada para jamaah,

مَا شَأْنُكُم؟ قَالُوْا: اِسْتَعْجَلْنَا إِلىَ الصَّلاَةِ. فَقَالَ: فَلاَ تَفْعَلُوْا, إِذَا أَتَيْتُمْ إِلَى الصَّلاَةِ فَعَلَيْكُمْ بِاالسَّكِيْنَةِ  فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوْا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوْا

“Apa yang terjadi pada kalian?” Mereka menjawab, “Kami tergesa-gesa menuju shalat.” Rasulullah menegur mereka, “Janganlah kalian lakukan hal itu. Apabila kalian mendatangi shalat maka hendaklah berjalan dengan tenang, dan rakaat yang kalian dapatkan shalatlah dan rakaat yang terlewat sempurnakanlah” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 635 dan Muslim Nomor 437)

Berjalanlah menuju masjid dengan tenang. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا سمعتم الإقامة فامشوا إلى الصلاة وعليكم السكينة والوقار، ولا تُسرعوا

“Apabila kalian mendengar iqamah, berjalanlah menuju shalat dan kalian harus tenang, dan jangan buru-buru..” (Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dengan berjalan tenang kita akan mendapatkan banyak pahala. Karena setiap langkah kaki kita dicatat sebagai pahala dan menghapus dosa.

Berdoa saat menuju masjid

Nabi mengajarkan setiap muslim yang hendak menuju masjid diawali dengan memanjatkan doa kepada Allah. Dengan membaca doa menuju masjid, niscaya setiap langkah kita dipenuhi dengan cahaya-cahaya kebaikan dan pahala. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah Hadits,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي بَصَرِي نُورًا وَفِي سَمْعِي نُورًا وَعَنْ يَمِينِي نُورًا وَعَنْ يَسَارِي نُورًا وَفَوْقِي نُورًا وَتَحْتِي نُورًا وَأَمَامِي نُورًا وَخَلْفِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا

“Allahummaj’al fii qolbi nuura wa fii bashari nuura wa fii sam’i nuura wa ‘an yamiinihi nuura wa ‘an yasaarii nuura wa fauqi nuura wa tahti nuura wa amaami nuura wa khalfi nuura waj’al lii nuura (Ya Allah jadikanlah cahaya dalam hatiku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dari kananku, cahaya dari kiriku, cahaya dari belakangku, dan jadikanlah untukku cahaya” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 763)

Berdoa ketika masuk dan keluar masjid

Setibanya di masjid, hendaknya berdoa sebagaimana yang dicontohkan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ. وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Jika salah seorang di antara kalian memasuki masjid, maka ucapkanlah, ‘Allahummaftahlii abwaaba rahmatik’ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar dari masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku memohon pada-Mu di antara karunia-Mu).” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 713)

Utamakan mendekati sutrah

Di antara adab ke masjid adalah sesampainya di masjid memilih tempat yang dapat menyebabkan ibadah kita lebih khusyu. Di antaranya mendekati tiang, tembok atau benda-benda lainnya sebagai sutrah atau penanda. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلَى سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا

“Apabila kalian hendak shalat, laksanakanlah dengan menghadap ke sutrah, dan mendekatlah ke sutrah.” (Hadits Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إذا صلَّى أحدُكُم إلى شيءٍ يستُرُهُ من الناسِ،فأرادَ أحَدٌ أنْ يَجتازَ بين يديْهِ، فليدفَعْهُ، فإنْ أبى فَليُقاتِلهُ، فإنما هو شيطانٌ

“Jika salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang ia jadikan sutrah terhadap orang lain, kemudian ada seseorang yang mencoba lewat di antara ia dengan sutrah, maka cegahlah. jika ia enggan dicegah maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya ia adalah setan.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 509 dan Muslim Nomor 505)

Shalat tahiyyatul masjid

Setibanya di masjid, sebelum duduk menunggu dilaksanakan shalat jamaah, sebaiknya kita mengambil kesunnahan dengan melaksanakan shalat sunnah tahiyyatul masjid dua rakaat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِ

