Adab-adab Bersedekah

Muqaddimah

Sedekah adalah pemberian seorang muslim kepada orang lain secara sukarela dan ikhlas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu. Sedekah lebih luas dari zakat maupun infak. Karena sedekah tidak hanya mengeluarkan harta. Namun sedekah mencakup segala amal perbutan manusia yang baik. Oleh karena itu bersemangatlah dalam bersedekah sebab harta tidak akan berkurang karena sedekah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ وَلَا ظُلِمَ عَبْدٌ مَظْلَمَةً فَصَبَرَ عَلَيْهَا إِلَّا زَادَهُ اللَّهُ عِزًّا وَلَا فَتَحَ عَبْدٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ إِلَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ بَابَ فَقْرٍ أَوْ كَلِمَةً نَحْوَهَا وَأُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ

“Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah, tidaklah seseorang diperlakukan secara lalim lalu ia bersabar melainkan Allah akan menambahkan kemuliaan untuknya dan tidaklah seorang hamba membuka pintu minta-minta melainkan Allah akan membukakan pintu kemiskinan untuknya -atau kalimat sepertinya- dan aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kaian menjaganya.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2247)

Bersedekah merupakan amal shalih yang sangat agung, bahkan termasuk amal terbaik untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bersedekah juga merupakan salah satu sebab dilindungi seseorang dari adzab kubur dan mendapat naungan Allah pada hari kiamat. Apalagi jika orang yang mengeluarkan sedekah itu memperhatikan adab-adabnya.

Diantara adab-adab bersedekah adalah sebagai berikut:

Lebih diutamakan mengeluarkan sedekah secara diam-diam dan hendaknya sedekah dikeluarkan dengan kerelaan hati, tanpa disertai kata-kata yang menyakiti orang yang membutuhkannya. Sedekah yang dikeluarkan ketika pemiliknya dalam kodisi sehat adalah lebih afdhal, demikian juga bersedekah kepada kerabat dan tetangga adalah lebih afdhal daripada bersedekah kepada orang lain atau orang-orang yang tempatnya jauh. Usahakan bersedekan semampu mungkin, walau kita tidak mampu bersedekah jangan menyakiti perasaannya. Berikut penjelasannya;

Ikhlas bersedekah hanya untuk mencari ridha Allah

Seyogianya seseorang dalam bersedekah mengikhlaskan niat karena Allah Subhanahu wa Ta’ala semata dan mencari keridhaan-Nya. Bersedekah ikhlas dengan niat semata-mata mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala baik sebelum mengeluarkannya, pada saat mengeluarkannya serta setelah mengeluarkan sedekah. Tidak masalah sedekah dilakukan secara sembunyi maupun ditampakkan asalkan dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ سِرًّا وَعَلَانِيَةً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 274)

Dalam bersedekah menghindari sikap riya, ujub, dan sum’ah sebab hal itu akan menodai sedekah. Termasuk sikap riya’ adalah memperlihatkan atau menonjolkan amal kebaikan yang dilakukan dengan maksud mendapatkan pujian dari orang lain, sehingga ia dikenal, dihargai, dihormati, dan sebagainya. Termasuk sikap ujub adalah mengagumi diri sendiri, yaitu ketika kita merasa bahwa diri kita memiliki kelebihan tertentu yang tidak dimiliki orang lain. Dan termasuk sikap sum’ah adalah sikap atau sifat senang dan gemar memperdengarkan amal perbuatan yang telah ia lakukan kepada orang lain dengan harapan agar orang lain menyanjung dan memujinya.

