Jalan Menuju Kemuliaan Akhlaq

Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad


MUQADDIMAH

Puncak dari segala ajaran agama Islam adalah akhlaq, keimanan seseorang dianggap tidak sempurna bilamana akhlaqnya tidak baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HR. Darimi Nomor 2672)

PENGERTIAN

Secara bahasa akhlaq adalah berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Sedangkan menurut istilah di dalam Da’iratul Ma’arif dikatakan;

(الاخلاق هى صفات الانسان الادبية)

 “Akhlak ialah sifat-sifat manusia yang terdidik”

Sedangkan menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menjelaskan,

فَالْخُلُقُ عبَارَةٌ عَنْ هَيْئَة فِي النَّفْسِ رَاسخَةٌ عَنْهَا تَصْدُرُ الْأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إلَى فِكْرٍ وَرِؤْيَةٍ

“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan[1].”

Dan  menurut Ibrahim Anis dalam Mu’jam Al-Wasith disebutkan,

(اَلْخُلُقُ) حَالٌ لِلنَّفْسِ رَاسِخَةٌ تَصْدُرُ عَنْهَا الْأَفْعَالُ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرُؤْيَةٍ

“Akhlak adalah sifat yang tertanam dalam jiwa, yang denganya lahirlah macam-macam perbuatan, baik atau buruk, tanpa membutuhkan pikiran dan pertimbangan.”

Jadi esensi akhlak adalah suatu sifat yang telah tertanam dalam jiwa dan telah menjadi karakter sebagai pemicu timbulnya berbagai macam perbuatan baik atau buruk dengan cara spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran.

Walaupun pada esensinya sama, namun ada sedikit perbedaan antara akhlak, moral dan etika, yaitu dalam etika: Untuk menentukan nilai perbuatan manusia baik atau buruk menggunakan tolak ukur akal pikiran atau rasio, sedangkan dalam moral dan susila menggunakan tolak ukur norma-norma yang tumbuh dan berkembang dan berlangsung dalam masyarakat (adat istiadat), dan dalam akhlaq menggunakan ukuran Al-Qur’an dan Hadis untuk menentukan baik-buruknya[2].

PENJELASAN

Ajaran Islam tidak hanya mengenai syariat saja yang mengajarkan tentang halal dan haram sebagaimana yang difahami oleh kalangan awam. Sebaliknya, ajaran Islam sangat luas, universal, dan meliputi banyak hal. Di antaranya tentang keimanan, kemanusiaan, lingkungan hidup, siyasah, ekonomi, peradaban, inovasi teknologi, kemajuan bangsa, filsafat, tasawwuf, sejarah (kisah-kisah), hikmah, dan juga mengenai akhlaq mulia.

Bahkan sebetulnya ajaran Islam terkait syariat porsinya lebih sedikit dibandingkan dengan ajaran Islam mengenai kisah-kisah teladan dan akhlaq mulia. Itu nampak bertebaran di dalam Al-Qur’an dan Hadits bila kita mau mempelajarinya.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf: 111)

Bahkan bisa dikatakan ajaran Islam mengenai akhlaq mulia lebih penting dan diutamakan dibandingkan umat Islam mempelajari mengenai syariat. Sebagaimana sebuah Hadits yang disabdakan oleh Nabi SAW,

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأََخْلاَقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq yang mulia”. (HR. Ahmad, Hakim, dll)

Bahkan lebih fundamental lagi ketika tolak ukur aqidah dan keimanan seorang muslim ternyata tidak diukur dari kehebatan syariat dan ibadah seseorang, melainkan diukur dari akhlaq seseorang. Akhlaq yang baik itu sebagai bukti dari keimanan yang kuat, sedangkan akhlaq yang buruk sebagai bukti dari iman yang lemah. Semakin sempurna akhlaq seorang muslim berarti semakin kuat imannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. (HR. Tirmidzi Nomor 1082)

Kenapa akhlaq lebih penting dibandingkan syariat, dikarenakan syariat dan terutama ibadah hanya berhubungan dengan Allah saja, sedangkan akhlaq hubungannya dengan orang-orang sekitarnya.

