Haram Berdalil Menggunakan Al-Qur’an Dan Hadits Tanpa Ilmu

Daftar Isi

Diasuh Oleh KH. Ainur Rofiq Sayyid Ahmad*

PERTANYAAN:

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Akhir-akhir ini kita sering menjumpai seseorang yang mempersoalkan amaliyah yang kita lakukan dengan sedikit-sedikit mempertanyakan mana dalilnya? Mana haditsnya? Padahal kita mengamalkan itu atas petunjuk seorang ulama dengan dalil-dalil yang telah disampaikan saat pengajian atau ta’lim walaupun akhirnya kita lupa atau tidak hafal. Yang mau saya tanyakan;

  1. Apakah benar apa yang dia katakan “mana dalilnya”? Ketika saya juga tahu bahwa dia juga orang awam yang hanya meniru omongan orang lain, padahal dia sendiri juga saya tahu sebelumnya tidak pernah mendalamai agama Islam seperti di pesantren atau pada seorang ulama tertentu.
  2. Apakah benar setiap orang boleh berdalil dari potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits?
  3. Apakah batal hukumnya beramal ibadah hanya mendapat petunjuk dari seorang ulama tanpa menghafal dalilnya sendiri?
  4. Apakah setiap amalan ibadah harus ada dalil Al-Qur’an dan Haditsnya?
  5. Apakah benar setiap amalan kita pasti ada dalil Al-Qur’an dan Haditsnya?

JAWABAN:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

  1. Kuranglah tepat ketika seseorang selalu mempersoalkan setiap amalan umat Islam dengan dalih “mana dalilnya”, sedangkan amalan tersebut sudah menjadi kesepakatan jumhur (mayoritas) ulama, baik telah disepakati “bukan masuk kategori pokok perkara khilafiyah” maupun telah disepakati “masuk kategori pokok perkara khilafiyah”. Apalagi yang mempersoalkan tidak memiliki basic keagamaan Islam yang mumpuni (awam).
  2. Haram bagi orang awam berdalil langsung menggunakan dzahirnya teks Al-Qur’an dan Hadits. Begitu juga haram hukumnya bagi seorang awam mudah berdalil menggunakan potongan-potongan Al-Qur’an Dan Hadits tanpa memiliki dasar keilmuan seperti tata bahasa Arab maupun ilmu ushul fiqih. Dan haram juga hukumnya berdalil dengan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits tanpa mempertimbangkan fatwa-fatwa para ulama mujtahid. Namun sebaliknya boleh berdalil menggunakan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits bila disertai rujukan dari fatwa para ulama imam madzhab, kalau tidak maka hukumnya berdosa karena telah membentur-benturkan satu dalil dengan dalil lainya, dan juga menyelisihi fatwa para ulama jumhur (kredibel), dan beresiko menimbulkan fitnah agama. Sebagaimana sabda Nabi,

خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ وَهُمْ يَخْتَصِمُونَ فِي الْقَدَرِ فَكَأَنَّمَا يُفْقَأُ فِي وَجْهِهِ حَبُّ الرُّمَّانِ مِنْ الْغَضَبِ فَقَالَ بِهَذَا أُمِرْتُمْ أَوْ لِهَذَا خُلِقْتُمْ تَضْرِبُونَ الْقُرْآنَ بَعْضَهُ بِبَعْضٍ بِهَذَا هَلَكَتْ الْأُمَمُ قَبْلَكُمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menjumpai para sahabatnya yang sedang berdebat tentang takdir. Maka seakan-akan wajah beliau seperti buah delima karena marah. Beliau lalu bersabda: ” Apakah untuk ini kalian diperintahkan, atau beliau mengatakan, “untuk inikah kalian diciptakan! Kalian benturkan sebagian potongan Al Qur’an dengan sebagian potongan yang lain. Karena hal inilah (berdalil dengan potongan Al-Qur’an) kaum sebelum kalian binasa.” (HR. Ibnu Majah Nomor 82)

