Hukum Jamaah Antara Imam dan Makmum Terhalang Dinding dalam Areal Masjid

Sebagian ulama berpendapat tidak mengapa jika makmum dan imam terhalang dinding asalkan masih dapat melihat gerakan imam dan mendengar takbir imam. Hal ini berdasarkan hadits berikut,

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي مِنْ اللَّيْلِ فِي حُجْرَتِهِ وَجِدَارُ الْحُجْرَةِ قَصِيرٌ فَرَأَى النَّاسُ شَخْصَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحُوا فَتَحَدَّثُوا بِذَلِكَ فَقَامَ اللَّيْلَةَ الثَّانِيَةَ فَقَامَ مَعَهُ أُنَاسٌ يُصَلُّونَ بِصَلَاتِهِ صَنَعُوا ذَلِكَ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا حَتَّى إِذَا كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ جَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَخْرُجْ فَلَمَّا أَصْبَحَ ذَكَرَ ذَلِكَ النَّاسُ فَقَالَ إِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُكْتَبَ عَلَيْكُمْ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada kami ‘Abdah dari Yahya bin Sa’id Al Anshari dari ‘Amrah dari ‘Aisyah berkata, “Pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat di kamarnya, saat itu dinding kamar beliau tidak terlalu tinggi (pendek) hingga orang-orang pun melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat sendirian. Orang-orang itu pun berdiri dan shalat di belakang beliau, hingga pada pagi harinya orang-orang saling memperbincangkan kejadian tersebut. Kemudian pada malam keduanya beliau kembali shalat, dan orang-orangpun mengikuti shalat beliau kembali. Mereka melakukan ini selama dua atau tiga malam hingga setelah malam itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam duduk di rumahnya dan tidak keluar melaksanakan shalat seperti malam sebelumnya. Pada pagi harinya orang-orang mempertanyakannya, lalu beliau bersabda: “Aku khawatir bila shalat malam itu ditetapkan sebagai kewajiban atas kalian.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 687)

Dalam hadits lainnya diceritakan,

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عَمْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حُجْرَتِهِ وَالنَّاسُ يَأْتَمُّونَ بِهِ مِنْ وَرَاءِ الْحُجْرَةِ

“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Husyaim telah mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id dari ‘Amrah dari Aisyah radliallahu ‘anha dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat di kamarnya, ternyata orang-orang mengikuti beliau dari belakang kamarnya.” (Hadits Riwayat Abu Daud Nomor 951)

Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Salim Abu Nadlr maula Umar bin Ubaidullah, dari Busr bin Sa’id dari Zaid bin Tsabit ia berkata;

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memasang tenda dari tikar pada sebuah tempat di Masjid, sehingga menjadikan sebuah kamar tempat beliau shalat (malam). Melihat hal itu, beberapa orang sahabat mendatangi tempat itu dan mereka shalat pula mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam shalat (bermakmum pada Beliau) (Hadits Riwayat Muslim Nomor 1301 Nasai Nomor 754)

Maka berdasarkan hadits di atas jelas bahwa orang boleh bermakmum mengikuti imam walaupun imam terpisah dinding dengan makmum selama makmum bisa mengikuti gerakan imam dan mendengar aba-aba takbir dari imam.

Maka Imam Syafi’i (Madzhab Syafi’i) membolehkan makmum dan imam terpisah asalkan masih dalam satu areal masjid walaupun mereka terpisah dalam jarak tiga ratus depa atau terhalang tembok, sumur, dan pintu yang tertutup atau imam shalat di awal masjid (depan) sedangkan makmum berada di ujung akhir masjid asalkan tidak ada penghalang. (Mughni Al Muhtaaj Jilid 1 Hal. 248-251)

Al Hasan berkata: “Tidak mengapa engkau shalat sedangkan antara engkau dan imam terdapat sungai” Abu Miljaz berkata: “Boleh mengikuti imam meskipun antara keduanya terpisah jalan atau tembok selama ia dapat mendengar takbirnya (komandonya) imam” (Fathul Bari Jilid 4 Hal. 397)

Imam Malik bin Anas (Madzhab Maliki) berpendapat tidak ada syarat harus satunya tempat antara imam dan makmum. Berbedanya tempat imam dan makmum tidak mencegah sahnya shalat jamaah. Adanya penghalang baik sungai jalan atau tembok tidak mencegah sahnya shalat berjamaah selama ia bisa mengetahui gerakan imam dan dapat mendengar takbirnya (komando gerakan imam). Hal ini dibolehkan pada semua shalat kecuali untuk shalat jum’at. Imam Malik berpendapat demikian karena mengambil keumuman hadits,

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdurrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid Ath Thawil dari Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا سَجَدَ فَاسْجُدُوا وَإِنْ صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا

“Sesungguhnya dijadikannya imam itu untuk diikuti. Jika imam bertakbir maka takbirlah kalian, jika rukuk maka rukuklah kalian, jika sujud maka sujudlah kalian, dan jika ia shalat dengan berdiri maka shalatlah kalian dengan berdiri.” (Hadits Riwayat Bukhari Nomor 365)

Telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari Anas bin Malik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَلَا تَخْتَلِفُوا عَلَيْهِ

“Sesungguhnya dijadikannya imam agar diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya” (Hadits Riwayat Darimi Nomor 1228)

Maka Imam Malik berpendapat sepanjang makmum dapat mengikuti gerakan imam, dan dapat mendengar suara takbir imam, maka sah shalat berjamaahnya walaupun terhalang dinding, jalan, sungai atau lainnya kecuali shalat Jum’at yang memang disyaratkan agar barisannya bersambung. Jika seorang makmum mengikuti imam shalat Jum’at di rumah yang bersebelahan dengan masjid maka shalatnya batal karena bergabungnya itu adalah syarat sahnya shalat jum’at (Fiqhul Islam Wa’adillatuhu Jilid 2 Hal 351)

Baca selengkapnya; Hukum Shalat Berjamaah dengan Shaf Terputus

وَاللهَ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ

 

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad, diringkas dari tulisan Ustadz Abu Akmal Mubarok

Bagikan Artikel Ini Ke