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِنَ النَّاسِ وَبَاءُوا بِغَضَبٍ مِنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا يَكْفُرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَيَقْتُلُونَ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (berhubungan baik dengan) Allah dan tali (berhubungan baik) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. (QS. Ali ‘Imran: 112)

Walaupun seseorang tidak berdosa terhadap Allah, namun ia berdosa dan masih tersangkut persoalan dengan orang lain maka Allah sendiri belum bisa memberikan keputusan di dalam akhiratnya. Nabi bersabda,

كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ وَضَعَ رَاحَتَهُ عَلَى جَبْهَتِهِ ثُمَّ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ مَاذَا نُزِّلَ مِنْ التَّشْدِيدِ فَسَكَتْنَا وَفَزِعْنَا فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ سَأَلْتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نُزِّلَ فَقَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ رَجُلًا قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ أُحْيِيَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ دَيْنُهُ

“Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian beliau mendongakkan kepala beliau ke langit kemudian beliau meletakkan telapak tangan beliau pada kening beliau kemudian bersabda: “Subhanallah, apakah yang telah diturunkan dari sikap keras?” kemudian kami diam dan terkejut. Kemudian setelah besok harinya saya bertanya kepada beliau; “Wahai Rasulullah, sikap keras apakah yang telah diturunkan ini? Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tanganNya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh, kemudian dihidupkan, kemudian terbunuh dan ia memiliki tanggungan hutang maka ia tidak akan masuk Surga hingga terbayarkan hutangnya.” (HR. Nasai Nomor 4605)

Lebih berat berbuat dosa kepada orang lain dibandingkan berdosa kepada Allah, karena Allah maha pengasih dan penyayang. Dengan begitu, walaupun ibadah seseorang kepada Allah baik namun ahklaq seseorang kepada orang lain buruk tidak jarang Allah mengatakan akan menghapus pahala ibadah seseorang. Itu berarti ibadah yang tekun seseorang kepada Allah akan dianggap sia-sia bilamana akhlaq seseorang kepada manusia lainnya buruk. Sebagaimana digambarkan dalam sabda Nabi berikut,

أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ قَالُوا الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ

“Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?” Para sahabat menjawab; ‘Menurut kami, orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki uang dan harta kekayaan.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya umatku yang bangkrut adalah orang yang pada hari kiamat datang dengan shalat, puasa, dan zakat, tetapi (akhlaqnya buruk karena) ia selalu mencaci-maki, menuduh, dan makan harta orang lain serta membunuh dan menyakiti orang lain. Setelah itu, pahalanya diambil untuk diberikan kepada setiap orang dari mereka hingga pahalanya habis, sementara tuntutan mereka banyak yang belum terpenuhi. Selanjutnya, sebagian dosa dari setiap orang dari mereka diambil untuk dibebankan kepada orang tersebut, hingga akhirnya ia dilemparkan ke neraka.’ (HR. Muslim Nomor 4678)

Walaupun syariat dan ibadahnya baik, namun perilakunya buruk maka Allah tetap akan menyiksanya di neraka. Begitu tingginya kedudukan akhlaq dalam ajaran agama Islam yang melebihi kedudukan keimanan, syariat, dan urusan ibadah. Bahkan dikatakan akhlaq mulia bukan hanya kepada Allah dan sesama manusia, melainkan akhlaq juga berlaku kepada sesama makhluq seperti binatang dan tumbuhan. Sebagaimana sabda Nabi,

عُذِّبَتْ امْرَأَةٌ فِي هِرَّةٍ حَبَسَتْهَا حَتَّى مَاتَتْ جُوعًا فَدَخَلَتْ فِيهَا النَّارَ قَالَ فَقَالَ وَاللَّهُ أَعْلَمُ لَا أَنْتِ أَطْعَمْتِهَا وَلَا سَقَيْتِهَا حِينَ حَبَسْتِيهَا وَلَا أَنْتِ أَرْسَلْتِهَا فَأَكَلَتْ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ

“Ada seorang wanita disiksa disebabkan mengurung seekor kucing hingga mati kelaparan lalu wanita itupun masuk neraka”. Nafi’ berkata; Beliau berkata: “Sungguh Allah Maha Mengetahui bahwa kamu tidak memberinya makan dan minum ketika engkau mengurungnya dan tidak membiarkannya berkeliaran sehingga dia dapat memakan serangga tanah”. (HR. Bukhari Nomor 2192)

Jangankan berakhlaq mulia kepada manusia, kepada binatangpun kita diwajibkan memperlakukan dengan baik. Nabi bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu dan senangkanlah hewan sembelihanmu.” (HR. Muslim Nomor 3615)

Akhlaq mulia merupakan bagian dari amal shalih yang dapat menambah keimanan dan menambah bobot dalam timbangan amal pemiliknya, dan menjadi penyebab seseorang masuk surga. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَا شَيْءٌ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُبْغِضُ الْفَاحِشَ الْبَذِيءَ

“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin kelak pada hari kiamat daripada akhlak yang baik. Sesungguhnya Allah amatlah murka terhadap seorang yang keji lagi jahat.” (HR. Tirmidzi Nomor 1925)

Tidak kalah penting adalah karena kedudukan akhlaq mulia sangat agung, maka akhlaq mulia akan terasa sulit dilakukan oleh orang-orang munafiq. Nabi bersabda,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَصْلَتَانِ لَا تَجْتَمِعَانِ فِي مُنَافِقٍ حُسْنُ سَمْتٍ وَلَا فِقْهٌ فِي الدِّينِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua hal yang tidak akan berkumpul pada diri orang munafik, yaitu; akhlaq yang baik dan pemahaman dalam masalah agama.” (HR. Tirmidzi Nomor 2608)

 

KEUTAMAAN AKHLAQ

Orang berakhlak lebih dicintai Allah

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَبَّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبَكُمْ مِنِّي فِي الْآخِرَةِ مَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي فِي الْآخِرَةِ مَسَاوِيكُمْ أَخْلَاقًا الثَّرْثَارُونَ الْمُتَفَيْهِقُونَ الْمُتَشَدِّقُونَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada hari kiamat orang paling saya cintai dan yang paling dekat denganku dari kalian adalah orang yang paling baik akhlaknya di antara kalian. Sedangkan orang yang saya benci dan paling jauh denganku dari kalian kelak di akhirat adalah orang yang paling buruk akhlaknya di antara kalian. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan suka mencemooh manusia dengan kata-katanya.” (HR. Bukhari Nomor 3476, Ahmad Nomor 17066. Redaksi milik Ahmad)

Akhlaq baik menjadi penyebab terbanyak manusia masuk surga

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, maka beliau pun menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia.” Dan beliau juga ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan orang ke dalam neraka, maka beliau menjawab: “Mulut dan kemaluan.” Abu Isa berkata; Ini adalah hadits shahih gharib. Abdullah bin Idris adalah Ibnu Yazid bin Abdurrahman Al Audi.” (HR. Tirmidzi Nomor 1927)

Akhlaq baik akan berkembang (mendatangkan lebih banyakn kebaikan)

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُسْنُ الْخُلُقِ نَمَاءٌ وَسُوءُ الْخُلُقِ شُؤْمٌ وَالْبِرُّ زِيَادَةٌ فِي الْعُمُرِ وَالصَّدَقَةُ تَمْنَعُ مِيتَةَ السَّوْءِ

“Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Akhlaq yang baik akan berkembang, dan akhlaq yang buruk adalah tercela, kebaikan adalah menambah umur dan sedekah mencegah dari bangkai keburukan.” (HR. Ahmad Nomor 15499)

Akhlaq lebih utama dibanding rupa dan harta benda

إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim Nomor 4651)

Pahala akhlaq mulia derajatnya lebih tinggi dengan shalat malam dan puasa,

مَا مِنْ شَيْءٍ يُوضَعُ فِي الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلَاةِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

“Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.” Berkata Abu Isa: Ini merupakan hadits gharib melalui jalur ini. (HR. Tirmidzi Nomor 1926)

Dibalas pahala besar bagi mereka yang senantiasa berakhlaq baik

۞ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (QS. Yunus: 26)

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Baqarah: 195)

PEMBAGIAN AKHLAQ

Akhlaq bukan hanya didominasi akhlaq mahmudah (baik) melainkan juga ada akhlaq madzmumah (buruk), berikut penjelasannya;

Pertama, Akhlaq mahmudah adalah tingkah laku terpuji sebagai tanda keimanan seseorang yang dapat menyebabkan kebaikan dan kemanfaatan terhadap pihak lain, baik kepada orang lain, kepada Allah, kepada sesama lingkungan hidupnya, dan bahkan minimal terhadap dirinya sendiri.

Kedua, Akhlaq madzmumah adalah tingkah laku tercela sebagai penyebab kerusakan iman seseorang yang dapat menyebabkan kerusakan dan kerugian terhadap pihak lain, baik kepada orang lain, kepada Allah, kepada lingkungan hidupnya, dan bahkan minimal terhadap dirinya sendiri.

Pembagian akhlaq tersebut sejalan dengan sabda nabi,

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَبْلُغَ بِحُسْنِ خُلُقِهِ عَظِيْمَ دَرَجَاتِ الْأَخِرَةِ وَأَشْرَفَ الْمَنَازِلِ وَإِنَّهُ لِضَعِيْفِ الْعِبَادَةِ لَيَبْلُغَ بْسُوْءِ خُلُقِهِ أَسْفَلَ دَرَجَةٍ فِى جَهَنَّمَ

“Sesungguhnya manusia yang berakhlak mulia dapat mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di Akhirat. Sesungguhnya orang yang lemah ibadahnya akan menjadi buruk perangai dan akan mendapat derajat yang rendah di neraka Jahanam.” (HR. Thabrani)

 

Sebagian contoh akhlak mahmudah sebagai berikut:

  1. Sabar, adalah mampu menahan diri atau mampu mengendalikan amarah.
  2. Ikhlas, adalah mengejakan sesuatu amal hanya semata-mata karena Allah, yakni harus mengharap ridho-Nya.
  3. Jujur, adalah mengatakan sesuatu itu dengan apa adanya dan harus dengan hati yang lurus.
  4. Pemaaf, adalah orang yang memberikan maaf kepada peminta maaf yang menyadari kesalahannya.
  5. Pemurah, adalah sikap seseorang yang ringan untuk mengeluarkan sebagian hartanya untuk kepentingan orang lain,
  6. Menepati janji, adalah orang yang datang ketempat yang sudah disepakati sebelumnya.
  7. Berperilaku lembut terhadap orang lain dan lingkungannya.
  8. Menjaga kelestarian alam sebagai sumber hidupnya.
  9. Berperangai, bersikap, dan berbicara lemah lembut.
  10. Dan masih banyak lagi jenis dan ragam dari akhlaq mulia.

Sebagian contoh akhlak madzmumah sebagai berikut:

  1. Ujub adalah mengagumi kemampuan dirinya sendiri.
  2. Takabur adalah membanggakan diri karena dirinya merasa lebih dari pada yang lain.
  3. Riya’ adalah beramal baik dan bermaksud ingin memperoleh pujian orang lain.
  4. Sum’ah, adalah berbuat atau berkata agar didengar orang lain sehingga namanya jadi terkenal.
  5. Malas adalah enggan atau tidak mau melakukan sesuatu.
  6. Tamak (serakah) adalah terlalu bernafsu untuk memiliki sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri.
  7. Dendam adalah keinginan untuk membalas kejahatan yang dilakukan orang lain atas dirinya.
  8. Iri hati adalah perasaan tidak senang apabila melihat orang lain mendapat kesenangan.
  9. Fitnah adalah berita bohong atau desas- desus tentang seseorang dengan maksud yang tidak baik.
  10. Penipuan adalah perkataan atau perbuatan tidak jujur dengan maksud menyesatkan seseorang dan mencari untung dari perbuatannya tersebut.
  11. Bohong adalah dusta, berarti tidak sesuaidengan keadaan yang sebenarnya.
  12. Khianat adalah perbuatan tidak setia terhadap pihak lain.
  13. Bakhil adalah perasaan tidak rela memberikan sesuatu kepada orang lain atau untuk kepentingan agama.
  14. Takut miskin adalah rasa cemas akan menderita hidupnya karena kekurangan harta.
  15. Ananiyah (aninah) yaitu sifat keakuan atau egoisme (QS. Lukman: 18).
  16. Ghodob yaitu emosi, keras, kasar atau bisa diartikan marah. Sedangkan secara istilah yaitu sikap yang mudah marah dikarenakan perlakuan orang lain walaupun secara umum tidak menyebabkan marah. Hadist Nabi menjelaskan: “Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam berkelahi, tetapi orang yang kuat  ialah orang yang dapat menguasai dirinya di waktu marah ” (HR. Bukhari).
  17. Hasad (Dengki) Secara Bahasa hasad yaitu menaruh perasaan benci kepada orang lain atas keberuntungan yang di dapat oleh orang lain. Sedangkan secara istilah Hasad yaitu sikap dimana mempengaruhi seseorang untuk membenci orang yang memperoleh keberuntungan atau disebut juga profokator. Akibat buruk dari Perilaku tercela ini yaitu menjadikan perpecahan antar sesama di dalam kehidupan bermasyarakat. Hadist Nabi : ”Jauhilah oleh mu dari sifat Hasad, karena hasad itu akan memakan kebaikan, sebagaimana api memakan kayu bakar ” (HR. Abu Dawud).
  18. Ghibah merupakan membicarakan kejelekan atau keburukan orang lain,ini merupakan pengertian secara bahasa. sedangkan secara istilah yaitu membicarakan kejelekan orang lain dengan maksud mencari kesalahan. Perbuatan ini merupakan perilaku tercela yang sangat dilarang karena dapat menyebabkan kerugian terhadap orang lain. “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu menggunjing sebagian orang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaramu yang telah mati, (pasti) kamu merasa jijik. ” (QS. Al-Hujurat ayat 12)
  19. Namimah yaitu mengadu domba. Sedangkan secara istilah yaitu sikap memfitnah dua orang atau lebih dengan tujuan supaya saling bermusuhan. Orang yang suka melakukan namimah tergolong orang yang fasek.
  20. Berperilaku kasar terhadap orang lain dan lingkungannya.
  21. Merusak kelestarian alam sebagai sumber hidupnya.
  22. Berperangai dan berbicara nada kasar dan keras.
  23. Dan masih banyak lagi jenis dan ragam dari akhlaq tercela.

Contoh-contoh akhlaq di atas sesuai dengan sabda Nabi dalam Haditsnya berikut,

Seseorang disebut muslim bila lisan dan tangannya terjaga,

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

“Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari Nomor 9, dan Muslim Nomor 58)

Dikatakan akhlah baik walaupun hanya sekedar bermanis muka,

لَا تَحْقِرَنَّ مِنْ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ

“Janganlah kamu menganggap remeh sedikitpun terhadap kebaikan, walaupun kamu hanya bermanis muka kepada saudaramu (sesama muslim) ketika bertemu.” (HR. Muslim Nomor 4760)

Diam pun merupakan akhlaq bilamana dikhawatirkan ucapan kita berpotensi melukai perasaan orang lain. Nabi bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari Nomor 5673, Muslim Nomor 3255, dan Ahmad Nomor 15775)

Seseorang dianggap beriman bila tetangganya merasa aman dari gangguannya,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ تَابَعَهُ شَبَابَةُ

“bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman.” Ditanyakan kepada beliau; “Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?” beliau bersabda: “Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya.” (HR. Bukhari Nomor 5557)

Akhlaq mulia bila kita senantiasa berperilaku lemah lembut,

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali ‘Imran: 159)

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لَا يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda: “Hai Aisyah, sesungguhnya Allah itu Maha Lembut. Dia mencintai sikap lemah lembut. Allah akan memberikan pada sikap lemah lembut sesuatu yang tidak Dia berikan pada sikap yang keras dan juga akan memberikan apa-apa yang tidak diberikan pada sikap lainnya.” (HR. Muslim Nomor 4697)

Sikap santun dan rasa malu bagian dari akhlaq mulia,

إِنَّ فِيكَ خُلَّتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلْتُ مَا هُمَا قَالَ الْحِلْمُ وَالْحَيَاءُ

“Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang keduanya dicintai oleh Allah ‘azza wajalla.” Saya bertanya, “Sifat apakah itu?” beliau menjawab, “Al Hilmu (santun) dan rasa malu.” (HR. Ahmad Nomor 17160)

Sikap lemah lembut dan berhati-hati bagian dari akhlaq mulia,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِأَشَجِّ عَبْدِ الْقَيْسِ إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالْأَنَاةُ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Asyaj bin Abdil Qais: “Sesungguhnya pada dirimu terdapat dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu, lemah lembut dan sifat kehati-hatian.” (HR. Tirmidzi Nomor 1934)

DAMPAK AKHLAQ TERCELA

Jagalah sikap dan perilaku kita sebagai bentuk kesempurnaan iman kita. Di samping itu bila kita bersikap buruk, niscaya tidak sedikit dampak buruk yang akan kita dapatkan. Di antaranya,

  1. Bahaya bagi diri sendiri; a. Mendapat adzab atau dosa dari Allah SWT. b. Dibenci orang oleh lain. c. Hidupnya tidak tenang.
  2. Bahaya bagi orang lain; a. Terjadinya penderitaan. b. Terjadinya permusuhan. c. Terjadinya kerusuhan. d. Terjadinya keresahan.
  3. Bahaya bagi lingkungan hidup; a. Kerusakan alam, dan b. Bencana alam.

DOA MENJAGA AKHLAQ MULIA

Agar perilaku dan sikap kita senantiasa baik, maka kita dianjurkan menjaganya dengan diamalkan dan juga dengan doa. Nabi bersabda,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ

“(Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu).” (HR. Tirmidzi Nomor 3515)


[1] Imam Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Dar al-Khari

[2] Mubarak, Zakky, dkk. 2008. Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi, Buku Ajar II, Manusia, Akhlak, Budi Pekerti dan Masyarakat. Depok: Lembaga Penerbit FE UI.Hlm. 20-39