Adab dan Kaifiyat Ziarah Kubur

Supaya amalan ziarah kubur tidak sia-sia dan menghasilkan pahala, maka sebaiknya lakukan dengan disertai dengan adab-adabnya. Berikut beberapa adab (etika) saat berziarah kubur;

Tetap menjaga niat

Tujuan utama ziarah kubur adalah meningkatkan keimanan dengan mengingat kematian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّ فِي زِيَارَتِهَا تَذْكِرَةً

“Aku telah melarang kalian menziarahi kuburan, sekarang berziarahlah ke kuburan, karena dalam berziarah itu terdapat peringatan (mengingatkan kematian).” (Hadits Abu Daud Nomor 2816)

Melepas alas kaki saat memasuki area pemakaman

Sandal identik dengan perkara kotor dan hina, sedangkan pemakaman sejatinya adalah rumah kedua manusia yang dihuni oleh banyak manusia yang juga mulia. Maka sudah selayaknya sebagai wujud menghormati dan memuliakan mereka dengan cara melepaskan alas kaki ketika memasuki areal pesarean. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ بَشِيرٍ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ اسْمُهُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ زَحْمُ بْنُ مَعْبَدٍ فَهَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا اسْمُكَ قَالَ زَحْمٌ قَالَ بَلْ أَنْتَ بَشِيرٌ قَالَ بَيْنَمَا أَنَا أُمَاشِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ لَقَدْ سَبَقَ هَؤُلَاءِ خَيْرًا كَثِيرًا ثَلَاثًا ثُمَّ مَرَّ بِقُبُورِ الْمُسْلِمِينَ فَقَالَ لَقَدْ أَدْرَكَ هَؤُلَاءِ خَيْرًا كَثِيرًا وَحَانَتْ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَظْرَةٌ فَإِذَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي الْقُبُورِ عَلَيْهِ نَعْلَانِ فَقَالَ يَا صَاحِبَ السِّبْتِيَّتَيْنِ وَيْحَكَ أَلْقِ سِبْتِيَّتَيْكَ فَنَظَرَ الرَّجُلُ فَلَمَّا عَرَفَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَلَعَهُمَا فَرَمَى بِهِمَا

“dari [Basyir] mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang pada masa jahiliyah bernama Zahm bin Ma’bad, kemudian ia berhijrah kepada Allah, lalu beliau berkata: “Siapakah namamu?” Ia berkata; Zahm. Beliau berkata: “Bahkan, engkau adalah Basyir.” Ia berkata; ketika aku berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau melewati kuburan orang-orang musyrik, lalu beliau berkata: “Sungguh mereka telah mendahului mendapatkan kebaikan yang banyak.” Beliau mengatakannya tiga kali. Kemudian beliau melalui kuburan orang-orang muslim, kemudian beliau berkata: “Sungguh mereka telah mendapatkan kebaikan yang banyak.” Dan beliau melihat seseorang yang berjalan diantara kuburan mengenakan dua sandal. Kemudian beliau berkata: “Wahai pemilik dua sandal, lepaskan dua sandalmu!” kemudian orang tersebut melihat dan ia kenal dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka ia melepasnya dan meletakkannya. (Hadits Abu Daud Nomor 2811)

Diperbolehkan tetap memakai alas kaki jika ada penghalang semacam duri, kerikil yang panas, benda-benda najis, atau lainnya. Maka, tidak masalah berjalan dengan alas kaki di antara kuburan dengan niat untuk menghindari rintangan dan menghindari najis.

