Hukum Mengkhususkan Tempat dalam Ibadah

Tidak ada satupun ciptaan Allah yang sia-sia, semua ada hikmah dan manfaatnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (Surat Al-Mu’minun Ayat 115)

Begitu juga dengan penciptaan umat manusia tentunya juga ada tujuannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan bahwa manusia diciptakan tiada lain selain untuk berbakti kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Surat Az-Zariyat Ayat 56)

Banyak ragam bentuk ibadah, ada ibadah yang berbentuk personal (mahdah) yang disebut amal ibadah. Juga ada ibadah yang berbentuk sosial (ghairu mahdah) yang disebut amal shalihah, seperti sedekah dan membantu orang lain. Dalam ibadah mahdah juga banyak ragamnya, ada yang berupa ibadah hati seperti ikhlas, tawakal, dan lain sebagainya. Ada juga berupa ibadah lisan seperti dzikir, doa, dan lain sebagainya. Ada amal ibadah yang berupa perbuatan badan, seperti shalat, haji, dan lain sebagainya.

Terkait dengan hukum ibadah juga ada yang wajib dan juga ada yang sunnah. Sedangkan tata cara ibadah ada yang bersifat tauqifi (paten), yakni ibadah-ibadah yang tata caranya sudah ditentukan oleh agama, seperti shalat wajib lima waktu, ibadah haji, dan lain sebagainya. Maupun ibadah-ibadah di mana umat Islam diberikan kewenangan seluas-luasnya untuk mengatur tata caranya, seperti ibadah dzikir dan doa.

Salah satu tata cara dalam ibadah sunah mutlak seperti dzikir yang diberikan keleluasaan umat Islam untuk menentukan adalah terkait dengan pilihan tempatnya. Pada prinsipnya ibadah dzikir boleh dilakukan di manapun kita berada dan di manapun kita kehendaki. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَإِلَى اللَّهِ تُرْجَعُ الْأُمُورُ

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.” (QS. Ali ‘ Imran[3]: 109)

Walaupun dari beberapa tempat telah ditetapkan oleh Allah memiliki kelebihan. Namun begitu, kita dibebaskan untuk melakukan ibadah di manapun kita kehendaki. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

الْأَرْضُ لَكَ مُصَلًّى فَصَلِّ حَيْثُ مَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلَاةُ

“Dan bumi bagimu adalah masjid, maka shalatlah di manapun tempatnya ketika waktu shalat telah tiba. ” (HR. Ibnu Majah No. 745)

Semua tempat di muka bumi dan seluruh alam semesta layak untuk dijadikan tempat untuk beribadah. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

جُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا فَأَيْنَمَا أَدْرَكَ الرَّجُلَ مِنْ أُمَّتِي الصَّلَاةُ يُصَلِّي

“Dijadikannya bumi sebagai tempat bersujud dan bersuci, maka di manapun seseorang dari kalangan umatku mendapati (waktu) shalat, shalatlah di situ. ” (HR. Nasai No. 429)

Memilih tempat untuk beribadah

Walaupun sudah kita ketahui bahwa dalam beribadah kita boleh memilih tempat di manapun. Lalu bagaimana hukum mengkhususkan salah satu atau beberapa tempat untuk kita jadikan tempat beribadah. Bisa jadi selera seseorang berbeda dengan orang lain dalam hal suasana yang lebih mendukung kekhusuaan ibadah seseorang.

Terkait dengan ini ternyata Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperbolehkan atau bahkan menganjurkan setiap muslim membuat tempat khusus di manapun dia sukai untuk dijadikan tempat mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمَرْءُ حَقِيقٌ أَنْ يَكُونَ لَهُ مَجَالِسُ يَخْلُو فِيهَا فَيَذْكُرُ ذُنُوبَهُ فَيَسْتَغْفِرُ اللَّهَ تَعَالَى مِنْهَا

“Hendaknya seseorang memiliki tempat KHUSUS yang ia pergunakan untuk menyendiri (berkhulwat/meditasi) dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah”. (HR. Darimi No. 316)

Hadits di atas didukung oleh firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut,

فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ

“Bertasbih kepada Allah di rumah-rumah Allah yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang.” (QS. an-Nur: 36)

Pengkhususan suatu tempat untuk beribadah juga sering dilakukan oleh Nabi. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengkhususkan tempat ibadah untuk dirinya sendiri. Sebagaimana yang terlihat dari sebuah riwayat hadits berikut,

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَصِيرَةٌ يَبْسُطُهَا بِالنَّهَارِ وَيَحْتَجِرُهَا بِاللَّيْلِ فَيُصَلِّي فِيهَا فَفَطَنَ لَهُ النَّاسُ فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ وَبَيْنَهُ وَبَيْنَهُمْ الْحَصِيرَةُ

“Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai sebuah tikar yang biasa beliau bentangkan pada siang hari dan beliau jadikan seperti kamar (agar beliau bisa shalat seleluasa panjangnya dan tidak ditiru sahabatnya) pada malam hari, lalu beliau shalat padanya. Kemudian para sahabatnya paham hal ini (shalat beliau yang sedemikian dahsyat panjangnya), maka mereka shalat dan di antara beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mereka ada tikar. Hingga beliau bersabda, ‘Kerjakanlah amalan itu sesuai yang kalian mampu.” (HR. Nasai No. 754)

Hadits di atas menunjukkan anjuran agar setiap kita memiliki dan membuat tempat baik di rumah atau tempat lainnya yang kita khususkan untuk dipergunakan muhasabah, merenung atau mendekatkan diri kepada Allah. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjadikan gua Hira untuk media pendekatan diri kepada Allah selain Masjid. Hadits-Hadits berikut yang menggambarkan Nabi suka mencari tempat-tempat khusus untuk beribadah,

فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ

“Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira`, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal.” (Hadits Bukhari Nomor 4572)

Dalam riwayat lain disebutkan,

فَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ يَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ أُوْلَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ

“Beliau biasanya menyepi di gua Hira’. Di sana beliau menghabiskan beberapa malam untuk beribadah kepada Allah sebelum kembali ke rumah. Untuk tujuan tersebut, beliau membawa sedikit perbekalan.” (Hadits Muslim Nomor 231)

Pada hadits di bawah ini disebutkan bahwa Nabi sudah terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid untuk menjalankan amal ibadahnya. Sebagaimana sabda Nabi berikut,

كُنْتُ آتِي مَعَ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ فَيُصَلِّي عِنْدَ الْأُسْطُوَانَةِ الَّتِي عِنْدَ الْمُصْحَفِ فَقُلْتُ يَا أَبَا مُسْلِمٍ أَرَاكَ تَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَ هَذِهِ الْأُسْطُوَانَةِ قَالَ فَإِنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَحَرَّى الصَّلَاةَ عِنْدَهَا

“Aku [Yazid bin Abu ‘Ubaid] dan [Salamah bin Al Akwa’] datang (ke Masjid), lalu dia shalat menghadap tiang yang dekat dengan tempat muhshaf. Lalu aku tanyakan, ‘Wahai Abu Muslim, kenapa aku lihat kamu memilih tempat shalat dekat tiang ini? ‘ Dia menjawab, ‘Sungguh aku melihat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memilih untuk shalat di situ’.” (Hadits Bukhari Nomor 472 dan Hadits Muslim Nomor 788)

Hadits di atas Nabi terbiasa memilih suatu tempat dalam masjid seperti di samping tiang (menara) untuk melaksanakan shalat. Pada hadits di bawah berikut ini juga terlihat Nabi beserta istinya Maimunah memiliki tempat khusus untuk melaksanakan ibadah shalat. Sebagaimana sebuah riwayat hadits berikut,

عَنْ مَيْمُونَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَأَنَا حِذَاءَهُ وَأَنَا حَائِضٌ وَرُبَّمَا أَصَابَنِي ثَوْبُهُ إِذَا سَجَدَ قَالَتْ وَكَانَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

“dari [Maimunah] ia berkata, “Pernah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sementara aku berada di sampingnya, dan saat itu aku sedang haid. Dan setiapkali beliau sujud, pakaian beliau mengenai aku. Dan beliau shalat di atas tikar kecil.” (Hadits Bukhari Nomor 366)

Nabi juga membenarkan permintaan seorang sahabat untuk memilihkan suatu tempat dalam rumahnya dengan tujuan tempat tersebut akan dijadikan sebagai tempat khusus untuk beribadah. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

أَنَّ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ كَانَ يَؤُمُّ قَوْمَهُ وَهُوَ أَعْمَى وَأَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهَا تَكُونُ الظُّلْمَةُ وَالسَّيْلُ وَأَنَا رَجُلٌ ضَرِيرُ الْبَصَرِ فَصَلِّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فِي بَيْتِي مَكَانًا أَتَّخِذُهُ مُصَلَّى فَجَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَيْنَ تُحِبُّ أَنْ أُصَلِّيَ فَأَشَارَ إِلَى مَكَانٍ مِنْ الْبَيْتِ فَصَلَّى فِيهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“bahwa [‘Itban bin Malik] selalu menjadi imam shalat bagi kaumnya. Dan pada suatu hari dia berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, sering terjadi malam yang gelap gulita dan jalanan becek sedangkan aku orang yang sudah lemah penglihatan. Untuk itu aku mohon shalatlah Tuan pada suatu tempat di rumahku yang akan aku jadikan tempat shalat. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatanginya di rumahnya. Beliau lalu berkata: “Mana tempat yang kau sukai untuk aku shalat padanya.” Maka dia menunjuk suatu tempat di rumahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian shalat pada tempat tersebut.” (Hadits Bukhari Nomor 627, Hadits Malik Nomor 377, Hadits Ahmad Nomor 15887, dan Hadits Nasai Nomor 780)

Sudah sangat jelas sekali bahwa memilih suatu tempat sebab dirasa lebih nyaman hukumnya tidak diragukan lagi kebolehannya. Namun bilamana golongan Salafy mempersoalkan.

Syubaht Syariat

Terkait mengkhususkan tempat di dalam masjid untuk shalat, golongan Salafi menghukumi makruh. Pendapat ini di dasarkan pada sebuah riwayat hadits berikut,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ نَقْرَةِ الْغُرَابِ وَافْتِرَاشِ السَّبْعِ وَأَنْ يُوَطِّنَ الرَّجُلُ الْمَكَانَ فِي الْمَسْجِدِ كَمَا يُوَطِّنُ الْبَعِيرُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang (sujud dengan cepat) seperti burung gagak mematuk dan (menghamparkan lengan ketika sujud) seperti binatang buas yang sedang membentangkan kakinya dan melarang seseorang menguasai lokasi khusus di Masjid (untuk ibadatnya) sebagaimana unta menempati tempat berderumnya (tidak rela bila ada pihak lain ikut menempatinya).” (Hadits Abu Daud Nomor 731)

Sanggahan; Pelarangan mengkhususkan suatu tempat pada hadits di atas lebih tepat bukan mengkhususkan utuk menempati suatu tempat di dalam masjid. Namun pelarangan tersebut lebih tepat bila menempati suatu tempat dalam lokasi masjid bila dimaksudkan untuk menguasai dan mencegah orang lain ikut menempati.

Di samping itu, melarang dan membid’ahkan memilih dan mengkhususkan suatu tempat untuk beribadah atas dasar lebih menyukai tempat tersbut bertentangan dengan banyak hadist yang membenarkan untuk lebih memilih suatu tempat di bagian dalam lokasi masjid. Sebagaimana Hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

Namun apabila ada sebagian golongan umat Islam seperti golongan Salafi yang mempersoalkan pemilihat tempat yang lebih disukai dengan tuduhan bid’ah, dengan alasan bahwa hal tersebut tidak ada dalilnya atau tidak pernah dicontohkan Nabi. Maka tuduhan itulah sejatinya bid’ah yang nyata. Sebab pengertian (hakikat) bid’ah sejatinya adalah kedustaan atas nama agama dengan melarang atau memerintahkan suatu perkara yang sebetulnya dibebaskan oleh agama. Pengertian ini didasarkan pada sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut,

إِنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوْهَا، وَحَدَّ حُدُوْدًا فَلاَ تَعْتَدُوْهَا، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوْهَا، وَسَكَتَ عَنْ أَشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوْا عَنْهَا (حديث حسن رواه الدارقطني وغيره)

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa kewajiban maka janganlah kalian lalaikan, dan Ia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan kalian lampaui, dan Ia telah mengharamkan beberapa hal, maka jangan kalian langgar, dan Ia telah mendiamkan beberapa hal (tanpa ketentuan hukum) sebagai rahmat bagi kalian bukan karena lupa maka jangan kalian mencari-cari tentang (hukum)-nya” (Hadits hasan diriwayatkan oleh ad-Daaruquthni dan yang lainnya)

Diperkuat dengan makna Hadits berikut,

الْحَلَالُ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَالْحَرَامُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فِي كِتَابِهِ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ مِمَّا عَفَا عَنْهُ

“Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah di dalam kitab-Nya, dan yang haram adalah apa yang diharamkan Allah di dalam kitab-Nya, dan apa yang Dia diamkan adalah sesuatu yang Dia maafkan. “. (HR. Ibnu Majah No. 3358)

Islam itu sangat luas dan leluasa! Jadi sangat salah bila golongan Salafi mempersempit dan mempersulit urusan agama Islam dengan  mudah mengatakan ini tidak boleh dan itu tidak boleh, ini bid’ah dan itu bid’ah tanpa dalil dan hanya menggunakan logika mereka saja. Perhatikan saja jawaban Aisyah yang ditanya cara ibadah Nabi oleh para sahabat Nabi, kemudia Aisyah menjawab bahwa semua model cara ibadah pernah dilakukan Nabi, sebab urusan agama Islam sangat luas dan leluasan. Sebagaimana sebuah riwayat Hadits berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَيْسٍ هُوَ رَجُلٌ بَصْرِيٌّ قَالَ سَأَلْتُ عَائِشَةَ عَنْ وِتْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَيْفَ كَانَ يُوتِرُ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ أَوْ مِنْ آخِرِهِ فَقَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَصْنَعُ رُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ أَوَّلِ اللَّيْلِ وَرُبَّمَا أَوْتَرَ مِنْ آخِرِهِ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً فَقُلْتُ كَيْفَ كَانَتْ قِرَاءَتُهُ أَكَانَ يُسِرُّ بِالْقِرَاءَةِ أَمْ يَجْهَرُ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ قَدْ كَانَ رُبَّمَا أَسَرَّ وَرُبَّمَا جَهَرَ قَالَ فَقُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً قُلْتُ فَكَيْفَ كَانَ يَصْنَعُ فِي الْجَنَابَةِ أَكَانَ يَغْتَسِلُ قَبْلَ أَنْ يَنَامَ أَوْ يَنَامُ قَبْلَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَتْ كُلُّ ذَلِكَ قَدْ كَانَ يَفْعَلُ فَرُبَّمَا اغْتَسَلَ فَنَامَ وَرُبَّمَا تَوَضَّأَ فَنَامَ قُلْتُ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الْأَمْرِ سَعَةً

“dari [Abdullah bin Abu Qais] seorang penduduk Bashrah, ia berkata; Aku bertanya kepada [‘Aisyah] tentang shalat witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; “Bagaimana beliau shalat witir, apakah di permulaan malam atau di akhirnya?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu pernah beliau lakukan, kadang beliau shalat witir di awal malam dan kadang shalat witir di akhirnya.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini, lalu aku bertanya; “Bagaimana bacaan beliau? Apakah beliau membaca lirih atau dengan suara keras?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau membaca lirih dan kadang dengan suara keras.” Aku berkata; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” Aku bertanya lagi; “Bagaimana yang beliau lakukan ketika jinabat? Apakah beliau mandi sebelum tidur atau tidur sebelum mandi?” ‘Aisyah menjawab; “Semua itu juga pernah beliau lakukan, kadang beliau mandi lalu tidur dan kadang wudlu lalu tidur.” Aku menjawab; “Segala puji bagi Allah yang memberikan keleluasaan dalam masalah ini.” (Hadits Tirmidzi Nomor 2848)

Sudah sangat jelas, bahwa dalam agama di samping ada wilayah haram (yang dilarang) dan halal (yang dianjurkan) juga ada wilayah netral (didiamkan). Di mana tata cara pelaksanaan amaliah dan ibadah yang sifatnya netral tersebut hukumnya mubah dan diserahkan sepenuhnya kepada umat Islam.

Sempurnakan pemahaman dengan membaca artikel terkait berikut;

Hakikat Bid’ah

Perbedaan Ibadah, Amal, dan Amal Shalih

Hukum Asal Semua yang Didiamkan (tidak Diatur) Agama Adalah Halal

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Jadi bilama ada segolongan Salafi membid’ahkan pemilihan tempat yang disukai untuk beribadah, dengan begitu mereka telah melakukan bid’ah. Maksud bid’ah di sini adalah bahwa mereka telah berbohong atas nama Agama. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَفْتَرِي الْكَذِبَ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَاذِبُونَ

“Sesungguhnya yang mengada-adakan kebohongan, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah, dan mereka itulah orang-orang pendusta.” (Surat An-Nahl Ayat 105)

Baca Juga;

Membid’ahkan Tanpa Ada Dalil Larangan Yang Spesifik Itu Kedustaan Agama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ. مَتَاعٌ قَلِيلٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. (Itu adalah) kesenangan yang sedikit, dan bagi mereka azab yang pedih.” (Surat An-Nahl Ayat 116-117)

Jadi mudah menuduh bid’ah dengan mudah mengharamkan perkara yang dibebaskan merupakan kelancangan terhadap wewenang Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Surat Al-Hujurat Ayat 1)

Jadi tuduhan mereka yang membid’ahkan pemilihan suatu tempat yang dirasa lebih nyaman dan lebih disukai untuk beribadah merupakan perkara bid’ah yang batal dan batil.

Untuk menyempurnakan pemahaman, baca juga artikel yang terkait berikut,

Tidak Semua yang tidak Ada Dalil Al-Qur’an dan Hadits Adalah Haram

Tidak Semua yang tidak Dicontohkan Nabi adalah Bid’ah

Hukum Asal Semua Hal Boleh Selama Memenuhi Kriteria

Ikhtitam

Dapat disimpulkan bahwa dalam masalah memilih atau mengkhususkan suatu tempat yang disukai untuk digunakan beribadah hukumnya boleh. Sebab banyak Hadits Nabi yang membenarkan akan hal itu, sebagaimana hadits-hadits yang telah disebutkan di atas.

Namun, walaupun semua tempat di atas bumi dan alam semesta diperbolehkan untuk digunakan beribadah, khusus untuk ibadah shalat, dilarang dikerjakan di atas tempat yang telah dikhususkan sebagai kuburan dan kamar mandi. Nabi bersabda,

الْأَرْضُ كُلُّهَا مَسْجِدٌ إِلَّا الْمَقْبَرَةَ وَالْحَمَّامَ قِيلَ لِأَبِي مُحَمَّدٍ تُجْزِئُ الصَّلَاةُ فِي الْمَقْبَرَةِ قَالَ إِذَا لَمْ تَكُنْ عَلَى الْقَبْرِ فَنَعَمْ

“Seluruh bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi.” Abu Muhammad ditanya, “Apakah shalat di kuburan sah?” Ia menjawab, “Selama tidak di atas kuburan maka shalatnya sah.” (Hadits Darimi Nomor 1354)

Hadits di atas menunjukkan bahwa kita sangat dianjurkan menjadikan semua tempat sebagai tempat memuja kepada Allah; shalat, dzikir, do,a dan lain sebagainya. Baik tempat-tempat kita gunakan secara umum maupun sengaja kita khususkan.

Lengkapi pemahaman dengan membaca artikel terkait berikut;

Hukum Mengkhususkan Ibadah dan Amal, atau

Perintah Bersifat Mutlak Dapat Diamalkan dalam Bentuk Khusus

Demikian, semoga bermanfaat, amin. Jazakallah Khair.

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Bagikan Artikel Ini Ke