  1. Hukumnya tidak batal, bahkan bagi seorang awam bila beramal ibadah wajib mengikuti rujukan fatwa para jumhur ulama (ulama kredibel) tidak boleh atau haram hukumnya berdalil langsung menggunakan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits tanpa didasari ilmu yang mumpuni.
  2. Tidak mesti setiap amalan dapat dijumpai dalilnya yang bersifat detail tekstual dalam Al-Qur’an dan Hadits, sebagaimana contoh persoalan zakat yang menggunakan beras atau sagu. Dalam hal kemudia umat Islam di belahan bumi lainnya berzakat menggunakan beras itu tidak menggunakan dalil Al-Qur’an maupun Hadits, karena memang di dalam keduanya tidak ada atau tidak tercantum. Lalu kalau di dalam keduanya tidak tercantum menggunakan dasar apa kita berzakat menggunakan beras, padahal nabi menggunakan kurma, anggur, gandum, atau keju saja? Jawabannya menggunakan dasar fatwa dari hasil ijtihad qiyas ulama madzhab. Ini hanya sebagian bukti saja bahwa dalam beramaliah dalam agama Islam tidak musti ada dalil tekstual dalam Al-Qur’an maupun Hadits.
  3. Bila pertanyaan yang dimaksud setiap tema amalan ibadah ada dalil teks lafadznya dari Al-Qur’an dan Haditsnya secara terperinci atau detail itu tidak mesti ada, karena tidak setiap tema pesoalan tercantum secara terprinci dalam Al-Qur’an dan Hadits. Biasanya Al-Qur’an mencantumkan tema-tema setiap persoalan tersebut bersifat ijmali (global/universal).

وَ السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

MARAJI’:

Begitu agungnya kedudukan Al-Qur’an sebagai sumber hukum utama bagi umat Islam,

وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl: 89)

Allah bukan hanya membenarkan Al-Qur’an hanya berdasar klaim sepihak saja, namun Allah membuka kesempatan kepada siapapun untuk memverifikasi secara ilmiah apakah betul kebenaran Al-Qur’an dan keotentikannya berasal dari Allah, bilamana secara ilmiah dapat dijumpai kejanggalan sedikitpun dari Al-Qur’an tentunya secara keseluruhan runtuhlah kedudukan Al-Qur’an sebagai sebuah kitab suci pedoman umat Islam. Namun faktanya hingga saat ini belum ada satu pihakpun yang dapat meruntuhkan kedudukan Al-Qur’an sebagai kitab pedoman, hal ini sudah digambarkan sangat jelas dalam firman-Nya,

أَمْ يَقُولُونَ افْتَرَاهُ ۖ قُلْ فَأْتُوا بِسُورَةٍ مِثْلِهِ وَادْعُوا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Atau (patutkah) mereka mengatakan “Muhammad membuat-buatnya”. Katakanlah: “(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar”. (QS. Yunus: 38)

Sebaliknya Al-Qur’anlah yang menjadi virifikator keotentikan kitab-kitab suci sebelumnya dan fakta ilmiahnya kitab-kitab sebelumnya seperti Injil dan taurat ditemukan banyak kejanggalan disebabkan telah mengalami gubahan, Allah menggambarkan dalam firman-Nya,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلَا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۖ فَبِئْسَ مَا يَشْتَرُونَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,” lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan harga yang sedikit. Amatlah buruknya tukaran yang mereka terima. (QS. Surat Ali ‘Imran: 187)

Diantara gubahan yang paling keras diprotes oleh Al-Qur’an adalah gubahan kaum Nasrani tentang tuhan menjadi tiga (trinitas), sebagaimana firman Allah SWT,

يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انْتَهُوا خَيْرًا لَكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا

“Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (QS. An-Nisa’: 171)

Sehingga ketika secara faktual banyak kejanggalan dalam Al-Kitab disebabkan terjadi gubahan dari para pengikut Nasrani dan Yahudi, maka tidak ada alasan lagi bagi umat manusia untuk tidak ragu menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab pedoman satu-satunya disebabkan keotentikannya, Allah SWT berfirman,

وَمَا كَانَ هَٰذَا الْقُرْآنُ أَنْ يُفْتَرَىٰ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلَٰكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ الْكِتَابِ لَا رَيْبَ فِيهِ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

“Tidaklah mungkin Al-Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam”. (QS. Yunus: 37)

Di samping keotentikan Al-Qur’an telah terbukti secara ilmiah, salah satu keagungannya lagi adalah bahwa semua tema kehidupan sudah lengkap tercantum dalam Al-Qur’an, sebagaimana firmannya,