Tidak menduduki, melangkahi, dan menginjak pusara

Sekiranya seseorang berbaring kemudia dilangkahi oleh orang lain pastilah dia akan tersinggung sebab dianggap lancang dan tidak sopan. Begitu juga sejatinya mereka yang telah berbaring di dalam kuburan juga dapat menyaksikan apa yang dilakukan oleh mereka yang masih hidup. Salah satu bentuk kesopanan seseorang ketika berziarah di kuburan adalah tidak menduduki, melangkahi, dan menginjak pusara orang yang sudah meninggal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ

“Jika salah seorang dari kalian duduk di atas bara api, lalu terbakar baju dan kulitnya adalah lebih baik baginya daripada ia harus duduk di atas kuburan.” (Hadits Muslim Nomor 1612)

Mengucapkan salam pada ahli kubur

Disunnahkan mengucapkan salam ketika masuk kompleks pekuburan agar ahli kubur mendapatkan manfaatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ إِذَا أَتَى عَلَى الْمَقَابِرِ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَنْتُمْ لَنَا فَرَطٌ وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ أَسْأَلُ اللَّهَ الْعَافِيَةَ لَنَا وَلَكُمْ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika mendatangi kuburan, beliau berdoa: “Semoga kesejahteraan terlimpahkan kepada kalian wahai penghuni kubur dari kaum Mukminin dan Muslimin, dan kami insya Allah akan bertemu kalian, kalian bagi kami sebagai pendahulu dan kami bagi kalian sebagai pengikut. Aku memohon keselamatan kepada Allah bagi kami dan kalian.” (Hadits Nasai Nomor 2013)

Ketika mengucapkan salam sebaiknya menghadap wajah mayat sambil berdiri dan sebelum berkeinginan untuk duduk.

Boleh berdiri maupun duduk

Ziarah kubur diperbolehkan dalam keadaan posisi berdiri lalu setelah mengucapkan salam kemudian mengambil posisi duduk untuk kemudian melanjutkan ritual mendoakan, berdzikir, membaca Al-Qur’an maupun lainnya. Duduk yang dimaksud bukan duduk di atas pusara, melainkan di samping menghadap ke pusara. Terkait dengan perkara ini tidak ada pengkhususan syariat sehingga boleh dilakukan sesuai keadaan masing-masing.

Mendoakan ahli kubur

Salah satu etika saat ziarah kubur adalah mendoakan ahli kubur, sebab mereka pada hakikatnya selalu menunggu doa-doa dari kaum muslimin yang masih hidup. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أن النبي كان يخرج إلى البقيع، فيدعو لهم، فسألته عائشة عن ذلك؟ فقال: إني أمرت أن أدعو لهم

“Nabi pernah keluar ke Baqi’, lalu beliau mendo’akan mereka. Maka ‘Aisyah menanyakan hal tersebut kepada beliau. Lalu beliau menjawab : “Sesungguhnya aku diperintahkan untuk mendo’akan mereka”. (HR. Ahmad 6/252)

Panjatan doa-doa dari orang yang masih hidup merupakan perintah agama. Hal ini sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh hadits berikut,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (Hadits Abu Daud Nomor 2804)

Selengkapnya baca artikel berikut; Kirim Manfaat Doa kepada Orang Tua yang sudah Meninggal

Membacakan dzikir untuk ahli kubur

Hakikatnya dzikir juga bagian dari doa-doa yang disunnahkan untuk dikirim pahalanya kepada mereka yang sudah meninggal. Sangat sopan sekali ketika kita mau berbaik hati untuk membacakan kalimat thayyibah (baik) tersebut kepada ahli kubur. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ قَوْلَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Talqinlah (tuntunlah) orang meninggal (yang sudah dikubur) diantara kalian dengan ucapan dzikir tahlil ‘LAA ILAAHA ILLALLAAH’.” (Hadits Abu Daud Nomor 2710, Hadits Nasai Nomor 1803, Hadits Nasai Nomor 1804, Hadits Ibnu Majah Nomor 1434, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1435)

Dan sebuah hadits yang menerangkan tentang talqin di antaranya adalah riwayat Rosyid bin Sa’ad dari Dlamrah bin Habib, dan dari Hakim bin Umari, ketiga-tiganya berkata:

