Rahasia Di Balik Cerita Dalam Al-Qur’an

Oleh: KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad

Ada hikmah dalam cerita begitulah kira-kira. Dalam Al-Qur’an ternyata bukan hanya membahas terkait hukum-hukum syari’ah, namun banyak terdapat kisah-kisah yang dapat diambil pelajaran bagi kita sebagai generasi yang datang belakangan. Diantara hikmah yang dapat kita ambil hikmahnya adalah ada kesuksesan yang telah dapat dicapai oleh kaum-kaum terdahulu dan juga ada kehancuran yang dialami oleh generasi-generasi terdahulu. Kita tinggal meniru apakah ingin hancur binasa atau ingin jaya bermartabat sebagai sebuah kaum. Menceritakan sepak terjang sejarah kejayaan dan kehancuran kaum-kaum terdahulu merupakan perintah, Allah SWT berfirman,

فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

“Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir” (QS. Al A’raf: 176)

Disamping merupakan sebagai perintah, kisah-kisah generasi terdahulu terdapat hikmah untuk menguatkan hati bagi yang mendengarnya, sebagaimana firman Allah

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman” (QS. Huud: 120)

Peneguhan hati dengan kisah Al-Quran ini dapat dipetik manfaat sehingga kita semakin menyempurnakan peradaban kita sebagai manusia dengan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan bangsa-bangsa terdahulu. Banyak petunjuk yang tersimpan dalam banyak kisah dalam Al-Qur’an, baik kisah para nabi, kisah para malaikat, kisah bangsa-bangsa. Namun walaupun telah banyak kisah yang disebutkan dalam Al-Qur’an tidak semua manusia yang dapat mengambil petunjuk dan pelajaran. Hanya mereka yang berakal saja yang dapat mengambil hikmahnya,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal” (Yusuf: 111)

Yang tidak kalah pentingnya adalah dari kisah-kisah dalam Al-Qur’an bukti bahwa Allah memang benar-benar sebagai dzat yang maha kuasa. Dia berkuassa penuh untuk mengangkat martabat sebuah bangsa atau menghinakannya. Kita sebagai pemeran dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Sudah selayaknya kita menerima segala takdir dan ketentuan Allah sehingga apa yang kita lakukan menjadi nilai pahala di sisinya. Hanya ketakwaan dan ketawakkalan kita kepada Allah yang dapat menjaga kehormatan kita sebagai hamba dan makhluqnya. Kehancuran dari sebuah bangsa karena membangkang kepada perintah Allah. Sebagaimana yang Allah firmankan setelah menceritakan sejumlah RasulNya:

وَرُسُلًا قَدْ قَصَصْنَاهُمْ عَلَيْكَ مِنْ قَبْلُ وَرُسُلًا لَمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا رُسُلًا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

“Dan (Kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka Kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. An Nisaa: 164-165).