Mereka yang bersedekah dengan niat untuk berbangga-bangga dan menyombongkan diri agar ia dikenal dengan sedekahnya atau supaya disebut dermawan. Maka, bukan pahala yang akan didapatkannya melainkan akan disiksa kelak pada hari kiamat dengan siksa yang sangat berat. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَلَمْ أَفْهَمْ تُحِبُّ كَمَا أَرَدْتُ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلَّا أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنْ لِيُقَالَ إِنَّهُ جَوَادٌ فَقَدْ قِيلَ ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ فَأُلْقِيَ فِي النَّارِ

“Abu Abdur Rahman berkata; artinya saya tidak mengetahui sesuatu yang Engkau cintai sebagaimana saya menghendaki untuk berinfak padanya kecuali saya telah berinfak padanya karena-Mu. Allah berfirman; engkau berdusta, tetapi agar dikatakan; ia adalah orang yang dermawan, sehingga hal itupun dikatakan. Kemudian orang tersebut diperintahkan untuk dibawa pergi lalu diseret wajahnya hingga dicampakkan ke Neraka.” (Hadits Nasai Nomor 3086)

Bersedekah hanya untuk mencari ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tentunya yang dibutuhkan adalah niat yang ikhlas dan suci karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan untuk mengharapkan pujian dari orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

“telah datang seorang laki-laki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata; bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ia tidak mendapatkan apa-apa, ” lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: “Ia tidak mendapatkan apa-apa”. Kemudian beliau bersabda: ” Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajahNya.” (Hadits Nasai Nomor 3089)

Merahasiakan sedekah kecuali untuk suatu kepentingan

Sebetulnya tidak masalah menampakkan sedekah asalkan dilakukan dengan ikhlas mengharap ridha Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman. Namun salah satu bentuk ikhlas dalam bersedekah adalah merahasiakan sedekahnya dari pengetahuan manusia sebisa mungkin. Sesungguhnya hal itu lebih dekat kepada keikhlasan serta lebih menjaga harga diri dan kehormatan orang yang menerimanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ ۖ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Baqarah Ayat 271)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan bahwa orang yang merahasiakan sedekahnya termasuk orang-orang yang dinaungi pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, ‘Aku takut kepada Allah.’ Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian.” (Hadits Muslim Nomor 1712)

Namun begitu, apabila dengan menampakkan sedekah terdapat maslahat dan manfaat, maka hal demikian lebih baik. Sebagaimana seseorang menampakkan sedekah dengan harapan ditiru oleh banyak orang, dengan begitu, ia telah mencontohkan kepada mereka perbuatan baik. Namun hal itu semua harus dilakukan dengan tetap menjaga diri dari riya’, ujub, sum’ah dan tetap menjaga keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala didalamnya.

Sedekah dii’tiqadkan sebagai anugerah Allah bukan sebagai jasa diri sendiri

Hendaknya seseorang yang bersedekah tidak memandang dirinya berjasa atas orang yang menerima sedekahnya. Namun, sebaiknya dia memandang semua itu sebagai karunia yang berasal dari Allah Subhanahu wa ta’ala. Karena Allah-lah yang telah memberikan harta tersebut baginya, dan memberinya taufik kepada Islam serta melepaskan dirinya dari kebakhilan atau sifat kikir, sehingga hatinya tergerak untuk bersedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ ۚ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (Surat An-Nisa’ Ayat 79)

Tidak sepantasnya orang yang bersedekah memandang dirinya telah berjasa atas kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan. Sebab harta yang dimilikinya hanyalah amanah dan titipan dari Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

آمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَأَنْفِقُوا مِمَّا جَعَلَكُمْ مُسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَالَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَأَنْفَقُوا لَهُمْ أَجْرٌ كَبِيرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan nafkahkanlah sebagian dari hartamu yang Allah telah menjadikan kamu menguasainya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menafkahkan (sebagian) dari hartanya memperoleh pahala yang besar.” (Surat Al-Hadid Ayat 7)

Ayat ini menunjukkan bahwa pada hakekatnya harta tersebut milik Allah. Hamba tidaklah memiliki apa-apa melainkan apa yang Allah izinkan untuk manusia menguasai.

Bersedekah dengan harta yang baik dan halal

Diwajibkan barang yang disedekahkan bukan barang yang haram dan bukan juga berasal dari usaha yang haram. Akan tetapi sedekah harus barang yang halal dan dari usaha yang halal. Bersedekah dari harta yang baik dan halal karena itu merupakan sebab diterimanya sedekah tersebut dan yang akan menghasilkan pahala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (Surat Al-Baqarah Ayat 267)

Bersedekah dengan harta yang halal merupakan sebab diterimanya sedekah dan yang akan menghasilkan pahala. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا الطَّيِّبَ إِلَّا أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ عَزَّ وَجَلَّ بِيَمِينِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرْبُو فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنْ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيلَهُ

“Tidaklah seseorang bersedekah berupa sesuatu yang baik -dan Allah Azza Wa jalla tidak menerima kecuali yang baik- melainkan Ar-Rahman Azza Wa Jalla akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya. Jika sedekah itu berupa satu biji kurma, maka akan bertambah di telapak tangan Ar-Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunung; seperti salah seorang dari kalian yang memelihara anak kuda atau anak untanya.” (Hadits Nasai Nomor 2478, Hadits Muslim Nomor 1684, dan Hadits Ibnu Majah Nomor 1832)

Salah satu syarat sedekahnya diterima Allah dan mendapatkan pahala adalah bila sedekahnya berasal dari barang dan usaha yang baik dan halal. Tidaklah diterima suatu sedekah yang berasal dari kemaksiatan seperti berasal dari usaha pelacuran dan penjualan khamr. Atau berasal dari kemungkaran seperti berasal dari usaha perampokan atau korupsi. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ صَدَقَةً مِنْ غُلُولٍ وَلَا صَلَاةً بِغَيْرِ طُهُورٍ

“Allah Azza wa Jalla tidak menerima sedekah dari harta ghulul (harta rampasan perang yang dicuri) dan juga tidak menerima shalat tanpa bersuci.” (Hadits Abu Daud Nomor 54)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ { يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ } وَقَالَ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ } ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?.” (Hadits Muslim Nomor 1686)

Bila bersedekah menggunakan hal-hal yang baik niscaya akan dibalas pahala oleh Allah. Dan sebaliknya bila bersedekah menggunakan hal-hal yang buruk niscaya akan dibalas dosa oleh Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا ۖ وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا

“Barangsiapa yang memberikan bantuan yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi bantuan yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ Ayat 85)

Wajib makan dan memberi makan berasal dari perkara yang halal. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (Surat Al-Baqarah Ayat 172)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (Surat Al-Baqarah Ayat 168)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖ إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ

“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Surat Al-Mu’minun Ayat 51)

Bersedekah menggunakan harta terbaik dan yang dicintai

Salah satu adab bersedekah adalah tidak bersedekah sesuatu yang buruk di mana tidak pantas diterima oleh orang lain, seperti memberikan makanan sisa dan basi kepada orang lain. Tidak elok memberikan sesuatu yang mana kita sendiri merasa jijik dan enggan mengenakan dan memakannya. Dianjurkan bersedekah dengan sesuatu baik dan bagus. Bahkan akan menjadi hamba terbaik di hadapan Allah manakala seseorang mampu dan mau memberikan sesuatu yang paling bagus dan paling idia cintai. Sebab hal itu juga akan dibalas oleh Allah dengan sesuatu yang juga lebih bagus dan baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Surat Ali ‘Imran Ayat 92)

Walaupun hal itu merupakan bertolak belakang dengan tabiat manusia pada umumnya. Namun bagi mereka yang menginfakkan sesuatu lebih bagus dan yang sangat dicintainya. Niscaya mereka akan mendapatkan kedudukan yang terbaik di hadapan Allah. Demikian seorang yang bersedekah, hendaklah mengeluarkan yang terbaik yang dimilikinya sebagai wujud keikhlasan kita terhadap Allah.

Bersedekah tidak mengharapkan balasan dari manusia dan hanya berharap duniawi

Merupakan adab sedekah adalah tidak mengharap balasan dari manusia baik berupa materi maupun moril. Sebab semua dunia dan seisinya hanyalah milik Allah dan hanya Allah yang berhak untuk membalas kebaiakan manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (Surat Al-Hadid Ayat 18)

Di samping itu juga hendaklah seorang muslim dalam bersedekah tidak modus hanya mengharap balasan yang bersifat materi saja. Sebab balasan yang terbaik dari Allah adalah pahala dan ridha dari-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ

“dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (Surat Al-Muddassir Ayat 6)

Bersedekah kepada orang-orang yang lebih membutuhkan

Hendaknya sedekah diutamakan diberikan kepada mereka yang lebih membutuhkannya dan orang-orang yang berhak menerimanya dari kalangan orang-orang fakir, miskin, anak yatim, janda, dan orang yang terlilit hutang. Sebab tujuan sedekah adalah meringankan dan bahkan menghilangkan beban dan kesusahan orang lain. Disamping itu hendaklah menghindari sedekah kepada mereka yang jelas-jelas menyalahgunakan sedekah, seperti untuk mabuk-mabukan dan lainnya. Berikut golongan yang berhak untuk menerima sedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Surat At-Taubah Ayat 60)

Bersedekah kepada pihak yang tepat akan mendapat pahala yang lebih banyak di sisi Allah. Seperti sedekah diberikan kepada orang yang paling membutuhkan, jika kerabat kita yang lebih membutuhkan, maka mereka lebih berhak menerimanya. Sebagaimana hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَهِيَ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Bersedekah kepada orang miskin bernilai satu sedekah, dan sedekah kepada orang yang memiliki hubungan kerabat mempunyai dua nilai; pahala sedekah dan pahala menyambung hubungan kekerabatan.” (Hadits Darimi Nomor 1619 dan Hadits Ahmad Nomor 17204)

Bersedekah kepada merekah yang butuh itu lebih baik, dan lebih baik lagi menyedekahkan hutang seseorang yang jelas-jelas tidak mampu melunasi. Alangkah besar pahala bersedekah kepada orang yang berutang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 280)

Mendahulukan sedekah kepada waris terdekat

Bila seseorang sedang mendapatkan kelapangan rizki untuk bersedekah, hendaklah ia mendahulukan dari golongan kerabat yang lebih membutuhkan. Kerabat yang membutuhkan kedudukan dalam agama mereka lebih berhak menerima. Semakin dekat derajat kekerabatannya, maka semakin berhak dan semakin besar pula pahala sedekahnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّدَقَةُ عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ وَالصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ صَدَقَةٌ وَصِلَةٌ

“Sedekah bagi kaum miskin mendapat pahala sedekah, adapun sedekah untuk kerabat dekat mendatangkan dua pahala, pahala sedekah dan pahala menyambung tali kerabat.” (Hadits Ahmad Nomor 15644 dan Hadits Nasai Nomor 2535)

Sebab kenapa bersedekah kepada kerabat yang memiliki pahala lebih, sebab kerabat yang membutuhkan hakikatnya menjadi tanggungjawab kerabat lainnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ جُهْدُ الْمُقِلِّ وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“dari [Abu Hurairah] bahwa ia berkata; wahai Rasulullah, sedekah apakah yang lebih utama? Beliau bersabda: “Kadar yang mampu ditanggung orang fakir, dan mulailah dari orang yang engkau tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1428)

Mengutamakan orang yang taat beragama

Hakikat dan tujuan sedekah yang diberikan adalah agar mereka lepas dari beban hidupnya. Ketika beban hidupnya menjadi hilang agar mereka lebih meningkatkan ketaatan dan ibadahnya kepada Allah. Dengan demikian sedekah yang diberikan kepada mereka yang tidak beriman dan bertakwa tidak ada faedah terhadap agama Islam. Oleh karenanya, hendaklah orang yang bersedekah lebih memprioritaskan sedekahnya bagi orang-orang yang taat beragama. Karena sedekah tersebut akan membantunya untuk mentaati Allah dan tidak membelanjakannya untuk bermaksiat kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

لِلْفُقَرَاءِ الَّذِينَ أُحْصِرُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا يَسْتَطِيعُونَ ضَرْبًا فِي الْأَرْضِ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ أَغْنِيَاءَ مِنَ التَّعَفُّفِ تَعْرِفُهُمْ بِسِيمَاهُمْ لَا يَسْأَلُونَ النَّاسَ إِلْحَافًا ۗ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.” (Surat Al-Baqarah Ayat 273)

Berdasarkan ayat di atas menjadi prioritas sedekah diberikan kepada para pejuang yang membutuhkan. Dengan catatan sedekah yang diterimanya pada akhirnya tidak menyebabkan dijadikan sebagai profesi meminta-minta.

Mendahulukan sedekah yang wajib daripada yang sunnah

Pada prinsipnya sedekah sunnah dapat diberikan kepada siapa saja dan kapan saja. Namun ada kriteria yang telah ditetapkan oleh agama siapa saja yang berhak menerima sedekah yang dikeluarkan oleh seorang muslim. Namun sedekah sunnah harus dikalahkan manakala sedekah wajib seperti zakat belum tertunaikan. Sebab, menunaikan sedekah yang wajib termasuk rukun Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak akan menerima amalan-amalan yang sunnah hingga ia mengamalkan amalan wajib. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ

“Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya,” (Hadits Bukhari Nomor 6021)

Tidak mengambil kembali sedekahnya

Sedekah jariah yang diberikan dengan ikhlas semata-mata kerana Allah adalah salah satu tabungan akhirat yang akan terus mengalir pahalanya walaupun ia telah meninggal. Bila seseorang memberikan sedekah, maka sebaiknya tidak mengambilnya kembali dari orang yang telah menerimanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَرْجِعُ فِي صَدَقَتِهِ كَمَثَلِ الْكَلْبِ يَقِيءُ ثُمَّ يَعُودُ فِي قَيْئِهِ فَيَأْكُلُهُ

“Permisalan orang yang mengambil kembali sedekahnya, seperti seekor anjing yang muntah kemudian ia menjilat dan memakan kembali muntahannya.” (Hadits Muslim Nomor 3048 dan Hadits Nasai Nomor 3633)

Begitu buruk keadaan orang-orang yang mengambil kembali sedekah yang telah dikeluarkannya. Dalam bersedekah seorang muslim wajib berpegang teguk pada etika agar tidak melukai perasaan orang lain dan juga agar tidak menghilangkan pahala dari sedekahnya.

Tidak mengungkit dan melukai perasaan penerima

Tidak sedikit seseorang bersemangat dalam bersedekah, namun sayangnya pahala sedekahnya menjadi gugur disebabkan tidak menjaga adab dalam bersedekah. Pahala menjadi terhapus disebabkan sedekahnya diungkit-ungkit dan menyakiti perasaan penerima sedekah. Terkadang sedekah kita dibarengi dengan merendahkan penerima. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَىٰ كَالَّذِي يُنْفِقُ مَالَهُ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌ فَأَصَابَهُ وَابِلٌ فَتَرَكَهُ صَلْدًا ۖ لَا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَيْءٍ مِمَّا كَسَبُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Surat Al-Baqarah Ayat 264)

Sedekah akan berpahala bila dilakukan dengan sopan dan menjaga adab-adabnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى ۙ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Surat Al-Baqarah Ayat 262)

Akan lebih baik manakala sedekah dilakukan dengan ucapan yang baik dan sopan kepada penerima. Sebab itu akan menambah nilai pahala dari sedekah yang kita berikan. Jadi, bila bersedekah harus disertai dengan kalimat yang sopan. Dilarang bersedekah dengan disertai dengan kalimat yang menyakitkan. Dan bila terpaksa tidak bisa bersedekah ucapkanlah kata maaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ قَوْلٌ مَعْرُوفٌ وَمَغْفِرَةٌ خَيْرٌ مِنْ صَدَقَةٍ يَتْبَعُهَا أَذًى ۗ وَاللَّهُ غَنِيٌّ حَلِيمٌ

“Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik dari sedekah yang diiringi dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan si penerima). Allah Maha Kaya lagi Maha Penyantun.” (Surat Al-Baqarah Ayat 263)

Sedekah tidak disertai dengan buruk sangka terhadap penerima

Terkadang maksud hati untuk bersedekah menjadi ragu manakala melihat dan menjumpai seseorang yang meminta-minta di tengah jalan berpenampilan tidak sesuai dengan kriteria sebagai penerima sedekah. Terkadang ada seseorang masih muda dan sehat namun meminta-minta, terkadang ada seseorang yang berpenampilan menarik namun meminta-minta, dan terkadang ada seseorang yang berpenampilan preman namun meminta-minta.

Selama seorang muslim tidak tahu kenyataan aslinya si peminta-minta, bagaimanapun bila seorang muslim sudah berniat ikhlas bersedekah mengharap ridha Allah pasti sedekahnya diterima oleh Allah dan orang yang bersedekah tersebut akan mendapat pahala. Walaupun sedekah tersebut dirasa jatuh pada seseorang yang dianggap tidak layak dan tidak berhak untuk menerima.

Apabila seorang yang bersedekah ragu terhadap orang yang menerima sedekahya, tidak juga bisa memastikan apakah ia benar-benar fakir atau tidak, maka janganlah hal itu membuatnya tidak jadi bersedekah. Selama bersungguh-sungguh untuk memberikan sedekah kepada yang berhak, dan besar sangkaannya bahwa orang yang dimaksudkan berhak menerimanya, maka berikanlah sedekah itu. Sebab Nabi melarang sedekah yang disertai suudzan.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدِ سَارِقٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى سَارِقٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ زَانِيَةٍ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ اللَّيْلَةَ عَلَى زَانِيَةٍ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى زَانِيَةٍ لَأَتَصَدَّقَنَّ بِصَدَقَةٍ فَخَرَجَ بِصَدَقَتِهِ فَوَضَعَهَا فِي يَدَيْ غَنِيٍّ فَأَصْبَحُوا يَتَحَدَّثُونَ تُصُدِّقَ عَلَى غَنِيٍّ فَقَالَ اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ عَلَى سَارِقٍ وَعَلَى زَانِيَةٍ وَعَلَى غَنِيٍّ فَأُتِيَ فَقِيلَ لَهُ أَمَّا صَدَقَتُكَ عَلَى سَارِقٍ فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعِفَّ عَنْ سَرِقَتِهِ وَأَمَّا الزَّانِيَةُ فَلَعَلَّهَا أَنْ تَسْتَعِفَّ عَنْ زِنَاهَا وَأَمَّا الْغَنِيُّ فَلَعَلَّهُ يَعْتَبِرُ فَيُنْفِقُ مِمَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ

“Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam berkata,: “Ada seorang laki-laki berkata,: Aku pasti akan bershadaqah. Lalu dia keluar dengan membawa shadaqahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan shadaqahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata,: “Ya Allah segala puji bagiMu, aku pasti akan bershadaqah lagi”. Kemudian dia keluar dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan shadaqahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pezina, aku pasti akan bershadaqah lagi. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan shadaqahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata,: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya. Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: “Adapun shadaqah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya, sedangkan shadaqah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali dan shadaqah kamu kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya”. (Hadits Bukhari Nomor 1332, dan Hadits Muslim Nomor 1698)

Tidak menunda-nunda sedekah ketika sudah mampu dan sempat

Jika telah datang kemampuan untuk bersedekah, dan bila telah datang kewajiban untuk mengeluarkan sedekah wajib atas hartanya, maka hendaklah bersegera dan jangan menunda-nunda mengeluarkan sedekahnya. Tidak boleh menunda sedekah tanpa adanya udzur. Jangan memancing kemurkaan Allah sebab menunda sedekah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ

“Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (Surat Al-Munafiqun Ayat 10)

Menyegerakan sedekah ketika masih sempat dan mampu melakukannya merupakan anjuran agama. Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara; Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya 4: 341)

Sedekah dibarengi kesopanan seperti wajah berseri, hati lapang dan tidak menghardik

Sedikit sedekah yang diberikan kepada orang fakir dengan wajah berseri lebih baik daripada sedekah banyak yang diberikan dengan wajah cemberut. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا تَسُبَّنَّ أَحَدًا وَلَا تَزْهَدَنَّ فِي الْمَعْرُوفِ وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ وَأَنْتَ مُنْبَسِطٌ إِلَيْهِ وَجْهُكَ وَلَوْ أَنْ تُفْرِغَ مِنْ دَلْوِكَ فِي إِنَاءِ الْمُسْتَسْقِي

“Janganlah kamu menghina seseorang dan jangan meremehkan kebaikan sedikit pun, walau dengan memberi senyuman kepada saudaramu bila bertemu, atau hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air,” (Hadits Ahmad Nomor 19718)

Bukan hanya wajah berseri, ketika seseorang mendatangi kita untuk meminta sedekah hendaklah kita menyerahkan sedekah dengan hati yang rela. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَأْتِيكُمْ رُكَيْبٌ مُبْغَضُونَ فَإِنْ جَاءُوكُمْ فَرَحِّبُوا بِهِمْ وَخَلُّوا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَبْتَغُونَ فَإِنْ عَدَلُوا فَلِأَنْفُسِهِمْ وَإِنْ ظَلَمُوا فَعَلَيْهَا وَأَرْضُوهُمْ فَإِنَّ تَمَامَ زَكَاتِكُمْ رِضَاهُمْ وَلْيَدْعُوا لَكُمْ

“akan datang kepada kalian para petugas pengambil sedekah, jika mereka sudah datang kepada kalian, maka sambutlah mereka dan biarkanlah mereka mengambil apa yang mereka inginkan, jika mereka berbuat adil maka itu adalah kebaikan buat kalian dan jika mereka berbuat dzalim maka dosanya bagi mereka, buatlah mereka ridha, sebab kesempurnaan sedekah kalian pada keridhaan mereka, dan hendaklah mereka mendo’akan kalian.” (Hadits Abu Daud Nomor 1354)

Yang tidak kalah baiknya adalah bilamana ternyata kita tidak mampu dan tidak mau untuk mengelurkan sedekah disebabkan suatu hal. Hendaklah kita tidak menghardik para peminta-minta. Tolaklah mereka dengan baik-baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَأَمَّا السَّائِلَ فَلَا تَنْهَرْ

“Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya.” (QS. Ad-Duha Ayat 10)

Tetap bersedekah meskipun dalam keadaan terbatas

Terkadang hidup tidak menentu, keinginan untuk bersedekah tidak disertai dengan kemampuan untuk melakukannya. Ketahuilah bahwa sedekah esensinya adalah berbagai. Sesempit apapun hendaklah tidak sampai menghalangi kita untuk berbagi. Sedikit apapun sedekah yang kita berikan akan selalu sangat berarti bagi mereka yang dalam keadaan sulit dan membutuhkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

۞ وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134)

Manusia yang memiliki kedudukan paling mulia di sisi Allah adalah mereka yang tetap menyisihkan hartanya untuk sedekah walaupun keadaannya sedang sempit dan berat dalam melakukannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ تَأْمُلُ الْعَيْشَ وَتَخْشَى الْفَقْرَ

Seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah! Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab: ‘Kamu bersedekah padahal saat itu kamu dalam keadaan sehat dan sangat berat untuk bersedekah (bakhil), kamu mendambakan kehidupan dan takut fakir.’ (Hadits Nasai Nomor 2495)

Sedekah tidak sampai menyebabkan diri bangkrut

Walaupun memiliki semangat dalam bersedekah dengan harapan Allah akan membalas keridhaannya. Namun hendaklah dalam bersedekah tidak sampai melamaui batas keadaan dan kemampuannya. Janganlah dalam bersedekah berlebihan sehingga menyebabkan hidupnya sampai kekurangan kebutuhan dasarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Makanlah dan bersedekahlah serta berpakaianlah dengan tidak berlebihan dan sombong.” (HR. Nasai Nomor 2512)

Semangat untuk mendapatkan pahala jangan kemudian dalam bersedekah tidak sampai membuat diri dan keluarga kekurangan dan menjadi terlantar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ خَيْرَ الصَّدَقَةِ مَا تَرَكَ غِنًى أَوْ تُصُدِّقَ بِهِ عَنْ ظَهْرِ غِنًى وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُولُ

“Sesungguhnya sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang masih meninggalkan kecukupan (bagi yang bersedekah), atau yang disedekahkan dalam kondisi kecukupan. Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung.” (Hadits Abu Daud Nomor 1427)

Penutup

Dan tentunya masih banyak lagi etika dalam bersedekah. Seperti; dalam beredekah memiliki ilmu tentang syarat, rukun, dan kaifiyat bersedekah. Bersedekahlah menggunakan ilmu dan adab-adabnya agar sedekah kita tidak menjadi sia-sia.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid AHmad

Bagikan Artikel Ini Ke