اذا سوي على الميت قبره وانصرف الناس عنه كانوا يستحبون ان يقال للميت عند قبره يافلان قل لااله الا الله اشهد ان لااله الا الله ثلاث مرات يافلان قل ربي الله ودينى الاسلام ونبيى محمد صلى الله عليه وسلم ثم ينصرف (رواه سعيد بن منصور فى سننه)

“Apabila telah diratakan atas mayit akan kuburnya dan telah berpaling manusia dari paanya adalah mereka para sahabat mengistihbabkan (menyunatkan) bahwa dikatakan bagi mayit pada kuburnya: Ya fulan: ucapkanlah dzikir tahlil “La Ilaha Illallah, Asyhadu alla Ilaha Illallah, tiga kali”. Hai Fulan katakanlah: Tuhanku Allah, Agamaku Islam dan Nabiku Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian berpalinglah ia.” (HR. Sa’id bin Manshur dalam sunannya)

Kiriman pahala dari ibadah jasadi sadaru muslim yang masih hidup seperti dzikir istighfar sangat bermanfaat bagi ahli kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَرَغَ مِنْ دَفْنِ الْمَيِّتِ وَقَفَ عَلَيْهِ فَقَالَ اسْتَغْفِرُوا لِأَخِيكُمْ وَسَلُوا لَهُ بِالتَّثْبِيتِ فَإِنَّهُ الْآنَ يُسْأَلُ قَالَ أَبُو دَاوُد بَحِيرٌ ابْنُ رَيْسَانَ

“dari [Utsman bin ‘Affan], ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam apabila telah selesai dari menguburkan mayit beliau berkata: “Mintakanlah ampunan (dzikir istighfar) untuk saudara kalian, dan mohonkanlah keteguhan untuknya, karena sesungguhnya sekarang ia sedang ditanya.” Abu Daud berkata; Bahir bin Raisan.” (HR. Abu Daud Nomor 2804)

Selengkapnya baca artikel berikut; Hukum Kirim Pahala Dzikir pada Orang Mati

Membacakan Al-Qur’an untuk ahli kubur

Salah satu bentuk kesopanan ketika ziarah kubur adalah para peziarah disunnahkan untuk membacakan Al-Qur’an dengan niat pahalanya dihadiahkan kepadanya ahli kubur. Lebih-lebih disunnahkan kepada anak-anak dan keluarga ahli kubur sebagai bentuk bakti mereka kepada kedua orang tuanya tentunya tidak akan segan untuh sering membaca Al-Qur’an saat menziarahi makamnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَهُوَ لَا يَدَعُهُ أُوتِيَ أَجْرَهُ مَرَّتَيْنِ وَمَنْ كَانَ عَلَيْهِ حَرِيصًا وَهُوَ يَتَفَلَّتُ مِنْهُ وَمَاتَ عَلَى الطَّاعَةِ فَهُوَ مِنْ أَشْرَافِهِمْ وَفُضِّلُوا عَلَى النَّاسِ كَمَا فُضِّلَتْ النُّسُورُ عَلَى سَائِرِ الطَّيْرِ وَكَمَا فُضِّلَتْ مَرْجَةٌ خَضْرَاءُ عَلَى مَا حَوْلَهَا مِنْ الْبِقَاعِ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ قِيلَ أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوا يَتْلُونَ كِتَابِي لَمْ يُلْهِهِمْ اتِّبَاعُ الْأَنْعَامِ فَيُعْطَى الْخُلْدَ وَالنَّعِيمَ فَإِنْ كَانَ أَبَوَاهُ مَاتَا عَلَى الطَّاعَةِ جُعِلَ عَلَى رُءُوسِهِمَا تَاجُ الْمُلْكِ فَيَقُولَانِ رَبَّنَا مَا بَلَغَتْ هَذَا أَعْمَالُنَا فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ ابْنَكُمَا كَانَ يَتْلُو كِتَابِي