“Jika salah seorang dari kalian masuk masjid, maka hendaklah dia shalat dua rakaat sebelum dia duduk.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 537 dan Muslim Nomor 714)

Menjawab Adzan

Dianjurkan untuk mendengarkan dan menjawab adzan ketika kita mendengarnya. Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah seperti yang sedang diucapkan muadzin.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 611 dan Muslim Nomor 846)

Di samping itu, selain kita dianjurkan untuk mendengarkan dan menjawab adzan, juga disunnahkan membaca doa sesaat setelah adzan dikumandangkan. Sebagaimana yang telah diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits berikut,

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang setelah mendengar adzan membaca doa: Allahumma Robba hadzihid da’wattit taammah was shalatil qaaimah, aati muhammadanil wasiilata wal fadhiilah wab’atshu maqaamam mahmuudanil ladzi wa ‘adtahu “(Ya Allah pemilik panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan berilah Muhammad wasilah dan keutamaan dan bangkitkanlah dia pada tempat yang terpuji yang telah Engkau janjikan padanya) melainkan dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 94)

Tidak kembali ke rumah jika ibadah belum terlaksana

Sebaiknya setelah adzan dikumandakan, kita dianjurkan untuk tetap berada di dalam masjid sampai shalat berjamaah telah dilaksanakan, itu pun jika tidak ada udzur yanng menyebabkan kita keluar dari masjid. Hal ini sebagaimana yang telah dikisahkan dalam sebuah riwayat hadits berikut; Dari Abu as Sya’tsaa radhiyallahu’anhu, beliau berkata:

كُنَّا قُعُودًا فِي الْمَسْجِدِ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَقَامَ رَجُلٌ مِنْ الْمَسْجِدِ يَمْشِي فَأَتْبَعَهُ أَبُو هُرَيْرَةَ بَصَرَهُ حَتَّى خَرَجَ مِنْ الْمَسْجِدِ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Kami pernah duduk bersama Abu Hurairah dalam sebuah masjid. Kamudian muadzin mengumandangkan adzan. Lalu ada seorang laki-laki yang berdiri kemudian keluar masjid. Abu Hurairah melihat hal tersebut kemudian beliau berkata: “ Perbuatan orang tersebut termasuk bermaksiat terhadap Abul Qasim (Nabi Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 655)

Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah keluar dari masjid setelah adzan kecuali orang munafik atau orang yang ada keperluan dan ingin kembali lagi ke masjid.” (Hadits Riwayat Ad-Darimi)

Beberapa udzur yang memperbolehkan keluar dari masjid antara lain, seperti mau ke kamar kecil, berwudhu, mandi, atau keperluan mendesak lainnya.

Memanfaatkan waktu jeda iqamah

Waktu antara adzan dan iqamah merupakan waktu yang mustajabah dalam memanjatkan doa, maka pada waktu ini kita dianjurkan untuk memperbanyak doa dan amal, seperti shalat sunnah qabliyah, membaca al quran, berdizikir, atau memperbanyak doa. Seperti yang telah disabdakan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

الدعاء لا يرد بين الأذان والإقامة

“Doa di antara adzan dan iqamah tidak tertolak” (Hadits Riwayat Tirmidzi Nomor 212)

Dan perlu diingat bahwa memanjatkan doa juga mempunyai adab. Seperti sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam

لا إن كلكم مناج ربه فلا يؤذين بعضكم بعضا ولا يرفع بعضكم على بعض في القراءة أو قال في الصلاة

“Ketahuilah, kalian semua sedang bermunajat kepada Allah, maka janganlah saling mengganggu satu sama lain. Janganlah kalian mengeraskan suara dalam membaca Al Qur’an,’ atau beliau berkata, ‘Dalam shalat’,” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 1332 dan Ahmad Nomor 430).