مَا فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ

“Tiadalah Kami alpakan (terlewatkan) sesuatupun dalam Al-Kitab, kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS. Al-An’am: 38)

Dalam ayat lainnya disebutkan,

وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا

“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Isra’ Ayat 12)

Disebabkan kesempurnaan Al-Qur’an yang dipandang bahwa ia dijamin otentik dan lengkap, maka tiada lain bahwa kedudukan sebagai penjelas atas apa yang telah diperelisihkan oleh umat sekarang maupun umat-umat sebelumnya, Allah berfirman,

وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ ۙ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Qur’an) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. An-Nahl: 64)

Walaupun secara prinsip setiap tindakan umat Islam harus berpedoman kepada Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utama hukum agama Islam. Namun persoalannya adalah terkadang tidak setiap persoalan dapat langsung merujuk kepada dzahirnya teks-teks Al-Qur’an dan Hadits disebabkan beberapa hal berikut ini;

  1. Terlalu tingginya bahasa Al-Quran karena ia merupakan kalam Ilahi atau Tuhan yang bersifat universal, serta keterbatasan kemampuan manusia untuk dapat sepenuhnya memahami. Allah sendiri yang mengatakan bahwa manusia merupakan makhluq yang dho’if, Allah berfirman’

وَخُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفاً

“Karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” (QS.An-Nisa’:28)

  1. Tidak semua mampu memahami Al-Qur’an yang berbahasa Arab

Allah memilih bahasa Arab sebagai bahasa kitab suci-Nya bukan tanpa alasan, melainkan karena Allah bermaksud sedang menguji keimanan manusia apakah mereka benar-benar mau mendalami bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an sebagai kalam Ilahi. Namun kenyataannya banyak orang yang tersesat karena tidak memahami Al-Qur’an yang berbahasa Arab. Allah berfirman,

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ. وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ. نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ. عَلَىٰ قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ. بِلِسَانٍ عَرَبِيٍّ مُبِينٍ. وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الْأَوَّلِينَ. أَوَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ آيَةً أَنْ يَعْلَمَهُ عُلَمَاءُ بَنِي إِسْرَائِيلَ. وَلَوْ نَزَّلْنَاهُ عَلَىٰ بَعْضِ الْأَعْجَمِينَ. فَقَرَأَهُ عَلَيْهِمْ مَا كَانُوا بِهِ مُؤْمِنِينَ. كَذَٰلِكَ سَلَكْنَاهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ

“Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang. Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar (tersebut) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? Dan kalau Al Quran itu Kami turunkan kepada salah seorang dari golongan bukan Arab, lalu ia membacakannya kepada mereka; niscaya mereka tidak akan beriman kepadanya (sebab perbedaan bahasa). Demikianlah Kami masukkan Al Quran ke dalam hati orang-orang yang durhaka. (QS. Asy-Syu’ara’: 191-200)

Sehingga, dengannya (bahasa Arab) Allah telah menyesatkan sebagian manusia dan juga dengannya Allah telah memberi hidayah pada sebagian manusia lainnya, Allah berfirman,

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)

  1. Tidak semua penjelasan Al-Qur’an disampaikan secara rinci, melainkan seringkali Allah menyampaikan firman-Nya menggunakan perumpamaan-perumbamaan sebagai bentuk ujian bagi manusia,

۞ إِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَحْيِي أَنْ يَضْرِبَ مَثَلًا مَا بَعُوضَةً فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا فَيَقُولُونَ مَاذَا أَرَادَ اللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًا ۘ يُضِلُّ بِهِ كَثِيرًا وَيَهْدِي بِهِ كَثِيرًا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِ إِلَّا الْفَاسِقِينَ. الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: “Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?”. Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al-Baqarah Ayat 26)

  1. Di samping itu, karena terlalu tingginya bahasa Al-Qur’an tidak jarang Allah menyampaikan firman-Nya sendiri menggunakan bahasa tuhan. Maksud dari bahasa tuhan adalah sebuah bahasa di mana Allah sendiri yang mampu memahaminya, tanpa sedikitpun manusia diberi kesempatan dan kemampuan untuk ikut memahaminya, seperti sebagian firman-firman-Nya berikut,
 NO. FAWATIH AL-SUWAR NAMA SURAT
1. الم Al-Baqarah, Ali Imran, al-Ankabut, al-Rum, Luqman dan al-Sajadah
2. المص Al-A’raf
3. الر Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, al-Hijr
4. المر Al-Ra’d
5. كهيعص Maryam

Bila ditanya siapakah yang mampu memahami ayat-ayat di atas, maka jawabannya tidak satupun manusia diberi izin untuk dapat memahami walaupun nabi itu sendiri. Ini bukti bahwa begitu tingginya kedudukan Al-Qur’an sehingga tidak semuanya firman-firman Allah dapat difahami oleh manusia.

  1. Allah memang sengaja menyembunyikan sebagaian maknanya untuk mengetahui siapa-siapa dari hambanya yang berani melawan tuhannya.

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ

“Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat (jelas), itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat (tidak jelas). Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat (tidak jelas) daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah….. (QS. Ali ‘Imran Ayat 7)

Ini semakin menegaskan kepada kita bahwa tidak semua orang diberi kemampuan dan ilham untuk memahami kalam-kalam ilahi, hanya orang-orang yang telah dipilih Allah yang mampu memahami firman-firman-Nya. Allah berfirman,

وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

“….Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat (tidak jelas), semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (berilmu). (QS. Ali ‘Imran Ayat 7)

  1. Ilmu Allah tidak hanya terbatas yang tercantum di dalam Al-Qur’an

Terlalu sempit bila ada orang awam mengatakan bahwa ilmu Allah hanya apa yang tertulis di dalam Al-Qur’an saja. Terlalu sempit dan terbatas sebuah Al-Qur’an yang hanya 30 juz tersebut mampu memuat ilmu Allah yang sangat luas, sebagaimana Allah sendiri yang mengatakan hal itu dalam firman-Nya,

قُلْ لَوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَنْ تَنْفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا

“Katakanlah (wahai Muhammad), “Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat (Al-Qur’an) Rabbku, sungguh habislah lautan itu sebelum kalimat-kalimat (Al-Qur’an) Rabbku habis (ditulis), meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). (QS. Al-Kahfi[18]: 109)

Fakta ini tidak dapat tertolak, Allah sendiri yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu sangat terbatas untuk memuat ilmu Allah yang tanpa batas. Tidak cukup mempelajari dan mencari ilmu Allah hanya dari Al-Qur’an. Kita dianjurkan disamping mempelajari ilmu Allah dari Al-Qur’an juga kita dianjurkan mempelajari ilmu Allah di luar Al-Qur’an yang berbentuk alam semesta. Namun ada saja dari umat Islam yang berfikiran sempit, mereka menolak mencari pelajaran dari luar Al-Qur’an dengan mengatakan semua persoalan cukup hanya dengan Al-Qur’an dan mengatakan apapun di luar Al-Qur’an Al-Qur’an merupakan ilmu thogut. Padahal Allah sendiri yang menganjurkan kita mencari dan mengembangkan ilmu Allah yang berbetuk alam semesta ini dengan segala kejadiannya,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali ‘Imran: 191)

Ketidak jelasan sebagian makna Al-Qur’an dan terbatasnya ilmu Allah yang tertuang dalam Al-Qur’an bukan karena rendahnya kedudukan Al-Qur’an, melainkan terlalu tingginya kalam ilahi dan terlalu luasnya ilmu Allah di luar Al-Qur’an yang berwujud alam semesta serta terlalu lemah dan terbatasnya kemampuan manusia. Sebagian besar orang awam ketika mengatakan bahwa Al-Qur’an dan Hadits sangat sempurna, seakan-akan mereka berimajinasi bahwa kita sebagai manusia sudah tidak perlu untuk menggali pelajaran dari luar Al-Qur’an dan Sunnah. Ketika imajinasi mereka akan kesempurnaan Al-Qur’an dan Hadits dengan serta merta mereka beranggapan bahwa segala hal sudah diterangkan dan dicantumkan secara rinci dan detail dalam Al-Qur’an dan Hadits. Padahal pemahaman ini tidaklah benar dan bijak, karena Allah sendiri yang menghendaki menyembunyikan sebagian makna Al-Qur’an dan Allah sendiri yang mengatakan bahwa ilmu Allah sangat luas dan tidak cukup bila dituangkas semuanya dalam sebuah mushaf Al-Qur’an.

Pemahaman bahwa sebagai umat Islam hanya boleh mencukupkan diri dengan Al-Qur’an dan tidak mau memepelajari ilmu Allah yang lebih luas di alam semesta tidaklah tepat dan perlu diluruskan, sebagaimana kita visualisasikan atas satu kasus saja bahwa terkait dengan tata cara shalat wajib yang kita lakukan saat ini sebetulnya bukan bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, melainkan berasal dari rumusan hasil ijtihad (penelitian) para ulama madzhab walau tetap berdasarkan pada sumber utamanya yakni Al-Qur’an dan hadits. Coba kita sedikit perpanjang penjelasannya masalah tema shalat ini sesuai dengan hirarkinya;

  1. Tidak ada sedikitpun penjelasan secara rinci tentang shalat dalam Al-Qur’an, namun bukan berarti Al-Qur’an tidak memuat tema tentang ini, namun Al-Qur’an hanya memuat prinsip utamanya saja, yakni prinsip-prinsip kewajibanya bahwa Allah telah mewajibkan shalat bagi umat Islam. Ringkasnya Al-Qur’an hanya memuat perintah kewajiban shalat tanpa menyertakan rinciannya, sebagaimana firman Allah berikut yang paling mentok hanya menyampaikan perintah kewajibannya,

وَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ وَٱرْكَعُوا۟ مَعَ ٱلرَّٰكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’. (QS. Al-Baqarah: 43)

  1. Begitu juga dengan hadits, tidak ada dalam satu redaksi hadits yang memuat tentang rincian dan runtutan bahwa shalat itu harus dimulai dengan takbir hingga salam. Namun dalam sunnah nabi lebih rinci penjabarannya karena memang sunnah salah satu kedudukannya sebagai tafsir (penjelas) dari Al-Qur’an. Penjelasan sunnah tentang tata cara shalat sebagaimana sebuah hadits yang sudah sangat masyhur di kalangan kita berikut ini,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR.Bukhari no.6705, Ad-Darimi no.1225)

  1. Untuk akhirnya terwujud sebuah rincian mengenai syarat dan rukunnya shalat sesuai dengan sifat-sifat shalat nabi, yaitu sebuah kaifiyat shalat yang dimulai dengan takbir, hingga diakhiri oleh salam merupakan hasil ijtihad para imam madzhab sebagai orang yang memang ditakdirkan oleh Allah untuk menyampaikannya kepada umat Islam, sebagaimana sabda Nabi:

الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. At-Tirmidzi)

Ini menunjukkan bilamana kita sebagai orang awam hanya mencukupkan diri pemahamannya pada dzahirnya teks-teks Al-Qur’an dan hadits yang sangat universal tersebut tentunya pasti akan menimbulkan kekacauan yang amat sangat dalam bagi keagamaan kita. Makanya sangat salah bila kita umat Islam berdalih sedikit-sedikit mana dalil Al-Qur’an dan haditsnya. Yang jelas tidak mungkin kita beragama langsung menuntut ada rinciannya dari Al-Qur’an dan Hadits dengan mengabaikan madzhab. Pertanyaanya kenapa dzahir teks-teks Al-Qur’an dan Hadits lebih banyak bersifat ijmali (umum), karena Al-Qur’an dan Hadits tidak diperuntukkan hanya bagi satu kaum aja, dan hanya bagi satu periode zaman saja. Akan tetapi Al-Qur’an dan Hadits diperuntukkan bagi semua bangsa dan golongan dan diperuntukkan bagi semua periode zaman. Ketika sebuah bangsa dan zaman mengalami perubahan maka bahasa Al-Qur’an dan Hadits yang universal tersebut akan tetap sesuai dengan setiap zamannya.

Coba bayangkan pada zaman itu ketika dalam Al-Qur’an harus dicantumkan secara tekstual terperinci mengenai semua persoalan termasuk urusan senjata sebagai alat jihad harus menggunakan panah dan kuda. Tentunya kita sudah dapat membayangkan bagaimana janggalnya ayat tersebut bila dipahami saat ini ketika persenjataan sudah mengalami perkembangan yang begitu dahsyat. Makanya di sanalah hikmah kenapa Al-Qur’an menghindari menggunakan bahasa yang bersifat detail, dan pragmatis aplikatif.

Lalu bila dipertanyakan bagaimana kita bisa menggunakan Al-Qur’an dan hadits yang berbahasa universal tersebut dalam keseharian umat Islam dari masa ke masa? Penjelasannya adalah, di sinilah arti penting sebuah ijtihad yang dilakukan oleh seorang mujtahid untuk mengkonsepkan dan menstrukturkan teks-teks Al-Qur’an yang masif bersifat global sehingga menjadi lebih terperinci dan terstuktur agar lebih mudah sebagai pedoman untuk diamalkan bagi mayoritas ummatnya yang masih awam. Hal ini sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Allah, jika kita tidak mengerti akan suatu hal  maka tanyakanlah pada ahlinya,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Maka bila ada orang yang mengatakan sedikit-sedikit mana dalil Al-Qur’an dan Haditsnya itu bukan malah menunjukkan tanda-tanda kecakapan ilmunya, namun itu tanda utama bagi orang yang masih sangat awam ilmunya. Bahwa dalam beragama tidak setiap kasus harus membutuhkan dalil Al-Qur’an dan Hadits, namun yang lebih dibutuhkan adalah metodologi dalam beragama yang bersumber kepada dalil Al-Qur’an dan Haditsnya.

Tentang shalat saja Al-Qur’an dan Hadits tidak memberikan penjelasan yang rinci, apalagi terkait tentang persoalan tansportasi kekinian, informasi, dan teknologi. Di sinilah letak kedudukan pentingnya kita dalam beragama mengikuti sebuhah madzhab dan manhaj (metodologi berfikir) yang dirumuskan oleh para ulama mujtahid (pakar), tanpa itu maka keberagamaan kita akan tersesat. Beragama tanpa metode konprehensif, maka disamping sesat juga akan berdampak menyesatkan,

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. Bukhari Nomor 6015)

Namun Allah sendiri yang mengatakan untuk memilih siapa-siapa yang diberi ilmu sehingga mereka diberi kemampuan untuk memahaminya. Siapa yang dimaksud Allah telah dipilihnya yang layak dijadikan panutan, yakni mereka-mereka para ulama yang telah memenuhi kriteria dan persyaratan secara keilmuannya. Di antara persyaratan menurut kalangan ulama Syafi’i adalah,

  1. Menguasai bahasa Arab, tentu termasuk nahwu, sharaf dan balaghahnya karena Al-Qur’an dan Hadits berbahasa Arab. Tidak mungkin orang akan memahami Al-Qur’an dan Hadits tanpa menguasai bahasa Arab.
  2. Menguasai dan memahami (yakni pernah membaca, menghatamkan dan menghafalkan) Al-Qur’an seluruhnya, kalau tidak ia akan menarik suatu hukum dari satu ayat yang bertentangan dengan ayat lain.
  3. Menguasai (yakni pernah membaca, menghatamkan dan menghafalkan sebagian besar) Hadits Rasulullah SAW baik dari segi riwayat hadits untuk dapat membedakan antara hadits yang shahih dan yang dlaif. Mengapa harus menguasai hadits? Karena yang berhak pertama kali untuk menjelaskan Al-Qur’an adalah Rasulullah SAW, maka apabila tidak menguasai hadits, dikhawatirkan menarik kesimpulan suatu hukum bertentangan dengan hadits yang shahih tentu ijtihad tersebut tidak dapat dibenarkan artinya bathil.

وَأَنْزَلْنَا اِلَيْكَ الذِكْرَ لِتُبَيِنَ لِلنَّاسِ مَانُزِلَ اِلَيِهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Kami turunkan kepada engkau peringatan (Al-Qur’an) supaya engkau terangkan kepada manusia apa yang diturunkan kepada mereka mudah-mudahan mereka memikirkan.” (An-Nahl: 44)

وَمَاءَ اتَكُمُ الرَّسُوْلَ فَخُذُوْهُ وَمَانَهَكُمْ عَنْهُ فَانْتَهَوْا وَاتَّقُوْااللهَ اِنَّ الله شَدِيْدُ اْلعِقَابِ

“Dan apa yang Rasul berikan kepadamu hendaklah kamu ambil, dan apa yang Rasul larang kepadamu hendaklah kamu hentikan, dan takutlah kepada Allah, sesungguhnya Allah keras siksa-Nya.(Al-Hasyr: 7)

  1. Mengetahui Ijma’ (kesepakatan hukum) Para Sahabat. Supaya kita dalam menentukan hukum tidak bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh sahabat, karena mereka yang lebih mengetahui tentang syareat Islam. Mereka hidup bersama Nabi dan mengetahui sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dan datangnya hadits.
  2. Mengetahui adat kebiasaan manusia. Adat kebiasaan bisa dijadikan hukum ( العادة محكمه) selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ijtihad pada zaman Nabi SAW tidak diperlukan, sebab apabila sahabat mempunyai persoalan langsung bertanya kepada Nabi dan Nabi langsung menjawab.

Ijtihad oleh para pakar agama tidak dapat terelakkan ketika;

  1. Sumber hukum utama (Al-Qur’an dan Hadits) telah terputus ketika Nabi wafat.
  2. Persolan agama semakin berkembang dan komplek seiring semakin jauhnya jarak waktu antara zaman nabi dan para umatnya yang hidup di kemudian hari. Di samping itu semakin meluasnya pemeluk agama Islam dengan latar belakang ras, suku, budaya, dan wilayah tempat tinggalnya.

Maka haram hukukmnya orang awam, yakni yang tidak memenuhi syarat di atas berdalil (berfatwa) langsung menggunakan dzahirnya teks Al-Qur’an dan Hadits tanpa menggunakan metodologi ilmu yang telah disepakati oleh jumhur ulama. Bahkan dalam beragama mereka yang masih awam wajib mengikuti fatwa para ulama yang sudah diakui oleh mayoritas umat Islam dari masa ke masa.

Bila kita hanya seorang awam yang tidak memiliki kemampuan seperti yang telah disyaratkan di atas karena kita tidak punya kesempatan waktu untuk pernah mempelajarinya, maka akan lebih selamat taklid (mengikuti) mereka-mereka yang telah ditakdirkan oleh Allah memiliki kemampuan, karena taklid bukan keharaman, bahkan itu sangat disyariatkan bagi orang awam, sebagaimana firman Allah,

فَسۡ‍َٔلُوٓاْ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

“… maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Dalam ayat yang lain,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. An-Nisa’: 59)

Ayat di atas menegaskan bahwa dalam beragama harus menggunakan metode hirarki bahwa pedoman utama adalah Al-Qur’an, yang ditafsiri oleh ijtihad nabi , Nabi bersabda,

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ إِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ دِينِكُمْ فَخُذُوا بِهِ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِشَيْءٍ مِنْ رَأْيٍ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ

‘Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa, oleh karenanya apabila aku memerintahkan sesuatu dari urusan dien (agama) kalian, maka ambillah (laksanakanlah) dan jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian berdasar pendapatku semata, maka ketahuilah bahwa sungguh aku hanyalah manusia biasa. (HR. Muslim Nomor 4357)

Dan diperinci oleh ijtihad para ulama ahli yang berpekang teguh pada keduanya sebagaimana ucapan Imam syafi’i,

Dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 1: 63. Imam Syafi’i juga berkata,

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلاَفَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ  وَدَعُوا مَا قُلْتُ -وفي رواية- فَاتَّبِعُوهَا وَلاَ تَلْتَفِتُوا إِلىَ قَوْلِ أَحَدٍ

“Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.”

Namun sesalah-salahnya fatwa para pakar yang berdasarkan ilmu itu masih lebih benar mereka dibanding dengan sebenar-benarnya kita langsung berhujjah menggunakan dalil Al-Qur’an dan Hadits namun tanpa ilmu dan tanpa metodologi. Agar kita tidak mengalami perselisihan, hal ini sangat sesuai dengan apa yang disabdakan oleh nabi bila kita menjalani agama, terutama terkait dengan masalah hukum maka pedoman pertama adalah Al-Qur’an, bila tidak adan baru kita berpedoman pada hadits, dan bila tidak ada maka kita bertanya pada ahli yang berpedoman pada keduanya, nabi bersabda,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ كَيْفَ تَقْضِي فَقَالَ أَقْضِي بِمَا فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ قَالَ فَبِسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَجْتَهِدُ رَأْيِي قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengutus Mu’adz ke Yaman, lalu beliau bertanya: “Bagaimana engkau memutuskan hukum?” ia menjawab; Aku memutuskan hukum dari apa yang terdapat di dalam kitabullah. Beliau bertanya lagi: “Jika tidak ada di dalam kitabullah?” ia menjawab; Dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bertanya: “Jika tidak terdapat di dalam sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Ia menjawab; Aku akan berijtihad dengan pendapatku. Beliau mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (HR. Tirmidzi Nomor 1249)

KESIMPULAN:

  1. Umat Islam wajib meyakini bahwa Al-Qur’an adalah benar dan sempurna, namun sebaliknya umat Islam juga harus menyakini bahwa dirinya sebagai makhluq adalah sangat lemah yang sangat memiliki keterbatasan untuk memahami langsung dzahirnya semua kalam-kalam Ilahi tanpa menggunakan dasar keilmuan yang mumpuni.
  2. Karena kita sangat memiliki keterbatasan sebagai makhluq maka jangan bertindak lancang dengan sok telah memahami kalam-kalam ilahi tanpa didasari ilmu terlebih dahulu dengan mudahnya berdalil menggunakan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits.
  3. Haram hukumnya bagi orang awam (yang tidak menguasai berbagai ilmu ijtihad, apalagi belum pernah menghatamkan membaca Al-Qur’an dan Semua kitab Hadits) berdalil menggunakan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits.
  4. Bagi orang awam wajib hukumnya mengikuti fatwa yang telah dirumuskan oleh jumhur ulama dari masa ke masa.
  5. Ulama yang wajib kita ikuti adalah pertama ulama yang sudah terbukti dan diakui keilmuannya oleh mayoritas umat muslim, kedua keilmuan mereka memiliki sanad (nyambung dari guru ke guru yang jelas) langsung hingga kepada Rasulullah SAW.
  6. Bila kita sudah ditakdirkan tidak memilki ilmu sekaliber imam mujtahid maka tetap boleh berdalil menggunkan potongan-potongan Al-Qur’an dan Hadits namun wajib disertakan rujukan fatwa dari hasil rumusan para imam mujtahid, agar potongan dalil kita tidak menyelisihi fatwa yang telah disepakati oleh para imam madzhab dan tidak berdampak membenturan antara ayat satu ayat dengan ayat yang lainnya.

Semoga kita dilindungi oleh Allah tidak menjadi hamba yang telah lancang kepada tuhannya karena telah berbuat dusta atas nama Allah disebabkan telah berdalil menggunakan potongan-potongan kalam ilahi tanpa ilmu, Allah berfirman,

وَلاَ تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَـذَا حَلاَلٌ وَهَـذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُواْ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللّهِ الْكَذِبَ لاَ يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘Ini halal dan ini haram,’ untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tidaklah beruntung (terlaknat).” (QS. An-Nahl [16]: 116)


*Penulis adalah ketua umum Sunni Indonesia, ketua umum LDSI (Lembaga Dakwah Sunni Indonesia), dan Pengasuh Umum Jaringan Pesantren Sunni Di Indonesia

Refrensi

[1] Syaikh Muhammad Mahdi Syamsuddin, al-Ijtihâd wa al-Tajdîd fî al-Fiqh al-Islâmîy, al-Mu`assasah al-Dauliyah, Beirut, cet. I, 1999, hal. 46
[2] Masdar F. Mas’udi, Hak-hak Reproduksi Perempuan; Dialog Fikih Pemberdayaan, Mizan, Jakarta, cet. I, 1997, hal. 28
[3] Dr. Hani al-Mara’syali, al-‘Aql wa al-Dîn, al-Maktab al-‘Ilmi li al-Nasyr wa al-Tauzi’, Alexandria, cet. I, 2001, ha. 38
[4] Muhammad Iqbal, Rekonstruksi Pemikiran Agama dalam Islam, diterjemahkan oleh Ali Audah, Taufiq Ismail, dan Goenawan Mohamad, Jalasutra, Yogyakarta, cet. I, 2002
[5] Dr. Zaky Milad, Min al-Turâts ila al-Ijtihâd; al-Fikir al-Islâmîy wa Qadhâyâ al-Islâh wa al-Tajdid, al-Markaz al-Tsaqafi al-‘Arabi, Beirut, cet. I, 2004, hal. 276 – 278
[6] Nuansa Fiqih Sosial, 2004 (Yogyakarta: LKiS).
[7] Majalah Pesantren No.2/Vol.II/1985. A. Nuril Huda,