“Barangsiapa yang menjaga (bacaan) Al Qur’an namun ia tetap lepas (lupa) dari hafalannya, padahal ia tidak pernah meninggalkannya, maka ia diberi pahala dua kali. Barangsiapa yang menjaga Al Qur’an namun ia tetap lepas dari hafalannya, sedangkan ia meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka ia termasuk manusia yang paling mulia dan diutamakan dari manusia lainnya sebagaimana burung elang yang diutamakan atas seluruh burung, juga tanah hijau yang dipenuhi rerumputan lebih disukai dari tanah-tanah di sekitarnya. Maka jika hari kiamat telah tiba, dikatakan; Dimanakah orang-orang yang membaca kitabku? Mereka tidak dilenakan oleh mengejar kenikmatan. Lalu diberikan kepada mereka keabadian dan kenikmatan. Jika kedua orang tuanya meninggal dalam ketaatan (kepada Allah), maka diletakkan di atas kepala orang tuanya itu mahkota kerajaan. Lalu keduanya pun berkata; Wahai Rabb kami, amal kami tidak mungkin membawa kami kepada derajat ini. Dia menjawab: Tentu, sesungguhnya anak kalian berdua yang selalu (mengirim pahala) membaca kitab(Al-Qur’an)Ku.” (Hadits Darimi Nomor 3235)

Berdasarkan Hadits tersebut seseorang akan dimudahkan masuk surga sebab kiriman pahala dari bacaan-bacaan Al-Qur’an dari anak dan sanak keluarganya yang masih hidup kepada mereka yang sudah meninggal.

Begitu juga bacaan surat Al-Baqarah dan surat Yasin yang mana keduanya masih merupakan bagian dari Al-Qur’an yang memiliki fadilah sebagai pengampun dosa ketika dibacakan bagi ahli kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبَقَرَةُ سَنَامُ الْقُرْآنِ وَذُرْوَتُهُ نَزَلَ مَعَ كُلِّ آيَةٍ مِنْهَا ثَمَانُونَ مَلَكًا وَاسْتُخْرِجَتْ { لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ } مِنْ تَحْتِ الْعَرْشِ فَوُصِلَتْ بِهَا أَوْ فَوُصِلَتْ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَالدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ

“Al-Baqarah adalah Al-Qur’an kedudukan yang tertinggi dan puncaknya. Delapan puluh Malaikat turun menyertai masing-masing ayatnya. Laa ilaaha illaahu wal hayyul qayyuum di bawah ‘Arsy, lalu ia digabungkan dengannya, atau digabungkan dengan surat Al-Baqarah. Sedangkan Yasin adalah hati Al-Qur’an. Tidaklah seseorang membacanya (Al-Baqarah dan Yasin), sedang ia mengharap (ridla) Allah Tabaraka wa Ta’ala dan akhirat, melainkan dosanya akan diampuni. Bacakanlah surat tersebut (Al-Baqarah dan Yasin) terhadap orang-orang yang sudah mati di antara kalian.” (Hadits Ahmad Nomor 19415)

Sunnah membacakan ayat-ayat Al-Qur’an pada orang-orang yang sudah meninggal baik pada saat setelah mayit dikubur atau ketika saat berziarah kubur, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah riwayat hadits berikut,

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلاَ تَحْبِسُوْهُ وَأَسْرِعُوْا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَةِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي قَبْرِهِ (رواه الطبراني في الكبير رقم 13613 والبيهقي في الشعب رقم 9294 وتاريخ يحي بن معين 4 / 449)

“Diriwayatkan dari Ibnu Umar, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Jika diantara kalian ada yang meninggal, maka janganlah diakhirkan, segeralah dimakamkan. Dan hendaklah di dekat kepalanya dibacakan pembukaan Al-Qur’an (Surat al-Fatihah) dan dekat kakinya dengan penutup surat al-Baqarah di kuburnya” (HR al-Thabrani dalam al-Kabir No 13613, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman No 9294, dan Tarikh Yahya bin Main 4/449)[2]

Jadi tidak salah ketika syariat membaca Al-Qur’an kemudian pada akhirnya menjadi pada sebagian masyarakat muslim di berbagai belahan dunia dan khususnya di Indonesia seperti ziarah kubur, nyekar atau nyadran, karena memang ada dukungan dari syariat agama Islam. Maka tidak perlu ragu-ragu lagi untuk sering berziarah dengan memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan niata pahalanya dihadiahkan kepada ahli kubur, sebab amalan tersebut telah dicontohkan dan dianjurkan Nabi.

Baca Selengkapnya; Hukum Kirim Pahala Bacaan Al-Qur’an untuk Arwah Orang Mati

Mendapat manfaat taburan bunga di atas kuburannya

Di antara adab dari orang yang masih hidup kepada ahli kubur saat ziarah kubur adalah menyirami pusara dengan air dan dan taburan bunga. Imam Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayatu az-Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah. Tindakan ini merupakan sebuah pengharapan (tafa’ul) agar kondisi mereka yang dalam kuburan tetap dingin. Beliau berkata,

وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين, ص.۱٥٤)

“Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum.”

Hal ini sebenarnya pernah pula dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”

“Sesungguhnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menyiram (air) di atas kubur Ibrahim, anaknya, dan meletakkan kerikil diatasnya.”

Begitu juga dengan meletakkan karangan bunga ataupun bunga telaseh yang biasanya diletakkan di atas pusara ketika menjelang lebaran. Hal ini dilakukan dalam rangka Itba’ (mengikuti) sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana diterangkan dalam hadits,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lewat di dekat dua kuburan, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa, dan keduanya disiksa bukan karena dosa besar. Yang satu disiksa karena tidak bersuci setelah kencing, sementara yang satunya suka mengadu domba.” Kemudian beliau mengambil sebatang dahan kurma yang masih basah, beliau lalu membelahnya menjadi dua bagian kemudian menancapkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini?” beliau menjawab: “Semoga siksa keduanya diringankan selama batang pohon ini basah.” (Hadits Bukhari Nomor 211)

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hadits di atas bersifat mutlak dan umum, sehingga dibolehkan bagi siapa saja untuk meletakkan pelepah kurma atau pun bunga-bunga dan semua tumbuh-tumbuhan yang masih basah di atas kuburan. Bahkan sebagian dari mereka mengatakan hal itu dianjurkan.

Walaupun tidak ada tuntunan syariat yang memerintahkannya, menyiram dengan air mawar, air kembang tujuh rupa, meletakkan kendi, menanam bunga, menanam tanaman, atau meletakkan karangan bunga, dan lainnya, namun juga tidak ada larangannya dari syariat. Jadi perkara ini masuk ke dalam perkara mubah, yakni boleh dilakukan maupun ditinggalkan.

Baca selengkapnya; Hukum Tabur Bunga di atas Kuburan

Sedekah atas nama orang tua

Sempurnakan adab kita saat berziarah kubur dengan bersedekah setelah mereka melakukan ziarah kubur, seperti memberi uang kepada para peminta-minta atau kepada warga miskin di sekitar pemakaman. Terkait hal ini ternyata juga tidak masalah, sebab sedekah bagi mereka yang masih hidup dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada mereka yang sudah meninggal ternyata juga bermanfaat. Terutama sedekah dari seorang anak atas nama kedua orang tuanya yang sudah meninggal. Banyak dalil tentang anjuran bersedekah dengan niat pahalanya dihadiahkan kepada mereka yang sudah meninggal. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَمْ تُوصِ وَإِنِّي أَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ لَتَصَدَّقَتْ فَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا وَلِيَ أَجْرٌ قَالَ نَعَمْ

“Sesungguhnya seorang laki-laki datang menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, ia berkata; ‘Sesungguhnya ibuku meninggal dunia secara mendadak dan ia tidak memberikan wasiat. Aku perkirakan apabila ia dapat berbicara, maka niscaya ia melakukan sedekah, apakah ibuku dan diriku mendapat pahala apabila aku menyedekahkan hartanya? ‘ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: ‘Ya.'” (Hadits Ibnu Majah Nomor 2708, Hadits Bukhari Nomor 2554, Hadits Bukhari Nomor 1299, Hadits Muslim Nomor 3082, Hadits Nasai Nomor 3589, dan Hadits Malik Nomor 1255)

Hadits di atas menunjukkan bersedekah menggunakan hartanya sendiri dengan niat pahalanya dipersembahkan untuk arwah orang yang sudah meninggal hukumnya boleh.

Seorang wanita mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berbicara kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ امْرَأَةً قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي افْتُلِتَتْ نَفْسُهَا وَلَوْلَا ذَلِكَ لَتَصَدَّقَتْ وَأَعْطَتْ أَفَيُجْزِئُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهَا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ فَتَصَدَّقِي عَنْهَا

“bahwa seorang wanita berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal tiba-tiba, jika tidak terjadi hal tersebut niscaya ia telah bersedekah dan memberi. Apakah sah saya bersedekah untuknya? Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ya, bersedekahlah untuknya.” (Hadits Abu Daud Nomor 2495)

Seorang laki-laki mendapat pahala dari sedekah yang diatasnamakan ibunya yang telah wafat namun belum sempat berwasiat kepadanya di masa hidupnya. Baik dia yang bersedekah maupun dikirimi hadiah sama-sama mendapatkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّيَ افْتُلِتَتْ نَفْسَهَا وَلَمْ تُوصِ وَأَظُنُّهَا لَوْ تَكَلَّمَتْ تَصَدَّقَتْ أَفَلَهَا أَجْرٌ إِنْ تَصَدَّقْتُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ

“bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ibuku meninggal secara tiba-tiba dan ia tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya ia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapatkan pahalanya jika aku bersedekah atas namanya?” beliau menjawab: “Ya.” (Hadits Muslim Nomor 1672)

Hadits-hadits di atas sebetulnya intinya sama tentang hukum boleh bersedekah dengan niat pahalanya dikirimkan atau dihadiahkan kepada orang lain yang sudah meninggal. Namun terdapat beberapa perbedaan namun sifatnya hanya jalur periwayatannya dan redaksi penulisan haditsnya saja.

Baca Selengkapnya: Menghadiahkan Pahala Sedekah Untuk Orang yang Sudah Meninggal

Jadi, silahkan bersedekah sebanyak-banyaknya ke tempat, lembaga, sekolah, masjid atau kepada orang yang membutuhkan dengan niat pahalanya untuk orang yang sudah meninggal terutama sedekah dari seorang anak kepada orang tuanya yang sudah meninggal.

Diperbolehkan menangis saat ziarah kubur

Terkadang saat ziarah kubur tatkala melihat pusara mereka orang-orang yang sudah meninggal kemudian mengingatkan kita akan kematian dan siksa kubur, dan keadaan siksa di akhirat. Merasa bekal belum tercukupi kemudia perasaan sedih mendorong seseorang untuk menangis. Atau ketika kita melihat pusara keluarga dan mereka orang-orang yang kita cintai telah mendahului kita, maka terlintas perasaan kangen sehingga mendorong air mata menetes. Keadaan sedih dan rindu tersebut menyebabkan menangis merupakan hikmah dari ziarah kubur yang telah kita dapatkan. Kesyahduan itulah bagian adab ketika kita ziarah kubur yang juga dibenarkan oleh agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ عِنْدَ قَبْرٍ وَهِيَ تَبْكِي فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati seorang wanita yang sedang berada di kuburan dalam keadaan menangis. Maka Beliau berkata;: “Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah”. (Hadits Bukhari Nomor 1174)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ تَبْكِي عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِي وَلَمْ تَعْرِفْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَتْ بَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“Nabi Shallallahu’alaihiwasallam pernah berjalan melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kubur. Maka Beliau berkata,: “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu berkata,: “Kamu tidak mengerti keadaan saya, karena kamu tidak mengalami mushibah seperti yang aku alami”. Wanita itu tidak mengetahui jika yang menasehati itu Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Lalu diberi tahu: “Sesungguhnya orang tadi adalah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam. Spontan wanita tersebut mendatangi rumah Nabi Shallallahu’alaihiwasallam namun dia tidak menemukannya. Setelah bertemu dia berkata; “Maaf, tadi aku tidak mengetahui anda”. Maka Beliau bersabda: “Sesungguhnya sabar itu pada kesempatan pertama (saat datang mushibah)” (Hadits Bukhari Nomor 1203)