Lebih mengutamakan jamaah shalat fardhu

Dilarang beraktifitas apapun seperti dzikir dan shalat sunnah bila shalat jamaah sudah siap dilaksanakan. Sebab bila disibukkan dengan ibadah sunnah lainnya sedangkan ibadah jamaah sudah dilaksanakan maka akan menyebabkan ketinggalan mendapat keutamaan shalat jamaah. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِذَا أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ فَلَا صَلَاةَ إِلَّا الْمَكْتُوبَةُ

“Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Jika shalat wajib telah dilaksanakan, maka tidak boleh ada shalat lain selain shalat wajib” (Hadits Riwayat Muslim Nomor 710)

Masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan

Bila telah sampai di masjid, hendaklah kita mendahulukan kaki kanan saat memasuki ruang masjid sambil membaca doa masuk masjid. Sebab, untuk perkara yang baik-baik, hendaklah mendahulukan yang kanan. Inilah di antara adab yang diajarkan oleh Nabi. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِى تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِى شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika menyisir rambut dan ketika bersuci, juga dalam setiap perkara (yang baik-baik).” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 186 dan Muslim Nomor 268)

Gunakanlah sandal atau alas kaki lainnya dengan mendahulukan kaki kanan. Dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ، فِي تَنَعُّلِهِ، وَتَرَجُّلِهِ، وَطُهُورِهِ، وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suka mendahulukan yang kanan, ketika memakai sandal, menyisir rambut, bersuci, dan yang lainnya.” (Hadits Riwayat Bukhari, Ahmad dan yang lainnya)

Namun sebaliknya ketika keluar masjid, hendaklah kita mendahulukan kaki kiri seraya berdoa keluar masjid. Alasan kenapa ketika hendak meninggalkan masjid dianjurkan menggunakan kaki kiri adalah karena keluar masjid dianggap sebagai melepas sesuatu atau memulai sesuatu yang jelek. Jelek karena kita akan meninggalkan keutamaan-keutamaan ibadah di masjid.

Mengucapkan salam pada sesama muslim

Mengucapkan salam kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إذا لقي أحدكم أخاه فليسلم عليه، فإِن حالت بينهما شجرة أو جدار أو حجر ثم لقيه فليسلم عليه أيضاً.عن أبي هريرة قال

“Dari Abu Hurairah dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam beliau bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian bertemu dengan saudaranya maka ucapkanlah salam padanya. (Kemudian) jika pohon, tembok, atau batu menghalangi keduanya dan kemudian bertemu lagi maka salamlah juga padanya.” (HR. Abu Dawud Nomor 5200)

Tidak dibedakan dalam mengucapkan salam tersebut antara orang yang berada di dalam masjid maupun di luar. Bahkan kesunnahan tersebut juga berlaku bagi mereka yang sedang shalat walau menjawabnya dilakukan setelah shalat selesai. Dari Ibnu Umar radliyallahu ‘anhu, dia berkata,

سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قُبَاءَ يُصَلِّي فِيهِ قَالَ فَجَاءَتْهُ الْأَنْصَارُ فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي قَالَ فَقُلْتُ لِبِلاَلٍ كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي قَالَ يَقُولُ هَكَذَا وَبَسَطَ كَفَّهُ وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ

“Aku (Nafi’) telah mendengar Abdullah bin Umar berkata,“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju Quba’ lalu shalat disana.” Abdullah berkata,“Lalu datanglah sekelompok orang-orang Anshar dan mengucapkan salam kepadanya, padahal beliau sedang melaksanakan shalat.” Abdullah berkata,”Aku bertanya kepada Bilal, ‘Bagaimanakah engkau melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam ketika mereka mengucapkan salam, padahal beliau sedang melaksanakan shalat’, Abdullah berkata, “Bilal menjawab, seperti ini!’ –beliau lalu membuka telapak tangannya- Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya dan menjadikan perut telapak tangan di bawah, sedangkan punggung telapak tangan di atas.” (Hadits Riwayat Abu Dawud Nomor 927 dan Ahmad Nomor 2/30)

Hadits ini mengisyaratkan akan tetap disyariatkannya menjawab salam bagi orang yang sedang shalat. Al Qadli Ibnul Arabi, dia berkata: “Isyarat dalam shalat bisa jadi untuk menjawab salam atau karena suatu perkara yang tiba-tiba terjadi saat shalat juga karena kebutuhan yang mendesak bagi orang shalat. Jika untuk menjawab salam maka dalam hal ini terdapat atsar-atsar shahih seperti perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Quba dan selainnya. (Lihat ‘Aridlah Al Ahwadzi 2/162)

Dalil tentang disyariatkannya mengucapkan salam setelah shalat di masjid sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ أَخْبَرَنِي يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِ السَّلَامَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ فَصَلَّى ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ ثَلَاثًا فَقَالَ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ فَمَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ فَعَلِّمْنِي قَالَ إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا (صحيح البخاري ٧٥١)

“Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam Masjid, lalu ada seorang laki-laki masuk ke dalam Masjid dan shalat, kemudian orang itu datang dan memberi salam kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salamnya kemudian bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu, karena kamu belum shalat!” Orang itu kemudian mengulangi shalat dan kembali datang menghadap kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sambil memberi salam. Namun beliau kembali bersabda: “Kembali dan ulangilah shalatmu karena kamu belum shalat!” Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali dan akhirnya, sehingga ia berkata, “Demi Dzat yang mengutus tuan dengan kebenaran, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarilah aku.” Beliau pun bersabda: “Jika kamu mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat yang mudah dari Al Qur’an. Kemudian rukuklah hingga benar-benar rukuk dengan tenang, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk, Setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukanlah seperti cara tersebut di seluruh shalat (rakaat) mu.” (Shahih Bukhari 751)

Dengan hadits ini, Shadiq Hasan Khan berdalil di dalam kitabnya Nuzul Al Abrar halaman 350-351 bahwa: “Jika seseorang diucapkan salam kepadanya kemudian dia mendatanginya dari dekat maka disunnahkan untuk mengucapkan salam untuk kedua dan ketiga kali padanya.”

Hadits ini juga menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan salam kepada orang di dalam masjid dan sekaligus bantahan bagi mereka masuk masjid namun enggan mengucapkan salam pada orang yang berada di dalamnya karena mereka mengira bahwa hal itu adalah makruh.

Berjabat tangan dengan sesama muslim

Sama dengan kedudukan hukum mengucapkan salam adalah berjabat tangan hukumnya sunnah dilakukan oleh sesama mslim. Berjabat tangan kepada sesama Muslim adalah perkara yang terpuji dan disukai dalam Islam. Dengan perbuatan ini hati kaum Muslimin dapat saling bersatu dan berkasih sayang di antara mereka. Sunnah ini sudah lama diamalkan oleh para sahabat Nabi, ketika mereka bertemu dan berpisah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ وَإِسْحَقُ بْنُ مَنْصُورٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ الْأَجْلَحِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

 “Dari Al Barra` bin ‘Azib ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian saling berjabat tangan, kecuali dosa keduanya akan diampuni sebelum berpisah.” (Hadits Riawayat Tirmidzi Nomor 2651)

Berdasarkan hadits tersebut sangat jelas bahwa hukum berjabat tangan hukumnya sunnah secara mutlak. Maksudnya adalah kesunnahan seorang muslim berjabat tangan dengan saudaranya berlaku saat berjumpa maupun mau berpisah, dan di dalam masjid maupun di luar masjid, serta juga diperbolehkan kaum muslimin berjabat tangan sesaat setelah shalat berjamaah dilaksanakan, berdasarkan keumumam perintah Nabi dalam hadits tersebut.

Di samping itu pula tidak ada satupun dalil yang mengatakan akan larangan dan keharaman berjabat tangan setelah shalat berjamaah. Jadi, bila tidak ada dalil yang melarangnya maka akan berlaku kaidah fikih, yaitu; Dalil sebuah amalan diperbolehkan disebabkan tidak adanya dalil yang melarangnya. Dan dilarang membatas-batasi perkara dan amalan yang sifatnya umum.

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke