Hikmah Sakit Bagi Seorang Muslim

Daftar Isi

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Setiap orang nyaris pernah merasakan sakit, tahukah bahwa di dalam Islam sakit tidak hanya dipandang sekedar sebuah penyakit yang sedang menyerang kesehatan tubuh. Sakit bisa menjadi hikmah bagi yang didasari keimanan kepada Allah karena dengan sakit mereka akan semakin dekat dengan Allah. Bahwa ternyata kenikmatan yang telah berikan begitu luar biasa, namun semuanya nyaris tidak terasa hanya karena dicabut sedikit kenikmatan yakni sakit.

Namun akan menjadi bencana dan musibah bagi mereka yang jauh dari keimanan, orang-orang yang lemah imannya keadaan sakit bukan malah dijadikan pelajaran akan begitu besar keagunan Allah, namun mereka akan semakin banyak mengeluh bahkan akan mencari cara penyembuhan yang membahayakan yangtidak diridloi Allah hanya karena tidak tahan dengan rasa sakitnya. Sakit begitu dekat dengan kematian, sudah selayaknya bagi seorang muslim senantiasa lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan rasa sakitnya agar apa yang dialami tidak menjadi ujung bencana bagi kehidupan akhiratnya, Allah berfirman,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”.(QS. Al-Baqarah: 132)

Bila sakit tidak dijadikan sebagi media mendekatkan diri kepada Allah maka akan semakin menjauhkan kita dari Allah dan kita akan terjatuh kepada kesyirikan, nabi bersabda,

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ وَهْوَ لَا يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk neraka.” Sedangkan aku berkata; ‘Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk surga.’ (HR. Bukhari Nomor 4137)

Maksud mencari tandingan selain Allah adalah mencari kesembuhan kepada syetan melalui para dukun, Nabi bersabda,

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi tukang tenung lalu dia bertanya kepadanya tentang suatu hal, maka shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim Nomor 4137)

Ketika seseorang ingin mencari kesembuhan dengan cara yang tidak diridloi Allah niscaya bila dia mati maka akan mati dalam keadaan musyrik, sebagaimana yang diisabdakan Nabi,

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ وَقُلْتُ أَنَا مَنْ مَاتَ وَهْوَ لَا يَدْعُو لِلَّهِ نِدًّا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Barang siapa yang mati, sedangkan dia menyeru selain Allah sebagai tandingannya maka dia masuk neraka.” Sedangkan aku berkata; ‘Barang siapa yang mati dan dia tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu maka dia masuk surga.'(HR. Bukhari Nomor 4137)

Berbeda dengan ikhtiyar mencari kesembuhan dengan mendatangi dukun yang menyebabkan kesyirikan adalah pergi ke thobib atau dokter itu disyariatkan oleh Islam. Sebagaimana dalam sabda Nabi,

مَرِضَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ مَرَضًا فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَبِيبًا فَكَوَاهُ عَلَى أَكْحَلِهِ

“Ubay bin Ka’b tengah menderita sakit, lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangkan seorang tabib untuknya, kemudian tabib itu mengobatinya dengan membakarkan besi panas di alisnya.” (HR. Ibnu Majah Nomor 3484)

Kenapa ke mencari pengobatan melalui medis dan dokter disyariatkan? Karena pengobatan medis sebuah ikhtiyar yang tidak terkait dengan aqidah, ia merupakan metode kesembuhan yang sifatnya ilmiyah, tidak mengandung hal-hal mistis, dan tahayyul yang dapat memalingkan keimanan seseorang terhadap Allah. Di samping ikhtiyar mencari kesembuhan melalui dokter disyariatkan, juga diperbolehkan bila ditambah dengan pengobatan spiritual Islam dengan meminta didoakan oleh orang shalih, sebagaimana

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan (bertawassul) kepada Tuhan mereka  siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah, yakni orang shalih) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS.Al-Isra’[17]: 57)

Namun begitu walaupun kita disyariatkan ikhtiyar mencari kesembuhan, namun ternyata ada hikmah yang terkandung dalam sakit seorang muslim. Berikut beberapa hikmah yang terkandung dalam kondisi sakit sesuai keterangan Al-Qur’an dan Sunnah,

Pertama, Sakit adalah ujian bagi orang mukmin yang menghadapinya dengan kesabaran, Allah berfirman,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah Ayat 155)

Kedua, Sakit merupakan adzab bagi orang kafir

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

“Katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu atau Dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa Kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami silih berganti agar mereka memahami(nya)”. (QS. Al-An’am: 65)

Ketiga, sakit merupakan penghapus dosa-dosa

مَا مِنْ شَيْءٍ يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا حَزَنٍ وَلَا وَصَبٍ حَتَّى الْهَمُّ يَهُمُّهُ إِلَّا يُكَفِّرُ اللَّهُ بِهِ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِ

“Tidaklah suatu yang menimpa seorang mukmin, dari kelelahan, kesedihan, atau sakit, hingga kegundahan yang menimpanya kecuali Allah akan menghapuskan dosa-dosanya dengannya.” (HR. Tirmidzi Nomor 889)

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan, kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya.” (HR. Bukhari Nomor 5210)

Keempat, menunjukkan bahwa Allah masih perduli dengan mengingat lewat rasa sakitnya

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini. (HR. Tirmidzi Nomor 2320)

Kelima, dengan sakit penyebab pahalanya bertambah

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Aku sering mendengar berkali-kali [Abu Musa] berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Jika seorang hamba sakit atau bepergian (lalu beramal) ditulis baginya (pahala) seperti ketika dia beramal sebagai muqim dan dalam keadaan sehat”. (HR. Bukhari Nomor 2774)

Keenam, sakit sebagai sebab kedudukan mulai dari Allah teraih

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنْ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ فِي مَالِهِ أَوْ فِي وَلَدِهِ

“Sesungguhnya seorang hamba, apabila pernah memiliki kedudukan dari Allah, yang tidak ia peroleh dengan amalannya maka Allah mengujinya pada jasadnya, harta, atau pada anaknya.” (HR. Abu Daud Nomor 2686)

Ketujuh, sakit menjadi ladang paala bagi yang menjenguknya

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَعُودُ مُسْلِمًا غُدْوَةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنْ عَادَهُ عَشِيَّةً إِلَّا صَلَّى عَلَيْهِ سَبْعُونَ أَلْفَ مَلَكٍ حَتَّى يُصْبِحَ وَكَانَ لَهُ خَرِيفٌ فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim yang lainnya pada pagi hari, kecuali akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu Malaikat hingga sore hari. Jika dia menjenguknya pada sore hari, maka dia akan dido’akan oleh tujuh puluh ribu malaikat hingga pagi. Dan dia akan mendapatkan kebun di syurga kelak” (HR. Tirmidzi Nomor 891)

Kedelapan, Sakit menjadi penyebab dekatnya hamba kepada tuhannya

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَىٰ أُمَمٍ مِنْ قَبْلِكَ فَأَخَذْنَاهُمْ بِالْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ لَعَلَّهُمْ يَتَضَرَّعُونَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat yang sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. Al-An’am: 42)

Kesembilan, Sakit menjadi penambah kebaikan bila disertai kesabaran

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.” (HR. Muslim Nomor 5318)

Saudaraku, demikian di antara hikmah dan keutamaan sakit bagi seorang muslim.