Seringkali Nabi juga menangis saat ziarah kubur. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

زَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْرَ أُمِّهِ فَبَكَى وَأَبْكَى مَنْ حَوْلَهُ فَقَالَ اسْتَأْذَنْتُ رَبِّي فِي أَنْ أَسْتَغْفِرَ لَهَا فَلَمْ يُؤْذَنْ لِي وَاسْتَأْذَنْتُهُ فِي أَنْ أَزُورَ قَبْرَهَا فَأُذِنَ لِي فَزُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْمَوْتَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menziarahi kubur ibunya, lalu beliau menangis sehingga orang yang berada di sekelilingnya pun ikut menangis. Kemudian beliau bersabda: “Saya memohon izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan baginya, namun tidak diperkenankan oleh-Nya, dan saya meminta izin untuk menziarahi kuburnya lalu diperkenankan oleh-Nya. Karena itu, berziarahlah kubur karena ia akan mengingatkan kalian akan kematian.” (Hadits Muslim Nomor 1622)

Dengan catatan menangis yang wajar, menangis yang bentuknya tidak meratap sehingga membuat orang-orang disekitar kita terganggu. Tetapi jika sampai tingkat meratapi mayit, menangis dengan histeris, menampar pipi, merobek kerah, maka hal ini diharamkan.

Tidak mengeluarkan ucapan batil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ أَلَا فَزُورُوهَا، فَإِنَّهُ يُرِقُّ الْقَلْبَ، وَتُدْمِعُ الْعَيْنَ، وَتُذَكِّرُ الْآخِرَةَ، وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا

“Dahulu aku melarang kalian untuk berziarah kubur, sekarang berziarahlah karena ziarah dapat melembutkan hati, membuat air mata menetes, dan mengingatkan akhirat. Dan janganlah kalian mengucapkan ucapan batil.”(Hadits riwayat Al Hakim 1/376)

Tidak terlalu sering bagi wanita

Walaupun ziarah kubur boleh dilakukan oleh kaum perempuan, namun tidak boleh sampai meninggalkan kewajiban utamanya melayani suami dan merawat anak-anaknya bagi perempuan yang sudah berkeluarga. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam melaknat para wanita yang terlalu sering berziarah kubur.” (Hadits Ahmad Nomor 15102)

Bertawakkal itu lebih baik

Walau hati masih ingat dengan ahli kubur, namun bertawakkal itu lebih baik. Tabiat manusia sulit melupakan masa-masa lalu yang dianggapnya istimewa dan mengesankan. Mengingat dan merindukan mereka yang dicintai merupakan perkara yang diperbolehkan dalam Islam. Namun kebolehan tersebut tidak sampai menyebabkan hati menyesali dan tidak menerima takdir perpisahan dengan mereka yang kita cintai. Sebab memasrahkan segala keputusan kepada Allah itu akan jauh lebih baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ عِنْدَ قَبْرٍ وَهِيَ تَبْكِي فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan melewati seorang wanita yang sedang berada di kuburan dalam keadaan menangis. Maka Beliau berkata;: “Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah”. (Hadits Bukhari Nomor 1174)

Tetap menjaga keimanan dan menjauhi kesyirikan

Dalam berziarah kubur harus tetap menjaga keimanan dan menghindari kesyirikan yang mungkin timbul dari niat maupun ritual yang dilakukan. Seperti berdoa memohon kepada Allah di mana kemanfaatannya untuk ahli kubur, bukan berdoa memohon kepada ahli kubur. Mencari berkah (tabarukan) sebagai tawasul dari orang shalih yang ada dalam kubur hukumnya diperbolehkan, namun tidak untuk meyakini sebab terkabulnya doa. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

قُحِطَ أَهْلُ الْمَدِينَةِ قَحْطًا شَدِيدًا فَشَكَوْا إِلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ انْظُرُوا قَبْرَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاجْعَلُوا مِنْهُ كِوًى إِلَى السَّمَاءِ حَتَّى لَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ سَقْفٌ قَالَ فَفَعَلُوا فَمُطِرْنَا مَطَرًا حَتَّى نَبَتَ الْعُشْبُ وَسَمِنَتْ الْإِبِلُ حَتَّى تَفَتَّقَتْ مِنْ الشَّحْمِ فَسُمِّيَ عَامَ الْفَتْقِ

“Suatu hari penduduk Madinah dilanda kekeringan yang sangat hebat, dan saat itu mereka mengadu kepada [Aisyah] Radliyallahu’anha, kemudian ia berkata: “Pergilah ke kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, buatlah lubang ke arah langit dan jangan sampai ada atap diantaranya dengan langit. Kemudian Abu Al Jauza` melanjutkan kisahnya: ” kemudian masyarakat Madinah melakukan apa yang diperintahkan Aisyah Radliyallahu’anha, setelah itu, turunlah hujan dan rerumputan pun tumbuh dan ternak-ternak menjadi sehat. Karenanya tahun tersebut disebut dengan tahun kemenangan”. (Hadits Darimi Nomor 92)

Sebaliknya, bila meyakini bahwa doa-doa terkabul sebab ziarahnya, maka hal itu sudah terjerumus dalam kesyirikan.

Baja juga: Ziarah Kubur#

Hukum diperbolehkannya ziarah kubur tentu tidak menyebabkan seseorang justru malah terjerumus dalam kesyirikan dengan menduakan Allah. Hal ini diperjelas bagaimana Allah adalah satu-satunya Illah yang seharusnya disembah dan menjadi tempat bergantung. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

“(Kuasa Allah) yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah (Tuhan) Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Surat Al-Hajj Ayat 62)

Sebagai tambahan tata cara dalam ziarah kubur adalah; Hendakalah penziarah berwudhu terlebih dahulu sebelum berziarah kubur. Setelah sampai ke kubur, hendaklah memberi salam serta mendoakannya. ketika sampai pada pusara yang dituju, kemudian menghadap kearah muka mayit seraya mengucapkan salam khusus. Sudah mengucapkan salam dilanjutkan dengan berdoa dan dzikir, dengan membaca doa yang dimaksudkan untuk memohonkan ampuna dan rahmat kepada mayit. Yang dimaksud bukanlah meminta kepada kuburan, tetapi memohon kepada Alloh untuk mendoakan diri sendiri atau yang diziarahi. Atau bila ziarah kemakam Nabi, Shahabat, ulama atau para wali , berdoa untuk dirinya dengan wasilah (perantara) melalui mereka dengan harapan mudah terkabul berkat wasilah para kekasih Alloh. Bacalah ayat-ayat (surat-surat) dari Al-Qur’an, seperti membaca surat yasin, ayat kursi atau membaca tahlil, tahmid dan lain lain. Dan dalam berziarah hendaklah dilakukan dengan penh hormat dan khidmat/khusu’.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke